30 Days

-Johnten Oneshot AU-

Warn! angst, death


Hanya menceritakan tentang dua insan yang saling mengisi dalam kurun waktu 30 hari.

All Johnny’s POV


—Day 1

Hari ini aku dikejutkan oleh seorang pasien yang sepertinya baru pertama kali ini aku lihat berkeliaran di sekitar rumah sakit lebih tepatnya datang ke cafeku.

Lelaki tersebut terlihat sangat ceria, jarang sekali aku melihat pasien seceria dia.

Postur tubuhnya kecil sangat kecil, menggemaskan.

Potongan rambutnya sangat lucu, seperti anjing puddle dengan warna hitam mengkilat. Cocok dengan wajahnya yang terbilang imut.

Ah, tak lupa dia memesan satu orange squash dengan tambahan pesan tolong tambahkan pemanis agar tidak terlalu asam.

Bahkan, cara dia menyeruput minuman miliknya itu sangat menggemaskan.

Dia duduk di ujung cafe, menyendiri namun terasa asik dengan menggoyangkan kaki-kakinya tak lupa dia juga bersenandung kecil dengan kuping yang tersumpal earphone.

Dia berada dalam dunianya, dunia ceria-nya itu.

Oh, dia juga memegang buku bacaan kalau tak salah lihat judulnya around the world in 80 days.

Tak sengaja aku menghitung berapa lama dia duduk disana, ternyata tepat 15 menit dia berdiri dari tempat duduknya dan mengemas hingga membersihkan kembali tempat duduk seperti semula.

Bahkan, dia membawa tempat minum yang sudah habis tak tersisa itu ke area tray khusus barang-barang kotor.

Aku jarang sekali menemukan orang seperti dia.

Dia sangat baik hati.


—Day 2

Oh, oh! Hari ini dia datang kembali!

Hari ini wajahnya agak sedikit lesu, mungkin dipaksa untuk meminum obat.

Biasanya sih, pasien yang datang ke cafe-ku sering curhat, mereka benci dipaksa untuk meminum obat, namun bagaimanapun mereka harus tetap hidup dengan cara meminum obat-obatan tersebut.

Satu kata, Malu.

Aku memang pengecut, malu untuk bertanya. Biarkan saja. Mungkin memang hari ini dia sedang tidak dalam mood yang baik.

Namun, dia tetap sama. Memesan orange squash dengan tambahan pesan tolong tambahan pemanis.

Aku takut takut untuk menuangkan pemanis, takut dia diabet.

Maka dari itu, aku tuangkan sedikit hanya untuk menghilangkan rasa keasaman yang ada.

Bahkan, hari ini dia tidak membawa buku yang kemarin dia baca.

Oh, bahkan dia tak menyumpal kupingnya dengan earphone.

Ada apa ya?


—Day 3

Tak aku sangka, ternyata dia datang lagi.

Tunggu….

Mood dia kembali! Hari ini dia bahkan lebih ceria daripada hari pertama datang kesini.

Tetap dan selalu sama, dia memesan orange squash dengan tambahan pemanis. Aku sampai hafal.

Namun, hari ini dia juga memesan satu buah croissants.

Aku sempat bertanya, apakah diizinkan oleh dokter dan dia jawab tentu saja.

Iya, hanya hal tersebut yang berani aku tanyakan pada dia.

Sudah hari ketiga, aku masih menjadi seorang pengecut.


—Day 4

Hari ini, aku tidak bertemu dengan dia.

Sayang sekali, karena hari ini aku kebagian shift malam.

Padahal biasanya aku selalu ditaruh di shift pagi hingga siang atau siang hingga sore.

Mungkin, lain kali aku masih bertemu dengan dia, bukan?


—Day 5

Jadwal-ku kembali!

Hari ini aku bersama dengan Jaehyun, salah satu rekan baristaku di cafe ini.

Oh, tentu saja, aku sudah bercerita mengenai dia pada Jaehyun.

Alih-alih jika aku tidak sadar saat meracik minuman namun dia datang secara tiba-tiba, maka Jaehyun akan menarik baju milikku menandakan bahwa dia datang, kembali.

