🔞A Great Night🔞 ⚠RATED SCENE⚠ 🔞⚠BE WISE⚠🔞


Johnny baru saja menyelesaikan pekerjaannya di kantor, hari ini jadwalnya begitu padat. Namun dirinya membutuhkan satu hal, minuman yang mampu membuat dirinya lupa segala kelelahan dalam dirinya ini.

Masih menggunakan jas kerjanya, Johnny mengarahkan mobil chevrolet model Yellow Hammer nya itu menuju club malam yang tak jauh dari lokasinya sekarang.

Sesampainya di club, Johnny memarkirkan mobilnya. Hari ini club cukup ramai pengunjung membuat Johnny sedikit kesusahan mencari tempat parkir yang cocok untuk mobil kesayangannya itu.

Namun akhirnya Johnny menemukan satu tempat parkir yang agak jauh dari pintu utama club. Tapi tak masalah, toh dirinya mungkin akan bermalam di club ini dengan menyewa salah satu kamar untuk beristirahat sampai esok.

Johnny keluar dari mobilnya dan merapatkan jas kerjanya, cuaca malam ini sedikit dingin.

Johnny membuka pintu club tersebut, kupingnya di sambut dengan iringan musik yang lumayan membuat kupingnya itu berdengang namun tidak apa, tempat inilah yang dibutuhkan Johnny saat ini.

Dikarenakan club hari ini cukup ramai pengunjung, Johnny agak kesusahan untuk menuju bar yang tak jauh dari tempat dimana DJ sedang memainkan lagu.

Mata Johnny memicing untuk melihat lelaki yang sangat ia kenal di salah satu bar yang biasanya ia dan sahabatnya itu tempati jika datang ke club ini.

“Yuta!” Panggil Johnny sedikit berteriak demi mengalahkan suara musik yang mengalun kencang di club ini.

Lelaki bernama 'Yuta' itu menengok kearah sumber suara, kemudian melambaikan tangannya kearah Johnny.

“Kenapa lo?” Tanya Yuta sesampainya Johnny di depan dirinya itu.

“Biasalah, capek gue. Tumben lo kesini tanpa bilang? biasa juga ngajak gue sama Jaehyun,” Tanya Johnny kemudian mendudukan diri disebelah Yuta, sahabat sejak SMA-nya itu.

Yuta meneguk minumannya itu lalu tertawa, “Stress gue hahaha, sorry gak ngajak takut ngerepotin. Gue lagi mau seneng-seneng hari ini,”

Johnny mengerutkan dahinya tanda kebingungan, “Winwin?”

“Putus.” Jawab Yuta singkat dan padat membuat Johnny mengangguk paham mengapa Yuta memutuskan untuk pergi ke club sendirian.

“Pesen apa Jo? Pesen aja nanti gue bayar,” Ucap Yuta tiba-tiba setelah meneguk minumannya kembali.

“Gak usah, gue bayar sendiri aja Yut.” Ucap Johnny sambil memilih minuman yang ingin ia minum hari ini.

Sepertinya Tequilla merupakan pilihan terbaik, melihat sahabatnya yang sekarang sedang meneguk tequilla membuat dirinya juga ingin merasakan minuman manis itu sesegera mungkin.

Tequilla please” Ucap Johnny kepada bartender yang sudah mengenal dirinya.

Johnny, Yuta, dan Jaehyun termasuk orang yang sering datang ke club ini. Selain itu, bar yang sedang di duduki oleh Johnny dan Yuta saat ini merupakan bar yang biasanya ketiga lelaki itu datangi, selain bartender yang sudah mengenal ketiga lelaki tersebut bar ini merupakan tempat yang sangat pas untuk melihat sekeliling club.

Here Johnny, enjoy your tequilla” Ucap Taeil si bartender.

Thank you Il,” Ucap Johnny kemudian mengambil gelas yang sudah diisi tequilla oleh Taeil dan meneguk minuman tersebut.

