311.

Sesampainya Johnny dan Ten di depan mobil milik Johnny, Ten dapat melihat pantulan seseorang di dalam mobil Johnny.

Ten lari kecil menuju pintu belakang lalu membuka pintu tersebut lalu terpampanglah lelaki yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya itu dan dia tampak terkejut.

“O-oh, Halo.” Sapa Hendery dengan sopan lalu menunduk sedikit.

“Gue duduk sini, gapapa yaa?” Tanya Ten tiba-tiba membuat Johnny dan Hendery kaget, padahal Hendery duduk dibelakang biar lelaki ini duduk disebelah Johnny sedangkan Johnny bingung situasi apa ini.

Hendery mengangguk kemudian mengunci ponselnya lalu bergeser untuk memberi Ten ruang untuk duduk disebelahnya.

“Makasih, oh siapa nama lo? Sekretarisnya Johnny kan?” Ten menyodorkan tangannya ingin berjabat tangan dengan Hendery, semakin dibuat bingung Hendery.

Hendery mengangguk, “I-iya Pak, saya Hendery. Bapak?”

“Nggak usah pake Bapak Bapak, panggil Ten aja.”

Oh, ini yang namanya Ten? Pantes atasannya itu sayang banget sama lelaki ini, dalam hati Hendery.

“Aduh, nggak enak saya kalau cuma manggil nama aja.”

“Yaudah panggil gue pake kak juga gapapa. Anggap aja gue kakak lo, atau siapa terserah hehehe.”

“O-oh iya, Kak Ten.” Hendery menggaruk tengkuknya, dia bingung harus apa.

Sedangkan Johnny hanya diam melihat interaksi kedua lelaki dibelakang sambil mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah terlebih dahulu di booking oleh kenalannya itu.

“Johnny galak sama lo ya Hen?” Tanya Ten tiba-tiba.

Hendery menggeleng, “Nggak kok Kak, Pak Johnny baik baik aja sama saya.”

Ten mengangguk, “Kalo dia galakin lo, pukul aja atas nama gue ya?”

“Ten.... kok gitu,” Saut Johnny mengikuti interaksi antara Ten dan Hendery.

“Ya biarin, lo gak boleh galak-galak sama bawahan. Kalo Hendery punya salah, kasih tau dimana salahnya, jangan pake urat. Bakso kali pake urat.”

Hendery menahan tawanya, tolong ini dua lelaki sepertinya benar-benar cocok, humornya aneh tapi Hendery ketawa.

Sekarang Hendery paham, benar-benar paham, kenapa atasanya bisa memilih Ten menjadi seseorang yang sangat ia cintai.

Mungkin, sebelumnya atasannya itu sudah menceritakan insiden antara dirinya dan atasannya itu.

Namun, lihat? Bahkan Ten nggak mengangkat topik itu sama sekali, dirinya benar-benar mencoba untuk membuat Hendery enjoy berbicara dengannya.

“Hen, lo ada orang yang disukain gak?” Tanya Ten tiba-tiba membuat Hendery gelagap.

Masa dia jawab, ada tuh atasan saya. Lah, itu kan Johnny.

Hendery menggeleng, “Nggak ada Kak,”

Ten tau kok, Hendery menyukai Johnny. Hendery itu nggak pinter menutupi rasa suka dan kagumnya kepada Johnny, bahkan dari tatapannya.

Tapi, Ten tau, Hendery jawab seperti itu karena ingin menjaga perasaannya.

Tidak lama kemudian, ketiga lelaki itu sampai di tempat acara berlangsung.


Disaat Johnny sedang sibuk mengobrol dengan kenalannya, Ten dan Hendery hanya berjalan-jalan berdua.

“Kak,”

“Kenapa Hen?”

“Maaf ya?”

Ten menghadapkan dirinya kearah Hendery bingung, “Maaf kenapa?”

“Gue sebenernya-”

“Suka sama Johnny?” Tembak Ten membuat Hendery terkejut, sekeliatan itukah dirinya?

Ten menepuk pundak Hendery, “Hen, perihal perasaan yang timbul, bukan salah lo kok. Lo nggak akan pernah bisa ngatur perasaan lo mau kayak gimana. Gue juga nggak tau gimana Johnny memperlakukan seseorang, cuma gue mungkin sedikit paham, Johnny itu memang baik sama semua orang. Dan, lo juga manusia, gimanapun pasti ada sedikit rasa yang dibawa.

Nggak usah minta maaf sama gue, bukan salah lo buat suka sama Johnny.”

Hendery terkejut, Ten benar-benar sedewasa itu dan dia nggak berekspetasi bakal dapet jawaban kayak gitu.

“Kak, lo baik banget. Jarang ada orang kayak lo.”

Ten menggeleng, “Bukan masalah baik atau nggak, tapi emang faktanya begitu kan? Balik lagi ke diri lo, lo mau jadi orang yang tau diri atau egois untuk perasaan lo sendiri? Semua pilihan lo kok.”

“Pada awalnya gue berusaha egois untuk perasaan gue sendiri kak, tapi perlahan gue sadar, gue salah. Pak Johnny, keliatan sayang banget sama lo kak. Setelah ketemu sama lo, gue sadar, kenapa Pak Johnny bisa sesayang itu sama lo.

Kak, bahagia terus ya?”

“Makasih Hen, udah berusaha jujur sama gue. Lo juga orang baik, gue percaya itu. Lo juga bahagia terus Hen, gue yakin lo masih bisa dapetin kebahagiaan lo. Mungkin, dari orang terdekat lo?”

“Hah? Gue gak ada orang deket kak, hahahah. Gini-gini aja hidup gue.”

“Masa? Gue liat kok, lo kayaknya senyum-senyum tuh tadi di mobil, lagi chatting sama seseorang kan?”

Hendery mengangguk tengkuknya, malu.

“Sama sahabat gue doang kok kak, dia emang lucu orangnya.”

“Lucu apa lucuuu?” Goda Ten membuat Hendery semakin malu.

“Udah ah kak, malu gue.”

“Hen, jangan pernah bohong sama perasaan lo sendiri.”

Hendery diam, bohong? Maksudnya?

“Ikutin, kemana hati lo bawa diri lo. Jangan pernah bohongin perasaan lo sendiri. Dah, yuk balik ke Johnny.”

Ten merangkul Hendery untuk kembali ke Johnny yang mungkin sedang mencari kedua lelaki ini dan meninggalkan banyak pikiran bercabang di kepala Hendery, apa yang dimaksud dengan ucapan Ten tadi.


@roseschies