Dan benar saja, tepat jam satu siang jam dimana dia datang seperti sebelum-sebelumnya.

Oh, hari ini dia membawa buku-nya kembali. Around the world in 80 days.

Aku jadi penasaran, kenapa ya dia membaca buku tersebut?


—Day 6

Ugh, Hari ini aku jatuh sakit, entah kenapa. Sepertinya aku sedikit drop.

Apa aku paksa diriku untuk tetap bekerja, ya?

Tidak, tidak. Aku harus istirahat agar keesokannya bisa lebih fit dan kembali bekerja.

Uh, sebenarnya aku ingin bertemu dengan dia lagi.

Entah, dia sangat candu bagiku.

Maksudku, iya seperti itu.


—Day 7

Hari ini aku kembali bekerja, kondisiku membaik semalam. Terima kasih kepada Dokter Kun yang sudah memberikan obat jitu untukku.

Dengan harapan, hari ini dia kembali datang.

Cafe hari ini sedikit sepi, takut takut harapanku hilang. Dia tidak datang kembali, lagi.

Bahkan hingga jam tiga, dia belum juga datang. Tak ada satupun orang yang berlalu lalang di depan pintu cafe.

Aku dan Jaehyun hampir saja berkemah di dalam cafe akibat terlalu sepi hari ini. Hal ini merupakan hal langka.

Oh!

Dia kembali, lagi.

Namun, tidak sendiri.

Dia menggandeng seorang lelaki disebelahnya, dia bergelayut manja di lengan si lelaki. Asik memandangi tautan tersebut, aku sampai tak sadar ternyata lelaki yang berada di sebelah dia adalah Taeyong, salah satu pasien rumah sakit ini.

Selain itu, Taeyong merupakan temanku, Taeyong merupakan salah satu pelanggan setia cafe ini disamping itu juga, Taeyong yang juga seumuran denganku.

Dan, menjadi pacar Jaehyun merupakan hal bonus antar kedekatanku dengan Taeyong.

Dia kembali memesan menu favorite-nya itu, orange squash dan tak lupa dengan pemanis yang aku tambahankan hanya sedikit.

Jaehyun mengajakku untuk menemui mereka namun aku masih malu.

Jadi, aku berdiam diri di depan meja kasir. Melihat Jaehyun yang asik bersenda gurau dengan Taeyong dan sesekali dia ikut dalam keasikan obrolan Jaehyun dan Taeyong.

Aku, iri.

Namun, aku tetap diam berdiri di depan meja kasir, tanpa ada keinginan lebih lanjut untuk ikut berbincang disana.

Panggil aku si pengecut.


—Day 8

Hari ini aku kebagian shift sendiri, tanpa Jaehyun.

Biarkan aku berharap, dia datang lagi.

Mulai sekarang, aku tidak mau menjadi seorang pengecut. Jangan panggil aku si pengecut lagi.

Tepat jam satu siang, pintu cafe berbunyi dilanjut dengan tawa dua orang lelaki yang familiar masuk kedalam kupingku.

Iya, itu Taeyong dan dia.

Tak lupa aku menyapa Taeyong dan tersenyum pada dia.

Dia membalas senyumanku.

Tuhan, apakah surga bocor? Salah satu bidadarimu jatuh turun kebawah.


—Day 9

Hari ini, Jaehyun memilih masuk shift siang. Padahal, hari ini jadwal yang bekerja hanya sendiri, maka dari itu aku tidak bisa masuk shift siang.

Jaehyun, memaksa.

Dan aku mengalah, untuk pindah ke shift malam.

Katanya sih, Jaehyun ingin memberikan sebuah kejutan untuk Taeyong.

Tapi, tidak mengorbankan jadwalku juga!

Sialan, Jung Jaehyun.


—Day 10

Aku hari ini datang terlambat, tepat 13.20 aku baru siap bekerja.

Tapi, aku tidak terlambat bertemu dengan dia.

Dia sudah duduk manis di tempat duduk yang biasa dia tempati.

Kali ini dia sendiri, tanpa Taeyong menemani.

Aneh, dia tidak memesan orange squash.

Aku melihat dia menyeruput minuman rasa cranberry disana. Tidak biasanya.

