040.

Akhirnya Tarendra, Aksa, dan Winan sampai di kediaman Jovan yang sudah mulai banyak orang yang juga ingin melayat dan di sanalah Yudha, Chavian, dan Jeve yang sudah duduk bersebelahan dengan Jovan di garasi rumah Jovan.

Yudha yang melihat kehadiran Tarendra langsung melambaikan tangan lalu memanggil ketiganya untuk mendekat ke arahnya karena sudah disiapkan kursi di sana untuk ketiganya. Rasanya garasi milik Jovan menjadi tempat kumpul mereka saja karena keluarga dan beberapa tetangga sudah masuk ke dalam rumah Jovan sambil mendoakan mendiang nenek Jovan yang sudah rapi.

“Turut berduka cita ya, Kak.” Ucap Aksa terlebih dahulu menguatkan Jovan lalu disambung dengan Tarendra dan Winan kemudian ketiganya duduk.

Bahkan Jovan yang Tarendra tahu begitu dekat dengan neneknya berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum, beberapa kali ia tertawa karena celotehan Yudha yang ada ada saja.

Terasa asing bagi Tarendra, rumah ini penuh duka tetapi mereka masih bisa tertawa-tawa, mungkin itulah cara orang untuk membangkitkan selera tetap hidup dalam dirinya meskipun orang yang ia cintai sudah meninggalkannya.

Mungkin lagi, Jovan seseorang yang mudah menerima apapun yang terjadi saat ini bahkan kedepannya, bahasanya Jovan adalah seseorang yang legowo.

“Maaf ya guys, badminnya jadi di rumah gue ini hahaha.” Canda Jovan sesekali mengingat harusnya mereka bermain badminton di lapangan tetapi hari ini mereka malah ngumpul di rumah yang penuh duka ini.

“Masih aja lo mikirin itu Jov, santai aja kali, badmin bisa kapan-kapan. Kita kan solid, masih ada hari esok.” Timpal Yudha yang disetujui Jeve seakan-akan memberitahukan “Lo dulu, yang lain bisa nanti. Lo punya kita semua, lo nggak sendirian”

“Jov, tolong antar minum ini ke depan, Mama mau ambil beberapa dus dulu di belakang.” Tiba-tiba saja suara perempuan melantun masuk ke dalam kuping milik Tarendra, suara khas ibu-ibu dengan suaranya yang bindeng mengingat Ibu-nya itu sudah berpulang. Mamanya Jovan yang Tarendra paham seharian sudah mengeluarkan banyak air mata, menangisi sang Ibu, bahkan Tarendra ikut sadar kalau mata milik Jovan terlihat sekali seperti seseorang yang baru saja menangis seharian, sembab.

Jovan yang mendengar suara dan perintah dari sang Mama langsung bangun dari duduknya lalu mengambil beberapa gelas air untuk ia bagikan pada tetangga yang silih berganti berdatangan untuk melayat.

Baru saja Mamanya Jovan ingin kembali masuk ke dalam, Aksa keburu memanggil Mamanya Jovan, mengingat dahulu Aksa adalah tetangganya Jovan jadi Aksa mengenal Mamanya Jovan.

“Tante, ini Aksa, turut berduka cita ya, Tante.” Aksa berdiri dari tempat duduknya lalu menyapa Mamanya Jovan sambil mengucapkan bela sungkawa untuk Mamanya Jovan.

“Loh, eh- Aksa? Aksa Raka? Kok bisa ketemu Jovan lagi? Ya ampun nak, Tante sampai nggak ngenalin Aksa. Terakhir ketemu masih kecil.” Dapat dilihat dari raut wajah Mamanya Jovan, ia sangat terkejut karena melihat Aksa di dalam rumahnya ini di mana mereka sudah lama sekali tidak bertemu, bagaimana pula anaknya bisa kembali bertemu dengan tetangga kecilnya itu. Ya begitulah dunia, sangat kecil.

