—101 p.s long ass ride (1,3k words)

“Eh pindah tempat yuk” Ucap Ten tiba-tiba membuat Doyoung dan Kun yang sedang menyesap minumannya berhenti dan menatap Ten bingung.

“Ngapain? Males ah, disini aja enak.” Ucap Doyoung kembali menyesap minumannya dan diangguki Kun.

Keduanya sudah dalam posisi enak.

“Ada Johnny,” Ucap Ten.

“Mana?” Tanya Kun dan Doyoung secara bersamaan.

“Gue kasih tau, tapi lo berdua jangan nengok nanti ketauan.” Ucap Ten kemudian Kun dan Doyoung mengangguk paham.

“Dibelakang agak sebelah kanan Kun, bertiga ada bos besar gue juga sama satu orang kayaknya temen-temennya dia.” Ucap Ten membuat Kun dan Doyoung otomatis membalikkan badan untuk melihat posisi Johnny.

Ten memukul kepala Kun dan Doyoung, “Gue bilang jangan nengok! Kenapa malah pada nengok”

“Aduh sakit sialan!” Ucap Doyoung dan mengusap kepala belakangnya yang tadi di pukul oleh Ten.

“Ya kan gue mau tau!” Ucap Doyoung lagi.

“Tau anjir, lo ngasih tau begitu ya gue otomatis ngeliat lah!” Timpal Kun setuju dengan Doyoung.

Lagi, Ten ada-ada saja.

“Yaudah jangan diliat lagi! nanti ketauan lo pada ngeliatin mereka. Yuk, pindah ke daerah sebrang aja. Lebih sepi juga.” Ajak Ten lagi.

Mau gak mau kedua sahabatnya ini mengikut, daripada kena omel atau pukul lagi sama Ten.

Ketiganya membawa botol dan gelas masing-masing kemudian berdiri dari tempat duduk dan berjalan menuju area sebrang yang Ten maksud.

Ketiganya melewati perkumpulan Johnny, Ten berharap semoga Johnny maupun Yuta tidak melihat kearah dirinya.

“TEN MANAA JE?????!!!!” Teriak seseorang dari perkumpulan Johnny—seperti suara Johnny itu membuat lelaki yang sedang dipeluk oleh Johnny mengusap kupingnya dan menoyor kepala Johnny.

Doyoung dan Kun yang sangat mendengar teriakan itu menatap kearah Ten dan bertanya.

Ten menggedikkan bahunya, mungkin bukan Ten dia.

Entah sedang sial atau apa, sewaktu Ten melewati bangku milik Johnny, Johnny menghadap kebelakang dan mata milik Johnny sukses menatap mata milik Ten.

“T-Ten?” Ucap Johnny dengan suara parau dan matanya yang sedikit sembab.

“Apasih Jo, Ten Tan Ten mulu. Orangnya gak ada.” Ucap Yuta kemudian menyesap minumannya dan Jaehyun yang masih digelayuti oleh Johnny itu ikutan mengangguk.

“Berisik manggilin Ten Ten mulu, disuruh chat gak mau tapi manggilin mulu!” Frontal Jaehyun membuat Johnny menutup mulut Jaehyun dan masih memandang wajah Ten yang lanjut jalan sambil menarik kedua temannya tanpa menghiraukan Johnny.

Johnny berdiri dari tempat duduknya dengan sempoyongan, Yuta dan Jaehyun yang melihat Johnny berdiri terkesiap lalu menarik Johnny untuk kembali duduk.

“Mau kemana lagi sih?” Tanya Jaehyun memaksa Johnny untuk tetap duduk.

Takut-takut laki-laki ini menyentuh orang dengan sembarang dan berkata bahwa orang tersebut adalah Ten.

“Diem! Jangan tahan gue, itu ada Ten!” Tolak Johnny kemudian kembali berdiri membuat Yuta dan Jaehyun menggeleng melihat kelakuan temannya ini.

“Ten gak ada disini Jo!” Ucap Yuta, lagipula daritadi dia sama sekali gak liat perawakan Ten mundar-mandiri di club ini. Dia masih inget kok sama wajah salah satu staff anak perusahaannya itu.