Oh, tapi dia kembali membaca buku around the world in 80 days tak lupa dengan kuping yang disumpal dengan earphone dan kacamata bulat yang bertengger.

Aku, jadi kasihan dengan kupingnya memegang banyak beban.

Semoga, kuping dia tidak berteriak kelelahan.


—Day 11

Takut takut terlambat seperti kemarin, hari ini aku sudah siap sedia sejak pukul 09.30 tadi.

Padahal, jadwalku dimulai 10.00.

Aku menyesal tau, tidak tepat waktu seperti kemarin.

Tepat pukul 10.00, pintu cafe berbunyi tanda seseorang masuk.

Tak kusangka, dia datang sepagi ini disaat aku datang lebih rajin dari biasanya.

Aku tersenyum lebar, dia pun membalas tak kalah lebar.

Refleks, senyumku begitu lebar setelah melihat dia datang, kembali.

Oh, dia kembali memesan orange squash. Kali ini, aku memberanikan diri untuk bertanya apakah baik-baik saja untuk terus memesan orange squash.

Tidak masalah, jawabnya.

Mood dia hari ini terlihat lebih baik bahkan semakin baik. Bibirnya sudah tidak sepucat kemarin.

Apakah dia semakin membaik hari kehari? Apakah dia sedikit lagi sembuh dari penyakitnya?

Ku harap, yang terbaik untuk dia. Selalu.


—Day 12

Hari ini shiftku bersama dengan Jaehyun lagi.

Sudah dipastikan, jika hari ini dia datang pasti bersama Taeyong.

Benar saja, tepat jam satu siang, dia datang bersama Taeyong.

Dia tersenyum lebar sampai memperlihatkan deretan giginya itu sambil bercanda tawa dengan Taeyong.

Aku yakin, mood dia hari ini sangat bagus.

Lagi, dia memesan kembali orange squash.

Namun, setelah memesan, Taeyong memarahi dia akibat selalu memesan orange squash.

Tapi ternyata, pemenangnya adalah dia. Dia tetap memesan orange squash, lagi.

Oh, tentu saja dengan tambahan pemanis yang aku tambahkan hanya sedikit.

Kali ini, aku mengikut Jaehyun untuk berbincang dengan Taeyong.

Ugh, aku sangat malu untuk mengawali topik pembicaraan dengan dia. Takut takut jadi canggung.

Taeyong ini, sangat tidak peka. Tolong, bantu aku untuk membuka pembicaraan dengan dia.

Andai, Taeyong bisa mendengar teriakanku dalam hati ini.

Ternyata, sampai hari ke-12 aku masih bisa dipanggil si pengecut.


—Day 13

Hari ini dia datang lagi, bersama Taeyong.

Aku senang, mood dia belakangan ini sangat bagus, ia sangat suka tertawa bahkan hingga memukul lengan Taeyong.

Bahkan, setiap Jaehyun melontarkan candaan yang menurutku itu sama sekali tidak lucu, dia tertawa.

Oh, hari ini aku ada kemajuan!

Tidak juga sih sebenarnya, aku hanya bertanya mengenai kondisi dia saat ini.

Tidak ada obrolan lebih lanjut lainnya, selanjutnya hanya diisi oleh Jaehyun yang selalu melontarkan candaan ala bapak-bapaknya itu dan reaksi dia yang selalu tertawa akan candaan Jaehyun.

Suatu saat, senyuman dan tawaan milik dia beralasan karena aku. Aku yakin, suatu saat.


—Day 14

Hari ini, dia datang kembali.

Bersama Taeyong, lagi. Sepertinya dia hanya mengenal Taeyong disini.

Tapi tidak masalah, toh Taeyong baik karena selalu menjaga dia.

Apa aku harus berterima kasih pada Taeyong?

Eh? Aku siapa?

Lupakan. Hari ini, dia kembali memesan orange squash bedanya hari ini dia memintaku untuk tidak menambahkan pemanis. Aneh.

Aneh lagi, karena mood dia hari ini seperti kurang bagus.

Oh, Taeyong bercerita kalau hari ini, dia ada medical check-up.

