—32
“Mas?” Panggil Jungwoo membuyarkan Ten yang sedang mengetik di ponselnya itu.
Ten kemudian mendongak dan melihat dua orang yang sedang berdiri di depannya, keduanya tidak ia kenal.
Eh, hanya satu sih. Karena yang satu lagi, ia kenal dari nametagnya yaitu Jungwoo yang daritadi membantu dirinya.
“Pak, ini orang yang nyariin bapak, si mas Ten yang bapak titip pesan ke saya.” Ucap Jungwoo memperkenalkan Ten pada sosok lelaki disebelahnya.
Lelaki itu memegang kepalanya kemudian berdesis setelah melihat wajah Ten.
Ten bingung, ada yang salah sama wajah dia?
“Duh maaf ya, saya kurang enak badan sepertinya jadi suka tiba-tiba sakit kepala.” Ucap lelaki tersebut kemudian sedikit memijit pelipisnya kemudian mengelap keringat yang sedikit keluar di area pelipisnya itu.
“Oh, saya Johnny Suh. Ten Chitt-”
“Iya pak, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.” Potong Ten sebelum Johnny salah menyebutkan namanya.
“Hahaha, saya sudah belajar menyebutkan nama kamu semalam kok.” Ucap Johnny kemudian menyuruh Jungwoo meninggalkan keduanya.
“Yuk masuk kedalam, maaf ya saya terlambat.” Ucap Johnny kemudian mengajak Ten untuk masuk kedalam ruangannya.
“Gapapa pak,” Diluar bilang gapapa, aslinya dalam hati udah ngutuk ni lelaki satu.
“Duh, maaf ya ruangan saya agak berantakan” Ucap Johnny kemudian menyalahkan lampu hingga seisi ruangan terang benderang.
Ini, dimana bagian berantakannya ya tolong? Menurut Ten, ruangan milik Johnny ini udah termasuk ke level sangat rapih kok.
Ah, mungkin hanya merendah untuk meroket. Pikir Ten.
“Sini mas, duduk depan saya.”
“Maksud saya duduk di bangku depan saya jangan duduk depan saya.”
Bener-bener gayanya kayak habis di tinggal istri terus nyari daun muda ini bapak., Dalam hati Ten.
Ten tetap duduk di bangku depan meja Johnny. Keduanya saat ini tatap-tatapan.
“By the way, ini bukan pertama kali kita bertemu ya? Sepertinya saya pernah melihat kamu sebelumnya. “ Ucap Johnny tiba-tiba, ia merasa bahwa wajah ini sangat familiar. Tapi, dimana ia melihat wajah ini ya?
“Ini pertama kalinya saya bertemu dengan bapak, bahkan saya rasa kita gak pernah papasan dimanapun. Saya juga baru saja sampai di sini beberapa minggu lalu setelah pulang dari Thailand, Pak.” Ucap Ten menjelaskan.
Karena memang jelas-jelas keduanya ini sama sekali tidak pernah bertemu. Bahkan, sekelibat pun Ten merasa tidak pernah melihat sosok Johnny ini dimana-mana.
“Ah, sepertinya saya salah ingat. Kamu teman pacarnya bang Taeil 'kan?” Tanya Johnny kemudian membuka map yang sudah Ten berikan sebelumnya untuk melihat CV dan persyaratan lainnya.
Ten mengangguk, “Iya.”
“Okay, kenapa mau lamar jadi sekretaris sebelumnya? Padahal belum pernah ada pengalaman loh?” Ucap Johnny sambil membaca CV milik Ten.
CV milik Ten ini menarik, sayangnya kurang pengalaman menjadi sekretaris.
“Saya memiliki interest dalam hal tersebut, disini saya juga ingin mencari pengalaman lebih. Meskipun saya tidak memiliki pengalaman sama sekali, tapi saya mengerti cara kerja menjadi sekretaris, kok.” Ucap Ten menegakkan duduknya itu.