“Udah, mending lo pulang aja. Kerjaan lo udah terbengkalai semua Jo. Jangan kayak gini, lo gak profesional. Emang mau turun jabatan? Apa gak malu kerjaan lo di back up terus sama bawahan lo? jangan mentang-mentang baru nerima sekretaris terus lo jadi begini Jo. “ Omel Yuta, sebel dia liat temennya jadi gak jelas kayak gini.

Gitu-gitu dia masih perhatian sama perusahaan milik temannya ini yang belakangan terlihat terbengkalai karena pemiliknya sedang agak tidak waras akibat cinta.

“Diem dulu! Gue mau ngejar Ten, dia ada disini. Tolong. Jangan sampe gue kehilangan dia lagi, jangan tahan gue!” Ucap Johnny kemudian berdiri dan berjalan setengah sempoyongan menuju tempat duduk yang ada di sebrang dimana Ten dan kedua sahabatnya duduk.

“Ten?” Ucap Johnny sesampainya di tempat itu.

“Maaf, siapa ya?” Tanya Kun, takut-takut kejadian 3 tahun lalu terulang kembali.

“Ten, kasih saya kesempatan.”

Doyoung dan Kun saling tatap menatap, Oh ini Johnny?

“Saya bahkan belum memulai, kasih saya kesempatan.” Ucap Johnny lagi.

“Ngapain anda capek-capek minta kesempatan sama saya? Lelaki atau perempuan diluar masih banyak.”

“Tapi saya maunya kamu Ten, kasih saya kesempatan sekali. Kalau memang kamu tetap tidak bisa menerima saya, saya menyerah.” Ucap Johnny terduduk di bangku sebelah Ten.

Ten mendengus keras, orang ini sudah terlalu mabok.

Tak jauh Ten melihat Yuta yang sedang berjalan menuju arah dirinya.

“Bangun.” Ucap Ten berdiri di depan Johnny.

“Kasih saya kesempatan, Ten.”

“Bangun dulu.”

“Kasih saya kese-”

“Gue bilang bangun dulu!” Bentak Ten membuat Johnny berdiri namun sedetik kemudian badan Johnny melemah.

Untungnya Yuta dan Jaehyun sampai tepat waktu dan berhasil menopang tubuh Johnny. Sepertinya Johnny pingsan.

“Ini si Ten Ten itu Yut?” tanya Jaehyun dengan kedua tangannya yang masih menopang tubuh Johnny.

Yuta mengangguk, “Maaf ya Ten, teman saya sedang mabuk.”

Ten tersenyum dan membungkuk kepada Yuta, “Gapapa Pak,”

“Bener, galaknya sama Johnny doang.” Bisik Jaehyun kembali.

Ini Jaehyun ngomongin orangnya tepat di depan orangnya langsung gimana sih.

“Kalo diluar kantor dan jam kerja, panggil Yuta aja gapapa Ten. Oh, lagi pada bersenang-senang ya?” Tanya Yuta melihat kearah meja Ten dan kedua sahabatnya itu.

“Iya Pak- Eh Maksudnya Yuta,” Jawab Ten kemudian kembali duduk di tempat duduk miliknya.

“Maaf ya, teman saya mengganggu aktifitas kalian. Silahkan boleh dilanjut, kami antar dia pulang dulu.” Pamit Yuta kemudian Ten, Doyoung, dan Kun mengangguk.

Yuta dan Jaehyun yang sedang menopang berat tubuh Johnny pergi meninggalkan tempat itu dan membawa Johnny pulang.

“Itu tadi, Johnny Johnny itu Ten?” Tanya Kun sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing, sepertinya ia terlalu banyak minum. Ia memang toleransi terhadap alkoholnya sangat rendah, sih.

Ten mengangguk.

“Sirat matanya keliatan dia sedih banget, lo beneran gak mau kasih dia kesempatan?” Ucap Doyoung bertanya pada Ten.

Ten menggeleng dan memakan kacang yang ada disana.

“Lo ada masalah pribadi sama dia atau gimana sampe lo segitunya gak kasih kesempatan? Emang pernah ada hubungan lo sama dia?” Tanya Doyoung membuat Ten menggeleng.

“Terus?” Tanya Doyoung lagi.

