Barbeque time! !(2k+ words)!

Menjelang sore, kediaman keluarga Johnny mulai disibuki oleh penghuni rumah yang bulak-balik naik turun untuk meletakkan belanjaan yang baru saja mereka beli tadi untuk persiapan barbeque malam ini.

Untungnya, kemarin Ten sudah meminta Johnny untuk menyiapkan peralatan untuk barbeque di rooftop maka dari itu keempat lelaki tersebut tidak usah capek-capek naik turun lagi untuk mengambil peralatan lainnya karena semua sudah siap di rooftop berkat Johnny.

“Dede, pizzanya udah sampe di depan. Tolong diambil ya nak.” Ucap Johnny yang sedang mengecek kembali peralatan untuk barbeque nanti setelah mendengar notifikasi yang datang dari ponselnya memberitahu bahwa pesanan pizzanya sudah sampai.

Sedangkan Haechan yang sedang mengajak Louis memandangi pemandangan sore hari langsung mengiyakan suruhan Daddynya dan turun untuk mengambil pizzanya bersama Louis.

“Aduh dede, pelan-pelan turun tangganya nak. Itu si louis gendongnya yang bener masa kakinya gondol-gondol gituu.” Ucap Ten melihat anak bungsunya buru-buru turun tangga dari rooftop langsung memarahi si bungsu karena takut Haechan jatuh di tangga.

Haechan terkekeh, dia terlalu semangat untuk mengambil pesanan pizza yang dipesan oleh Daddynya sampai tidak sadar membawa louis sembarangan dan tidak melihat Ten yang sedang di dapur membersihkan pisau-pisau dan alat makan yang akan digunakan nantinya. “Iya papaa, maaf soalnya buru-buru mau ambil pizza di depan.”

“Iya hati-hati nak. Abang pizzanya nggak akan pergi kok nungguin dede pasti di depan.”

Baru saja Haechan mau membuka pintu, Hendery sudah duluan buka pintu tersebut dari luar sambil membawa bungkusan pizza. “Nih pizzanya.”

“Ih udah buru-buru juga aku turun.” Haechan mendecak kemudian mengambil pizzanya dari tangan Hendery.

“Makasih kek woi udah diambilin juga.”

“Hehehe, iyaa maaf. Makasih babaangg, nih gratis louis dari dede.” Haechan kemudian memindahkan louis dari gendongannya ke gendongan Hendery kemudian lari menuju rooftop untuk menaruh pizzanya di atas.

Hendery menggeleng-geleng, “Dede kenapa sih pa?”

Ten terkekeh, “Dia lagi seneng kali. Biarin aja bang. Oh iya, kamu nggak bantu daddy di atas?”

“Nungguin om Yuta sama om Jaehyun dateng aja. Aku sebagai penerima tamu hari ini.”

“Ah, ada yang ditunggu kali.” Goda Ten membuat Hendery mengelak.

“Dih, apaasih paa. Mana ada, ngada-ngada aja Papa. Ada yang mau aku bantu nggak pa?”

Ten memberikan piring pada Hendery, “Nih tolong cuci sekali lagi ya bang.”

Hendery mengangguk kemudian membantu Ten mencuci peralatan lainnya sampai dirasa cukup bersih untuk digunakan orang lain.

TingTong

“Bang, tolong liat di depan ada siapa, sini Papa lanjutin cucinya.” Pinta Ten kemudian mengambil piring yang sedang Hendery cuci kemudian Hendery mencuci tangannya lalu berlari menuju pagar, menjemput tamunya.

Tak lama kemudian.

“Masuk om.” Ucap Hendery mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumah.

“Tennie!” Sapa Taeyong yang melihat Ten sedang berada di dapur langsung lari menuju Ten sedangkan Jaehyun melambaikan tangan dan tersenyum menyapa Ten.

“Daddymu mana Hen? Kak, Dek salam dulu sama om Ten.” Tanya Jaehyun pada Hendery lalu menyuruh kedua anaknya untuk salam dulu dengan tuan rumah.

Mark dan Jeno menghampiri Ten yang sudah berbicang dengan Taeyong bahkan Taeyong sudah menggunakan sarung tangan untuk mencuci piring bermaksud membantu Ten.

“Daddy udah diatas, mau dianter Hendery keatas om?” Tawar Hendery.

Jaehyun menggeleng, “Nggak usah om naik sendiri aja. Makasih ya Hen. Kak, Dek, Pi Ayah naik dulu ya.”

