054.
Setelah beberapa kali berbicara dengan Mamanya, akhirnya di sinilah Tarendra berada, di balkon rumah Jovan bersama dengan teman-teman lainnya yang akan ia habiskan waktu di akhir tahun ini sebelum tahun berganti.
Beberapa temannya sibuk memotong sosis dan nugget, menyiapkan bahan untuk rebusan, begitu juga sibuk menyiapkan penggorengan juga barang-barang lainnya yang nantinya akan dipakai untuk menggoreng dan merebus makanan yang saat ini sedang disiapkan.
“WOI WOI AWAS AIR PANAS” Teriak Yudha sambil memegang panci yang berisikan air yang padahal air tersebut tidak ada panas sama sekali membuat Tarendra dan Aksa terkejut kemudian meminggirkan badannya membuat jalan untuk Yudha.
“Pembual lo Yud. Itu air masih air biasa, kan mau dipanasin ini di sini. Kasian si Tarendra sama Aksa sampe kaget gitu.” Ucap Jeve yang sedang duduk di dekat kompor, karena yang akan memasak rebusan adalah Jeve jadi dia sudah siap sedia di sana.
Sedangkan Yudha hanya terkekeh lalu duduk di sebelah Tarendra, “Sorry sorry, anjir berat banget tu air, Jeve banyak mau airnya harus segitu.”
Tarendra hanya tertawa kecil, “Aman aja kak.”
“Eh iya, gue denger lo lagi main Roblox ya, mancing gitu?” Tanya Yudha tiba-tiba ke Tarendra. Entah Yudha mendengar darimana tapi tebakan Yudha adalah benar. Tarendra, Aksa, dan Winan saat ini sedang bermain mancing-mancingan itu sampai setiak hari ia buat game tersebut AFK, entah apa yang mereka cari.
Tarendra mengangguk membuat Jovan yang tidak jauh dari tempat duduk mereka entah dengan kupingnya yang lebar itu ia mendengar percakapan mereka dan ikut campur, “Lah gue juga main, sini deh liat nih, Tar.”
Jovan berdiri dari tempat duduknya mengajak Tarendra untuk melihat ke arah jendela kamar milik Jovan yang tidak jauh dari balkon dan memperlihatkan seisi kamar milik Jovan dengan laptop yang terbuka memperlihatkan AFK mancing milik Jovan di sana.
Tarendra tertawa, ternyata kegiatannya sama, sama sama suka AFK mancing.
“Main juga kak?”
Jovan mengangguk dan tertawa kecil, “Baru sih, ngisi kegabutan aja sebenernya.”
“Sama sih, gue juga gitu kak. Ngisi gabut selama mikirin judul skripsi aja.”
“Ohiya, skripsi lo gimana, Tar?”
“Yaaa. Begitu deh kak, masih ngajuin judul ke dosbing gue. Tapi dosbing gue rada banyak mau jadi judulnya belum ada yang di acc.”
Jovan yang sebenernya tidak terlalu paham karena dirinya tidak kuliah hanya mengangguk-angguk kemudian duduk di sebelah Tarendra yang sudah mendudukan dirinya di sebelah Winan sedangkan Aksa tanpa disadari sudah pindah tempat duduk di sebelah Jeve yang berada di sebrang Tarendra.
“Terus udah coba cari lagi judulnya yang baru sekarang?”
Tarendra menggelengkan kepala, “Belum sih, kak. Masih sakit kepala gue mikirin judul, makanya gue mancing aja.”
Jovan tertawa kecil kemudian memanggil Jeve yang sedang sibuk memasukkan bahan bahan rebusan ke dalam rebusan air yang sudah ia masukkan bumbu itu, “Jev, bagi pod dong.”
Tanpa pikir panjang, Jeve melemparkan pod miliknya ke arah Jovan.
“Lo bisa kena asap pod nggak, Tar?”
Tarendra ngangguk, “Aman kok kak.”
“Lo ngepod juga kah?”
Tarendra menggelengkan kepala.
“Dia lah ngepod, kak.” Sambar Winan yang berada di samping Tarendra.
“Pernah gue, dikit doang nyobain punya Aksa.”
Aksa yang berada di samping Jeve terdiam sedangkan Jeve yang sejak tadi sedang mengaduk rebusannya itu langsung menghadapkan diri ke arah Aksa.
“Anjing lo Win.”
“Oh, rupanya diam-diam dia.”
“Gue jarang sumpah kak, sekali dua kali.”
“Dalam 10 menit, baru bener tuh.” Timpal Winan lagi sampai hampir saja sebuah sosis yang sudah ditusuk oleh tusukan dilempar ke arah Winan.
