Bday Surprise
— Jaeyong oneshot AU
Suara keyboard komputer milik Taeyong bergema di seisi kamar sang empunya.
Jari-jari milik Taeyong bernari gesit di atasnya dengan sesekali ia bawa tangannya untuk mengambil gelas minuman berisi ice americano kemudian menyesap minuman tersebut dan kembali bergulat dengan pekerjaannya itu.
Space bar di keyboard beberapa kali dipencet untuk memberhentikan editan suara hingga dirasa pas.
Jarinya terlihat sangat lihay kesana kemari, mengganti tabs satu dengan yang lainnya.
Taeyong dengan multitaskingnya.
Sesekali ia berhenti mengedit lalu membuka youtube dan mencari lagu yang ingin ia dengar kemudian bernyanyi-nyanyi seperti masa bodo jika member lain mendengar suaranya tepat di jam 12 malam.
Terlalu larut dengan nyanyiannya itu, Taeyong sampai tidak mendengar suara ketukan berulang kali dari pintu kamarnya itu.
Lantas, setelah mendengar ketukan yang semakin brutal, Taeyong memencet space bar untuk memberhentikan lagu tersebut kemudian berlari kecil menuju pintu untuk membukakan pintu.
“Tinggal masuk aja ke—”
“Saengil Chukha Hamnida~ Saengil Chukha Hamnida~ Saranghaneun Uri Taeyongie~ Saengil Chukha Hamnida~“
Nyanyian sorak-sorai dari member 127 terdengar tepat Taeyong membuka pintunya dan ingin memaki siapapun itu karena sudah menginterupsi kegiatannya.
Terlalu larut dalam pekerjaan dan kegiatannya, bahkan Taeyong lupa bahwa hari sudah berganti dan hari ini adalah hari ulang tahunnya.
“Simpan dulu amarahnya Kak! Tiup dulu ini lilinnya.” Ucap Doyoung yang sedang memegang kue dengan lilin yang tertancap disana.
Sedangkan member lain menunggu dengan harap di belakang Doyoung sambil menyemangati Taeyong untuk meniup lilinnya.
“Eh! Make a wish dulu.” Yuta yang berada di dekat Doyoung memberhentikan Taeyong yang hendak meniup lilinnya kemudian lanjut bernyanyi lagu Make a wish.
“Bukan begitu anjir.” Hal tersebut dihadiahi pukulan yang mendarat tepat di pundak Yuta dan pelakunya adalah Johnny.
Taeyong tertawa kemudian menggeleng-geleng lalu berdoa.
Setelah selesai mengucapkan beberapa doa, Taeyong meniup lilin tersebut dengan kencang sampai lilin itu mati dan menghasilkan asap berharap asap itu bisa membawa doa-doa yang sudah dilantunkan dalam hati oleh Taeyong.
“Selamat ulang tahun Kak Taeyong!” Teriak Haechan semangat dari barisan belakang kemudian lompat-lompat kegirangan sambil bermain dengan peralatan untuk memeriahkan ulang tahun Taeyong di dorm.
Sekitar dua jam lebih mereka menghabiskan waktu bersama di dorm lantai 5 untuk merayakan ulang tahun Taeyong.
Untungnya, besok tidak ada yang memiliki jadwal, jadi tidak masalah untuk sebentar merayakan ulang tahun Taeyong pada tengah malam seperti ini. Toh, semuanya memang suka terjaga sampai jam segini.
“Dah yuk, balik. Kayaknya ada yang mau ehem ehem nih.” Ucap Yuta sambil melirik kearah Jaehyun yang sedang menyuap kue.
Taeyong yang mendengar ucapan Yuta kemudian malu hingga pipinya merona, “Apaansih Yut!”
Namun member lain ikut tertawa dan paham apa yang dimaksud Yuta.
Akhirnya, semua member 127 bahkan yang memang tinggal di dorm lantai 5 pun ikut keluar dari dorm dan ikut ke dorm lantai 10, mengungsi sebentar.
Mereka benar-benar memberi ruang banyak untuk Jaehyun dan Taeyong, menghabiskan waktu hanya berdua, di hari bahagia Taeyong ini.
Setelah Taeyong membersihkan beberapa bekas makan member lain tadi, Taeyong masuk ke dalam kamarnya dimana Jaehyun sudah menunggu di dalam kamarnya, berduduk diam di pinggir kasur Taeyong sambil bermain dengan boneka milik Taeyong, tokki knight.
“Jaehyun,” Panggil Taeyong sesampainya ia menduduki pantatnya tepat di sebelah Jaehyun.
“Hm? Kenapa?” Jawab Jaehyun kemudian menatap kedua bola mata bulat milik Taeyong, menata kakak kesayangannya yang merangkap menjadi kekasihnya juga.
Taeyong menggeleng kemudian naik ke kasur, bergelung di dalam selimut. Ia merasa kedinginan sekarang.
Jaehyun ikut menidurkan tubuhnya di samping Taeyong kemudian mengelus surai milik Taeyong dengan lembut, “Selamat ulang tahun, kesayangannya Jaehyun.”
Taeyong tersenyum kemudian menatap Jaehyun.
“Terima kasih, Jaehyun.”
Jaehyun memajukan wajahnya mendekat kearah wajah Taeyong kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir milik Taeyong, mengecup bibir tersebut kilat.
