049.
Sudah hampir dua jam mereka menghabiskan waktu di Neon Ramen. Bahkan Nares dan Revan yang tidak begitu kenal dengan Tarendra, Winan, dan Aksa sudah sangat berbaur dalam pembicaraan yang topiknya lompat lompat itu.
Untungnya, hari ini Neon Ramen sedang tidak begitu ramai, maka dari itu ke-9 lelaki itu dengan bebas berbicara sampai membuat para karyawan menggelengkan kepala karena mereka berisik sekali. Tapi tidak apa-apa sih, toh, saat ini juga memang pelanggannya hanya tersisa mereka saja.
“Eh abis ini beneran langsung nganterin Nares sama Revan ke stasiun Jov?” Tanya Yudha setelah 20 detik mereka diam tidak ada pembicaraan, kehabisan topik sepertinya.
Jovan mengangguk sambil menunjuk air minum refil yang berada di tengah dekat dengan Yudha, “Iya, mereka langsung balik, tapi ke rumah gue dulu ambil barang-barang mereka. Yud, mau minum, haus cok.“
Yudha memberikan air minum refil tersebut pada Jovan lalu membalikkan badan untuk mengajak bicara Nares dan Revan yang keduanya berada di sebelahnya sambil menonjok kecil lengan milik Nares yang berada tepat di sebelahnya, “Kok cepet amat sih? Gue pikir besok baru pada balik lo.”
“Iya Yud, gue sama Revan dapet tiketnya buat malem ini ternyata yang rada murah. Jadi ya gue sama Revan beli duluan tiket pulangnya buat malem ini.” Jawab Nares lalu menegukkan minumannya yang baru saja dibantu refil oleh Jovan.
“Padahal kita kita mau ngajak kalian main badmin bareng dulu, telat banget gue ngajakinnya berarti.” Ucap Yudha.
“Yaelah Yud, gue nanti bisa ke sini lagi.”
“Kapan?”
“Kapan kapan” Timpal Revan membuat Yudha menjitak kepala Revan meskipun harus sedikit effort melewati kepala Nares terlebih dahulu.
“Kalian ikut aja anterin Revan sama Nares ke stasiun, aman kan?” Ajak Jovan pada Tarendra, Winan, dan Aksa yang sedaritadi ketiganya malah bermain-main dengan ramen sisa milik mereka bertiga itu.
Ketiganya secara bersamaan menganggukkan kepala tanda setuju.
“Aman aja kak, gas kita. Beban gue cuma satu soalnya, si Winan. Kan Aksa udah dipungut sama kak Jeve.” Ucap Tarendra sesukanya membuat Aksa menginjak kaki Tarendra sambil melotot sedikit.
Winan yang mendengar namanya disebut beban langsung menjitak kepala Tarendra.
“WOI kok kalian KDRT gini sih ke gue? Gak kasian sama gue?”
“Ngapain gue kasian sama lu Ta. Padahal beban yang sebenarnya adalah lu.”
“Setuju Win.”
“Sialan lu berdua,”
Mendengar ocehan mereka bertiga, Chavian hanya tertawa, karena baginya melihat interaksi mereka bertiga sangat lucu, mungkin karena diantara teman-temannya Chavian yang paling kecil, jadi dirinya agak segan untuk bisa menjitak, menginjak, dan mengatai temannya itu. Walaupun mereka juga bodoamat sih, lagi mereka sudah menganggap Chavian seperti adiknya sendiri.
“Udah pada selesai kan makannya? Ayo kita foto-foto dulu gak sih?” Ajak Jeve membuat mereka mengangguk, toh makanannya mereka sudah habis sejak sejam lalu, sisanya mereka pakai untuk mengobrol.
Akhirnya ke-9 lelaki itu bangkit dari duduknya sedangkan Yudha menuju kasir untuk membayar semua pesanan mereka dan sisanya keluar restaurant karena mereka berniat untuk foto di depan saja.
@roseschies