Rasa manis mulai menjalar di tenggorokan Johnny, “Ahh, it feels so good

“Yea, i know” Sambar Yuta yang sudah mulai tidak fokus, bahkan Johnny tidak tau sudah berapa gelas yang Yuta minum saat ini terlebih Yuta sudah sampai sejak tadi sebelum Johnny.

“Jo, Gue kurang apa?” Tanya Yuta tiba-tiba sambil menelungkupkan wajahnya di meja bar.

Johnny dan Taeil yang tidak sengaja mendengar ucapan Yuta menghadap kearah lelaki Jepang tersebut, pundaknya turun tanda ia sedang sedih.

Yuta termasuk laki-laki yang sangat kuat, jarang sekali memperlihatkan sisi lemahnya seperti ini. Namun lagi-lagi, Yuta juga manusia. Belum lagi yang Johnny tau, Yuta sudah sangat secinta itu dengan lelaki bernama Winwin.

“Bokap Nyokap Winwin nentang hubungan gue sama Winwin. Mereka mau Winwin nikah sama perempuan, Jo.” Cerita Yuta tiba-tiba.

Kalau sudah seperti ini masalahnya, Johnny pun tidak bisa membantu banyak selain hanya mendengarkan sahabatnya bercerita mengeluarkan segala emosi yang ia miliki.

“Emang salah ya Jo punya hubungan kayak gue dan Winwin?” Tanya Yuta lagi sambil mengacak-acak rambutnya gusar.

Johnny menggeleng, dirinya memang bukan seorang gay seperti Yuta. Johnny bahkan tidak pernah memiliki hubungan dengan laki-laki, namun ia tau bahwa hubungan tersebut tidak ada salahnya.

Johnny meneguk minumannya lagi, memikirkan hubungan membuat kepalanya sakit.

Salah satu ia kembali kabur ke club selain lelah dengan pekerjaannya di kantor adalah orang tuanya yang selalu meminta dirinya untuk cepat menikah.

Ia bukan seseorang yang pemilih, namun entah kenapa semua pilihan yang orang tuanya berikan tidak ada satupun yang cocok dengan dirinya.

Bahkan tak hanya perempuan, orang tuanya juga sampai memberi pilihan laki-laki pada dirinya. Menduga-duga bahwa Johnny merupakan seorang bisexual.

Kalau boleh jujur, iya. Johnny sadar dirinya seorang bisexual, namun ia tidak merasakan kecocokan diantara perempuan maupun laki-laki yang dikenalkan oleh orang tuanya itu.

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Johnny sampai tidak sadar sudah menghabiskan gelasnya yang entah keberapa.

Hal tersebut membuat kepalanya sedikit pusing, kemudian ia melihat kearah samping disana sahabatnya sudah setengah tertidur diatas meja bar dengan tangan yang menjadi sanggahan kepalanya.

Tiba-tiba terdengar suara ricuh di dekat tempat DJ, disana beberapa penari striptis sedang menampilkan tariannya.

Mata Johnny menangkap salah satu lelaki disana, lelaki tersebut bernari dengan gerakan yang sangat sensual membuat beberapa lelaki menggeram kearahnya.

Namun Johnny hanya terdiam, matanya seperti tekunci melihat mata milik lelaki tersebut serta tariannya yang sangat merangsang dirinya itu.

Lelaki tersebut tak sengaja melihat kearah Johnny, bersamaan dengan itu tatapan keduanya seperti terkunci.

Johnny maupun lelaki tersebut masih saling menatap untuk beberapa menit namun diakhir lelaki tersebut memberikan senyuman termanis yang pernah ada di dunia ini, bagi Johnny.

Lelaki tersebut menyudahi tarian sensualnya itu lalu turun dari panggung.

Entah atas dasar apa, Johnny mendatangi lelaki tersebut.

Damn, you look amazing” Ucap Johnny sesampainya ia di depan lelaki tersebut.

Lelaki tersebut tersenyum manis kemudian mengelap tengkuknya yang berkeringat, “Thanks


Johnny merenggangkan tubuhnya di kasur salah satu kamar yang sudah ia sewa semalam di club ini.