“Hadiah buat Kakak.”
Taeyong terkekeh dan menyukai, sangat menyukai hadiah kecil dari Jaehyun.
“Kak, bahagia terus jangan lupa ya?”
Taeyong mengangguk kemudian menghadapkan tubuhnya menghadap kearah Jaehyun, mendengarkan Jaehyun.
“Inget, kalau capek, istirahat ya?”
Taeyong mengangguk lagi, ia bawa tangannya bermain dengan kuping milik Jaehyun.
“Jangan dibiasain buat begadang terus tidur di pagi hari ya?”
Lagi, Taeyong mengangguk. meskipun setengah-setengah, karena dirinya jika sudah mengerjakan sesuatu suka lupa waktu dan berujung tidur di pagi hari.
Hal yang sangat Jaehyun benci.
“Kak, jangan telat makan.”
Taeyong mengangguk paham.
“Jangan keseringan diet dan maksa tubuh Kakak, Kakak udah kurus begini, jaga kesehatan Kakak terus, ya?”
Taeyong mengangguk, ia seperti mendengar semua omelan Jaehyun tapi entah, dia suka sekali mendengar omelan Jaehyun seperti ini.
“Kak, aku sayang banget sama Kakak.”
Ucapan terakhir kemudian Jaehyun mengecup kening milik Taeyong dan mengusap pipi Taeyong.
“Janji bahagia terus, meskipun bukan sama aku ya?”
Deg.
Pernyataan atau pertanyaan terakhir itu, seketika dunia Taeyong berhenti berputar.
“Maksudnya?”
“Maaf, Kak. Aku nggak bisa lanjutin hubungan kita lagi.”
Ucapan yang keluar dari mulut Jaehyun, pelan-pelan Taeyong cerna.
Satu kalimat yang ada di pikiran Taeyong, ' Kenapa? '
Namun, bibir miliknya terlalu rapat untuk kembali membuka dan mempertanyakan hal tersebut.
Sebenarnya klise, hubungan mereka terbentuk karena sebuah permainan.
Sayangnya, Taeyong terlalu jatuh dalam permainan yang bahkan dibuat oleh dirinya sendiri.
Sedangkan, Jaehyun terlalu pintar untuk membatasi dan selalu mengingat bahwa hubungan keduanya, hanya sebatas permainan dimana Taeyong sendiri sudah jatuh terlalu dalam dan Jaehyun yang tidak mengetahui fakta tersebut.
“Harusnya aku sadar dari awal ya Jae. Hubungan kita ini cuma sebatas sandiwara di atas pentas dengan member 127 sebagai penonton setianya.
Sayangnya, aku terlalu mendalami peranku di dalam sandiwara yang aku buat sendiri, hahaha.”
Jaehyun tersentak mendengar ucapan Taeyong yang sangat tiba-tiba itu.
“Kak, maaf.”
“Nggak Jae, kamu nggak salah. Aku yang salah udah jatuh sejatuh-jatuhnya sama kamu. Aku bisa jatuh, berarti aku bisa bangkit juga, kan?”
Jaehyun mengusap air mata Taeyong yang perlahan mulai menetes dari pinggir matanya, “Kak, Kakak itu manusia hebat. Hebat banget and i adore you, a lot. Manusia hebat kayak Kakak, pasti selalu bisa bangkit.”
Taeyong menggeleng, “Nggak Jae. Dada aku, rasanya sakit banget.”
“Kak, jangan ditahan ya? Maaf.”
“Can i hug you?” Tanya Taeyong menatap Jaehyun dengan tatapan yang sangat sendu. Mata yang biasa memancarkan kebahagiaan, kali ini menjadi sangat layu.
Jaehyun mengangguk kemudian Taeyong memeluk tubuh Jaehyun, benar-benar pelukan terakhir yang tidak akan disia-siakan oleh dirinya.
Keduanya diam dalam pelukan masing-masing.
Diam-diam juga, air mata milik keduanya terjun bebas dari masing-masing mata.
Keduanya menutup mata, merasakan kehangatan yang mungkin tidak akan didapat lagi selanjutnya, dan membiarkan air mata turun menderas dari masing-masing mata.
Mungkin kali ini memang Taeyong yang salah karena terlalu jatuh dalam perannya.
Tapi, yang Taeyong tau, kasih sayang yang diberikan oleh Jaehyun, nyata dan benar adanya.
Meskipun itu semua, hanya sebatas Kakak-Adek.
Sepertinya, ciuman tadi hanya pembuka dari semua hadiah yang diberikan Jaehyun.
Dan ini, adalah penutup dari semua hadiah yang diberikan Jaehyun, di hari ulang tahunnya, di hari bahagianya.
Kak, jangan salahin diri Kakak sendiri,ya?, Batin Jaehyun sambil terus mengelus punggung Taeyong yang bergetar akibat tangisannya.
Jaehyun, terima kasih untuk hadiahnya. Terima kasih sudah mengajarkan apa arti cinta, kasih, sayang, dan sakit kepada lelaki ini. Jaehyun, hadiah ini, semua hadiah ini, sekali lagi, terima kasih., Batin Taeyong.
@roseschies
Anyway, Happy Birthday uri Taeyongie!🎉🎉🎉