229.
“Lama banget sih Jo! Muak gue liat ni anak dua malah menebar keju di depan gue,” Sambat Yuta sesampainya Johnny yang bahkan belum mendudukan dirinya itu di bangku.
“Alay lo, gue gak ngapa-ngapain padahal daritadi.” Ucap Jaehyun dengan tangan yang sedang memainkan jari milik lelaki berambut pink – Oh maksudnya Taeyong, lelaki itu udah berambut violet sekarang.
Johnny yang melihat tangan milik Jaehyun langsung memutarkan bola matanya malas, “Gak ngapa-ngapain, lo liat lah tuh tangan lo ngapain, lagi ngitung kelereng?”
Taeyong yang mendengar jokes recehan milik Johnny tertawa.
“Kok lo nggak jaga bar?” Tanya Johnny yang dipastikan untuk Taeyong.
Taeyong menggeleng, “Bukan shift gue. Tuh, pesen aja ketemen gue di sana.”
Johnny mengangguk lalu menarik Yuta dari tempat duduknya, bermaksud untuk menyelamatkan dari Jaehyun yang sedang menjadi budak cinta dan untuk menemani dirinya memesan minuman.
“Gimana sama Ten, Jo? Winwin nanyain mulu dikira gue tau kali ya.” Tanya Yuta setelah Johnny memesan minuman kepada bartender yang ada di bar.
“Masih gitu gitu aja, cuma anaknya makin kesini makin suka kabur-kaburan.”
“Dia nolak lo kali makanya dia sengaja kabur-kaburan.”
Johnny menggeleng, “Kabur-kaburannya gara-gara gamau ngaku dia kangen sama gue, gemes banget gak si Yut.”
Yuta memutarkan bola matanya malas, “Alah anjing budak cinta semua gini.”
“Kayaknya, Ten emang tipe orang yang begitu ya. Dia belom bisa buat apa ya namanya, mendeskripsikan rasa yang dia rasain ke seseorang. Ya gak sih?” Tanya Yuta lagi, Johnny mengangguk setuju.
“Tapi, ya gue gak mau geer dulu sih Yut.”
“Lo gak ada niatan buat, ngapain gitu di pantai?” Yuta mengambil satu batang rokok dari sakunya lalu mengambil pemantik kemudian ia bakar batang rokok miliknya itu.
“Yut, gue ngajak ngewe orang juga pilih-pilih tempat.”
Yuta menoyor kepala Johnny sangat enteng, “Maksud gue bukan ngewe tolol. Kayak lo gak ada acara nembak romantis-romantisan gitu di pantai?”
Johnny terdiam, dia bahkan nggak kepikiran sampai situ. DIa cuma memikirkan, dia mau ngajak Ten refreshing setelah melalui penatnya pekerjaan dan segala jenis project yang keduanya baru saja lalui.
Johnny menggeleng, “Enggak Yut. Niat gue ngajak dia ke pantai cuma pengen biar dia refreshing aja. Dia pasti capek meskipun bilang ke gue dia nggak capek. Dia pasti butuh udara segar.”
Yuta mengangguk-angguk setuju, kemudian membawa gelas dan minuman yang sudah Johnny pesan. Beberapa Johnny juga bawa.
Johnny, Jaehyun, dan Yuta memang memiliki toleransi terhadap alkohol yang lumayan tinggi, begitu pula dengan Taeyong.
Entah sudah berapa banyak gelas mereka berempat habiskan, namun keempatnya itu masih sangat fresh.
“Yong, lo ikut kan weekend ini ke pantai? Udah diajak Jaehyun belom?” Tanya Yuta setelah menyesap minumannya itu.
Taeyong mengangguk, “Berempat doang apa gimana deh?”
“Berenam Yong,” Ucap Johnny kemudian mengambil gelas kesekiannya dan menegukan minuman tersebut.
“Dua lagi siapa? Pacar lo berdua ya? Ohh, si cowo yang waktu itu dateng juga nggak sih bareng lo bertiga?”
Yuta seperti mengingat-ingat, Oh iya benar dia pernah mengajak Winwin kesini beberapa kali, “Winwin? Iya sama dia, tapi dia bukan pacar gue anjir.”
“Jangan didengerin Yong, dia mah denial terus. Mantan mantan, tapi kelakuan kayak masih punya hubungan.” Cibir Jaehyun membuat Taeyong mencubit pinggang Jaehyun. Entah, dia hanya suka mencubit pinggang Jaehyun.
“JUN!! LO NGGAK PERNAH PAHAM SAMA APA YANG GUE RASAIN. GIMANA KALO LO YANG DIGITUIN????? DIEM JUN.” Tiba-tiba suara teriakan yang terdengar sangat kencang memekakan telinga milik Johnny.
Bukan hanya itu, ia mengenal suara siapa ini.
Keempat lelaki itu sampai-sampai menengok kearah sumber suara.
Lelaki yang sedang menenangkan lelaki lain di depannya itu menunduk meminta maaf kepada pelanggan club lainnya.
