5 Tahun Kemudian

⚠️ car accident, character death.

Tidak banyak perubahan dari diri Ten, bahkan statusnya masih sama seperti 5 tahun lalu, menjomblo. Berbeda dengan sahabatnya yang sudah memiliki gandengan.

Tadinya, Ten berniat untuk mengajak Taeyong bermain ke tempat wisata, ia baru saja melihat iklan bahwa ada tempat wisata yang baru dibuka seminggu lalu, dekat dengan tempat tinggalnya.

Tetapi, tidak jadi.

Ten ingat, hari minggu adalah hari dimana Taeyong dan kekasihnya menghabiskan waktu berdua maka dari itu Ten mengurung niatnya.

Dan disinilah Ten, di depan televisi miliknya yang sedang menyiarkan berita terkini.

Ten tidak terlalu menyukai siaran berita, namun sudah berkali-kali dirinya muter-muter mencari tontonan yang menarik tetapi hasilnya tidak ada yang menarik perhatian dirinya.

Seorang pejalan kaki mengenaskan setelah tertabrak mobil yang tengah menyalip. Di duga pengemudi mobil tersebut sedang mengantuk dan tidak dalam keadaan sadar sepenuhnya dan hendak menyalip kendaraan yang berada di depannya.

Kecelakaan yang mengakibatkan satu orang tewas ini terjadi di perempatan dekat tempat wisata yang baru saja dibuka minggu lalu.

Seorang polisi menerangkan, korban berinisial J meninggal dunia ditempat setelah mengalami luka serius di bagian kepala.

Berikut merupakan video yang sempat direkam oleh saksi yang berada di TKP.

Ten menyimak berita tersebut dengan serius. Bahkan matanya tidak berkedip.

Padahal, baru saja dirinya berniat kesana bersama Taeyong.

Kemudian video amatir yang sempat direkam oleh saksi di TKP mulai dimainkan di siaran berita tersebut.

Ten terkejut setengah mati.

Warna baju yang digunakan sang korban, persis dengan mimpi 5 tahun lalu yang masih Ten ingat.

Mimpi kecelakaan itu, terasa nyata setelah dirinya menonton video amatir dari saksi di TKP.

Bulu kuduknya merinding sekujur tubuh. Badan miliknya melemas.

Ten dapat melihat senyuman yang terlihat di bibir korban setelah si saksi memperbesar video amatir miliknya.

Senyuman itu.

Dunia ini sudah gila. Bukan, bukan dunia ini.

Dirinya yang sudah gila.

Mimpi 5 tahun lalu, menjadi sebuah kenyataan.

Ten kembali teringat pesan yang dikirim oleh nomor tidak dikenal.

Jangan sampai telat sedikit pun.

Ten memang datang, tetapi ia telat 5 menit.

Tidak mungkinkan, kalau omongan bahwa si pemilik nomor tidak dikenal itu adalah jodohnya, merupakan sebuah kebenaran?

Tidak mungkin, kan?

Ten langsung mengambil jaket miliknya yang tergantung kemudian memakai jaket tersebut dengan cepat. Tak lupa Ten mematikan televisi tersebut lalu mengambil ponselnya, memencet titik lokasi yang 5 tahun lalu ia datangi itu.

Iya, dirinya tidak pernah menghapus pesan tersebut.

Dengan kecepatan lebih cepat dari biasanya, Ten mengendarai motor miliknya menuju lokasi itu.

Lumayan memakan waktu lama, Ten sampai di tempat di mana ia bisa memarkirkan motornya kemudian ia berlari sekuat tenaga untuk menuju titik lokasi.

Jantung yang berdegup kencang, tangannya yang berkeringat, pikiran dan mulutnya yang terus mengucap bahwa ini semua tidak mungkin. Ten terus menerus menggelengkan kepalanya sambil terus berlari menuju titik lokasi.

Sesampainya ia di titik lokasi, dirinya tetap tidak menemukan siapa siapa di sana.

Tubuh Ten terjatuh di damparan pasir pantai. Angin menghembus sedikit kencang menerpa dahi Ten.

Kalau memang ternyata semua itu benar,

Berarti....

Lelaki itu....

Seseorang yang hidup 5 tahun lebih dulu dari dirinya.

Aneh.

Lebih aneh lagi, banyak kejadian yang semakin Ten pikirkan, benar-benar terlalu pas.

Jika Ten tidak telat dan tepat waktu, mungkin saja ia benar benar bertemu dengan seseorang itu.

Dan, mungkin berita yang baru saja ia dengar, bukan berita itu.

Pasti, jika Ten tidak telat, dirinya bukan lagi mengajak Taeyong untuk bermain di tempat wisata yang baru buka seminggu lalu.

Jika Ten tidak telat, pasti si korban kecelakaan maut itu, mungkin saja sedang menyebrangi jalanan dengan menggandeng tangan seseorang. Iya, tangan dirinya. Bersama dengan dirinya. Di sana.

Semakin memikirkan hal tersebut, perlahan air mata milik Ten jatuh tepat ketika Ten berkedip.

Kian menderas, Ten menelungkupkan wajahnya di antara kedua kakinya. Meredam tangisannya.

Dia sudah membunuh seseorang hanya karena keterlambatan dirinya di 5 tahun lalu.

Dia sudah membunuh seseorang yang bahkan belum sempat dia temui.

Dia sudah membunuh seseorang, yang mengaku sebagai jodohnya di masa yang akan datang.

Dirinya sudah menjadi pembunuh bagi takdir hidupnya sendiri.


@roseschies