215.

Johnny dan tim yang mengikuti acara sudah sampai di kantor, beberapa dari mereka memang bawa kendaraan pribadi dan dititipi di kantor.

“Hen, pulang naik apa?” Johnny bertanya pada sekretarisnya yang sedang memegang ponsel sedangkan tangan lainnya membawa barang lain.

“Pulang naik kendaraan umum Pak.”

“Loh, kamu nggak bawa mobil?”

Hendery menggeleng, “Nggak Pak, kemarin saya diantar sepupu saya.”

“Sepupumu nggak bisa jemput lagi?”

Hendery menggeleng lagi, “Dia ada acara keluar Pak.”

“Astaga, seinget saya apartemen kamu searah sama apartemen saya. Kalau gitu bareng aja sama saya, gimana?” Tawar Johnny mengingat apartemen milik Hendery memang searah dengan dirinya.

Hendery menolak dengan sopan, “Eh, Nggak perlu Pak. Ngerepotin nanti, saya naik kendaraan umum aja. Nggak jauh juga.”

“Udah sama saya aja, sekalian kok. Nggak ngerepotin juga, asal kamu nggak bawa gajah kedalam mobil saya aja. Itu baru ngerepotin,”

Hendery jadi bingung mau nolak lagi juga nggak enak, akhirnya dia mengangguk menerima tawaran Johnny sambil terkekeh mendengar lawakan aneh dari bosnya itu, “Hahaha iya Pak, makasih banyak ya. Maaf Pak saya jadi ngerepotin.”

“Loh, kan saya bilang asal kamu nggak bawa gajah. Nggak ngerepotin Hen, kasian kamu juga kecapean kan. Yuk masuk.”

Hendery kemudian masuk kedalam mobil milik Johnny, kemudian menaruh barang2nya.

Lalu Johnny sudah siao duduk di tempst kemudi lalu keduanya memasang seatbelt masing-masing.

Johnny melajukan mobilnya sedangkan Hendery memegang erat seatbelt miliknya.

“Kita makan dulu, gapapa ya? Belom makan juga kan,”

“Loh, nggak perlu Pak. Aduh saya jadi banyak ngerepotin bapak nanti.”

“Tuhkan bawa bawa ngerepotin lagi, santai aja Hen. Dah, saya nggak nerima penolakan.”

Mau bagaimana lagi, akhirnya Hendery hanya mengikut kemana dirinya ini dibawa oleh bosnya itu.

Toh, Johnny juga harus berterima kasih kan kepada sekretarisnya yang sudah capek-capek ngurus banyak jadwal dirinya dan mengikuti dirinya 2 hari acara kemarin.