— A Sinner.
Setelah melakukan kegiatan yang biasa Ten dan Johnny lakukan di sebuah kamar hotel, keduanya saling memeluk tubuh satu sama lain di alut dengan selimut tebal dari hotel.
Johnny mengelus surai lembut milik Ten membuat Ten menutup matanya, menikmati elusan dari Johnny.
“Jo, salah nggak sih kita kayak gini?” Ten mendongak menghadapkan wajahnya untuk melihat wajah milik Johnny.
Johnny mengelus pipi milik Ten dengan lembut, “Ten, please jangan ngomongin tentang salah atau enggak tentang kita disaat kita lagi berdua.”
“But i feel so bad, gue kayak terlalu menyakiti Kun yang bahkan nggak berani menyentuh tubuh gue. Dia, terlalu baik buat gue Jo. Salahkah kita kayak gini?”
“Lo pikir, gue nggak pernah merasakan hal seperti itu? Doyoung bahkan tau gue setiap malam lembur kerja, padahal gue ketemu sama lo.”
“Perkara salah atau nggak. Semua udah salah dari awal Ten. Kalau udah gini, kita harus apa?”
“Jo, i love Kun. I really love him.”
“Ten, i love my Doyoung that much.”
“Lalu, kenapa kita disini?”
“Tolong, Ten. Jangan tanya itu ke gue, karena gue sendiri nggak tau jawabannya.”
“Jo, kita benar-benar pendosa kelas berat.”
“Ten, kita udahin aja ya?”
Ten menggeleng, “Nggak ada cara lain selain udahin?”
“Enggak Ten. Bener kata lo, kita pendosa kelas berat.”
Ten angkat bicara lagi, “Bisa nggak kita berhenti ngomongin ini?”
“Lo duluan yang mulai,”
“Udah ya? Jo, jangan pergi.”
“Gue masih disini Ten,”
Johnny mengelus punggung milik Ten guna meyakinkan Ten bahwa dirinya akan selalu berada di samping Ten.
Ten memeluk erat tubuh tanpa busana milik Johnny lalu menyamankan dirinya, “Good night, Jo.”
“Good night, Ten.”
Keduanya menutup mata lalu masuk kealam mimpi masing-masing dengan saling berpelukan.
@roseschies 🌸