—125

“John, gue ke toilet dulu ya.” Pamit Ten sambil berdiri dari tempatnya.

Keduanya baru saja selesai memakan hidangan yang sebelumnya ternyata sudah dipesankan oleh Johnny.

Untung saja makanan yang dipesan tidak ada yang bisa memacu alergi Ten muncul. Entah darimana Johnny tau.

Setelah Ten terlihat sudah masuk ke dalam kamar mandi, Johnny berdiri kemudian mengikut masuk ke dalam kamar mandi.

Oh, sebelumnya makanannya sudah dibayar oleh Johnny.

Ya meskipun Ten sempat tidak terima, tapi Johnny janji jika keduanya makan lagi nanti, Ten boleh bayarin.

Modus Johnny aja sih, biar bisa makan bareng lagi.

Ketika Johnny masuk ke dalam kamar mandi, Ten sedang mengaca sambil membenarkan poni panjangnya yang terlihat sedikit menganggu penglihatannya itu.

Johnny berdiri di sebelah Ten kemudian ikut membenarkan tatanan rambutnya.

“Ten,” Panggil Johnny membuat Ten terkejut, pasalnya ia tak sadar disampingnya sudah ada Johnny akibat terlalu sibuk membenarkan poninya.

“Lo ngapain ikut ke kamar mandi juga?” Tanya Ten.

“Nih, mau benerin rambut.” Ucap Johnny sambil menghadapkan diri ke arah Ten memberi tau bahwa dia sedang membenarkan tatanan rambutnya.

“Ten, kalau emang kamu gak mau sama saya gak usah dipaksa. Kalo kamu iyain ajakan saya karena gak enak atau kasihan sama saya, besok-besok kamu gak perlu iyain ajakan saya.”

“Saya seperti orang jahat yang memaksakan kehendak, padahal kamu sendiri terlihat nggak nyaman sama saya.”

Johnny menghembuskan nafas kemudian menepuk jas miliknya membenarkan pakaiannya.

Ten yang mendengar ucapan Johnny mengalihkan atensinya dari poni miliknya lalu menghadapkan diri untuk memandang wajah Johnny.

Johnny memang talkaktive daritadi, mengajak ngobrol Ten entah bertanya bagaimana pekerjaannya, bagaimana setelah beberapa minggu kerja di anak perusahaan milik Yuta, dan hal-hal lain.

Namun entah Johnny merasa jawaban Ten begitu-begitu saja, seperti tidak ada ketertarikan untuk berbicara dengan Johnny.

Di sana, Ten melihat raut wajah keputusasaan.

Ten ini memang tidak pintar berbicara dengan orang lain selain teman dekatnya.

Dia tidak pintar menjawab pertanyaan atau sekedar basa-basi lainnya untuk meningkatkan percakapan dengan lawan bicara.

Ia sangat pasif.

Belum lagi, dia sangat tidak berpengalaman melakukan hal seperti ini.

Benar kata Winwin, Kun, dan Doyoung.

Johnny itu tidak seburuk apa yang dia pikirkan. Semua hal yang dikeluarkan oleh Johnny terlihat tulus di mata Ten sekarang.

“John, sorry kalo lo ngerasa tadi gue kurang nyaman. Gue emang gak pintar memulai percakapan terlebih dengan orang baru.” Ucap Ten membuat Johnny melihat kearah mata cantik milik Ten.

Ten tersenyum manis, mencoba untuk membuka sisi lain dirinya.

Sisi lain dimana dirinya tidak pernah menampilkan sisi tersebut kepada orang lain.

Sisi manisnya, itu.

Sorry kalau gue terlihat seperti itu. Sebenarnya iya, awalnya gue ngeiyain ajakan lo karena gue gak enak dan kasihan sama lo, hati gue udah beku John buat orang. Tapi kali ini, gue bisa ngeliat lo tulus sama gue, thanks.”

“Gue bakal coba buka hati gue, buat lo John.” Ucap Ten lalu kembali tersenyum manis membuat Johnny tersenyum sambil meneteskan air mata.

Johnny terkejut, kenapa dia tiba-tiba meneteskan air mata.

“Lo jangan nangis, malu badan gede kok nangis.” Ten tertawa sambil mengusap air mata Johnny yang sempat menetes.

Anjir John, lo malu-maluin banget bisa-bisanya begitu doang sampe nangis, Batin Johnny mengumpat pada dirinya sendiri.

Johnny hanya menggaruk tengkuknya, ia malu juga bingung.


@roseschies🌸