“Lo pernah tau gak, ada orang yang entah kenapa benci aja sama seseorang yang bahkan gak ngeluarin satu kalimat pun, tapi lo rasanya mau bunuh orang itu tepat saat itu juga. Nah, itu gue.” Ucap Ten santai dan menyesap minumannya kembali.

“Ten, lo gak liat mata dan suaranya bener-bener tulus banget minta kesempatan ke lo. Apa lo gak mau ngasih ke dia satu kesempatan? Bahkan dia belum mulai apa-apa. Kalo emang ujungnya lo masih ada rasa gak suka, lo boleh tolak dia. At least, dia udah coba deketin lo.” Ucap Doyoung memberi saran.

Doyoung sedikit teriris melihat kondisi Johnny tadi, benar-benar memilukan. Seperti orang yang jiwanya hilang entah kemana tapi raganya masih ada disini.

“Gue juga mau liat lo bisa deket sama orang Ten. Kali ini aja buka hati lo buat seseorang, siapa tau Johnny orangnya. Jangan dingin terus sama orang yang mau deketin lo.” Timpal Doyoung lagi.

Ten ini, memang sepertinya ingin forever alone atau bagaimana. Tapi, sebagai teman, Kun dan Doyoung juga ingin melihat Ten bahagia bersama seseorang yang akan menjaga 24/7 dirinya itu.

Tapi, lagi-lagi Ten selalu menolak jika seseorang mendekati dirinya.

Ten itu, sangat selektif. Sangking selektifnya, Kun dan Doyoung bahkan tidak tau kriteria apa yang dicari oleh Ten. Semua orang ditolak. Bahkan dari yang paling baik sampai yang biasa aja selalu ditolak oleh Ten.

“Gue hidup sendiri seumur hidup juga gapapa, Doy, Kun.” Kalimat itu yang selalu dilontarkan oleh Ten.

Tapi sahabat mana yang ingin membiarkan sahabatnya itu terus-terusan hidup sendirian. Kan gak ada.

Ten mendengus pelan, “Biar gue mikirin ini sendiri.”

“Menurut lo gimana Kun?” Tanya Ten yang daritadi melihat Kun diam saja. Biasanya, Kun akan membaweli dirinya.

“Kun?” Panggil Ten namun Kun masih diam saja.

“KUN!” Teriak Ten tepat di depan muka Kun membuat Kun kembali ke alam sadarnya.

“Astaga, kaget gue! apaan?” Tanya Kun sambil mengelus dadanya, ia terkejut.

“Lo daritadi, gue panggilin! Mau denger pendapat lo,” Ucap Ten membuat Kun berfikir.

“Ya, gue sih satu pendapat sama Doyoung. Lagi, ucapan Doyoung perlu lo pikirin juga. Gue sama Doyoung cuma mau lo bahagia aja, selain sama kita berdua.” Ucap Kun.

“Intinya jangan terus-terusan nolak orang, Ten. Johnny gak seburuk apa yang lo pikir,” Ucap Doyoung.

“Dan, bisa aja Johnny gak sebaik apa yang lo pikir, 'kan?” Timpal Ten membuat Doyoung terdiam.

“Dan, lo juga gak tau dia kayak gimana kan? Deket juga belom. Jangan komen duluan tentang perilaku dia. Meskipun dia bertele-tele bisa aja dia sebenarnya juga takut mau ngomong apa ke lo, apa lagi respon lo yang begitu-begitu aja.” Lanjut Kun menambahkan membuat Ten ikutan diam.

“Ya, siapa suruh jadi cowok lemah.” Ucap Ten sembarang.

“Bukan gitu, dia terlalu berhati-hati, dia cuma takut omongan dia bikin lo mikir dia kayak gimana-gimana. Mending, lo coba kasih dia kesempatan. Setelahnya, gue dan Kun gak akan ikut campur.” Ucap Doyoung.

“Hm, nanti gue pikirin lagi. Udah ah, kenapa jadi ngomongin ginian sih. Lagi seru juga.” Ucap Ten dan mengajak sahabatnya ini cheers.

Sampai rumah, sepertinya Ten akan mengirimkan sebuah pesan kepada Johnny.

Semua perkataan sahabatnya ada benarnya juga.

Sirat mata itu, begitu memilukan.

Apa dirinya terlalu jahat?


@roseschies🌸