Aku sempat berpesan pada dia untuk tetap selalu bersemangat agar check-up hari ini mendapatkan hasil yang sangat memuaskan tak lupa aku juga memberikan dia satu buah donat sebagai tanda penyemangat.

Voila, seperti sihir, dia langsung tersenyum sangat manis.

Bahkan, manisnya donat kalah jauh dengan senyum milik dia.

Terima kasih donat, sudah memberiku sebuah topik pembicaraan di hari ke-14 ini.

Aku tidak lagi menjadi seorang pengecut.


—Day 15

Hari ini, dia datang kembali.

Hanya sendiri, tanpa Taeyong disampingnya.

Saat dia memesan orange squash aku tidak sengaja melihat mata cantik miliknya itu terlihat sedikit sembab. Tanda dia habis menangis seharian.

Air mukanya bahkan terlihat sangat sendu.

Aku menyuruh dia untuk duduk terlebih dahulu, karena dia terlihat sangat lesu, takut takut dia terduduk pingsan jika aku membiarkan dia tetap berdiri menunggu.

Sebelum mengantarkan minuman miliknya, aku sempatkan untuk membuat sebuah notes di nampan yang akan aku berikan untuk dia.

“Apapun yang sedang kamu lewati, semoga kamu tetap semangat. Jangan lupa untuk selalu bahagia, ini orange squash favoritemu. Semoga, minuman ini bisa membangkitkan mood-mu.”

Aku bisa melihat, dia tersenyum lebar setelah membaca sticky notes yang sudah kutempelkan di nampan.

Iya, setelah memberikan nampan tersebut aku cepat-cepat pergi dari hadapannya.

Sepertinya aku kembali menjadi manusia pengecut, kali ini.

Tapi, biarkan. Setidaknya, senyuman lebar itu beralaskan karena sticky notes yang aku berikan.

Itu semua, sudah cukup.


—Day 16

Hari ini, dia belum datang juga. Bahkan waktu shiftku sedikit lagi hampir selesai, apa dia sudah bosan bertemu denganku?

Tuhan, tolong untuk tetap pertemukan aku dengan dia.

Bahkan, sudah hari ke-16, aku belum tau juga siapa nama dia.

Tidak lucu bukan, jika aku menganggumi seseorang yang bahkan aku belum tau siapa nama dia.

Oh!

Dia datang tepat 5 menit sebelum shiftku selesai.

Mood dia sedikit membaik, meskipun aku masih merasakan sedikit kesedihan di dalam dirinya.

Namun, dia sudah kembali memamerkan senyuman terindah miliknya.

Lagi, dia tetap memesan orange squash.

Oh, kali ini dia kembali membawa bukunya itu, around the world in 80 days.

Aku jadi penasaran, kenapa ya dia suka dengan buku itu?

Sebaiknya, besok aku tanyakan padanya sekalian bertanya mengapa Taeyong tidak lagi datang bersama dia.

Mungkin.

Jika Tuhan masih memberikan kesempatan untukku tetap bertemu dengan dia, esok hari.


—Day 17

Terima kasih Tuhan.

Hari ini, aku masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan dia.

Bahkan, hari ini dia kembali membawa buku tersebut.

Dewi fortuna sedang berpihak padaku.

Waktu yang sudah kutunggu-tunggu, akhirnya datang juga.

Aku memberanikan diri ini untuk duduk di depan dia yang sedang asik membaca sambil mendengarkan lagu, sedikit-sedikit dia bergumam dan menggerak-gerakan kepalanya asik mendengarkan lagu tersebut.

Terlalu asik dia membaca dan mendengarkan lagu, dia sampai tidak sadar bahwa aku sudah duduk di depan dia selama 7 menit.

Untung saja, cafe hari ini tidak terlalu ramai pengunjung.

Muka kaget itu, sangat menggemaskan.

Taeyong sudah keluar dari rumah sakit, dia di vonis sudah sembuh dari penyakitnya, Kata dia.

Oh, aku jadi tau sekarang alasan mengapa dia sendu dan sembab kemarin. Menangisi kepergian Taeyong.

Benar, Taeyong merupakan sahabat dekatnya di rumah sakit ini.

Aku sempat bertanya, kenapa dia sangat menyukai buku ini.

