180.

“Ten? Win?” Teriak Johnny sesampainya ia di ruang kesehatan gedung kantor Ten.

Winwin melambaikan tangannya lalu menyuruh Johnny ke arah dimana Winwin duduk dan Ten sedang membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang ada di sana.

Oh, ada orang asing yang sedang menyuapi Ten disamping.

“Udah ah cas! Mual, gak enak makanannya.” Tolak Ten setelah lelaki disampingnya itu menyuapi satu sendok bubur.

Winwin menggeleng, “Baru 4 suap, Ten. Makan, nanti lo makin sakit.”

Johnny mendekatkan dirinya, berdiri disamping kasur Ten lalu membawa tangannya untuk mengecek suhu tubuh Ten menggunakan tangannya.

Panas.

Ten demam.

“Ten, kamu sakit. Badan kamu panas, makan yang banyak ya? Saya kan sudah bilang, jangan telat makan.” Ucap Johnny kemudian dijawab gelengan oleh Ten.

“Mual, gak enak.”

Johnny menghela nafas, kemudian lelaki disamping sebelah kiri Ten mulai menyuapi lagi namun Ten menutup rapat bibirnya, menutup akses.

“Ten, makan dong.”

“Gak mau, Lucas.”

Oh, itu Lucas.

Johnny mencoba meminta mangkuk yang dipegang Lucas dan Lucas memberikan mangkuk tersebut pada Johnny.

“Kalau disuapin Lucas gak mau, disuapin saya mau?” Tanya Johnny.

Ten tetap menggeleng, “Gak mau juga.”

Johnny tersenyum lalu mengelus surai Ten, dahi Ten mulai berkeringat akibat demamnya, “Makan dulu ya, satu suap aja? Habis itu kita pulang, saya antar kamu pulang sampai rumah, Ya? Biar kamu bisa minum obat.”

“Kamu mau cepet sembuh kan? Kalau begini terus, kamu nanti makin sakit, kerjaan kamu makin molor. Satu suap lagi ya?”

Ten terlihat berfikir dan akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan dari Johnny.

Winwin dan Lucas agak sedikit terkejut, pasalnya Ten ini daritadi susah sekali dibujuk.

“Udah. Gak mau lagi.” Ucap Ten setelah dirinya melihat Johnny kembali menyendokkan bubur.

Johnny mengangguk kemudian menaruh mangkuk tersebut di meja tepat di samping kasur Ten.

“Nih, minum dulu. Kata Dokter, minum ini dulu aja.” Winwin memberikan satu buat tablet obat pereda demam untuk Ten, sedangkan Lucas memberikan sebuah gelas berisi air untuk Ten meneguk bersamaan dengan obat.

Johnny membantu Ten untuk duduk dengan benar dan setelahnya Ten meminum obat tersebut.

“Huek, pahit.”

Ketiganya tertawa, Ten lagi sakit gini amat.

“Yasudah, ayo saya antar pulang.” Ucap Johnny kemudian membantu Ten untuk turun dan berdiri dari kasurnya.

“Sini, tas lo gue bawain.” Lucas mengambil alih tas milik Ten, membantu membawakan sampai ke mobil Johnny.

Namun Johnny cepat mengambil tas tersebut, “Gak usah, saya aja yang bawa. Kalian naik lagi aja keruangan, lanjut kerja. Biar saya antar Ten.”

Lucas dan Winwin saling tatap-tatapan lalu mengangguk.

Lucas menepuk bahu Ten, “Cepet sembuh, jangan ngeyel kalo dibilangin makanya.”

Ten mencibir, “Berisik.”

Mata Johnny tak berkedip memandang tangan milik Lucas yang masih bertengger di bahu Ten.

Johnny langsung merangkul Ten dan membuat Lucas melepaskan tangan miliknya dari bahu Ten lalu keduanya berpamit menuju apartemen Ten.


“Ten? Bangun yuk? Sudah sampai.” Ucap Johnny sambil menepuk pipi Ten pelan.

Ten tertidur pulas di dalam mobil Johnny, tapi nihil tidak ada jawaban dari Ten bahkan Ten tidak juga membuka matanya.

Johnny akhirnya memutuskan untuk menggendong Ten.

Toh, badan Ten ringan dan Johnny tidak masalah.

Sesampainya di depan pintu apartemen, Johnny terdiam bingung.

Masalahnya, ia tidak tau password apartemen Ten. Lalu, ini bagaimana ia harus masuk kedalam apartemen milik Ten, ya?

Mana sekarang, posisinya Johnny sedang menggendong Ten.

Tiba-tiba tubuh Ten bergerak, tangannya dibawa untuk mengucek matanya.

Ten membuka matanya lalu terkejut setengah mati melihat dirinya yang sedang di gendong oleh Johnny.

Bahkan, ia sampai lompat dari gendongan Johnny, melupakan rasa sakit yang menyerbu kepalanya itu.

“Lo ngapain gendong gue?!” Ten sedikit berteriak akibat terkejut dan badannya ikutan oleng.

Johnny menjaga tubuh Ten agar tidak terjatuh, “Kamu saya bangunin gak bangun-bangun. Yasudah saya gendong aja. Ini, saya gak tau password apart kamu.”

Kemudian Ten memasukkan 6 digit angka password apartemennya lalu mempersilahkan Johnny untuk masuk.

“Lo duduk dulu aja, gue masakin tanda terima kasih udah anter gue.” Ten melepas sepatunya lalu berjalan menuju dapur, memilih makanan yang bisa ia kasih untuk Johnny.

Johnny memegang lengan Ten, memberhentikan aksinya yang ingin membuatkan Johnny makanan, “Kamu istirahat. Badan kamu masih anget, istirahat dulu.”

“Saya sudah makan tadi bareng Yuta, kamu tidur lagi biar badan kamu enakan.”

Ten menggeleng, kemudian mengambil tasnya yang baru saja di letakkan oleh Johnny di lantai dekat sofa.

Ten mengambil laptopnya lalu membuka laptop tersebut membuat Johnny ingin sekali memarahi lelaki ini. Susah sekali dibilangin.

“Saya bilang tidur, kenapa jadi buka laptop?”

“Kerjaan gue nanggung, dikit lagi beres.”

“Bisa nanti, Ten. Dengerin saya dulu, badan kamu sudah drop dan kamu lagi demam sekarang. Istirahat, jangan mikirin kerjaan dulu. Saya bantu kerjain kalau perlu, yang penting kamu istirahat.” Ucap Johnny lalu menutup laptop Ten secara paksa.

Ten mendengus kesal, “Lo juga sibuk, katanya banyak rapat.”

“Udah beres, rapat terakhir ditunda jadi besok. Sekarang, kamu tidur dulu. Jangan ngeyel kalau dibilangin.”

Ten masih memasang wajah marah dan tidak ingin menatap Johnny.

“Yasudah kalau gak mau nurut. Saya gendong lagi ya biar istirahat di kasur?”

Ten langsung berdiri dari duduknya dan pergi menuju kamarnya, bahkan ia langsung menutup kamarnya.

Johnny terkekeh melihat kelakuan Ten, kemudian membersihkan laptop serta tas milik Ten.

Johnny mengetuk pintu kamar Ten, “Tidur Ten, jangan main handphone terus.”

“Berisik, sana pulang.”

“Saya gak akan pulang, sebelum kamu tidur Ten. Benar-benar tidur, sekarang tidur.”

“Hhhh, iya!”

Johnny terkekeh lagi kemudian menggumam, “Gemes banget sih lagi sakit.”