“A-ah, pusing banget anjing after effect abis minum paling gak enak,” Ucap Johnny bermonolog, dirinya masih menyesuaikan pandangan dan berdiam memikirkan banyak hal entah apa itu.

“JO- MANA BAJU LO ANJING KOK TELANJANG?!” Teriak Yuta setelah mendobrak pintu kamar sewa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lagipula Johnny tidak menguci pintu tersebut.

Mendengar teriakan Yuta, Johnny melihat kearah tubuhnya.

Benar, badannya telanjang. Benar-benar telanjang tanpa helaian kain apapun itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Oh Shit! Semalem gue ngapain bangsat?” Ucap Johnny menaikkan selimutnya sampai menutup dadanya yang terekspos.

“Anjing kepala gue pusing banget Yut,” Ucap Johnny memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berputar.

“Iya gue juga, makanya datengin kamar sewa lo. Mau ngajak beli obat ke Taeil,” Ucap Yuta kemudian mendudukkan diri di pinggir kasur Johnny.

Johnny menatap kamar sewa tersebut, benar-benar berantakan.

Bahkan seprei di kasur yang ia tidurin saat ini sudah tercompang-camping tak karuan.

Baju, jas, hingga dalaman milik Johnny pun tercecer dipinggir-pinggir kasur. Seperti dibuang oleh seseorang.

“Anjing, baunya kecium banget Jo. Lo abis have sex semalem?” Tanya Yuta setelah sadar pergantian bau di dekat kasur tersebut.

Johnny tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng, ia tidak mengingat apapun.

Yuta melihat bagian dada Johnny yang sedikit terekspos, terdapat beberapa tanda merah disana. Menandakan Johnny semalam habis melakukan suatu hal.

“Siapa cewek yang lo ajak have sex Jo?” Tanya Yuta setelah melihat tanda tersebut.

Johnny memandang kearah kanan dan kiri untuk mencari ponselnya namun bukan ponsel miliknya yang ia temukan melainkan secarik kertas sobekan di nakas sebelah kasur serta satu pil obat pereda yang entah dari siapa itu.

Johnny kemudian mengambil secarik kertas tersebut dan membaca.

Johnny tersenyum lebar, “Ten, I got you.”

“Ten? Siapa?” Tanya Yuta kebingungan, selama ia berteman dengan Johnny Yuta sama sekali tidak pernah mendengar seseorang bernama Ten.

The guy who have sex with me last night” Ucap Johnny sambil mengelus secarik kertas tersebut.

I can't remember the detail but, he's mine right now.” Ucap Johnny kemudian meneguk pil obat yang sudah disiapkan di nakas samping kasur. Sepertinya pemberian dari Ten.


Memang benar, Johnny tidak mengingat dengan detail kejadian semalam, tapi ia mengingat semua hal yang ia lakukan dengan lelaki bernama Ten SANGAT SANGAT detail.

Setelah Johnny mendatangi lelaki tersebut, dengan suasana yang sangat mendukung dimana Johnny sedang setengah mabuk dan juga cahaya yang sangat minim disana.

Johnny mencium bibir lelaki tersebut, tak ada penolakan tak ada pergerakan keduanya sama-sama diam.

Entah lelaki tersebut yang terkejut karena dicium tiba-tiba oleh Johnny atau lelaki tersebut yang juga sama-sama ingin mencium Johnny.

Can we book a room, right now?” Tanya Johnny pada lelaki yang belum ia ketahui namanya itu.

Lelaki tersebut mengangguk gemas, “Sure, cause why not?

Johnny mengaitkan tangannya pada tangan kecil milik lelaki tersebut dan menuntun untuk memasuki salah satu kamar yang biasanya memang Johnny sewa.

Kamar paling ujung di lantai dua club, dimana kamar tersebut merupakan kamar yang sangat kedap suara.

Belum juga sampai masuk kamar, Johnny sudah kembali meraup bibir milik lelaki tersebut sampai melumat.