Ah, aku sangat bodoh. Ketauan sekali ya, kalau aku ini selalu memerhatikannya?

Namun, sepertinya dia tidak peduli.

Jawabannya simpel, menurut dia buku ini menarik dari judulnya dan setelah baca setengah, dia mulai jatuh cinta.

Dia bercerita mengenai buku ini padaku, cukup memakan waktu lama. Hampir satu jam, sampai-sampai Yuta, si barista shift selanjutnya sudah datang.

Aku suka, sangat suka dengan buku tersebut. Sangat tertarik untuk membaca juga, bahkan sampai lupa waktu karena mendengarkan dia bercerita dengan semangatnya mengenai isi buku tersebut.

Atau sebenarnya, aku suka karena dia yang menyampaikan ya?

Ah, aku lupa akan satu hal. Bertanya siapa namanya.

Yasudah, aku kembali berharap Tuhan tidak bosan memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan dia, esok hari.


—Day 18

Hari ini, aku datang tepat waktu entah kenapa aku sangat bersemangat hari ini.

Tidak ingin berharap banyak bahwa dia akan datang hari ini.

Tapi, aku berdoa setiap saat semoga Tuhan mendengar.

Tepat jam satu siang, dia datang kembali. Terasa aneh memang melihat dia datang sendiri.

Sebaiknya, aku menjadi pengganti Taeyong untuknya.

Bisa tidak ya?


—Day 19

Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Iya, itu namanya. Panjang dan susah, sedikit berlibet aku mengucapkan namanya itu.

Dia bilang, cukup panggil Ten saja.

Perfect number for perfect human. Sepertinya cocok untuk dia.

Hari ini, Ten kembali datang.

Dia mengajakku untuk jalan-jalan disekitar taman rumah sakit besok.

Senangnya bukan main. Kemajuan ini, benar-benar diluar dugaan.

Tuhan, Terima kasih sudah memberiku banyak kesempatan.

Kesempatan untuk bertemu dengan dia dan mengenal lebih dalam lagi tentang dia.


—Day 20

Hari ini, aku izin untuk tidak datang ke cafe. Untung saja, Jaehyun menyetujui untuk mengganti shift denganku.

Ten mengajakku kesana kemari, memperkenalkan banyak kucing liar yang ada di rumah sakit.

Dia bilang, di rumah sakit ini dia memiliki banyak sekali teman.

Ternyata, teman itu ialah kucing-kucing liar yang sering berdiam diri di rumah sakit.

Dia, Ten. Sangat menggemaskan.

Dia, Ten. Ternyata memiliki hati yang sangat baik. Bahkan tak hanya ke sesama manusia, hewan juga.

Dia, Ten. Terlalu sempurna untuk dunia ini.

Tuhan, Tolong untuk tetap jaga dia.

Berilah dia waktu panjang untuk tetap hidup, dunia masih membutuhkan orang seperti dia.

Tepat hari ini, hari ke-20. Aku, dibuat semakin jatuh cinta olehnya.

Tepat hari ini, Aku merasa mengenal lebih jauh sosok Ten.

Dia, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Seseorang yang sudah mengambil hati seorang Johnny Suh.


—Day 21

Biasanya, aku selalu bosan menunggu diam sendiri di cafe.

Tapi, sekarang aku sangat senang menunggu.

Lebih tepatnya, menunggu Ten datang kembali membawa senyuman terindah miliknya itu.

Ya Tuhan, aku sepertinya sudah sangat jatuh kedalam keindahan parasnya itu.

Tepat jam satu, pintu cafe berbunyi tanda seseorang masuk kedalam cafe yang sedang sunyi ini.

Buru-buru aku melihat.

Disana, Ten berdiri sambil memegang buku, earphone serta tempat kacamatanya.

Kemarin, aku sempat berbicara padanya untuk membawa totebag agar tidak kesulitan membawa barang-barang tersebut.

John, aku lebih suka membawa seperti ini. Aku ingin memamerkan pada dunia, kalau aku ini juga bisa sibuk seperti orang lain! Aku tidak sakit. Gitu, katanya.

Hari ini, dia sangat fresh.

Aku senang, sepertinya kondisi dia semakin hari benar semakin baik.