“Hahaha iya Tante, nggak sengaja juga ini Aksa ketemu lagi sama Kak Jovan, ternyata kenalannya temen Aksa.”

“Terima kasih ya, nak sudah datang. Eh, ini Tarendra bukan? Temen dekatnya Aksa kan?”

Tiba-tiba saja Tarendra yang sejak tadi berdiri di belakang Aksa ditunjuk oleh Mamanya Jovan yang ternyata mengenali dirinya.

Tarendra mengangguk lalu menyalami tangan milik Mamanya Jovan, “Iya Tante, ini Tarendra temennya Aksa hehehe.”

“Ohiya Tante ingat banget, karena dulu Aksa selalu ngajak kamu ke rumah jadi Tante ingatnya sama kamu. Lengket banget ya kamu sama Aksa dari kecil sampai sekarang sudah gede semua gini.”

“Turut berduka cita ya, Tan.”

“Terima kasih ya, Tarendra.” terlihat ukiran senyumam kecil dari wajah milik Mamanya Jovan saat melihat Tarendra, teringat akan sesuatu lalu mengalihkan pandangannya ke lelaki lainnya yang berada di dekat Tarendra.

“Kalau ini siapa? Tante baru lihat.” Mamanya Jovan menunjuk Winan.

“Ini temannya Aksa sama Tarendra, Tan. Namana Winan. Teman mainnya Kak Jovan juga.”

Winan mendekatkan diri pada Mamanya Jovan untuk menyalami tangan milik Mamanya Jovan lalu mengangguk, “Winan Tante. Turut berduka cita ya, Tan.”

“Yaampun temannya Jovan banyak juga ya. Terima kasih ya nak sudah mampir dan meluangkan waktu buat ke rumah, jenguk Jovan.”

Sekarang Yudha yang mengeluarkan suaranya untuk menjawab ucapan Mamanya Jovan, “Tante nih, kita kan kayak udah keluarganya Jovan juga. Biasa ngerepotin Tante, masa nggak dateng ke rumah lagi berduka begini, susah, senang, sedih, kita lewatin bareng Tan.”

Mamanya Jovan tertawa kecil karena ucapan Yudha, “Ah kamu Yud, bisa aja. Yaudah Tante masuk dulu ya nak

Kemudian Mamanya Jovan pamit untuk masuk ke dalam lalu Jovan yang sebelumnya disuruh untuk memberikan air sudah kembali ke tempat duduknya.

“Jadi kapan mau badmin lagi?” Ucap Jovan ketika ia sampai di tempat duduknya.

“Lu elah Jov, badmin bisa kapan kapan, udah.” Timpal Yudha sambil memukul kecil lengan milik Jovan, bercanda mulu temannya ini.

“Keliatan banget sedihnya lo begitu Jov, langsung cari kegiatan.” Sedangkan Jeve yang mengetahui maksud terselubung dari Jovan yang sebenarnya sedang mencari kesibukan biar tidak terlihat sedih melulu membuka suaranya.

“Oh iya, besok nenek gue dimakamin, kalian mau ikut?” tanya Jovan pada teman-temannya itu membuat Chavian, Yudha, dan Jeve mengangguk tanpa ada keraguan sedangkan Tarendra, Winan, dan Aksa masih terlihat bingung.

“Maaf Kak, besok gue nggak bisa karena ada acara keluarga.” Jawab Winan lalu Tarendra dan Aksa saling lihat-lihatan.

Aksa mengangguk, paham, “Gue sama Tarendra ikut Kak. Nanti gue bareng Tarendra, jam berapa emang Kak?”

“Jam 10.00 berangkat dari rumah sih, Sa.”

Aksa mengangguk, “Oke. Ta, bangun jam 5 pagi.”

“Ngapain? Aneh lo ya, kan berangkat jam 10.00 kayak seakan-akan rumah gue ke rumah Kak Jovan sejauh itu.”

“Gapapa sih, nyuruh doang.”

“Gila ya lo.”


@roseschies, 2025