“Woi woi, sosis buatan gue woiiii.” Sedangkan Chavian yang sejak tadi hanya diam sibuk memasukkan sosis ke dalam tusukan akhirnya ikut campur karena mahakaryanya hampir saja rusak karena Aksa.
“Ya gapapa sih, Sa. Gue nggak ngelarang apa-apa, itukan pilihan lo juga. Tapi kalau ngepod, sama gue, Sa.” Ucap Jeve yang sebenarnya ia juga tidak ada niat melarang Aksa, toh, dirinya juga ngepod kok.
Winan hanya tertawa mendengarnya, rasanya aneh mendengar bualan lucu itu di depan matanya, sedangkan Aksa hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Jeve.
“Mulai.” Hanya satu kalimat yang dikeluarkan dari mulut Tarendra namun hampir saja lagi-lagi sosis buatan Chavian jadi bahan lemparan Aksa karena Aksa paham, Tarendra mau menggoda dirinya karena ucapan Jeve.
“Geli dikit gue dengernya Jev.” Tiba-tiba saja Yudha ikut menimbrung dalam pembicaraan setelah mencuci tangannya di kamar mandi dan langsung mendudukan diri di samping Winan karena dirinya harus memasak sosis dan nugget.
Akhirnya mereka sibuk masing-masing.
Jeve dengan rebusannya sambil sesekali menyenderkan tubuhnya di tembok. Aksa yang duduk di sebelah Jeve dengan sayuran yang sudah ia potong-potong untuk diberikan pada Jeve. Sedangkan Chavian yang duduk di ujung sebelah Aksa sudah sibuk dengan ponselnya karena sosis mahakaryanya itu sudah selesai.
Sedangkan kubu Yudha yang berada di sebrangnya itu, Yudha sibuk membakar nugget dan sosis, Winan yang berada di sebelah Yudha sesekali membantu Yudha untuk mendekatkan sosis dan nugget mahakarya Chavian untuk Yudha masak sambil mengobrol sedikit dengan Tarendra. Tarendra yang sejak tadi sudah selesai dengan pekerjaannya melepaskan kulit sosis lalu diberikan pada Chavian hanya menyenderkan badannya ke tiang balkon sambil mengobrol dengan Winan. Dan Jovan yang duduk berada di sebelah Tarendra sejak tadi hanya berkutat dengan ponselnya.
Diam-diam Tarendra merasakan bahwa tubuh milik Jovan semakin lama semakin mendekat ke arah Tarendra.
Tarendra sedikit takut akan pikirannya, pikirannya saat ini adalah ia takut pikiran dirinya dan teman-temannya tentang Jovan yang sebenarnya menyimpan rasa untuk Tarendra itu benar. Banyak sekali ketakutan dalam diri Tarendra terhadap hal itu.
Karena, yang Tarendra pikirkan adalah, jika memang benar, maka hubungan mereka kedepannya akan terasa sulit. Setidaknya itu yang ada dipikirannya.
Beberapa kali belakangan ini, Aksa dan Winan sesekali memerhatikan Jovan dan perlakuannya terhadap Tarendra tetapi Tarendra masih terus tidak percaya. Entah malam ini rasanya berbeda bagi Tarendra.
Bahkan tiang balkon rumah Jovan membuat punggungnya terasa tidak nyaman dan Tarendra bingung harus memposisikan tubuhnya ke arah mana karena sejak tadi ia tertawa sampai terbahak-bahak karena lontaran lucu Jeve dan Yudha.
“Kenapa, Tar?” Tiba-tiba saja suara milik Jovan menyapa kuping bagian kiri milik Tarendra, terlalu dekat sampai bulu kuduk miliknya berdiri.
“Eh- engga.”
“Keras ya tumpuannya? Sini.” Tiba-tiba saja Jovan merentangkan tangan kanannya untuk ia rangkul pundak milik Tarendra sedangkan Tarendra hanya diam, bukan ini yang dia maksud.
“Udah, daripada punggung lo sakit daritadi lo ketawa-ketawa kena tiang.” Tanpa basa basi lainnya, Jovan melingkarkan tangannya dipundak milik Tarendra dan membuat Tarendra menyenderkan badannya di sana.
Iya, sih. Terasa lebih nyaman. Tapi bukan begini.
Sedangkan Aksa sudah memberikan kode pada Winan dan keduanya tertawa kecil melihat Tarendra dan Jovan.
Sudah hampir pukul 12 malam, akhirnya agenda mereka sudah berganti. Nugget, sosis, dan rebusan yang tadi menghiasi pandangan mereka sudah berganti menjadi 4 botol minuman dan 7 sloki untuk mereka ber-7.