Bahkan, dia sudah lebih ceria lagi setelah kesedihannya ditinggal oleh Taeyong.

Dia banyak bercerita mengenai perawat-perawat yang menangani dirinya.

Bercerita hidupnya yang menurut dia sangat monoton.

Bercerita banyak hal, yang mungkin tidak pernah dia ceritakan pada orang lain.

Kami berdua, menghabiskan hari sampai lupa waktu. Tak terasa sudah tiga jam kami bertukar cerita.

Bahkan entah kenapa, hari ini cafe sepi pengunjung.

Seperti tau, di dalam cafe sedang ada dua insan yang sedang asik bertukar cerita tanpa ingin diganggu oleh siapapun.


—Day 22

Ugh, hari ini cafe sedikit ramai pengunjung.

Namun, hanya satu pengunjung yang sangat aku tunggu-tunggu kedatangannya.

Siapa lagi kalau bukan Ten.

Tepat jam satu siang, Ten datang.

Kali ini, dia datang tanpa membawa apapun alias dengan tangan kosong.

Air mukanya kembali sendu, murung.

Dia tetap sama, memesan minuman orange squash.

Dikarenakan hari ini cafe sedikit ramai pengunjung, aku mempersilahkan Ten untuk duduk terlebih dahulu.

Tak lupa, aku menyisipkan sebuah sticky notes di nampan untuk Ten.

Maaf, Ten. Hari ini aku tidak bisa menemanimu duduk di sana, hari ini café sedikit ramai pengunjung. Aku hanya bekerja sendiri hari ini, tidak ada back up orang lain. Aku janji, akan selalu menjagamu dari kejauhan sini. Oh, sepertinya moodmu sedang tidak baik, ini aku beri satu buah donat untuk menemanimu disana, anggaplah donat ini aku. Jadi, aku harap donat ini bisa mengembalikan moodmu, ya!

Lagi, seperti sihir, Ten tersenyum dan mengelus sticky notes yang ku berikan.

Oh!

Dia menyimpan sticky notes itu di dalam saku bajunya.

Aku, malu.


—Day 23

Hari ini, Ten kembali datang.

Aku terkejut melihat keadaannya yang entah semakin hari semakin melemah.

Hari ini, dia cukup pucat.

Aku bahkan sampai menyuruh Jaehyun untuk menjaga kasir dan meracik sendiri alih-alih aku menemani Ten dan bercerita ada apa.

Ten bilang, semalam dia lupa makan.

Jika dia lupa makan, maka dari itu dia lupa juga untuk meneguk obat-obatnya itu.

Entah, aku merasakan bahwa saat ini Ten sedang banyak pikiran.

Seperti ada yang mengontrolku, tiba-tiba saja tanganku membawa untuk mengelus lembut surai Ten.

Jangan lupa makan lagi ya, biar cepet sembuh. Nanti, aku akan ajak kamu kesuatu tempat. Tapi, sembuh dulu ya? Mau kan nyusul Taeyong?

Mendengar ucapanku, Ten mengangguk lalu tersenyum dengan indahnya.

Ya Tuhan, tolong angkat semua penyakit dia. Biarkan dia melihat indahnya dunia, bersamaku disampingnya.


—Day 24

Oh, oh!

Dia hari ini datang dengan wajah yang sangat berseri.

Aku senang melihatnya, dia tidak melupakan jadwal makan dan minum obatnya lagi!

Bibirnya bahkan sudah tidak pucat lagi.

Ten kembali memesan minuman yang sama dengan hari-hari sebelumnya.

Tak lupa, aku memberikan hadiah untuk dia. Sebuah liontin berbentuk smiley untuk Ten.

Johnny, Terima kasih. Kamu gak perlu repot-repot kasih aku hadiah. Cukup kamu ada disamping aku, itu sudah menjadi hadiah terbaik untukku. Terima kasih, Johnny. Katanya.

Ah, aku terharu hingga ingin menangis.

Tuhan pasti sedang tersenyum saat Ten lahir.


—Day 25

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, namun Ten belum datang juga.

Harusnya, shiftku sudah selesai.

Namun, aku tetap berdiam diri di depan kasir. Menunggu kehadiran Ten.

