always here
Mark membaca satu persatu pesan yang dikirim oleh Haechan, perlahan air matanya menetes, tubuhnya bergetar, tangannya melemas.
Mark, menangis. Adik kesayangannya itu, selalu ada untuk dirinya.
Tanpa Mark ketahui, tangannya tak sengaja memencet dial untuk nomor Haechan.
Mark menekuk lututnya kemudian memeluk lututnya, Mark menangis di sana. Mark berusaha meredam tangisannya yang ternyata semakin menggema.
“Haechan, Kakak minta maaf untuk semua perlakuan dan ucapan Kakak.”
“Hiks— Gue harus bangkit. Gue harus bangkit.”
“Iya. Kakak harus bangkit.”
Suara Haechan yang tiba-tiba masuk ke dalam kuping Mark membuat Mark lagi lagi terkejut.
Bahkan hanya mendengar suara Haechan mampu membuat Mark kembali menangis. “Adek?”
“Kakak. Kakak kenapa nangis?” Tanya Haechan dengan suara yang sama sumbangnya dengan Mark. Dirinya juga ikut menangis mendengar tangisan Mark sejak awal ketidaksengajaan Mark menelpon Haechan.
Mark menggeleng keras lalu menahan isak tangisnya, “Nggak. Kakak nggak nangis.”
Sunyi. Keduanya diam tanpa ucapan lain, hanya ada suara isakkan dari Mark dan Haechan, keduanya masih diam.
“Haechan,” Mark menggumam.
“Haechan,” Lagi.
“Haechan,” Kali ini lebih besar suara panggilannya yang keluar dari mulut Mark.
“Kakak, kenapa?”
Mark menggelengkan kepalanya lagi, “Haechan, kepala Kakak pusing. Haechan masih di sini kan?”
“Kak, aku selalu di sini.”
“Kalau Kakak matiin teleponnya, Haechan nggak kemana-mana kan?”
Belum juga Haechan menjawab, sambungan telepon keduanya sudah mati sepihak.
@roseschies