—A Sinner
Setelah Kun sampai di cafe yang sudah Doyoung berikan, Kun mengingat-ingat wajah lelaki yang dulu sempat dekat dengan dirinya sebelum berpacaran dengan Ten.
“Doyoung?” Kun menepuk pundak seseorang yang sedang duduk sambil menyeruput minumannya dan tak lupa tangan lainnya sedang mengetik pesan entah untuk siapa.
“Eh? Kun?” Doyoung mendongakkan kepalanya lalu melihat wajah seseorang yang familiar di matanya, lalu menyuruh Kun duduk di depannya.
“Ada apa Doy?” Tanya Kun tanpa basa-basi.
Doyoung meletekan gelas minumnya lalu menghela nafas, “Tunggu ya, mungkin mereka belum keluar.”
Kun mengernyitkan dahinya tak paham, “Siapa? Mereka?”
Doyoung mengambil ponselnya lalu membuka gallery dan memberikan Kun sebuah foto, disana ia bisa melihat dengan jelas Ten, Ten-nya itu sedang bergelayut manja di tangan kekar lelaki lain.
Kun berdeham lalu mengembalikan ponsel milik Doyoung, sambil menetralisir pikirannya, membuang segala macam rupa pikiran jelek lainnya.
“Siapa? Dan dari siapa?”
“Cowo ini, yang disebelah Ten, pacar gue. Dari kenalan gue yang emang kerja sekitaran sini, dia ngerasa ngenalin pacar gue dan dia ngirim foto itu ke gue. Pas gue liat, gue gak salah kok, itu Ten, pacar lo kan?” Jelas Doyoung pada Kun, Kun menghembuskan nafasnya tangannya mulai bergerak gelisah.
Kun mengangguk.
“Mereka belum keluar dari hotel di sana, tunggu sampe agak sorean. Kalau emang bener itu mereka, kita bakal liat mereka keluar dari sana.”
Kun mengangguk lagi.
Jujur, dia percaya Ten.
Dia percaya, pacarnya itu nggak seperti apa yang baru saja dilihatnya.
Begitu juga Doyoung.
Doyoung sendiri menolak habis-habisan di dalam otaknya setelah melihat foto tersebut.
Namun mau bagaimanapun, ia harus membuktikannya dengan mata kepala sendiri.
Sekitar 15 menit, Doyoung dan Kun berbincang, membicarakan banyak hal tentang kehidupan dan juga hubungannya masing-masing sambil melihat terus kearah pintu hotel yang tak jauh dari sana, Doyoung terlebih dahulu melihat postur tubuh seseorang yang sangat ia kenal.
Postur tubuh Johnny, kekasihnya.
Dan tepat disebelahnya, lelaki mungil itu, kekasih Kun.
Keduanya asik merangkul satu sama lain, berbeda dengan kedua orang yang ada di dalam cafe.
Doyoung beranjak dari tempat duduknya dengan emosi yang bergejolak.
Melihat Doyoung yang sepertinya sudah siap menojok wajah kekasihnya itu, Kun meraih tangan Doyoung, memberhentikan Doyoung yang ingin mendatangi kedua lelaki itu.
“Calm down, kita temuin mereka berdua. Stay cool, Doyoung.” Ucap Kun, kemudian Doyoung menetralisirkan nafasnya lalu mengangguk.
Kun dan Doyoung keluar dari cafe lalu keduanya merangkai sedikit adegan pura-pura jalan santai lalu menubruk tubuh Johnny ataupun Ten.
“Aw! Kalo jalan liat-liat dong pake mata! Gimana sih, main nabrak orang aja.” Ucap Ten sambil mengelus lengannya yang baru saja ditabrak oleh seseorang.
“Oh? Sorry, gak liat.”
Setelah mendengar suara jawaban tersebut, Johnny memberhentikan langkahnya lalu menghadap kebelakang.
Tubuh Johnny membeku, “Doyoung?”
Doyoung tersenyum, hampir seperti terpaksa tersenyum demi adegan yang sudah ia buat dengan Kun sebelumnya.
“Oh, Johnny?”
Ten yang mendengar lagi, langsung menghadapkan tubuhnya kebelakang untuk melihat, apa itu benar Doyoung?
“K-Kun?”
Badan Ten mulai membeku, kakinya mulai lemas seperti jelly.
Bukan ini yang ia inginkan.
Kun tersenyum, sangat manis. Sukses membuat dada milik Ten seperti tertusuk, sakit.
Berbeda dengan Kun, Doyoung mulai memandang wajah Johnny dengan sengit, benar-benar tangannya kalau tidak di tahan mungkin akan melayang kearah wajah Johnny sepersekian detik.
“Doyoung,” Ucap Johnny kemudian meraih tangan Doyoung namun Doyoung sudah menepis terlebih dahulu sebelum Johnny sempat memegang tangannya.
“Do not touch me. Jijik.” Ucap Doyoung, tangannya mulai mengepal, menahan tangisannya dan juga emosi yang mulai bergejolak.
“Doyoung, ini bukan seperti apa yang kamu bayangin.”
“Huh? Bukan seperti apa yang aku bayangin? Joo, sejak kapan kamu ngelembur di hotel? Sejak kapan? Kamu kerja di sebuah perusahaan bukan di hotel, am i right?”
Skakmat, Johnny benar-benar dibuat mati berdiri.
Berbeda dengan Johnny dan Doyoung.
Kun masih tersenyum memandang Ten, menunggu kekasihnya ini menjelaskan sesuatu.
Namun, Ten bahkan tidak berani membuka mulutnya sedikit pun.
“Pulang Ten,” Ucap Kun kemudian mengelus surai milik Ten.
Ten menggeleng, “Jangan begini Kun,”
“Terus, mau kamu, aku seperti apa? Seperti Johnny, hm?”
Tolong siapapun, tenggelamkan Ten sekarang juga.
Ten sama sekali tidak berkutik, ia benar-benar diam. Tangannya gemetar, dirinya benar-benar takut dengan Kun yang seperti ini.
“Kun, gue pulang. Dan lo, Johnny. Jangan kejar gue, jangan hubungin gue, kita putus. Gue gak mau denger alasan lo, apapun semua ucapan yang keluar dari mulut lo, gue gak akan percaya.” Doyoung kemudian lari, meninggalkan Kun, Ten, dan juga mantan kekasihnya itu.
Johnny ingin mengejar Doyoung, namun Kun duluan mencegah Johnny.
“Lo mau apa lagi?” Tanya Kun dingin.
“Ngejar pacar gue!” Bentak Johnny pada Kun, Ten masih terdiam di samping.
“Pacar lo? Jangan ngelucu. Pacar lo udah di samping lo kan tuh? Oh, mirip pacar gue juga.”
Kun, benar-benar pintar membuat Johnny dan Ten tidak berkutik.
“Mungkin gue dan Doyoung dua orang yang berbeda, tapi kita berdua sama. Hati kita berdua sama-sama rusak. Gue pamit pulang, tolong jaga dia, gue yakin lo paling pinter jaga pacar gue, kan?”
Kun menepuk pundak Johnny, lalu pergi meninggalkan Johnny dan Ten yang masih sama-sama diam, bahkan Ten tidak ada energi lagi untuk lari mengejar Kun.
Bukan tidak ada energi lagi, ia malu. Malu jika harus mengejar Kun, disaat ia memang benar-benar salah.
Setelah keduanya lama berdiam, Johnny mulai angkat bicara.
“Gue anter lo pulang.”
Ten mengangguk, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia benar-benar masih memikirkan banyak hal, apa lagi yang harus dia ucapkan pada Kun.
@roseschies