Tepat pukul enam sore, Ten belum juga datang.

Yuta sudah menyuruhku untuk pulang dan beristirahat.

Datang lagi besok, berdoa agar Ten kembali datang lagi besok,Kata Yuta.

Akhirnya, aku menurut dengan hati berat meninggalkan cafe.


—Day 26

Terima kasih lagi, Tuhan.

Hari ini tepat pukul satu siang, Ten kembali datang.

Biasanya, Ten datang menggunakan baju biasa.

Bedanya, hari ini Ten datang menggunakan baju putih-putih, baju rumah sakit.

Tidak biasanya.

Hari ini, aku sempatkan untuk berbincang dengannya. Meskipun rasanya waktu sangat cepat, karena hanya 15 menit dia menghabiskan waktu di sini.

Dia berbicara mengenai impiannya di luar sana, yang dimana ingin sekali dia capai.

Ten, suatu saat, impianmu akan kamu capai. Aku, Johnny Suh bersumpah akan menemani sampai semua impianmu tercapai.

Sehat selalu, Ten.


—Day 27

Ten, tidak datang lagi.

Padahal tadi, Taeyong datang untuk menemui Jaehyun.

Namun, hanya sendirian.

Ketika aku bertanya pada Taeyong dimana Ten, Taeyong menjawab bahwa ia belum bertemu dengan Ten. Seampainya di rumah sakit, Taeyong langsung berjalan menuju cafe baru bertemu dengan Ten.

Mungkin, Ten sedang ada medial check-up.

Tidak apa, masih ada hari esok.

Semoga.


—Day 28

Aneh.

Hari ini, sudah sampai jam enam sore aku menunggu namun Ten tidak datang lagi.

Tuhan, semuanya baik-baik saja kan?


—Day 29

Entah kenapa, sekarang aku menjadi latah.

Setiap ada seseorang yang masuk kedalam café atau terdengar bunyi pintu cafe dibuka, aku selalu cepat-cepat melihat kearah pintu dan tersenyum semangat seperti menantikan kehadiran Ten.

Namun, lagi lagi bukan Ten yang datang.

Aku seperti kehilangan semangat hidup.

Tapi, tenang masih ada hari esok.


—Day 30

Hari ini, aku lagi lagi menanti kehadiran sosok Ten.

Aku sangat rindu dengannya, rindu dengan senyuman indah miliknya, rindu dengan suara yang selalu antusias bercerita mengenai banyak hal, rindu dengan rambut hitam mengkilat miliknya itu.

Bahkan, aku rindu membuatkan orange squash untuknya.

Tepat pukul satu siang, pintu café terbuka membuat aku berharap besar bahwa Ten datang kembali.

Saat aku menengok kearah pintu, di sana ada Doyoung, salah satu perawat yang aku kenal dengan baik.

Doyoung datang memberikan sepucuk surat berwarna soft blue dengan tempelan stiker smiley, stiker tersebut sama dengan liontin yang aku berikan pada Ten beberapa hari lalu.

Di saat aku membuka isi surat tersebut, terdapat satu buah liontin persis dengan liontin yang aku berikan pada Ten dan satu buah kertas yang berisi tulisan entah dari siapa.

Doyoung mengajakku untuk duduk disalah satu tempat duduk.

Di baca ya, John. Pelan-pelan. Kata Doyoung.

Aku menurut dengan jantung yang berdegup kencang, diam-diam aku mengeratkan liontin smiley itu. Pikiran negatif mulai menghampiri, takut untuk membuka lebih lanjut.

Namun, aku tetap membuka surat tersebut lalu menghela nafas tak lupa berdoa sambil mengelus liontin smiley itu.

Dear Johnny,

Halo, Johnny. Ini aku Ten, seseorang yang sempat kamu beri liontin smiley yang sama dengan yang mungkin sedang kamu pegang sekarang. Oh, tidak. Itu bukan liontin pemberianmu, itu aku beli sendiri dengan bantuan dari Doyoung. Sekarang, kita punya liontin couple! Yang satu aku pegang, yang satu lagi kamu pegang ya, Janji? Jangan hilang ya! Aku maksa! Hehehe….