“Kalian belum pernah minum, kan?” Tanya Yudha sambil membuka 1 botol yaitu soju.
“Gue udah pernah sih, kak. Itu cuma sekali, dulu.” Jawab Aksa, dulu memang ia pernah sekali minum tetapi hanya beberapa sloki saja, pun itu tidak sampai mabok.
“Nih, cobain soju dulu deh, dikittt aja.” Yudha menuangkan soju pada tiap sloki untuk diminum oleh teman-temannya itu termasuk dirinya.
“Thanks, Yud.” Jawab Jovan kemudian menegukkan minumannya layaknya ia meminum air putih.
Tarendra yang berada di samping Jovan hanya terdiam melihat Jovan dengan minumannya itu yang langsung ia minum tanpa ragu.
“Coba aja, Tar. Nggak usah dirasain minumnya, langsung teguk gitu, loh.”
Akhirnya, Tarendra mencoba minum minumannya itu cepat-cepat dan diakhiri dengan dirinya yang menjulurkan lidah tanda ia tidak suka dengan rasanya, “ANEH BANGET RASANYA???”
Winan dan Aksa tertawa melihat reaksi Tarendra. Astaga temannya ini mereka bawa minum sampai sampai tadi Tarendra sudah mencoba pod milik Jovan karena katanya penasaran.
“Tapi rasa soju emang kurang enak sih, gimana ya rasanya, aneh gitu.” Jelas Yudha tetapi ia tetap saja menegukkan minumannya seperti Jovan yang juga ikut menegukkan minumannya itu.
“Ini nih, ini juaranya, enak banget, kalian pasti suka. Tapi ini harus paling terakhir, karena lumayan pekat rasanya.” Yudha menunjukkan vibes exotic lychee yang berada di depan Aksa. Sedangkan di mata Tarendra terlihat seperti sirup leci yang rasanya pasti manis.
“Eh eh, bentar lagi jam 12.00, kita bagian liatin petasan aja udah.” Ucap Chavian setelah melihat jam pada ponselnya karena memang mereka tidak ada yang sempat membeli petasan. Lagi pula melalui balkon rumah Jovan ini semua terlihat jadi mereka akan menyaksikan banyak petasan milik orang lain dari balkon rumah Jovan.
Tepat pada jam 12.00, mereka semua berdiri dari tempat duduknya dan melihat langit yang sudah dipenuhi dengan petasan walau pemandangannya sedikit terganggu karena banyaknya pohon di depan balkon rumah Jovan.
Beberapa orang mulai menyalakan record video untuk di-upload ke instagram sedangkan beberapa orang lainnya hanya memandang petasan tersebut.
Sedangkan Tarendra, sesekali menutup kupingnya karena ia tidak begitu suka petasan, takut.
“Kenapa, Tar?” Tanya Jovan yang berdiri di sebelah Tarendra membuat Tarendra menggelengkan kepala.
“Takut petasan dia, kak.” Sambar Aksa yang tidak jauh dari mereka membuat Jovan menghadapkan dirinya ke arah Tarendra membuat Tarendra terkekeh kecil, ia malu karena faktanya ia betulan takut dengan petasan sejak kecil. Jantungnya itu lemah, mudah kagetan.
Dulu sewaktu kecil ia selalu marah setiap ada orang yang memasang petasan lalu berteriak, 'Bisa gak kalau pasang petasan ngomong ngomong dulu!'. Padahal yang pasang petasan pun tidak mengenal dirinya dan ia pun tidak tahu siapa yang memasang petasan itu.
“Iya kak, gue gampang kagetan, jadi suara suara gede, rada takut gue.” Jelas Tarendra membuat Jovan mengangguk paham dan keduanya lanjut melihat ke arah langit yang masih dihiasi petasan dan tak lupa sesekali Tarendra menutup kupingnya.
Hanya selang beberapa menit, petasan sudah selesai habis di langit dan menyisakan langit malam yang terasa terang malam ini menyambut tahun baru.
Mereka semua akhirnya kembali pada tempat duduknya dan melanjutnya aktifitas mereka. Meminum minuman keras itu yang tersisa dua botol full yang sebelumnya sudah diperkenalkan dan memang disiapkan sebagai minuman terakhir mereka.
Yudha sebagai 'bartender' hari ini mulai membuka minuman tersebut dan menaruh cairan tersebut pada tiap sloki, “Segini aja, ini rada pekat rasanya buat yang belum pernah minum. Tapi gue jamin, rasanya enak.”
Dengan detik yang bersamaan, mereka meneguk minuman tersebut sedangkan Tarendra buru-buru meneguk minuman tersebut walau tenggorokannya terasa panas dan tercekik mengingat ini hari pertamanya minum minuman keras itu.
