Awalan


Di sinilah Johannes berada saat ini,

Ruangan Papa.

Saat ini Johannes sedang berdiri di depan meja Papa, menunggu Papanya berbicara padanya. Katanya, pembicaraan serius.

“Anes, lihat.” Papa memberikan satu lembar foto pada Johannes, di sana terdapat foto seorang lelaki asing di mata Johannes membuat lelaki itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Anes mau nggak sama dia?”

“Maksud Papa?” Tanya Johannes, ia bingung.

“Dia, jadi suami Anes.”

“Anes, mau ya Papa jodohkan dengan dia?”

Johannes sedikit melotot mendengar ucapan sang Papa, “Papa tau Anes udah punya pacar.”

“Anes, mau ya Papa jodohkan dengan dia? Dia baik kok, anaknya sangat baik juga ceria.”

“Papa, Anes udah punya pacar. Anes sayang sama pacar Anes.” Ucapan sang Papa bahkan tidak di dengar oleh Johannes, lelaki itu bersikukuh dengan pendiriannya.

“Buktikan.” Ucap Papa. Johannes tentu tau apa yang dimaksud oleh Papanya. Pembuktian untuk hubungannya. Menikahi kekasihnya.

“Papa, Papa tau, Anes udah pernah bahas ini. Amanda minta waktu lebih untuk sampai ke titik itu.”

“Yasudah, kalau gitu lebih baik Papa jodohkan Anes dengan dia.”

“Hubungan kamu, mau dibawa kemana? Umurmu itu nggak terus diam segitu segitu aja, Papa juga udah semakin tua Anes. Terima permintaan Papa putusin pacar kamu itu.”

“PAPA!” Suara Johannes meninggi ketika mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh sang Papa.

“Papa kalau emang nggak suka sama hubungan Anes dan Amanda jangan sampai kayak gini. Anes sama Amanda udah 3 tahun jalin hubungan dan Anes merasa kita berdua baik-baik aja.” Ucap Johannes dengan nada yang terdengar sedikit frustasi.

Papa bangun dari tempat duduknya lalu menatap Johannes yang ada di depannya, “Johannes, Papa nggak minta banyak-”

“Itu banyak Pa????” Sela Johannes bahkan sebelum Papanya selesai berbicara membuat Papa meninggikan suaranya dengan lantang, “JOHANNES.”

“Anes, selama ini kamu nggak dengerin Papa, Papa nggak peduli. Tapi sekali ini aja, tolong iyakan keinginan Papa, Papa janji ini permintaan terakhir Papa buat kamu.” Lanjut Papa kemudian menepuk pundak anaknya itu, meminta pertolongan sekali ini saja dalam hidupnya, Papa benar-benar tidak pernah meminta banyak pada Johannes.

Tapi, kali ini, tolong, Johannes.

Mata milik Papa sudah sangat sayu, lelaki itu benar-benar meminta pada Johannes.

Tapi, sekali lagi, Johannes tetaplah Johannes.

Lelaki itu membalikkan tubuhnya kemudian berjalan keluar dari ruangan Papa dan membanting pintu ruangan tersebut membuat suara debaman berdentum di seisi ruangan.

Papa hanya bisa menghela nafas dan memijit pelipisnya kemudian kembali duduk dan menatap bingkai yang selalu ada di meja ruangannya itu. Papa mengelus pelan bingkai foto tersebut.

“Anakmu, nggak pernah berubah, selalu keras kepala. Aku harus pakai cara apa lagi, Hanna.” Monolog Papa, mengadu pada sang isteri meskipun hanya melalui foto usang yang selalu dijaga oleh Papa.


Beberapa minggu kemudian, Johannes tiba-tiba mendapat satu pesan dari Papa yang memintanya untuk datang ke suatu tempat yang tak jauh dari kantornya itu.

Di sana, Papa bilang jika ia ingin membahas sesuatu dengan Johannes. Maka dari itu, Johannes langsung membawa tas kantornya lalu langsung menuju tempat yang sudah Papanya berikan. Mungkin tentang kantor, pikirnya.

Sesampainya Johannes di tempat tersebut, lelaki itu sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan Papanya.

Johannes baru saja ingin mengambil ponselnya yang ada di saku celananya untuk menelpon sang Papa namun sudah lebih dulu Papanya mendatangi dirinya.

“Ayo sini Nak.” Ajak Papa untuk masuk ke dalam rumah yang lumayan besar. Bahkan Johannes tidak tau ini rumah siapa dan untuk apa Papanya membahas sesuatu dengan dirinya di rumah seseorang.

Atau jangan-jangan ini memang rumah lain milik Papanya? Johannes tidak tau namun tetap mengekor di belakang Papanya.

Sesampainya Johannes di ruang makan, wajah Johannes memerah akibat kesal dengan sang Papa.

Ini bukan membahas sesuatu tentang kantor, tetapi pertemuan antar dua keluarga.

Iya, keluarga dirinya dengan keluarga lelaki yang ada di foto beberapa minggu lalu Papanya beri pada dirinya.

Dan disanalah lelaki tersebut duduk berdampingan dengan seorang wanita paruh baya yang tersenyum kearahnya.

“Johannes, duduk dulu.”

“PA?!” Seperti tak tau tata krama, Johannes kembali meninggikan suaranya pada Papanya itu di depan keluarga orang lain.

“Johannes. Jangan kayak anak kecil.” Suara Papa menekan semua ucapan yang keluar, memaksa Johannes untuk sekali ini saja nurut dengannya.

Pada akhirnya Johannes duduk di sebelah Papanya sambil merutuki Papanya dalam hati.

Yang anak kecil gue atau papa sih.


Setelah berbincang satu sama lain, tentu Johannes hanya berdeham terus-terusan tanpa menjawab panjang pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

“Tama, ajak Johan ke belakang gih, ngobrol berdua biar makin kenal satu sama lain.” Bujuk Mama Tama membuat Tama mendengus, yang benar saja Mamanya ini menyuruh Tama untuk berdua bersama Johannes?

“Nak, ya?” Bujuk Mamanya lagi membuat Tama mau tidak mau berdiri dan mengangguk, menerima permintaan Mamanya itu.

Tanpa ucapan yang keluar dari mulut Tama, Tama mengajak Johannes untuk mengikuti dirinya ke belakang.

Sebelum Papanya kembali menyuruhnya, Johannes lebih dulu mengangkat tubuhnya berdiri dari tempat duduk lalu mengikuti langkah Tama.

Setidaknya, Johannes bisa jauh dari pembicaraan tidak bermutu yang ada di meja makan, pikir Johannes.

Tama mendudukkan dirinya di bangku panjang yang ada di taman belakang rumahnya, membiarkan Johannes yang masih berdiri di dekat pintu taman belakang.

Johannes mendekat kearah Tama yang sedang duduk membuat Tama mendongak untuk melihat Johannes yang ada di depannya sedang berdiri menatap dirinya.

“Jangan berharap saya bahagia meskipun saya menerima ini semua, Adhitama. Saya hanya terpaksa.”

Setelahnya Johannes menjauh dari Tama lalu merogoh ponselnya yang ada di saku celananya untuk menelpon kekasihnya.

Sedangkan Tama hanya bisa menggeleng lalu tersenyum miring melihat Johannes yang sedang berdiri tidak jauh darinya sambil tertawa kecil berbicara dengan seseorang yang tidak Tama tau di telepon.


@roseschies