Sir, can we at least get into the room first?” Ucap lelaki tersebut setelah melepas ciuman tiba-tiba Johnny.

Keduanya masih berdiri di depan pintu kamar, bahkan hanya sejengkal lagi keduanya sudah masuk kedalam kamar.

Johnny terkekeh, “I'm sorry

Kemudian Johnny membuka pintu kamar tersebut lalu mengajak lelaki tersebut masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu tersebut rapat-rapat, tak ingin ada yang menganggu aktivitasnya itu.

Johnny langsung mengunci tubuh lelaki tersebut dan kembali meraup bibir milik lelaki tersebut, bibir ini sangat manis. Johnny menyukainya.

Johnny memagut bibir atas maupun bibir bawah lelaki tersebut secara bergantian.

Lelaki tersebut tak mau kalah, ia juga melumat bibir milik Johnny.

“Eungh- Sir, slow please. I can't breath!” Ucap lelaki tersebut memukul pundak Johnny meminta berhenti sebentar untuk mengambil oksigen.

Call me Johnny, sweetie.” Ucap Johnny kemudian mengelus bibir bawah lelaki tersebut dan mengecup singkat.

“Okay, Johnny” Jawab Lelaki tersebut kemudian kembali mencium bibir Johnny sensual.

Lelaki tersebut sengaja mengigit bibir Johnny gemas membuat Johnny memekik, “Aw! Bad kitten hm?”

Yes, i am” Ucap lelaki tersebut tersenyum bangga. Ia sangat suka menggoda Johnny rupanya.

what should i call you, bad kitten?” Tanya Johnny sambil mengelus lembut wajah lelaki tersebut, menatap mata kucing miliknya yang menjadi fokus Johnny saat ini. Matanya begitu indah dengan dua titik cacat diantara mata kirinya itu.

Just call me Ten, you can use my name when you want to scream later” Ucap Ten kemudian mengecup bibir Johnny dan berlari menuju kasur. Ten benar-benar suka menggodai lelaki tinggi tersebut.

Wajah Johnny saat digodai oleh Ten sangat membangkitkan hormonnya.

Shouldn't i say that? You can scream my name when my balls-deep inside yours, bad kitten” Ucap Johnny sensual mendatangi Ten yang sudah tiduran di kasur sambil membuka jasnya lalu melempar kesembarang tempat.

Ten menyeringai, “Don't worry, cause i will scream your name when your balls-deep inside mine, Johnny

Oh my god, such a dirty talks, Ten. But, i like it,” Ucap Johnny kemudian meniduri Ten dan mengusap poni Ten yang menutupi keningnya.

Johnny mengecup kening Ten lembut kemudian turun ke pipi milik Ten tak lupa hidung mancung Ten menjadi sasaran kecupan Johnny.

Johnny memagut bibir atas dan bibir bawah milik Ten, kemudian melumat dan berperang lidah bersama Ten disana.

Keduanya sangat bergairah sampai-sampai tangan Johnny tak tinggal diam lalu membuka kaos yang digunakan oleh Ten. hanya kaos putih tipis, bahkan puting Ten yang sudah menonjol terlihat dari luar kaos tersebut.

Bahkan tangan Ten pun tidak diam, ia membuka semua kancing kemeja Johnny lalu membuka kemeja tersebut secara kasar dan melempar kesembarang arah.

Keduanya saat ini sudah tidak menggunakan atasan apapun itu.

You're such a good kisser, Ten.” Ucap Johnny setelah melepas ciumannya itu kemudian menatap mata Ten yang sedang menatap dirinya dengan tatapan sayu.

You too, Johnny. That's why i love your kisses” Ucap Ten kemudian menutup matanya karena saat ini Johnny sedang mengecup rahang hingga leher miliknya.

Johnny mengecup leher mulus milik Ten, kemudian menghisap meninggalkan beberapa tanda di leher mulus Ten.

“Eungh- More please,” Pinta Ten kemudian Johnny kembali menghisap leher Ten dan membuat tanda lebih banyak.

