300.

Johnny yang melihat Ten sedang celingak-celinguk di depan kantornya itu diam-diam jalan bermaksud ingin mengejutkan lelaki itu.

“Hey!” Johnny menyentuh kedua pundak Ten membuat Ten tersentak kaget dan tak sadar ia menampar pipi Johnny.

Refleks, katanya.

“Aduh, saya baru dateng udah ditabok aja sama kamu.” Ucap Johnny sambil mengelus pipinya, lumayan juga tamparan Ten.

“Ya lagian ngagetin! Yaudah yuk pulang.” Ten ikutan mengelus pipi Ten namun sedetik kemudian ia sadar ini masih di depan kantor dan langsung menarik tangannya kembali.

Johnny terkekeh melihat kelakuan Ten yang langsung membuat pipinya memerah itu.

“Yaudah yuk pulang, saya parkir nggak jauh kok.”

“Oh iya, nanti mau ke apart gue dulu? Diajak Doyoung sih, Doyoung sama Kun mau ke apart dan gue disuruh ngajak lo.”

Johnny mengangguk kemudian merangkul tubuh Ten, “Iya boleh, yuk pulang.”

Ten menduduk menahan malunya, takut ada Winwin atau Lucas yang ngeliat dia lagi kayak gini sama Johnny, bisa-bisa jadi bulanan.

Benar kata Johnny, ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari depan kantor.

“Masuk Ten.” Ucap Johnny sambil membukakan pintu untuk Ten lalu Ten tersenyum dan berterima kasih kepada lelaki itu.

Setelahnya Johnny masuk ke tempat duduk pengemudi lalu menyalahkan mobilnya serta tetek bengek lainnya.

“Loh, kamu nggak mau pake seatbelt?” Tanya Johnny setelah melihat Ten yang belum pakai seatbelt.

“Hah? Ini mau make kok.”

Sebelum Ten memegang seatbelt miliknya, Johnny terlebih dahulu sudah mengambil seatbelt milik Ten lalu dipasangkan seatbelt tersebut dan mengecek kembali apakah sudah terpasang dengan benar.

“Makasih John,” Cicit Ten kemudian menunduk. Ia malu, jaraknya terlalu dekat.

Johnny memegang dagu milik Ten lalu diangkatnya wajah Ten, kemudian ia mengecup kilat bibir milik Ten.

“Nggak usah nunduk, kita cuma berdua nggak usah malu.”

Ten mengangguk, pipinya memanas.

Johnny kembali membenarkan duduknya kemudian menyamankan tempat duduknya dengan stir mobil miliknya.

Belum juga Johnny menjalankan mobilnya, Ten buru-buru membuka seatbelt lalu sedikit memajukan tubuhnya mendekat kearah tubuh Johnny.

Lelaki itu memegang dagu milik Johnny, mempertemukan bibir miliknya dan juga milik Johnny.

Bahkan, ia melumat sedikit bibir Johnny membuat Johnny terkejut hingga membulatkan matanya, namun ikut bermain disana mengikuti permainan yang dimulai oleh Ten.

Butuh beberapa menit, keduanya berciuman disana, berhenti karena nafas Ten mulai habis.

Johnny tersenyum lalu mengelus bibir milik Ten dan saliva entah milik siapa yang tertinggal di bibir Ten.

“Katanya, nggak usah malu soalnya cuma berdua. Hehehe” Tanpa dosa Ten berbicara seperti itu lalu terkekeh.

“Saya suka, kamu yang seperti ini.” Johnny kembali mengecup bibir manis milik Ten sebelum Ten kembali duduk dengan benar di tempatnya.


“LAMA BANGET LO BERDUA PASTI BERBUAT SESUATU DULU YA DI MOBIL!!” Teriak Doyoung sesampainya Ten dan Johnny masuk kedalam apartemen milik Ten.

Ternyata, Doyoung dan Kun sampai duluan dibanding Ten dan Johnny di apartementnya itu.

Bahkan Doyoung dan Kun sudah menyiapkan banyak makanan lesehan di ruang TV milik Ten.

Ini yang punya apartemen sebenernya siapa deh?

Ten melempar sepatu yang bekas ia pakai tadi kearah Doyoung, “Sembarangan kalo ngomong lo. filter dulu coba!”

“Lah semalem bilang katanya mau cium Johnny lagi,” Celetuk Kun tanpa dosa membuat Ten berlarian kearah Kun kemudian mencubiti lelaki itu habis-habisan.

“Iya tadi udah kok, ya kan Ten?” Jawab Johnny membuat lelaki itu diberi hadiah tatapan mematikan dari Ten.

Doyoung dan Kun ikut tertawa, Johnny memang orang yang pas untuk ikut meledeki Ten.

“Sini, makan. Gue sama Kun sampe sempet masak dulu di dapur lo,” Ucap Doyoung kemudian Ten melihat kearah dapurnya yang sudah seperti kapal pecah.

Johnny berjalan mendekat kearah kumpulan tiga lelaki itu kemudian mendudukan dirinya di samping Ten.

“Hm, kayaknya enak nih.” Puji Johnny.

Ten mengangguk, “Masakan mereka berdua emang enak, coba aja.”

“Makan aja John, nggak ada racunnya kok.” Kun mempersilahkan Johnny untuk makan terlebih dahulu.

Johnny menyendok makanan yang sudah disajikan kemudian mencicipi makanan tersebut.

“Hmm, enak banget. lo berdua buka katering kayaknya laku.”

Kun tertawa, “Waktunya nggak ada, kami sama-sama kerja. Makan nih Ten, mau disuapin?”

Ten kembali mencubit Kun, “Berisik anjir.”

“Yaudah sini, saya aja yang suapin kamu. Nih, pesawatnya mau masuk aaaaaaa”

Johnny memperlakukan Ten seperti anak bayi ingin makan dengan cara membuat makanan tersebut seperti pesawat, Ten malu luar biasa, tapi jika dia tidak memakan makanan yang sudah diberikan oleh Johnny, kasian Johnny.

Akhirnya lelaki itu menyuap makanan yang disuapin Johnny.

“Aduh, bayi gue udah ada yang ngurusin.” Celetuk Doyoung kemudian mengambil makanan untuk dirinya.

Keempat lelaki itu dengan khidmat memakan makanan yang sudah dihidangkan oleh Doyoung dan Kun.

Bahkan keempatnya asik bercanda tawa sampai jam 11 malam di apartemen milik Ten.


@roseschies