196.
Johnny mendudukkan dirinya di balkon yang ada di villa dimana ia mendatangi acara 2 hari ini.
Belum ingin masuk ke dalam kamar, ia ingin merasakan sepoi-sepoi angin malam di balkon sambil melihat bintang yang bisa dihitung dengan jari namun tetap menghiasi langit malam dengan cantik.
Johnny memegang ponselnya sesekali mengecek ponsel miliknya, menunggu pesan jawaban dari Ten.
Johnny melihat kearah jam dinding yang ada di dekatnya, tepat pukul 11.15 malam.
Mungkin Ten sudah tidur, pikir Johnny.
Belum lagi, hari ini penutupan project dipastikan Ten akan tertidur lebih cepat karena kecapekan.
“Pak,” Seseorang menepuk pundak Johnny membuat Johnny mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menepuk pundaknya itu.
Oh, Hendery. Sekretaris barunya itu.
“Oh, Hendery. Ada apa?” Tanya Johnny lalu Hendery menggeleng.
Johnny menepuk tempat sebelahnya, menyuruh Hendery duduk disebelahnya.
“Duduk sini, Hen.”
Hendery tersenyum lalu duduk dengan sopan di sebelah Johnny.
“Belum tidur, Hen?”
Hendery menggeleng, “Belum mau Pak. Bapak sendiri belum tidur? Udah malam, apa nggak kecapean habis acara tadi?”
Johnny menggeleng, ia belum mau tidur.
Johnny masih menunggu balasan dari Ten.
“Besok acara pagi, Pak.” Hendery mengingatkan Johnny kembali.
Johnny mengangguk, “Iya, Hen. Inget kok. Gampang, tidur duluan Hen. Saya masih nunggu dulu sebentar.”
“Nanti aja Pak. Saya, boleh nemenin Bapak? Kasian Bapak sendirian.” Tawar Hendery.
Johnny sih tidak masalah, dia senang punya teman ngobrol. Tapi, dia kasian dengan Hendery.
Lelaki ini pasti juga kelelahan, mengikuti jadwal dirinya dan sekarang harus menemani dirinya yang sebenarnya hanya menunggu pesan dari Ten.
“Tidur aja duluan Hen. Saya takut lama, kamu juga capek kan.”
Hendery menggeleng, “Gak masalah, Pak. Saya gak enak tidur duluan tapi Bapak belum tidur.”
Johnny menyodorkan satu bungkus rokok yang ia simpan di dalam saku celananya, “Mau Hen?”
Hendery menggeleng, menolak tawaran Johnny, “Saya gak ngerokok Pak.”
Johnny tertawa, “Saya juga sih, ini cuma buat topik pembicaraan aja saya bawa-bawa hahaha.”
Hendery ikut tertawa, memecah keheningan disekitar mereka berdua.
“Nungguin siapa Pak?”
“Biasalah, Hahaha.”
Hendery mengangguk paham.
“Kerjaanmu sudah beres semua Hen?” Tanya Johnny, memecah keheningan sesaat.
Hendery mengangguk, “Sudah Pak. Mungkin, nanti ada beberapa yang harus Bapak dispo di eoffice.”
Johnny mengangguk, Hendery ini benar-benar sekretaris yang bisa diandalkan.
11 12 dengan Irene, sekretaris lamanya.
Performa kerjanya pun, sudah bisa di beri jempol dua. Padahal baru berapa bulan kerja bersama Johnny. Oh, bahkan minggu?
Johnny kembali mengecek ponselnya namun hasilnya tetap nihil, ia kembali menghela nafas.
Mungkin benar, Ten sudah tertidur.
Tak lama kemudian, Johnny merasakan pundaknya yang kian lama memberat.
Johnny menghadap sebelah kanan.
Di sana, di pundak kanannya, kepala Hendery terbaring di pundaknya.
“Hen?” Johnny memanggil Hendery namun tidak ada jawaban.
Lelaki ini sepertinya ketiduran.
Lalu ini, Johnny harus bagaimana?
Membiarkan Hendery tertidur di bahunya atau menggendong Hendery, menidurkan dirinya di kamar Hendery.
Johnny ini lelaki bermartabat, tidak berani memegang lelaki yang tidak memiliki hubungan romantically dengan dirinya.
Maka dari itu, malam itu.
Keduanya tertidur dengan keadaan duduk di balkon, dengan bintang yang memerhatikan keduanya dalam diam.
@roseschies 🌸