“A-ahh,” Desah Ten setelah Johnny menghisap dan mengigit leher Ten seperti vampire kehabisan darah.

Johnny menurunkan ciumannya lagi menuju dada milik Ten yang udah terekspos tanpa helaian benang apapun yang menutupi.

Puting Ten yang sudah menonjol sejak tadi menyita perhatian Johnny, Johnny mengemut, mengigit, dan menghisap puting bagian kanan Ten.

Tangan kiri Johnny tak diam, tangannya ia bawa untuk memilin puting bagian kiri Ten, guna memberikan rasa kenikmatan lebih untuk Ten.

“O-oh Johnny it feels so good, fuck” Racau Ten menikmati permainan Johnny pada putingnya.

Dirasa sudah selesai memilin puting bagian kiri Ten, Johnny berpindah untuk mengemut, mengigit, dan menghisap putih bagian kiri milik Ten dengan tangan kanan Johnny yang mulai meraba penis milik Ten.

Oh Johnny yes right there!” Racau Ten setelah Johnny meraba penis miliknya.

Someone already get hard, such a cute kitten” Ucap Johnny meninggalkan puting Ten kemudian mengelus penis Ten dan membuka resleting celana milik Ten.

“Karena siapa?” Tanya Ten sambil melihat Johnny yang sedang membuka resleting celananya itu.

Kaki Ten yang sedang diam tiba-tiba iseng mengelus penis milik Johnny yang sudah terlihat menonjol dari balik celana kerja Johnny.

“Ergh- Ten! Bad kitten, stop it.” Geram Johnny, penisnya benar-benar di elus dari luar menggunakan jari-jari kaki Ten.

No, i won't” Ucap Ten kembali menggapai penis Johnny menggunakan jari-jari kakinya yang dekat penis Johnny itu lalu menjulurkan lidah guna menggoda lelaki tersebut.

I want my lollipop, Johnny” Ucap Ten membuat Johnny memberhentikan aktifitas membuka celana Ten, padahal Johnny tinggal menurunkan celana Ten.

Johnny menghadap kearah Ten, melihat wajah Ten yang sangat menginginkan penisnya itu dengan mata sayu. Wajah Ten sangat ini benar-benar membuat dirinya terangsang dari biasanya.

Take off my pants, Ten” Ucap Johnny menyuruh Ten untuk membuka celana Johnny.

Posisinya saat ini Ten duduk dipinggir kasur dengan Johnny yang berdiri di depan Ten, posisi yang sangat pas dimana penis Johnny berhadapan dengan wajah Ten.

Ten menarik resleting celana Johnny dan menurunkan celana tersebut. Terpampanglah penis Johnny yang sudah menonjol dari balik boxer yang digunakan oleh Johnny.

Ten mengelus penis Johnny membuat Johnny menggeram.

Just open it Tennie, stop teasing me.” Pinta Johnny membuat Ten membuka boxer Johnny.

Sekarang, penis Johnny terpampang nyata di depan mata Ten.

Ten mendongakkan wajahnya menatap Johnny dengan mata berbinar, “Can i have my lollipop right now?

Johnny mengelus rambut Ten lembut dan mengangguk, “Yes, this lollipop is yours, Ten.

Setelah menerima jawaban, Ten memasukkan pangkal penis Johnny kedalam mulutnya.

Menjilat, menghisap pangkal tersebut membuat Johnny kembali menggeram.

Deeper, Tennie.” Ucap Johnny sambil mendorong pelan kepala Ten.

Ten memaju mundurkan kepalanya, menghisap setengah bagian penis Johnny.

Ten tak sangkup meraup utuh penis milik Johnny karena ini terlalu besar!

“Eungh- Johnny wait,” Ucap Ten memberhentikan aktifitasnya dengan mulut yang masih penuh oleh setengah bagian penis Johnny dan mendongak kearah Johnny dengan mata yang sedikit mengeluarkan air mata akibat pangkal tenggorokannya yang sempat bertabrakan dengan pangkal penis milik Johnny.

