Be Happy, You Too.
― Johnten oneshot AU
IB Song : Solji – You Don't Even Know If It Hurts
1,8k+ Words.
“Ayo Jo! Cepett nanti keburu tutuupppp!” Seru Ten sambil menarik-narik tangan Johnny yang berada dibelakangnya. Sedangkan Johnny hanya nurut dengan Ten sambil terkekeh.
“Pelan-pelan Tennie. Cafenya baru buka gimana bisa mau tutup.” Bagaimana bisa cafe yang baru saja buka jam 10.00 sudah tutup di jam 12.00.
Saat ini Johnny dan Ten ingin melakukan cafe date, berbeda dengan date yang biasa mereka lakukan. Kali ini, date yang akan mereka lakukan yaitu tepatnya di cat cafe, kebetulan tempatnya dekat dengan tempat tinggal Johnny.
Sewaktu Johnny bercerita kalau ada cat cafe yang baru saja dibuka dekat tempatnya, Ten langsung menarik begitu saja tangan Johnny. Bahkan Johnny tidak sempat berganti baju. Ya bagaimana, dirinya juga tidak menyangka Ten akan secepat itu menarik dirinya.
“Yang ini kan Jo?” Tunjuk Ten membaut Johnny mengangguk. Keadaan cafe lumayan ramai dari dugaannya. Biasanya, Ten tidak ingin masuk kedalam tempat yang terlalu ramai. Tetapi, ini berbeda. Tanpa berfikir lama, Ten langsung kembali menarik tangan Johnny masuk ke dalam.
“Selamat datang, sebelumnya apa Masnya sudah reservasi terlebih dahulu?” Tanya seorang pegawai di sana dan di jawab gelengan oleh Ten.
Raut wajah Ten perlahan berubah seiring sang pegawai melanjutkan kalimatnya, “Mohon maaf, tetapi cafe kami hanya menerima pelanggan yang sudah melakukan reservasi terlebih dahulu, Mas.”
Senyuman yang sebelumnya tercetak di wajah Ten langsung menghilang begitu saja. Tangan Ten yang sejak tadi menggenggam tangan Johnny langsung terlepas.
Johnny tersenyum tipis kemudian memajukan dirinya mendekat kearah pegawai cafe ini.
“Mohon maaf, Mas. Sebelumnya kami berdua tidak tau kalau harus melakukan reservasi terlebih dahulu karena memang tidak ada informasinya sama sekali. Apa nggak bisa Mas untuk kami sejam saja tidak jadi masalah bagi kami.” Ucap Johnny sedikit memohon sedangkan Ten masih diam di sebelah Johnny, berharap hal tersebut bisa diterima oleh si pegawai cafe ini.
Si pegawai tersenyum, “Maaf Mas, sudah jadi kebijakan dari atasan untuk melakukan reservasi terlebih dahulu.”
Mendengar hal tersebut, Ten menarik hoodie yang digunakan Johnny, “Udah Jo, Nggak apa-apa besok besok aja masih bisa kok. Yuk, ke tempat kamu lagi aja.”
Johnny paham, sangat paham. Mulut Ten bisa bilang nggak masalah, tetapi raut wajah Ten berbicara yang lain. Lelaki ini kecewa juga sedih. Johnny tau, pasti sudah banyak sekali bayangan apa yang akan ia lakukan di cat cafe ini di dalam pikiran Ten.
“Maaf ya Mas...” Ucap si pegawai lagi membuat Ten tersenyum lalu mengangguk.
“Nggak apa-apa Mas, makasih ya. Yuk Jo, udah nggak apa-apa besok lagi aja aku masih mau kok.” Ten memeluk lengan Johnny lalu menarik Johnny keluar dari cat cafe tersebut.
Johnny memberhentikan langkahnya membuat Ten bertanya-tanya, “Kenapa Jo?”
Johnny melihat sekitar lalu menemukan satu bangku panjang di pinggir cat cafe tersebut, “Tennie, tunggu sini sebentar, mau?”