Lelaki yang sedang terlihat tidak baik-baik saja itu mulai berdiri dari tempat duduknya, sedangkan lelaki lainnya menarik tubuh lelaki tersebut, untuk tetap duduk di tempatnya.
Namun tetap saja, si lelaki ini kalah, tenaganya sangat kuat.
“Hendery?” Johnny menggumam, kirain hanya suaranya yang mirip, ternyata siluet itu, benar-benar sekretarisnya, Huang Hendery.
“Siapa Jo?” Tanya Yuta setelah mendengar gumaman Johnny.
“Sekretaris gue anjir.”
“Lo apain anak orang sampe mabok segitunya sial.” Jaehyun melemparkan pertanyaan kepada Johnny, namun Johnny sendiripun bingung, belakangan ini dia nggak pernah marah-marah pada Hendery.
Tiba-tiba Johnny merasakan pundaknya seperti ada yang menyentuh, Johnny langsung mendongak dan Johnny bisa lihat dari dekat wajah Hendery yang sudah memerah dengan tangannya yang menyentuh pundak Johnny.
Hendery diam, Johnny diam.
Lelaki dibelakang Hendery sibuk menarik tubuh Hendery dan meminta maaf pada Johnny dan juga teman-temannya.
“Aduh, maaf ya teman saya kalau lagi mabok suka begini, nyusahin. Maaf ya maaf.” Lelaki itu berkali-kali menundukkan kepalanya dan menarik tangan Hendery yang sebelumnya bertengger di pundak Johnny.
“JUN BISA NGGAK LO JANGAN IKUTIN GUE!!” Teriak Hendery tepat di depan muka lelaki yang ia panggil 'Jun' itu.
Si lelaki itu benar-benar sabar mengurus Hendery.
Johnny tiba-tiba berdiri lalu mendatangi Hendery lalu menepuk pundak milik Hendery.
“Hen, kamu udah mabuk. Pulang, kasian temen kamu ngurusin kamu.”
Si lelaki yang mengaku sebagai temannya Hendery ini terkejut bahwa ada seseorang yang mengenal temannya itu.
“Oh, saya bosnya dia. Jangan kasih tau dia ya, nanti dia pasti malu. Saya paham kok, tolong di bawa pulang ya temennya.”
Mampus. Lelaki itu benar-benar ingin menendang Hendery saat ini juga, “Maaf Pak, Maaf. Hendery kalau mabuk memang seperti ini, Maaf Pak.”
Johnny tersenyum kecil, “Gapapa,”
Setelah sunyi beberapa detik, Hendery menengok kearah temannya yang masih memegang baju dan tangannya, “Jun?”
“Kenapa Der?”
“Pulang Jun, pusing.”
“Iya, ayo pulang.”
Setelahnya kedua lelaki itu benar-benar keluar dari club sedangkan Johnny kembali duduk.
“Dia kayaknya suka sama lo deh John.” Tembak Yuta setelah Johnny mendudukkan pantatnya di tempat duduk.
Johnny menyiram Yuta dengan air sisa yang ada di dalam gelas miliknya, “Ngaco anjir, jangan bikin gue banyak pikiran deh.”
Taeyong menggeleng, “Nggak ngaco sih, tapi emang beneran. Mata sekretaris lo, gimana cara dia ngeliat lo. Itu tatapan memuja John. Orang mabuk itu, lebih jujur.”
Jaehyun mengangguk setuju.
Johnny kembali mengambil gelasnya lalu meneguk minumannya tidak menjawab ucapan ketiga lelaki itu, menurutnya ucapan mereka semua ngelantur.
Johnny mengambil ponselnya kemudian membuka kolom chat dirinya dengan Ten.
Ia mengetikkan sebuah kalimat untuk Ten.
Ten
Saya kangen
Kepala saya pusing, Ten
Ten, jangan tinggalin saya. Ya?
Setelahnya ia meletakkan ponselnya dimeja dengan cara sedikit dibanting lalu memijit pelipisnya.
Kepalanya tiba-tiba benar-benar terasa sakit, nafasnya sedikit memburu.
“Jo, kenapa?” Tanya Jaehyun yang melihat Johnny seperti sedikit tidak nyaman dalam duduknya.
Johnny menggeleng, “Gapapa, kepala gue cuma pusing sedikit. Padahal baru minum segini.”
“Badan lo lagi kurang fit kali, lo kan baru balik dari raker. Mungkin kecapekan. Gue anterin sini, lo balik aja. Muka lo mulai pucet Jo.” Tawar Yuta, muka Johnny benar terlihat semakin pucat.
“Iya, nanti gue bawain mobilnya Yuta deh, kebetulan tadi gue bareng Taeyong jadi kita bisa pisah sebentar.” Tambah Jaehyun.
Semakin ditahan pusingnya, semakin mutar-mutar pemandangan Johnny, akhirnya ia mengangguk dan mengikuti kedua sahabatnya juga Taeyong yang membantu dirinya berjalan sampai di mobil miliknya itu.