Johnny melepas penisnya kemudian mendudukkan diri agar sejajar dengan wajah Ten.

Johnny mengelap air mata yang keluar dari pinggir mata Ten, “Terlalu dalam ya?”

Ten menggeleng, “Gak kok, i like it

Can we move?” Tanya Johnny lalu Ten mengangguk mengerti apa yang dimaksud dengan Johnny.

Johnny kembali menidurkan Ten kemudian membuka boxer milik Ten yang tadi sempat tertunda karena Ten menginginkan lollipop miliknya itu.

Johnny mengecek laci-laci sebelah kasur yang biasanya terdapat lube or something like that untuk memperlicin kegiatan keduanya, tak lupa Johnny mengambil satu buah kondom yang juga disediakan disana.

Dirinya hanya ingin bermain dengan keadaan bersih.

Johnny membuka penutup lube tersebut kemudian mengeluarkan cairan tersebut di tangannya dan mengolesi cairan tersebut tepat di area lubang milik Ten.

“Ten buka yang lebar” Pinta Johnny kemudian Ten mengangkang lebar di depan wajah Johnny.

Johnny melotot melihat lubang milik Ten yang terlihat sangat menggairahkan.

Hal tersebut membuat penisnya kembali mengeras, bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Johnny mengolesi cairan tersebut dan tak lupa memasukkan satu sampai dua jari kedalam lubang Ten untuk merilekskan lubang Ten.

“Eungh- Ah!” Racau Ten setelah Johnny menambahkan jarinya menjadi tiga di dalam lubangnya.

Lubang Ten berkedut-kedut menjepit ketiga jari milik Johnny.

Johnny kembali mencium dan melumat bibir Ten lebih sensual sambil menggerakkan ketiga jarinya itu maju mundur di dalam Lubang Ten.

Fuck Ten i can't handle it anymore!” Ucap Johnny kemudian mengeluarkan ketiga jarinya dari lubang Ten dan mempersiapkan penisnya untuk memasuki lubang Ten.

Johnny mengocok perlahan penis miliknya kemudian mengarahkan pangkal penis miliknya tepat di depan lubang milik Ten yang sudah berkedut-kedut siap untuk menerima penis Johnny.

“Tahan ya, Ten?” Uap Johnny kemudian memasukkan pangkal penisnya kedalam lubang Ten.

“Eungahh- Johnny it hurts!” Teriak Ten, lubangnya terasa seperti robek bahkan belum ada setengah bagian penis Johnny masuk kedalam lubangnya.

Should i stop?” Tanya Johnny khawatir namun Ten menggeleng.

Go on, Aku bisa tahan.” Ucap Ten menahan sakit tepat di lubangnya.

“Klise tapi setelah ini bakalan nikmat rasanya, Ten.” Ucap Johnny tepat di kuping Ten sambil menjilat cuping Ten sensual.

“Eungh- Johnny deeper please” Desah Ten meminta Johnny untuk memasukkan lagi penis miliknya itu.

Sudah hampir setengah penis milik Johnny sukses masuk kedalam lubang Ten.

Can i move?” Tanya Johnny setelah menyamankan penisnya dengan lubang Ten.

Ten mengangguk.

Johnny menggerakkan pinggulnya perlahan memaju mundurkan tubuhnya, mendobrak dinding pertahanan milik Ten.

“Eunghh- Johnny faster!” Racau Ten mencengkram seprei kasur guna menyalurkan rasa nikmat yang diberikan oleh Johnny.

“Oh god Ten! Lubangmu terlalu sempit dan menjepit penisku!” Geram Johnny kemudian semakin menggerakkan tubuhnya maju mundur memaksa masuk lebih dalam.

“Aahh- Johnny oh my god your penis is too long!” Ucap Ten menahan rasa sakitnya, membiarkan rasa nikmat dalam tubuhnya menguasai tubuhnya.

here Cakar aku kalau kamu kesakitan, Ten.” Ucap Johnny mengarahkan tangan Ten untuk memeluk Tubuhnya.

Keduanya mengeratkan tubuhnya bersama.