“Kamu mau ngapain? Udah Nggak apa-apa Johnny, kita ikutin kebijakan cafenya, ya?”
Johnny tersenyum lalu mengelus lembut surai milik Ten, “Kamu duduk sini dulu sebentar ya sayang?”
Ten mengangguk lalu duduk di sana, sedangkan Johnny berjalan masuk ke dalam cat cafe lagi, entah apa yang akan dilakukan oleh Johnny, Ten pun tidak tau.
Tak lama kemudian, Johnny keluar dari cat cafe tersebut lalu berdiri di depan Ten sambil mengulurkan tangannya kearah Ten, “Yuk?”
“Kamu habis ngapain Jo?” Tanya Ten mendongakkan kepalanya.
“Nggak ngapa-ngapain sayang. Yuk kita pulang.” Ucap Johnny lalu Ten langsung menggenggam tangan Johnny.
Baru saja Johnny dan Ten ingin berjalan menjauh dari cafe tersebut, suara pegawai yang tadi berbincang dengan keduanya langsung terdengar masuk ke kuping keduanya.
“Mas! Mas!”
Johnny dan Ten serempak menghadapkan diri kebelakang, keduanya bisa lihat pegawai cafe tersebut memanggil keduanya membuat keduanya hanya lihat-lihatan namun mereka langsung mendekat kearah pegawai tersebut.
“Mas, tadi kata atasan saya khusus untuk masnya dibolehkan tanpa reservasi, kebetulan hari ini kami juga baru mulai buka, mungkin juga jadi salah satu pembelajaran untuk kami supaya kedepannya lebih jelas mengenai sistem reservasi di cat cafe ini. Silahkan, Mas.” Jelas si pegawai membuat Ten tak bisa lagi menutupi rasa senangnya, ia tersenyum sangat lebar. Sangat senang.
Johnny tersenyum lalu mengangguk dan merangkul Ten sedangkan Ten langsung memeluk pinggang Johnny, keduanya masuk ke dalam cat cafe tersebut.
“Waaaaa! Johnny kucingnya lucu lucu bangettttt.” Seru Ten setelah melihat beberapa kucing yang berjalan kesana kemari, ekornya yang bergerak lucu membuat Ten kegirangan sendiri melihatnya.
“Tennie sayang, kamu mau minum atau makan apa?” Tanya Johnny namun lelaki itu dihiraukan oleh sang kekasih.
“JOHNNYY LUCU BANGEETT ITUUU YANG ITUUUU!” Pekik Ten sambil menunjuk satu kucing yang sedang tiduran membuat perut besarnya terlihat oleh Ten.
“Hai, nama kamu siapa?” Ten menjongkokkan dirinya lalu mengelus kucing yang sejak tadi duduk diam di depan dirinya. Bulunya sangat halus berwarna putih tulang.
“Itu namanya Mochi, Mas.” Jawab si pegawai yang berdiri dekat Ten.
Sedangkan Johnny yang sejak tadi pertanyaannya tidak dijawab oleh Ten hanya bisa menggelengkan kepala lalu memesankan beberapa cemilan dan juga minuman untuk keduanya pada pegawai lain.
“Ini boleh digendong?” Tanya Ten pada pegawai yang sedang berdiri di dekatnya.
Pegawai tersebut menggangguk lalu mengambil kucing bernama mochi tersebut lalu memberikan mochi pada Ten.
“Hai Mochi, kamu lucu banget. Bulumu halus, kamu haruuummm.” Ucap Ten mengajak obrol kucing tersebut.
“Sama kayak kamu, lucu dan harum.” Sambar Johnny lalu mengusak surai milik Ten.
“Ish kamu nih Jo. Mochi, kenalin ini Johnny. Dia raksasa tapi jangan takut, dia baik kok hehehe.” Tak lupa juga Ten memperkenalkan teman barunya ini pada kekasihnya.
Johnny terkekeh, ternyata memang tidak salah ia sedikit memohon lebih kepada si pegawai untuk memberikan kesempatan bagi keduanya di sini, walau hanya satu jam saja.
