280.

Johnny melempar tubuhnya ke sofa yang ada di dalam ruang kerjanya lalu memijit pelipisnya.

Kepalanya sudah pusing akibat rapat internal yang baru saja terlaksana dan belum lagi lihat tweet yang baru saja Ten post di twitternya itu, membuat pikirannya bercabang.

Apa benar, sebenarnya selama ini Ten tidak menganggap bahwa Johnny ini serius.

Apa benar, sebenarnya selama ini Ten pikir Johnny main-main dengannya.

“Tadi bilang makan sama Winwin, Winwin berubah wujud kah?” Monolog Johnny masih sambil memijit pelipisnya.

Dirinya sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.

Kebiasaan jelek Iohnny dari dulu adalah menyelesaikan masalah dengan meneguk alkohol.

Johnny bangun dari duduknya lalu membawa kakinya menuju kulkas mini yang ada di dalam ruangannya itu, ia butuh minuman, alkohol maksudnya.

Kadar alkohol yang ada di dalam kulkas mini ini untung memiliki kadar yang sangat rendah.

Johnny mengambil 3 kaleng lalu menutup kembali kulkas tersebut.

Johnny duduk di depan meja kerjanya lalu membuka satu kaleng, ia teguk hampir setengah kaleng, merasakan rasa manis yang mulai menjalar di tenggorokannya.

“Gue macamnya seperti orang tolol,” Johnny terkekeh dengan sendirinya, mengacak rambut rapihnya itu.

Johnny kembali berdiri dari tempat duduknya lalu mengintip keluar ruangannya, “Hen, masuk sebentar.”

Hendery yang sedang mengurusi kerjaan dan juga beberapa notulen selepas rapat internal tadi langsung mengangguk lalu merapihkan mejanya kemudian masuk kedalam ruangan Johnny.

“Permisi, Pak.”

Johnny yang sudah duduk di depan mejanya yang sangat berantakan, bahkan keadaan Johnny lebih berantakan dari mejanya itu, menyuruh Hendery duduk di sofa, “Duduk Hen”

“Ada apa Pak? Masalah rapat tadi?” Ucap Hendery.

Lalu duduk di sofa, kemudian Johnny mengikut duduk di sofa dan menawari Hendery sekaleng minuman untuk Hendery, “Mau?”

“Pak, maaf ini masih jam kerja. Bapak ada masalah?”

Oh, bahkan dirinya lupa fakta bahwa ini masih jam kerja, dan dirinya sudah sangat kacau. Hanya karena sebuah tweet dan foto.

Johnny diam, enggan membuka mulutnya, tapi sibuk meneguk minuman kaleng itu.

Lalu duduk kembali di depan meja kerjanya.

“Temenin saya sebentar ya Hen.” Pinta Johnny pada Hendery.

“Tapi—”

“Nggak usah tapi tapi, temenin saya doang kok.”

Hendery mengangguk lalu diam hanya menatap atasannya yang sedang meneguk minuman kaleng miliknya itu.

“Maaf kalau saya lancang, tapi kalau Bapak ada masalah, jangan sungkan untuk diceritakan ke saya, mungkin saya nggak bisa bantu banyak. Tapi dengan bapak cerita, beban bapak bisa berkurang sedikit.” Hendery mencoba untuk membuka topik, Johnny tetap diam.

Hendery akhirnya mencoba mencari kegiatan dengan membersihkan meja yang ada di depan sofa..

“Salah nggak saya cemburu. Harusnya it's not a big deal karena saya juga bukan siapa-siapa. Tapi, saya rasanya cemburu, mereka terlalu dekat. Saya bingung saya harus apa. Kalau saya bilang ke dia, saya lemah banget kayak gitu aja cemburu.

Tapi, saya cemburu. Saya, bingung harus apa.”

Johnny hanya melanturkan kalimat tanpa konteks yang bisa Hendery mengerti, namun lelaki itu mengangguk mendengarkan.

“Saya cuma mau, saya nggak di cap sebagai orang yang pencemburu. Tapi, saya cemburu.”

“Pak, cemburu itu manusiawi, asal dari kita sendiri bisa membatasi kadar cemburu kita. Kalau memang Bapak nggak suka 'dia' terlalu dekat sama orang lain. Bilang, Pak.”

Johnny menggeleng, “Saya nggak mau membatasi dia untuk bergaul dengan siapapun. Tapi, terlalu dekat. Saya, cemburu.”

Hendery mengangguk paham, “Bapak pernah bilang tentang ini ke dia?”

Johnny menggeleng lagi.

Hendery menghela nafas, “Pak, komunikasi itu penting. Begini begitu dalam hubungan harus menjadi kesepakatan antara Bapak dan dia.”

“Hen, saya bukan siapa-siapa dia. Tapi, saya cemburu.”

Hendery diam.

Johnny berdiri dari duduknya, kembali ikut duduk di sofa bersama Hendery.

Ia menidurkan badannya di sofa, Hendery masih diam, berusaha menjaga jarak sedikit dengan atasannya itu.

Diam-diam ia juga menahan degup jantungnya yang daritadi tidak bisa diam.

“Hen, sayang..” Gantung Johnny dalam ucapannya lalu meneguk minumannya.

Oh, jantung Hendery semakin tidak karuan.

“Saya sayang sama Ten, Hen.” Lanjut Johnny.

Tubuh Hendery seketika keringat dingin.

