288.

“Ten!” Johnny memanggil nama Ten dari depan pintu kantornya.

Iya, sejak Ten bilang bahwa dirinya sudah otw dengan Lucas, lelaki itu menunggu di bawah, tepatnya di depan pintu kantor miliknya.

Ten dan Lucas yang mendengar panggilan itu langsung berjalan menuju tempat dimana Johnny berdiri.

Dari jauh, Johnny bisa melihat Lucas yang menahan tawanya mati-matian.

“John,” Ucap Ten sesampainya ia di depan Johnny.

Sedangkan Lucas, “HAHAHAHAHHAHA ANJIR GAK KUAT GUE TEN”

Lelaki itu akhirnya melepas tawanya tepat di depan Johnny.

Johnny yang tau mau dibawa kemana topik yang diketawai oleh Lucas langsung menggaruk tengkuknya dan menunduk, ia malu.

Besok-besok, nggak lagi Johnny membiarkan pikiran negatifnya bersarang di kepalanya itu.

Ten menyenggol Lucas dengan sikutnya, “Heh diem anjir, tuh anaknya malu.”

Lucas semakin tertawa, bahkan Jungwoo yang melihat Lucas sedang tertawa tepat di depan atasannya itu ikutan malu, duh gak kenal deh.

“Jungwoo!” Teriak Ten memanggil Jungwoo membuat Lucas berhenti tertawa lalu tersenyum lebar melihat pujaan hatinya itu, kemudian Lucas lari kecil menuju Jungwoo yang sudah siap ingin pulang.

Jungwoo mengaitkan tangannya di sela-sela tangan milik Lucas lalu keduanya berjalan menuju arah keluar dimana Johnny dan Ten masih berdiri disana.

“Pak, duluan pulang ya.” Ucap Jungwoo kemudian nunduk sopan kepada atasannya itu.

Johnny tersenyum kikuk, “E-eh, iya Jungwoo hati-hati. Makasih ya.”

Lucas masih saja menahan tawanya lalu pamit kepada Ten dan juga Johnny, “Duluan ya, santai aja Pak Bos, Ten aman gak lecet kok.”

Ten yang mendengar itu langsung mencubit sikut milik Lucas, “Balik lo sana, rusuh aja.”

Akhirnya Lucas dan Jungwoo benar-benar pergi dari hadapan Johnny dan Ten.

“Uhm, keruangan saya aja ya sebentar?” Ucap Johnny memecah keheningan, Ten mengangguk nurut dan ikut berjalan dibelakang Johnny.

“Sini,” Johnny mengarahkan tangannya kearah tangan kosong milik Ten, ia bawa untuk dipegang lalu keduanya berjalan menuju ruangan Johnny yang berada di lantai 2.

Hening, namun jantung keduanya benar-benar berdegup kencang. Rasa canggung ini, keduanya menikmati.


“Saya minta maaf, Ten.” Ucap Johnny setelah Ten duduk di sofa, Johnny ikut duduk di sebelah Ten.

Ten menghadapkan dirinya kearah Johnny, keduanya saling menatap wajah satu sama lain.

“Kita udah sama-sama gede, seharusnya masalah kayak gini bisa saling terbuka. Sekarang, lo mau gimana?”

Johnny benar-benar merasa bersalah, ia membawa dirinya duduk di lantai memohon di depan Ten yang masih duduk di sofa, “Maaf, saya minta maaf sudah seperti itu. Saya hanya ingin tidak membatasi kamu untuk berteman dengan siapapun itu. Tapi, pikiran negatif saya benar-benar bermain saat itu.”

Ten diam menatap Johnny yang masih memegang kedua lututnya dan masih duduk di lantai, “Jadi orang harus tegas, kalo lo mau merjuangin gue, perjuangin. Jangan cuma karena lo liat dari satu sisi, terus lo ngeklaim yang lain padahal itu semua belum tentu benar.

Lo juga harus lebih dewasa, kenapa nggak langsung tanya gue? apa dengan lo nanya ke gue, gue bakal marah sama lo? Nggak John, bahkan kalo lo nanya, semua kesalahpahaman beres. clear.”