Johnny sejak tadi hanya duduk, ia memang tidak terlalu suka kucing, berbeda dengan Ten yang sangat sangat menyukai kucing. Sejak awal, kekasihnya itu berlarian kesana kemari, mencari kucing lucu lainnya lalu menggendong kucing-kucing itu dan tak lupa ia kenalkan pada Johnny.
Johnny rasanya ingin menggigit Ten sekarang juga, kekasihnya ini sangat menggemaskan.
Sepertinya energi Ten sudah mulai habis, lelaki itu akhirnya duduk tepat di depan Johnny.
“Johnny.”
“Hm? Kenapa sayang? Kok udahan?”
“Terima kasih ya?”
“Untuk?”
“Ya.... Untuk semuanya, terima kasih.”
Johnny tersenyum lalu mengangguk.
“Johnny.”
“Iya sayang?”
“Love you.” Ucap Ten lalu berdiri dari tempatnya, lari menjauh dari Johnny dan mendekatkan diri kearah kucing-kucing yang sedang bermain.
Johnny terkekeh sendirian, ya tuhan, kekasihnya itu, luar biasa menggemaskan.
I love you too, Tennie.
Johnny membuka matanya lalu mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.
Setelah dirasa pemandangannya lebih baik, Johnny mendudukkan dirinya di atas kasur lalu terdiam.
Johnny tersenyum lalu mengusap air matanya yang ternyata menetes entah sejak kapan.
Johnny sadar, kejadian tersebut hanyalah sebuah mimpi. Bolehkan Johnny sedikit berharap, ia terus tidur supaya cerita dirinya dan Ten tidak berhenti sampai situ saja.
Egois. Egois sekali, Johnny Suh.
“Oi Jo!” Terdengar suara seseorang yang sangat Johnny kenal memanggil dirinya. Yuta, teman dekatnya.
“Yut! Gue cariin daritadi, kirain gue salah cafe.” Ucap Johnny sesampainya ia di meja dimana Yuta sudah duduk bersama Taeyong dan Taeil. Mereka adalah teman satu kampus Johnny dulu.
“Lo yang kayak orang ilang adanya Jo. Udah gitu cuma celingak celinguk di depan.” Timpal Taeyong membuat Yuta dan Taeil setuju.
“Sini duduk Jo, lo mau pesen apa?” Ucap Taeil menepuk tempat duduk di sebelahnya yang kosong lalu memberikan buku menu pada Johnny.
“Lo pada udah pesen?” tanya Johnny sambil membulak-balikkan buku menu tersebut.
“Belom.”
“Lah, gue kira udah. Yaudah ini pesennya barengan aja, gue yang bayar deh sekalian.” Ucap Johnny lalu memberikan buku menu pada teman-temannya terlebih dahulu.
Yuta, Taeyong, dan Taeil saling memandang lalu bersorak, “Weh serius Jo? Kesambet apa lo?”
“Lagi baik nih gue, cepetan nanti gue pesenin.”
“Lo udah ganteng, tajir, baik hati dan tidak sombong kenapa masih jomblo aja dah Jo.” Ucapan yang keluar dari mulut Yuta membuat Taeyong menginjak kaki Yuta yang berada di samping dirinya, bahkan Taeil memberi tatapan mengisyaratkan sesuatu pada Yuta membuat Yuta berdeham.
“Ah iya. thanks ya Jo! Sehat-sehat lah lo.” Lanjut Yuta membuat Johnny tertawa.
“Iya udah pesen sana pesen.”
Lumayan memakan waktu lama untuk keempatnya menghabiskan waktu bersama di cafe itu. Suasana cafe yang sepi pun rasanya ramai hanya diisi oleh suara mereka berempat yang terus-terusan tertawa.