Oh, ternyata atasannya ini sudah menyukai seseorang. Dan, daritadi lelaki itu membicarakan orang tersebut.

“Hen, kenapa cinta begitu menyakitkan. Saya nggak mau cemburu kayak gini.”

“Pak, cinta memang begitu menyakitkan. Fakta.”

Sebenarnya, Hendery hanya mengucapkan apa yang ada di otaknya sekarang. Tentu, tentang perasaannya untuk atasannya ini.

Benar, cinta memang begitu menyakitkan, bagaimana jadi Hendery, mendengarkan seseorang yang ia kagumi menceritakan seseorang lain dan memuja orang tersebut.

Hendery jauh. Hendery kalah.

“Hen, saya cemburu.”

Lagi, kalimat itu meluncur lagi dari mulut Johnny.

“Pak, maaf..”

Hendery memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat dengan atasannya.

Hendery hanya ingin membersihkan titik air yang tersisa di dagu Johnny.

Namun, seseorang yang tiba-tiba masuk tanpa permisi melihat dari sisi yang berbeda.

“JOHNNY LO GILA YA ANJING, LO MAU CIUMAN SAMA SEKRETARIS LO SENDIRI???” Teriak Yuta setelah masuk ruangan Johnny tanpa permisi lalu sedikit mendorong badan Johnny menjauh dari Hendery yang masih gelagap.

Padahal bukan itu yang Hendery ingin lakukan.

Plak

Yuta benar-benar menampar pipi Johnny tepat di depan mata Hendery.

“Sadar anjing. Lo mau cium siapa? Sadar!”

“Lo, bisa ke ruang kesehatan dulu, istirahat.” Yuta menyuruh Hendery untuk keluar dari ruangan Johnny.

Entah, Yuta setiba-tiba itu sangat emosi melihat Johnny hampir 'ciuman' dengan orang lain yang bukan Ten.

“Lo masuk tanpa permisi dan tiba-tiba nampar pipi gue maksudnya apa Yuta?!” Balas Johnny tak kalah tinggi teriakannya.

Oh, bahkan lelaki ini sudah mengeluarkan tetes air mata, kepalanya sudah sangat pusing.

“Lo yang kenapa?! Jangan mentang-mentang lo lagi mabok dan nggak sadar siapa yang mau lo cium ya Johnny? “

Johnny menjambak rambutnya sendiri, ia frustasi.

Tadi dia bukan ingin ciuman dengan Hendery. Dan juga dirinya sendiri tidak tau, apa yang akan dilakukan oleh Hendery.

“GUE CEMBURU YUTA. GUE CEMBURU. Apa gue gak boleh cemburu sama Ten?! Dia bilang mau makan siang sama Winwin, tapi apa? Ternyata malah berdua sama Lucas. Dari kemarin Lucas selalu nyuri start duluan.

Gue cemburu Yuta. Gue cemburu liat Ten sebegitu dekatnya dengan Lucas. Apa gue salah?! SALAH GUE CEMBURU SAMA TEN?!”

Johnny berteriak tepat depan muka Yuta, mengeluarkan emosinya di depan Yuta.

Plak

Lagi. Yuta menampar pipi Johnny lagi.

“Salah. Lo salah besar cemburu sama Lucas, Jo. Gue tau seberapa deket lelaki tiga itu. Ten, Lucas, dan Winwin.”

Johnny diam, ia masih mengelus pipinya yang ditampar dua kali oleh Yuta sambil menatap Yuta nyalang.

“Jangan jadi pengecut, coba. Kalo lo gini aja udah negatif thinking, gimana kedepannya Jo. Tanya orangnya langsung, gak kayak gini. Gue semalem udah bilang, komunikasi. Bukan malah diem mikirin ini semua sendirian.

Bayangin, kalo yang masuk tadi itu Winwin, atau mungkin Ten?! Udah Jo, hilang semua kesempatan lo. Jo, gue kecawa banget lo kenapa sih.”

Yuta ikutan frustasi mengingatkan temannya ini.

Yuta benar-benar seemosi itu melihatnya, bahkan ada rasanya Yuta ingin menjabak, menonjok, menendang Johnny. Tapi ia urung niatnya.

Yuta menghela nafas lalu mengajak Johnny untuk duduk di sofa, mengambil kaleng yang sudah Johnny remukan dengan tangannya itu untuk melampiaskan emosinya.

“Tenangin diri lo, jernihin pikiran lo. Lo percaya sama Ten kan? Oh, kata lo tadi dia bilang mau makan sama Winwin ya? Tadinya emang iya, tapi gue narik Winwin dan Winwin sendiri yang nyuruh Ten buat makan sama Lucas karena kasian Ten sendiri berhubung lo lagi rapat.” Yuta menjelaskan sedikit demi sedikit.

Johnny semakin merasa bersalah, semua pikiran negatifnya benar-benar menguasai isi kepala dirinya.

“Sekarang, lo jujur dan ngomong semuanya langsung ke Ten. Resapi apa yang udah gue dan Jaehyun bilang semalam. Hubungan itu cuma punya lo dan Ten, berdua. Semua harus dirombak berdua.”

Johnny mengangguk, “Thanks Yut.”

“Jangan jadi pengecut. Temen gue gak ada yang pengecut.”

“Gue cuma takut—”

“Buang semua rasa takut lo. Lo pernah nyoba? Belom kan, kenapa takut?”

Johnny menghela nafas, semua ucapan Yuta ada benarnya.