336.
Sebelum check out dari hotel, Johnny kembali memastikan bahwa tidak ada barang-barang yang tertinggal.
“John, sabun muka aku mana yaa?” Tanya Ten dari arah kamar mandi.
Iya, sejak semalam keduanya tidur berpelukan dan Ten yang tiba-tiba seperti kesambet, lelaki itu jadi terbiasa berbicara aku kamu dengan Johnny begitu pula sebaliknya.
“Udah dimasukin koper kamu loh tadi sayang.” Ucap Johnny lalu berjalan menuju kamar mandi, menghampiri Ten.
Ten terkekeh tepat di depan Johnny, “Hehehe lupa.”
Johnny menyentil dahi milik Ten kemudian mencium dahi tersebut, “Kamu nih, dasar gemes. Udah ngga ada yang ketinggalan kan?”
Ten menggeleng, “Udah aman semua pak bos!”
“Pinter, yuk?”
Johnny menggeret koper miliknya dan membawa tas ransel milik Ten sedangkan Ten menggeret koper miliknya. Sebelumnya, Ten sudah menolak Johnny untuk membawa tas ransel miliknya, namun Johnny tetap memaksa mau bawa tas ransel tersebut.
Selama menunggu Johnny mengurus keperluan check out hotel, Ten menunggu di sofa yang ada di sana.
“Yuk? Taxinya udah di depan,” Ajak Johnny pada Ten yang masih duduk kemudian keduanya berjalan kedepan untuk masuk kedalam taxi.
“Disini aja Pak,” Ucap Ten pada sopir taxi, setelahnya Johnny membayar taxi tersebut dan keduanya turun lalu menggeret kopernya lagi.
“Sepi banget, padahal aku udah bilang jam segini ke rumah.” Ucap Ten sambil menengok kearah kanan dan kiri.
“Lagi pada di dalem kali, yaudah yuk masuk aja?”
Johnny menggenggam tangan Ten kemudian Ten menuntun Johnny untuk masuk kedalam rumah keluarga Ten.
Ten membuka pintu rumahnya, namun isi rumahnya benar-benar sepi.
“Mama? Papa?” Panggil Ten kepada kedua orangtuanya satu-satu.
Mana ini gelap sekali.
Ten mencari saklar yang tak jauh dari pintu depan.
Namun sesaat Ten menghadap kebelakang, ia bahkan tidak bisa menemukan Johnny disana.
Ten tidak sadar bahwa genggaman tangannya itu terlepas dengan Johnny.
Kan gak mungkin sekarang Johnny lagi diculik setan rumahnya.
Buru-buru Ten menyalahkan saklar.
Belum juga Ten memencet saklar tersebut, Ten mendengar suara teriakan Johnny dari dalam rumahnya.
“Ten!”
Ten menengok kearah sumber suara, dia bisa melihat disana Johnny dengan Kun dan Doyoung disamping Johnny yang sedang membawa kotak entah apa itu lalu berjalan kearah Ten yang masih mematung sambil memegang saklar.
Tak lama kemudian, lampu rumahnya nyala satu persatu, Ten bisa melihat disana ada Mama dan Papanya yang sedang merangkul satu sama lain, tersenyum kearah dirinya dengan bangga.
Oh, bahkan disana, ada Yuta, Jaehyun, Taeyong dan juga Winwin yang sedang menatap dirinya dengan penuh harap.
Johnny bahkan sudah memakai jas namun dalamannya masih menggunakan baju yang sama dengan tadi.
“John, ini apa?” Tanya Ten bingung.
Johnny tersenyum sesampainya ia di depan Ten.
Johnny diam, tak mengeluarkan suara lalu mengambil kotak yang dipegang oleh Kun lalu berlutut di depan Ten dan membuka kotak tersebut.
“Ten, saya paham mungkin ini terlalu cepat. Saya juga paham, kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi, saya takut. Saya takut, kehilangan kamu jika saya tidak secepatnya mengunci kamu, menjadikan kamu seutuhnya menjadi milik saya, menjadikan kamu, satu-satunya manusia yang saya cintai sepenuh hati, menjadikan kamu, lelaki paling hebat di dunia ini.
Ten, will you marry me?”
Ten terdiam, mulutnya sedikit terbuka, ia terkejut.
Air matanya perlahan turun dari mata miliknya, “John....”
“Ekhm, ayo dong Ten jawab, kasian Johnny udah tremor takut ditolak!” Siapa lagi kalau bukan Yuta dan Jaehyun yang mengompori kedua lelaki ini.
“John, sebenernya lo sendiri udah bisa nebak jawaban dari pertanyaan lo. Tapi, John, terima kasih udah nepatin janji lo, yang selalu mau merjuangin gue.
John, gue mau. Gue mau menua bersama lo, Gue mau jadi orang pertama yang lo liat setelah lo bangun dari tidur lo, gue mau jadi seseorang yang membantu lo membangun keluarga kecil kita.”
Bukan Ten yang menangis, bukan mama maupun papa Ten. Suara tangisan saut menyaut datang dari Taeyong, Winwin, Doyoung dan juga Kun yang tak bisa menahan tangisannya itu.
Keempat lelaki itu, benar-benar merasa senang, melihat kebahagiaan yang akhirnya dicapai oleh Ten.
Johnny berdiri lalu memasukkan cincin yang sudah ia pesan jauh hari dan pasti dibantu oleh Kun dan juga Doyoung, ke jari milik Ten.
Kemudian, Doyoung memberikan sekotak lainnya untuk Ten, isinya cincin milik Johnny.
Ten memasangkan cincin tersebut pada jari milik Johnny.
Setelah cincin tersemat dengan indah di kedua jari masing-masing, Johnny mencium dahi, hidung, hingga bibir milik Ten.
Tanpa lumatan, keduanya berbagi cinta dan kasih di sana.
Mama dan Papa Ten yang menyaksikan anaknya dilamar seperti ini, ikut terharu.
Johnny bahkan rela untuk berbicara dan meminta secara langsung kepada kedua orang tua Ten dibantu dengan Doyoung dan Kun.
Semua acara ini, memang sudah dibicarakan oleh Johnny, kedua orang tua Ten, sahabat Ten, sahabatnya, dan tak lupa Taeyong dan juga Winwin yang ikut serta dalam acara ini.
“Selamat berbahagia, Ten.” Ucap Doyoung dan Kun bersamaan dengan air mata yang deras turun dari mata milik Ten.
Ketiganya berpelukan, Taeyong dan Winwin yang melihat dari jauh, mendekat lalu ikut berpelukan disana.
Mama dan Papa Ten mendekat kearah anak semata wayangnya itu lalu mencium kedua pipi Ten, tak lupa keduanya juga mengusap rambut milik Johnny dengan sayang.
Situasi ini, Ten ingin mengingat seumur hidupnya.
Untuk semua, Terima kasih. Akhir cerita cinta bahagia ini, Mohon disimpan dengan baik.
@roseschies