Mendengar ucapan yang dikeluarkan dari mulut Ten membuat Johnny habis-habisan memaki dirinya sendiri dalam hati.

“Ten, maaf. Maaf saya mengecewakan kamu, maaf saya nggak dewasa dalam menyelesaikan masalahnya yang bahkan dibuat oleh pikiran saya sendiri. Maaf saya seperti membuang kesempatan yang udah kamu berikan.”

Ten mengelus surai milik Johnny dengan lembut lalu berdiri dari duduknya, Ten juga memegang kedua tangan Johnny untuk ia ajak berdiri, menatap dirinya.

Lelaki mungil itu tanpa berfikir panjang langsung memeluk tubuh lelaki yang ada di depannya saat ini.

“John, gimana gue mau lepasin lo, disaat gue udah sayang sama lo?”

Ucapan itu, membuat tubuh Johnny membeku.

“Gue kecewa, iya. Tapi dengan cara lo yang akhirnya bilang dan jujur sama gue, gue paham. Mungkin gue jadi lo bakal berlaku seperti itu, tapi tolong jangan kayak gitu lagi ya?”

Johnny masih diam, dirinya masih mencerna kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Ten.

Ten melepas pelukannya itu lalu sedikit mendongak guna menatap wajah milik Johnny.

“John,”

“Ya, Ten?”

Ten mengecup bibir Johnny secepat kilat lalu tersenyum manis, “Mungkin gue jarang kayak gini ke lo. Tapi lo wajib tau, gue sayang sama lo John. Meskipun gue galakin lo mulu, cuek sama lo. Gue, sayang sama lo John. Gue cuma gak bisa mengekspresikan rasa sayang gue ke orang.

Lo, mau ngajarin gue?”

Johnny terdiam, bibirnya terbuka. Ia terkejut, tentu. Tamparan yang dimaksud oleh Ten, ini?

Johnny mengambil kedua tangan Ten sebelum Ten berubah pikiran dan mencabut semua kalimatnya itu lalu mengaitkannya dengan tangan miliknya.

“Saya memang nggak sepinter itu untuk mengajari kamu, tapi, saya akan tetap mengajari kamu dan juga menuntun kamu, Ten. Terima kasih Ten, karena kamu saya banyak belajar. Saya lebih banyak memahami, saya merasakan gimana susahnya merjuangin seseorang, dan juga saya merasakan jatuh bangun mendapatkan kamu.

Ten, mungkin dikehidupan sebelumnya saya pernah melakukan hal jahat dan karma itu ada, saya banyak belajar. Tapi, saya bahagia. Sangat bahagia, karena dikehidupan sekarang, saya dipertemukan dengan kamu, seseorang yang memberikan saya banyak pelajaran hidup.

Ten, saya cinta sama kamu. Terima kasih, sudah hadir dan memberikan saya banyak kesempatan untuk terus memperjuangkan kamu. Saya cuma mau bilang bahwa kamu, sangat layak diperjuangkan.”

Johnny menatap Ten dalam, ia bawa tangannya memegang tengkuk milik Ten lalu membawa bibirnya bertemu dengan bibir milik Ten.

Tidak ada lumatan, hanya menempel, keduanya menyalurkan perasaan yang terpendam melalui ciuman singkat tersebut.

“Ayo, belajar bersama. Saling mengkoreksi dan juga saling mengingati satu sama lain.” Ucap Johnny sambil menyingkirkan poni milik Ten yang menutupi matanya.

“Belajar ulangan kali belajar bareng.” Celetuk Ten tiba-tiba membuat Johnny menyentil jidat milik Ten.

“Kamu nih, nggak bisa romantis sebentar.”

“GELIIIIIII, bukan gue banget Johnny.” Ucap Johnny sambil menaikan bahunya, merasa geli dengan dirinya sendiri.

Johnny kembali menarik tubuh Ten untuk masuk kedalam pelukannya, “Gemes. Gemes kamu gemes.”

Pipi Ten memerah, “Apasih! huuu dasar tuh nyembah-nyembah lagi HAHAHAHA.”

Nggak masalah hari ini Johnny kembali malu akibat kelakuan dirinya sendiri, yang penting hari ini dia berhasil menyelamatkan hubungan miliknya dan Ten.


@roseschies