Johnny mengangguk, “Sebenarnya saya butuh seseorang yang setidaknya pernah berpengalaman sekali atau dua kali menjadi sekretaris. Seperti yang mas tau, kalau jadi sekretaris tidak hanya mengikuti saya dan mencatat jadwal saya saja. Tapi mengurus surat masuk untuk saya, surat keluar, jadwal saya, dan masih banyak lagi.”
“Saya bersedia untuk belajar lebih dalam lagi dan mengasah kemampuan yang sudah saya miliki sekarang, Pak.” Ucap Ten.
“Saya takut, kamu kewalahan untuk mengejar itu semua disamping kamu yang sama sekali gak pernah menghandle kerjaan sekretaris umum di perusahaan besar seperti ini mas Ten. Saya baca CV kamu, sangat menarik. Apa gak mau untuk coba daftar di divisi lain? Seperti Divisi creative, saya lihat mas Ten cocok disana.” Ucap Johnny kemudian memberi saran. Kebetulan divisi tersebut juga sedang mencari pekerja baru.
Dan menurut Johnny, Ten mungkin cocok disana.
Ten terdiam, sebenarnya ia ingin menjadi sekretaris tapi tawaran Johnny juga tak kalah menarik.
“Oh, mas Ten gak perlu jawab sekarang, saya bisa tampung mas Ten dulu dan menunggu jawaban dari mas. Kebetulan ini saya yang tertarik dengan mas Ten,” Ucap Johnny.
“OH! Maksud saya, tertarik dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki mas Ten hehehe.” Ucap Johnny menambahkan agar tidak ada kesalahpahaman.
Lagi pula, Ten gak mikirin apa-apa juga dari tadi.
Dia pusing memikirkan, harus terima tawaran ini atau cari lagi di tempat lain?
“Terima kasih sebelumnya Pak, akan saya jadikan pertimbangan saran bapak.” Ucap Ten.
“Kamu suka kucing ya?” Tanya Johnny tiba-tiba.
“Hah?”
“Hah?”
Apasih gak jelas banget, dia yang nanya dia ikutan nge-hah, Batin Ten.
“Maksud bapak?” Tanya Ten, dia kan bingung perasaan di CV dia gak nulis dia suka kucing?
“Maksud saya apa? Emang saya bilang apa ya?” Tanya Johnny bingung, perasaan dia daritadi gak ngomong apa-apa.
Ten masa bodoamat, mungkin Johnny kebanyakan melamun atau kepalanya kebentur jadi agak error sekarang.
Pantes pusing terus kepalanya.
Ini kenapa Ten jadi gibahin calon bos sendiri.
“Habis ini mau kemana mas Ten?” Tanya Johnny setelah menyimpan map milik Ten untuk arsip.
“Pulang mungkin, Pak.” Ucap Ten.
Ten baru ingat, tadi dia kesini bareng Kun. Terus dia pulang naik apa?
“Udah makan siang belum, mas?” Tanya Johnny.
“Oh, udah kok tadi.” Jawab Ten, bohong.
Meminimalisir kemodusan, Kata Ten.
“Pulang naik apa mas?” Tanya Johnny lagi.
Ini yang di interview siapa sih sebenarnya?
“Naik kendaraan umum mungkin, Pak.” Ucap Ten.
“Saya antar kalau begitu, sebagai ganti dan permohonan maaf karena udah buat nunggu dan ngaret lumayan lama.” Ucap Johnny kemudian langsung dijawab gelengan oleh Ten.
“Saya minta jemput temen saya aja Pak.” Tolak Ten dengan halus, masa iya harus bilang 'gak usah, jangan modus lo.' kan gak mungkin.
Johnny mengangguk, akhirnya Johnny meminta untuk mengantar Ten ke depan gedung sambil menunggu Kun.
Namun sebelum Kun sampai, Johnny sudah harus kembali ke ruangannya untuk mengurus beberapa hal bersama staff lainnya.
@roseschies🌸