“Gila sih, enak banget oi.” Ucap Yudha setelah meneguk minumannya itu, ia terlihat menikmati minumannya sedangkan Tarendra, Aksa, dan Winan yang masih awam mukanya terlihat tersisa sedikit karena rasa panas yang menjalar di tenggorokannya itu.
“Eh iya, enak juga loh, kak.” Ucap Winan setelah dirasa-rasa kembali mulutnya itu, terasa lebih segar dan rasa lecinya sangat terasa di dalam mulutnya walau tenggorokannya memang terasa panas dan cairan tersebut seperti melawan untuk diteguk.
“YAKAN! Gue udah bilang, yang satu ini gak usah diraguin, emang enak banget.” Saut Yudha kembali, seperti sales minuman keras itu.
Tarendra menganggukkan dirinya, setuju sih, rasanya lebih manis dan enak dibanding minuman sebelum-sebelumnya.
“Lagi gak?” Tanya Yudha membuat semuanya mengangguk.
Yudha kembali menuangkan minumannya ke tiap sloki milik anak-anak lainnya.
Dan, entah sudah berapa tegukan mereka minum cairan itu, mungkin sekarang sudah dihitungan 8, membuat Jovan, Jeve, Yudha, dan Chavi takjub. Lantaran Tarendra, Aksa, dan Winan masih terus mengikuti mereka minum. Mungkin bagi Jovan, Jeve, Yudha, dan Chavi ini sudah biasa bagi mereka. Tetapi untuk mereka bertiga yang baru pertama kali minum, membuat mereka kaget karena ketiganya terus meminum.
“Kok lo bertiga kuat juga minumnya? Ya emang kecil sih kadarnya tapi ini lumayan juga.” tanya Yudha membuat ketiganya juga terbingung, lantaran kegitanya belum merasakan pusing dan masih menikmati.
Dihitungan 10, Jovan akhirnya menghentikan Tarendra, “Udah, udah. Lo emang masih kuat?”
“Aman sih, kak.”
“Gila banget, kuat juga lo. Itu Winan aja udahan. Lo sama Aksa kuat juga.”
Tarendra hanya terkekeh sedangkan Aksa dan Jeve sudah bergulat di depan keduanya karena Aksa masih ingin minum dan Jeve sudah memberhentikan Aksa untuk tetap minum.
“Terakhir ini, udah Winan sama Tarendra gak usah lanjut, biar kita aja yang abisin.” Ucap Yudha sambil menuangkan cairan tersebut di tiap sloki kecuali Winan.
“Elah, masih mau gue, kak.” Ucap Aksa dan dilanjut dengan mata yang melotot milik Jeve.
“Terakhir udah.”
Mereka akhirnya menegukan minumannya.
Tegukan terakhir, bahkan Tarendra rasanya sudah terbiasa dengan rasa panas dan tercekik dalam tenggorokannya itu.
Tanpa babibu, Yudha mengambil sloki milik Tarendra dan Aksa bukti bahwa keduanya disudahkan untuk minum minuman tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Dan mereka belum juga meninggalkan balkon rumah milik Jovan. Aksa dan Jeve sudah semakin lengket dimana Jeve menidurkan kepalanya di paha milik Aksa. Sedangkan, Tarendra yang tidak paham dengan dirinya itu semakin dekat dengan Jovan. Tak lupa dengan tangan milik Jovan yang sedaritadi melingkar di pundak milik Tarendra, saling mengobrol satu sama lain. Terkadang Jeve melontarkan lelucon membuat mereka tertawa.
Tidak, mereka tidak mabok, entah belum, atau hanya saja memang mabok. Atau, tidak sadarkan diri.
Tepat pukul tiga pagi. Akhirnya mereka mengangkat badannya dari balkon dan menuju kamar milik Jovan. Padahal, Aksa, Winan, dan Tarendra sudah janji akan pulang ke rumah masing-masing. Tetapi mengingat waktu yang sudah di jam tiga pagi. Akhirnya mereka menginap semua di rumah milik Jovan.
Di sinilah Tarendra.
Dengan dirinya yang entah masih sadarkan diri atau tidak, menidurkan dirinya di sebelah Jovan dengan tangan Jovan yang tidak tinggal dari pundak milik Tarendra, menjadikan tangannya bantalan untuk Tarendra. Sesekali dalam tidurnya, Jovan memeluk tubuh milik Tarendra. Begitu juga dengan Aksa dan Jeve, kedunya tidur sambil saling memeluk erat.
Sadar atau tidak, tetapi itulah yang terjadi saat ini.
@roseschies, 2026.