Taeyong, Mark, dan Jeno menjawab serempak. “Iya Yah.”

Giliran Jeno dan Mark yang mendekat kearah Hendery.

“Bang Hen, Haechan mana?” Tanya Jeno pada Hendery.

“Diatas sama Daddy, naik aja No.” Ucap Hendery.

“Haechan mulu kamu tuh.” Sela Mark membuat Jeno menatap Mark sinis.

“Idih, bilang aja kalo mau ikut main sama Haechan. Sewot mulu kakak mah.”

Mark menggeleng, “Mana ada. Yaudah sana main.”

Jeno mengangguk kemudian izin pada Hendery untuk naik duluan keatas menghampiri Haechan.

“Lo ngapain dah di bawah?” Tanya Mark.

“Nungguin keluarga lo sama keluarga om Yuta. Tadi sih gue lagi bantuin Papa nyuci piring, tapi sekarang udah ada om Taeyong. Kalo gue ikut bantuin kesannya ngerecokin. Eh, lo mau minum apa dulu nggak?”

Mark menggeleng, “Nggak usah bro santai aja. Eh iya, kata lo ponakan om Yuta temen main kita? Maksudnya gimana?”

“Iya, ponakan om Yuta seumuran sama kita. Dia juga mau masuk kampus kita semester depan, niatnya masuk kesos. Satu fakultas sama si Lucas.”

“Seumuran sama kita tapi baru masuk kampus semester depan, gimana maksudnya? gapyear dia?”

Hendery menggidikkan bahunya, ia juga tidak tau. Mau banyak tanyapun, setiap ditanya Dejun hanya menjawab itu-itu saja. Jadi agak canggung kalau Hendery tanya lebih jauh lagi.

“Siapa namanya?”

“De-”

TingTong

“Abang tolong itu dibukain pintunya. Om Yuta kayaknya udah sampe.” Teriak Ten meminta tolong pada Hendery membuat Hendery memberhentikan ucapannya pada Mark kemudian menyuruh Mark menunggu dirinya sedangkan Hendery berlari menuju pagar, membukakan pintu untuk tamu terakhirnya.

Tak lama kemudian.

“Ayo masuk om Winwin.” Ucap Hendery menyuruh Winwin masuk.

“Lah, om nggak boleh masuk nih?” Tanya Yuta sambil cemberut. Biasalah Yuta dan Hendery sejak dulu memang suka begini. Tapi, ini pemandangan yang aneh bagi dua member baru Nakamoto, Dejun dan Jaemin.

“Nggak. Om diluar aja dadah~” Goda Hendery kemudian mengajak Winwin, Dejun, dan Jaemin masuk. Yuta akhirnya masuk juga kok sambil tertawa.

“Tennie, Taeyongie~” Sapa Winwin langsung pada Taeyong dan Ten yang sedang berbincang sambil mencuci.

“Hai Win! Sini-sini. Eh ada Dejun sama Jaemin. Haii~” Sapa Ten pada kedua anak tersebut, keduanya mengintil Winwin mengikut menghampiri Ten dan Taeyong sambil berjalan malu-malu.

Sedangkan Hendery dicegat oleh Yuta, “Daddymu mana?”

“Diatas di rooftop. Naik aja sana om hus hus hussss.” Usir Hendery mendorong Yuta menuju tangga. Berbeda sewaktu dengan Jaehyun, Hendery menawarkan Jaehyun untuk diantar. Sedangkan dengan Yuta, Hendery malah menyuruh omnya itu untuk naik sendiri.

Akhirnya Yuta naik keatas lalu Hendery yang baru saja mau menghampiri Mark sudah dipanggil oleh Papanya.

“Abang, nih ajak Jaemin sama Dejun main yaa? Atau kalau mau langsung keatas, boleh kok.” Ucap Ten kemudian Hendery mengangguk patuh.

“Mas sama Nana bareng sama Hendery ya?” Dejun dan Jaemin hanya mengangguk patuh mendengar ucapan Winwin. Sedangkan Winwin ikut membantu Ten dan Taeyong membawa peralatan yang sudah dicuci menuju rooftop.

“Sini Jun, Na.” Hendery mengajak Dejun dan Jaemin menghampiri Mark yang masih duduk diam di ruang tamu.

“Kenalin, ini Mark. Anak pertamanya om Jaehyun, adeknya Mark udah diatas sama Haechan.” Hendery memperkenalkan Mark sedangkan Mark yang dikenalin oleh Hendery langsung berdiri dan menjabat tangan Dejun maupun Jaemin.