F-Faster Johnny! I wanna cum!” Teriak Ten, ia sudah tidak kuat menahan cairannya itu lebih lama di dalam penis miliknya.

Wait me!” Ucap Johnny semakin menubruk prostat Ten.

“Eung~ Oh god Johnny!” Racau Ten kemudian mencakar punggung Johnny lebih kuat menyalurkan sakitnya.

Together!” Ucap Johnny.

“Ergh- Ten!” Geram Johnny sambil mempercepat temponya.

“O-oh! I can't handle it! Fu-ck! A-ah Johnny!” Teriak Ten kemudian cairan Ten muncrat mengenai perut Johnny dan juga seprei kasur.

Tak lama kemudian Johnny mengeluarkan penisnya dari lubang Ten dan mencopot kondom yang ia gunakan dan mengocok kembali penisnya.

Fuck! Ten!” Cairan milik Johnny muncrat tepat diatas perut Ten.

Keduanya melemas, kedua tubuhnya kotor terkena cairan masing-masing.

“Thank you so much, it was super good, Johnny.” Ucap Ten kemudian mengelus pipi Johnny yang sedang menutup matanya kelelahan setelah pelepasannya.

“John?” Panggil Ten lagi setelah tidak melihat pergerakan lain dari Johnny.

“Pingsan apa gimana?” Tanya Ten pada entah siapa.

Sepertinya pingsan akibat mabuk tadi, pikir Ten.

Karena sebenarnya daritadi yang masih 100% sadar hanya dirinya.

Ten tau betul bahwa Johnny sedang mabuk, sangat terlihat dari pandangan matanya itu.

Bahkan disaat mabuk, permainan Johnny masih membuat Ten menggila seperti saat ini.

Ten berdiri dari tempat duduk, memegang pinggangnya menahan sakit dari lubangnya kemudian masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan diri sebentar.

Setelah membersihkan diri, Ten membawa satu tempat berisi air dan juga handuk kecil untuk membersihkan tubuh Johnny dari cairan miliknya dan cairan milik Johnny.

Selesai membersihkan tubuh Johnny, dirinya menyelimuti Johnny kemudian menuliskan nama panjangnya dan juga nomor telponnya di secarik kertas yang memang berada di dalam kamar tersebut.

Tak lupa Ten juga sempat-sempatnya membeli obat untuk Johnny yang dijual di lantai satu kemudian menaruh obat tersebut di samping kertas berisi nama dan nomornya itu.

Berharap, setelah Johnny bangun besok Johnny akan segera memberikan dirinya sebuah pesan.

Ten mengecup bibir dan kening Johnny, “Thank you, Sir. See you later.”

Kemudian Ten keluar tanpa mengunci pintu kamar tersebut, menyisakan Johnny yang full telanjang hanya ditutupi oleh selimut.


Johnny tersenyum mengingat kejadian tersebut lalu menghadapkan diri kearah Yuta, “Damn, He's so amazing Yut!”

Yuta mengernyitkan keningnya, “Apasih lo? Ayo cepet pening kepala gue butuh obat. Lo enak udah dikasih obat, lah gue? gak ada yang ngurus!”

“Bentar anjing gue pake baju dulu!” Ucap Johnny kemudian membuka selimutnya memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai benangpun.

Yuta terkejut kemudian menutup matanya erat-erat, “Woi anjing bilang-bilang kek kalo mau buka selimut! lo kan lagi telanjang tolol!”

“Ohiya lupa gue, yaudah gapapa tontonan gratis buat lo.” Ucap Johnny tertawa ngakak melihat sahabatnya sedang menutup matanya rapat-rapat.

“Duh lengket banget badan gue, gue bilas bentar ya Yut.” Ucap Johnny kemudian berlari menuju kamar mandi meninggalkan Yuta yang masih menutup matanya.

“Yang bersih John! Lo bau sperma banget!” Teriak Yuta kemudian dengan lega membuka matanya.


Inspo. Unreleased song from 5 Second of Summer, 'I Can't Remember'.