Johnny, kalau kamu membaca surat ini artinya sekarang aku sudah tidak usah menahan sakit lagi. Aku sekarang sudah bebas dari segala macam penyakit. Bisa dikatakan aku sembuh total! Kamu senangkan, Johnny? Disini, banyak orang baik Johnny. Aku gak kesepian lagi disini.

Johnny, Terima kasih sudah menemani 30 hari sebelum aku meninggalkan dunia ini. Sebelumnya aku minta maaf, gak pamit dulu sebelum pergi meninggalkanmu dan meninggalkan dunia ini. Aku, buru-buru Johnny. Aku gak mau lihat kamu sedih karena aku tinggal ketempat yang lebih indah lagi.

Aku memang sudah di vonis gak akan bisa sembuh, Johnny. Maaf aku tidak bisa memberi tau padamu fakta ini. Dan, waktuku hanya sisa 40 hari lagi, tapi ternyata Tuhan lebih sayang aku dan dia memanggilku lebih cepat dari perhitungan. Tapi! Aku tidak sedih lagi Johnny. Aku senang, senang sekali! Karena 30 hariku diisi denganmu, ditemani denganmu. Terima kasih!

Sebenarnya, Aku juga mau berterima kasih pada Taeyong yang sudah mengenalkanku dengan café dimana kamu bekerja. Aku memang bukan orang yang suka keluar-keluar kamar. Tapi, saat itu Taeyong bercerita bahwa ia bertemu dengan Jaehyun di cafe ini, dan dia bilang Jaehyun memiliki satu teman barista lainnya yang tampan! Ya, itu kamu Johnny. Ternyata Taeyong tidak salah, pada saat pertama kali aku masuk kedalam cafe, aku gugup. Dan perlu kamu tau, dibalik alasan mengapa aku selalu memesan orange squash setiap kesana. Itu dalam rangka agar kamu selalu mengingat aku, si lelaki yang selalu memesan orange squash. Begitulah cara aku untuk memberi trademark padamu.

Johnny, aku gak pernah salah buat milih cafemu sebagai tempat dimana aku menghabiskan sisa waktu hidupku. Dan, aku gak pernah salah untuk memilih kamu, sebagai orang terakhir yang menemani aku menghabiskan waktu bersama meskipun hanya diakhir-akhir. Namun, aku gak pernah menyesal. Karena apapun itu diakhir, aku masih bisa menghabiskan waktu bersamamu.

Johnny perlu kamu ketahui, Aku meninggalkan dunia ini, dengan perasaan bahagia. Dan kamu, menjadi salah satu alasan kenapa aku bisa meninggalkan dunia ini dengan tenang.

Maaf, aku duluan meninggalkanmu.

Tolong, Untuk selalu bahagia Johnny. Ini merupakan salah satu permintaan aku yang terakhir.

Bisa kan?

Sekali lagi, Terima kasih dan Maaf.

Johnny, I love you.

-Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.

Aku tersenyum sambil menitihkan air mata dan menggenggam erat liontin smiley tersebut.

Johnny, Terima kasih sudah memberikan kesan baik untuk hari-hari terakhir Ten. Dia, sangat bahagia dan bahkan diakhir hidupnya, dia tersenyum. Dia benar-benar meninggalkan dunia dengan perasaan bahagia. Kata Doyoung.

Aku tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, namun aku bahagia, bisa menjadi salah satu alasan kenapa Ten meninggalkan dunia ini dengan perasaan bahagia.

Ten, tunggu aku ya?

Aku janji bakal terus bahagia, dan lanjutin apa yang tidak sempat kamu capai. Aku bakal lakuin semua, atas nama kamu.

Ten, terima kasih sudah berjuang keras melawan semua penyakit yang ada.

Aku yakin, saat ini kamu sudah di tempatkan di tempat yang sangat indah bersama orang-orang baik.

Terima kasih, sudah datang dikehidupan Johnny Suh.

Kamu, menjadi salah satu cerita indah yang menghiasi hidup seorang Johnny Suh.


@roseschies🌸

Dapat inspirasi cerita ini sewaktu aku beli martabak dan nunggu sampai sejam.

Aneh tapi nyata.