“Dejun. Ini adek gue namanya Jaemin.” Ucap Dejun singkat sambil memperkenalkan adiknya pada Mark.

“Eh, langsung naik aja yuk? Sekalian ngumpul sama yang lain. Lagi juga udah pada kumpul.” Ajak Hendery memotong suasana aneh diantara mereka berempat kemudian diangguki oleh ketiganya lalu langsung naik ke rooftop dimana sudah ramai sekali orang di sana. Lebih ke ramai teriakan Haechan dan Jeno, sih.

Hendery nggak ngebayangin kalau udah ada Renjun di sini. Adiknya itu, semakin ramai pasti. Bisa-bisa Jaemin yang baru kenal Haechan langsung sweat drops melihatnya.

Haechan yang melihat Jaemin dibelakang Abangnya langsung memanggil Jaemin. “Nana! Sini Naaa, jangan gabung mereka.”

“Yeee ni anak satuu emang.”

“Mas Dejun, Nananya aku pinjem boleh ya?” Izin Haechan sesampainya di depan Jaemin dan Dejun sambil meminta izin pada Dejun. Dejun mengangguk tersenyum kemudian melepas kaitan tangannya dengan si adik.

“Yuk Na.” Haechan mengaitkan tangannya di tangan Jaemin kemudian mengajak Jaemin ketempat dimana Jeno sudah duduk dan menunggu temannya itu.

“Kita di sini aja ya?” Ucap Hendery kemudian mengajak Mark dan Dejun duduk di sebuah karpet yang tak jauh dari orang tua.

Yuta yang melihat Dejun sudah duduk manis langsung angkat bicara. “Nah nih, anaknya udah naik.”

Ucapan Yuta membuat Jaehyun menengok kearah sumber yang dimaksud oleh Yuta kemudian tersenyum menatap Dejun. “Hai, Dejun ya?”

Dejun mengangguk kemudian menjabat tangan Jaehyun. “Iya om.”

“Saya Jaehyun, suaminya om Taeyong, Ayahnya Mark sama Jeno. Udah ketemu om Taeyong?”

Dejun mengangguk, “Udah om tadi di bawah.”

“Yaudah, semoga menikmati hari ini ya Dejun.” Ucap Jaehyun membuat Dejun mengangguk kemudian tersenyum.

“Itu tadi Ayah gue. Nah itu yang disana yang lagi ngobrol sama adek lo, itu adek gue namanya Jeno.” Ucap Mark tiba-tiba sambil menunjuk adiknya yang sedang mengobrol dengan Jaemin sedangkan Dejun mengangguk paham.

Tidak ada balasan lebih lanjut membuat Mark menatap Hendery seperti memberi sinyal dirinya harus apa sedangkan Hendery hanya menggedikkan bahunya.

“Jun, lo suka main game gitu nggak?” Tanya Hendery pada Dejun.

Dejun mengangguk, “Sekarang udah nggak sih.”

“Biasanya main apa?”

“Piano tiles.”

Mark dan Hendery hampir saja tertawa, maksudnya kan game online. Siapa tau bisa dia ajak main bareng sama Lucas nantinya.

Dan, biasanya game online jadi jembatan komunikasi antar orang baru.

“Nggak main game online Jun?” Tanya Hendery lagi.

“Oh, game online. Main kok. Cuma gak aktif banget.”

Hendery mengangguk, “Valorant? Main nggak?”

Dejun menggeleng.

“Yah, kirain main. Biar bisa mabar sama kita nanti.”

“Lagi gak ada waktu.”

Mark dan Hendery yang mendengar ucapan Dejun agak merasa tertohok. Karena, senggak ada waktunya mereka, pasti mereka masih bisa menyisihkan waktu untuk mabar.

“Sibuk ngurusin tes ya Jun?” Lagi lagi Hendery yang pertama bertanya.

Dan lagi-lagi Dejun hanya mengangguk.

“Lo kalo butuh bantuan, ngomong aja sama gue nanti gue bantuin.” Ucap Hendery lagi.

“Iya, makasih.”

Hendery menggaruk tengkuknya. Dia jadi mati gaya sendiri, sedangkan Mark hanya bisa menahan tawanya, ingin sekali dirinya menertawakan Hendery memecahkan Dejun si es berjalan ini.

Setelah selesai berbincang-bincang, akhirnya semua masakan sudah siap dan akhirnya mereka semua mendekat untuk siap membakar dan makan apa yang sudah siap dimakan.