Satupun pegawai tidak ada yang berani menyuruh mereka untuk keluar. Ya bagaimana, mereka sudah menjadi pelanggang tetap dan tidak masalah bagi para pegawai di sini untuk mereka berempat meramaikan cafe ini. Toh, mereka nggak membuat kericuhan sama sekali hanya ramai saja.
“Lo udah bahagia bahagia aja nih setelah kejadian yang lalu.” Ucap Taeil kemudian menepuk pundak Johnny. Mereka tau, kejadian yang lalu bagi Johnny merupakan kejadian yang rasanya Johnny tidak ingin rasakan seumur hidupnya.
Johnny tertawa, “Hahaha iya nih, mau gimanapun gue juga ngga boleh sedih terus-terusan lah.”
Tetapi, ia bohong.
Ia bohong jika dirinya sudah baik baik saja bahkan setelah satu tahun terlewati.
Bohong jika dirinya sudah tidak dihantui oleh kejadian satu tahun lalu.
Bohong jika ia tidak merindukkan lelaki mungil yang selalu mengisi kekosongan dalam hidupnya.
Tidak ada yang mengetahui tentang rasa sakitnya.
Ia rasakan semua untuk dirinya. Hanya untuk dirinya. Ia membiarkan orang lain tau, bahwa dirinya sudah jauh lebih baik. Pada kenyataannya, tidak ada yang berubah.
Sore ini, Johnny memilih untuk lari sore mengitari kompleknya. Sudah lama sekali ia tidak lari sore semenjak dirinya sibuk dengan pekerjaannya.
Mumpung libur, Johnny pikir ini waktunya ia mengisi hari hanya untuk dirinya, memanjakan dirinya dengan cara berolahraga.
Sudah satu putaran Johnny lewati, entah kakinya tiba-tiba membawa dirinya menuju satu tempat yang sebenarnya Johnny hindari.
Rumah Ten yang dulu.
Johnny berhenti tepat di depan rumah kosong itu, hanya memandang rumah tersebut.
Johnny ingat, sangat ingat dalam pikirannya.
Dulu, ia sangat sering bermain dengan Ten di sini, ia ingat dulu ia sering berdua dengan Ten di teras rumah Ten hanya memandangi langit di sore hari sambil bercerita di mana Ten menidurkan kepalanya di paha milik Johnny dan tangan Johnny yang tak berhenti mengelus surai milik ten.
Dan sekarang di sini Johnny, memandang langit yang sama seperti dulu, namun hanya sendirian, tanpa Ten di sisinya.
Tak ingin berlarut dalam kesedihannya lagi, Johnny kembali jalan untuk mengitari komplek lagi.
Namun, dirinya kembali berhenti ketika netranya melihat seseorang yang sangat ia kenal baru saja keluar dari sebuah mobil yang tak jauh dari tempat dimana ia berdiri.
Di sana Ten berdiri sambil membenarkan pakaiannya lalu menutup pintu mobil.
Tubuh Johnny membeku ketika netra miliknya bertemu dengan netra milik Ten.
Rasanya Johnny ingin lari dan memeluk tubuh Ten, tetapi kakinya terasa begitu berat.
Semakin berat disaat ada seorang lelaki yang merangkul tubuh Ten dan membawa bayi dalam gendongannya lalu mencium pucuk kepala Ten.
Johnny tersenyum dari jauh, Ten yang masih memandangi Johnny sadar Johnny tersenyum kearahnya, Ten menganggukkan diri seperti mengisyaratkan, kamu juga harus bahagia, Johnny. Meskipun bukan sama aku. Maaf untuk semuanya.
Johnny memang bodoh, dirinya menunggu, menunggu cintanya kembali padanya. Padahal, dirinya tau betul, sangat tau, yang ia tunggu, tak akan mungkin kembali lagi padanya.
Lelaki mungilnya itu sudah bahagia dengan lelaki lain, bukan dirinya.
Sedangkan disini, dirinya masih terus terbayang dengan kenangan yang seperti menabrak pikiran Johnny untuk terus masuk dan meninggalkan bekas rasa sakit yang entah sampai kapan akan hilang.
@roseschies