335.
Butuh waktu lumayan untuk sampai di kota kelahiran Ten, bahkan sudah gelap disini.
Setelah mengurus keperluan lainnya sampai koper kedua lelaki itu sampai ditangan mereka, Johnny memesan taxi sedangkan Ten diam duduk menunggu taxi yang sedang dipesan Johnny.
“Ten, saya sudah booking hotel deket sini biar kamu istirahat dulu di hotel dan gak jet lag, gapapa ya?”
“Duh John, gue ngerepotin banget ini. Gue yang gak enak sama lo sampe bener-bener se well-prepared ini.”
Johnny menggeleng lalu mengusap rambut Ten yang sedang duduk di kursi, “Nggak ngerepotin sayang.”
Pipi ten memerah panas, ia belum terbiasa mendengar kalimat itu secara langsung.
“Yuk, taxinya udah dateng. Kamu jangan lupa kabarin keluarga kamu dulu kalau kamu udah sampai, tapi nginep di hotel sebentar.”
Ten mengangguk lalu mengikuti Johnny masuk kedalam taxi yang sudah menunggu dirinya dan Johnny.
“John, lo pesennya cuma satu kamar? Buat lo aja deh gue pulang aja ya?” Ucap Ten setelah melihat Johnny yang hanya memegang satu kunci kamar hotel.
Johnny menggeleng lalu memegang tangan milik Ten, “Kamu nggak mau ya tidur sama saya?”
“Bukan gak mau, tapi—”
“Malu? Kan tidurnya pakai baju Ten, nggak perlu malu. Kalo perlu, saya tidur di sofa, kamu di kasur nggak masalah buat saya. Atau, kalau emang kamu bener-bener nggak mau, saya pesen lagi deh kamarnya?”
Ten menggeleng, “Nggak perlu, nggak usah pesen lagi. Sayang duit lo.”
Johnny tersenyum gemas lalu mengusak rambut milik Ten dan menggenggam tangan Ten, keduanya jalan menuju lift untuk naik ke lantai 10, dimana kamar hotel keduanya berada.
Keduanya masuk kedalam kamar hotel, Johnny mulai merapihkan koper miliknya dan juga milik Ten, sedangkan Ten langsung mengganti sepatunya dengan sendal hotel.
“Kamu mandi duluan Ten, saya rapih-rapih sebentar “
Ten mengangguk patuh kemudian mengambil pakaian miliknya dan alat mandi lainnya yang ada di dalam koper.
“Kamu mau makan apa sayang?” Tanya Johnny yang sedang melihat isi dapur mini yang ada di dalam kamar.
Oh, tentu Johnny memesan kamar yang luas dan memiliki isi lumayan lengkap.
Bisa nggak sih nggak manggil sayang, panas pipi gue sialan. Rutuk batin Ten.
“Apa aja,”
“Yaudah, kamu makan saya aja ya?”
“Hah?”
“Katanya apa aja,”
“Bukan begitu maksudnya!”
“Yaudah iya iya, saya bikinin telur aja ya?”
“Iya, gue mandi dulu. Jangan manggil apalagi masuk kedalam kamar mandi!”
“Saya mau ikutan mandi deh kalau gitu biar cepet dan hemat air.” Johnny meninggalkan dapur lalu lari kecil menuju kamar mandi dimana pintunya belum sempat ditutup oleh Ten yang sedang menggantung handuk dan pakaian miliknya itu.
Ten yang melihat Johnny sedang lari menuju kamar mandi langsung buru-buru menutup pintu.
“Ten, bukain sayang.”
Johnny mengetuk pintu kamar mandi namun jawaban penolakan lah yang di dapat.
“Sana mesum!!!!!”
Johnny terkekeh, “Ten, ayo kita harus hemat air sayang. Mandi bareng ya?”
“Lo mau gue potong tititnya ya?!” Ancam Ten dari dalam kamar mandi membuat Johnny menciut.
“Serem banget kamu, iyaiya saya masakin makanan buat kamu aja deh.” Kemudian Johnny meninggalkan depan pintu kamar mandi dan lanjut memasak makanan untuk Ten dan dirinya.
Saat ini, Johnny benar-benar menepati ucapannya, dirinya akan tidur di sofa sedangkan Ten tidur di kasur.
“John, sofanya keras ya?” Tanya Ten dari kasur sambil menyelimuti setengah tubuhnya dan memeluk guling lalu menghadap kearah sofa dimana Johnny tiduran disana.
Johnny menggeleng, “Ngga kok, kamu tidur aja Ten. Istirahatin diri kamu, biar besok fresh dan lebih bahagia ketemu mama papa kamu.”
Tidak ada jawaban, namun tak lama kemudian, Johnny merasakan beban berat diatas tubuhnya.
Ten memeluk Johnny seperti koala, ikut tidur di sofa yang tak terlalu sempit dan tak terlalu luas itu.
“Kenapa kesini? Kamu tidur dikasur aja saya gak masalah kok tidur disini.” Ucap Johnny sambil mengelus punggung milik Ten.
Ten menggeleng, “Kasian lo tidur dikasur, jadi gue temenin di sofa aja ya?”
“Ten, nanti kamu jatuh. Kamu di kasur aja ya?”
Ten menggeleng lagi, “Ngga, mau disini sama lo.”
Johnny tersenyum lalu mengecup bibir manis milik Ten kilat, “Yaudah, tidur yang nyenyak ya sayang. Love you.”
Ten mengubur wajahnya kedalam ceruk leher milik Johnny, ia malu.
“I love you too Johnny.” Ucap Ten dari ceruk leher milik Johnny.
Johnny yang mendengar ikut bersemu malu dan mengeratkan pelukannya dengan Ten.
Lelaki satu ini, benar-benar menggemaskan.
@roseschies