Tak terasa waktu sudah berlalu begitu lama. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Lampu tumblr milik Haechan sudah dinyalahkan oleh si pemilik yang sebelumnya sudah ia letakannya dari tiang ke tiang untuk menyinari rooftop yang sedikit gelap.

“Bentar gue mau ambil minum. Lo berdua mau minum nggak Na, No?” Tanya Haechan sambil berdiri.

Jaemin dan Jeno mengangguk.

“Gue nitip cemilan dong chan. Ambil yang banyak deh buat kita.” Ucap Jeno membuat Haechan mengangguk.

“Ada lagi nggak?”

Keduanya menggeleng.

Haechan menuju tempat cemilan kemudian menuju tempat minuman untuk mengambil minuman untuk dirinya, Jeno, dan Jaemin.

“Kak.” Sapa Haechan melihat Mark yang sedang menuangkan minuman untuk dirinya.

Mark yang mendengar suara tersebut berhenti menuang minuman kemudian melihat kearah Haechan kemudian lanjut menuang minumannya.

“Kak Mark.” Sapa Haechan lagi.

Suara tersebut entah membuat Mark lagi-lagi melihat kearah si sumber suara kemudian langsung melengos menatap tempat minumnya lalu mengambil minumannya. “Hm.”

“K-”

Baru saja Haechan mau membuka topik pembicaraan dengan Mark, Mark sudah meninggalkan Haechan yang terdiam sambil memegang tempat minumnya.

Haechan pelan-pelan menuangkan minumannya, pikirannya kembali terbayang melihat tatapan yang diberikan Mark tadi.

Tatapan tidak suka.

Memang Haechan salah apa?

Tidak, Haechan tidak ada salah apa-apa.

“Aduh-”

Akibat terlalu larut dalam pikirannya, minuman yang baru saja ia tuang tumpah sampai ketangannya.

Haechan menggelengkan kepalanya sendiri mencoba untuk menghilangkan pikirannya kemudian lanjut menuang minuman lalu kembali pada tempatnya, Jeno dan Jaemin sudah menunggunya. Lebih tepatnya menunggu minuman yang diambil oleh Haechan.

“Nih.” Ucap Haechan sambil memberikan dua buah gelas pada Jeno dan Jaemin kemudian Haechan kembali duduk diantara Jeno dan Jaemin.

Ia kembali terdiam dan hanya menyimak perbincangan antara Jeno dan Jaemin yang sedang membahas sebuah game yang biasa mereka mainkan bersama dengan Renjun.

Jeno yang tak sengaja melihat Haechan hanya diam saja langsung menepuk pundak Haechan, “Heh diem aja lo kesambet setan baru tau rasa malem-malem ini.”

“Kenapa Chan?” Kali ini Jaemin ikut angkat berbicara bertanya pada Haechan. Karena tidak biasanya Haechan menjadi diam dan tidak langsung menyambar pembicaraan antara dirinya dengan Jeno.

Haechan menggeleng kemudian menyesap minumannya lalu tersenyum. “Gapapa, lagi ngobrolin apa dah?”

Jeno yang lagi-lagi melihat tingkah aneh Haechan, langsung mengucapkan satu kalimat tembakan. “Kakak ya?”

Jaemin bingung menatap Haechan dan Jeno secara bergantian. Ditambah Setelah ucapan Jeno, Haechan hanya terdiam.

“Sebenernya gue juga bingung deh sama Kakak. Semenjak kuliah, dia jadi sensi terus kalo gue ngebahas lo. Gak jelas banget tuh orang, kayak abis kesambet setan nggak tau dimana.”

Haechan mengangguk, ia juga merasa kok semenjak Mark kuliah semakin renggang pertemanan dirinya dengan Mark.

“Yaudahlah, nggak usah bahas. Itu si Nana ampe cengo gitu.” Ucap Haechan tertawa melihat Jaemin yang bengong karena bingung, apa yang sedang mereka bahas di sini.

“Nanti lo juga tau Na. Biasalah remaja banyak drama.” Ucap Jeno membuat Jaemin mengangguk paham. Pahamin aja lah meskipun nggak paham.

Akhirnya, Haechan membuka camilan untuk dimakan ketiganya kemudian lanjut berbincang entah apapun itu dan tak jauh dari game dan guru killer yang ada di sekolah mereka. Seperti mewanti-wanti Jaemin untuk baik-baikin guru ini biar nilainya nggak terancam.


@roseschies