apartment
Sesampainya Taeyong di depan unit apartemen, mengingat pesan dari Jaehyun akhirnya Taeyong langsung memasukkan passcode unit tersebut.
Taeyong membuka pintu tersebut dan mengintip sebentar ke dalam apartemen. Sepi. Ini Jaehyun beneran sudah sampaikan? Masa dia duluan yang sampai? Padahal Taeyong bisa dibilang ngaret setengah jam lebih karena terkena macet.
Taeyong melepas sepatu yang ia gunakan lalu memakai sendal khusus di dalam miliknya kemudian menengok kesana kemari mencari keberadaan Jaehyun.
“Jaehyun?”
Tidak ada jawaban.
Mungkin benar Jaehyun belum sampai.
Taeyong langsung membawa kakinya menuju ruang tengah, niatnya menunggu Jaehyun.
Namun tiba-tiba, “DOR!”
“YA TUHAN— JAEHYUN!”
Jaehyun datang dari ruangan kosong membuat Taeyong terkejut setengah mati, jantungnya hampir copot, sungguh.
Taeyong memukul pelan tubuh milik Jaehyun membuat siempunya mengaduh kesakitan, “Aduh aduh yongyong sakit ampun ampunn.”
“Aku kaget tau! Kamu nih aku pikir belum sampe.” Omel Taeyong kemudian melipat kedua tangan di dada, sebal dengan Jaehyun.
Jaehyun hanya terkekeh lalu menarik tangan milik Taeyong, mengajak kekasihnya untuk duduk di sofa. “Maaf lohh, hehehe. Tapi kamu gemes juga kagetnya.”
Taeyong kembali memukul lengan milik Jaehyun, antara kesal dan malu, sepertinya bercampur.
Taeyong ingat tadi ia menjatuhkan tasnya yang berisi baju ganti besok dan laptop miliknya sewaktu ia dikejutkan oleh Jaehyun.
“Sebentar, tuh tas aku yang berisi laptop jadi jatuh!”
Sedangkan yang diomeli hanya terkekeh lagi lalu menyenderkan tubuhnya di sofa sambil menunggu Taeyong.
“Jaehyun, ini tas aku ditaro mana?”
“Taro kamar aja yang, gapapa.”
Taeyong langsung masuk menuju kamar yang tersedia lalu meletakkan tasnya kemudian menyusul Jaehyun, duduk di sofa.
Sedikit canggung. Tetapi Taeyong berusaha mengikis jarak diantara keduanya. Taeyong menggeser tubuhnya mendekat kearah Jaehyun, perlahan ia buang rasa malunya.
Jaehyun yang merasa Taeyong mendekat kearahnya langsung menarik tubuh milik Taeyong untuk ia rangkul, semakin mendekat dengan tubuhnya.
Jaehyun mengelus pelan pundak milik Taeyong lalu meletakkan kepala Taeyong di pundaknya. “Pundak aku, cuma punya kamu. Sesuka hati kamu mau letakkin kepalamu dipundakku, ngga apa-apa, yongyong.”
Pipi milik Taeyong bersemu merah hampir semerah tomat. Ia malu, sungguh. Tetapi ini terasa sangat nyaman.
Dengan berani, Taeyong melingkarkan tangannya memeluk pinggang Jaehyun dan menyamankan tubuhnya.
Jaehyun tersenyum lalu mengecup puncak kepala Taeyong pelan dan selanjutnya ia mengelus pucuk kepala Taeyong.
Yang diberi afeksi hanya bisa menahan detak jantungnya yang semakin tidak karuan itu. Taeyong, bisa gila kalau seperti ini sampai besok.
Hari sudah semakin malam. Taeyong dan Jaehyun keduanya sudah sama sama mandi membersihkan diri. Keduanya sudah sama sama menggunakan piyamanya masing-masing.
Sejak tadi, keduanya sudah melakukan beberapa hal dari nonton bersama sampai makan malam bersama. Tentu dengan makanan yang dibawa oleh Kun secara tiba-tiba.
Jaehyun menidurkan tubuhnya di kasur kemudian mengajak Taeyong untuk tidur disampingnya, “Sini, yang.”
Sepertinya rasa malu Taeyong sudah menguap karena saat ini Taeyong langsung membawa tubuhnya untuk tidur disamping Jaehyun lalu memeluk erat tubuh milik Jaehyun bak guling yang akan menemani ia tidur nantinya.
“Gemasnya. Kamu udah ngantuk?” Tanya Jaehyun sambil mengusap pelan surai milik Taeyong.
Taeyong menggelengkan kepalanya, “Belum. Ngga bisa tidur kayaknya sampe besok.”
“Kenapa?”
“Jantungku ngga berenti berdetak cepat. Aduh.”
Jaehyun tertawa, terlihat, sangat terlihat kok.
“Kalo jantungmu berhenti berdetak, aku yang panik.”
“Bukan begitu!”
“Hahaha iyaa paham kok. Ini jantungnya disuruh santai aja yaa, kasihan yongyong kecapean karena kecepetan berdetak ya.”
Taeyonf tersenyum kecil. Kenapa rasanya nyaman sekali, ya?
Entah pelukan atau ucapan yang dilontarkan sejak tadi dari mulut Jaehyun. Rasanya semua terasa nyaman untuk Taeyong.
Tiba-tiba saja suasana menjadi sedikit sedih, untuk Taeyong. Ia merasa sedih, karena kejadian seperti ini sangat langka.
“Kenapa sayang?” Tanya Jaehyun ketika ia merasa Taeyong sedikit menurunkan pundaknya.
“Gapapa..”
Jaehyun tersenyum kecil kemudian kembali memeluk erat tubuh Jaehyun. “Yang ada di depan, jangan dipikirin dulu. Kita nikmatin yang ada dulu sekarang ya?
“Aku mau egois sekali aja, mau kayak gini terus sama kamu. Mau waktu kita ngga tersita karena kamu yang sibuk. Mau waktu kita lebih karena ngga harus ngumpet ngumpet. Mau deklarasikan bahwa pacar aku itu Jung Jaehyun. Tapi aku urung semua niatku.”
“Aku urung semuanya. Keinget lagi semua ucapan aku dan ucapan kamu dari pertama kali aku dan kamu memutuskan untuk punya hubungan lebih. Mengingat semua ucapan dan segala titip sampai izin dan tetek bengek yang diucapkan Kun buat aku. Aku jadi semakin menghargai waktu sedikit apapun sama kamu. Kayak gini. Sebentar, tapi rasanya aku bahagia banget, Jaehyun.” Lanjut Taeyong.
Memang awalnya terasa tidak mudah bagi Taeyong untuk menjalin hubungan dengan seorang artis papan atas ditambah ia mengagumi lelaki ini, semua karya lelaki ini ia kagumi.
Tapi Taeyong tau, kesempatan ini, ngga akan datang lagi. Kesempatan ini hanya untuk dirinya.
“Hari ini, malam ini. Lupain title aku sebagai artis dan lupain title kamu sebagai fans. Aku dan kamu adalah pasangan. Pasangan yang menjalin hubungan lebih dan saling memberi afeksi satu sama lain. Aku dan kamu malam ini saling memiliki. Malam ini, tempat ini, cuma ada kamu dan aku. Terima kasih udah mau ngertiin aku sebagai apapun aku di mata kamu.” Jaehyun benar benar merasa berterima kasih. Karena kali ini, dirinya benar benar tidak salah memilih pasangan. Banyak sekali berita di luaran yang tidak enak di dengar bagi artis seperti dirinya.
Ah... Taeyong, memang pilihan yang benar untuk Jaehyun.
@roseschies