Beautiful accident – roseschies

Bruk!

Suara tabrakan antara dua motor yang saling berlawanan arah memekakan telinga setiap orang yang berada di sekitar tempat kejadian.

Orang-orang mulai mengerumuni dua lelaki yang sudah berlumuran darah.

Tidak, tidak.

Hanya satu lelaki yang berlumuran darah disekitar kakinya.

Lelaki yang satunya masih meringis menahan sakit dibagian pergelangan tangannya.

“S-sakit” Ucap lelaki tersebut sambil memegang pergelangan tangannya.

Sungguh, muka yang ia pancarkan begitu memilukan.

“Angkat woi angkat! Kenapa malah diliatin aja bego!” Teriak seorang lelaki yang tiba-tiba datang dari belakang kerumunan yang masih saja hanya memerhatikan kedua lelaki tersebut.

Satu persatu orang mulai mengangkat lelaki yang berlumuran darah itu.

“Lo gapapa?” Tanya lelaki yang tadi tiba-tiba teriak kepada lelaki yang sedang memegang pergelangan tangannya.

Si lelaki teriak tadi mulai memapah lelaki yang masih saja memegang pergelangan tangannya itu ke suatu tempat yang tersedia bangku panjang dipinggir jalan.

Motor milik kedua lelaki tersebut sudah diamankan, ambulan juga sudah datang untuk membawa lelaki yang berlumuran darah tadi.

Ini cowok berat banget anjir, kek beruang. Oceh si lelaki teriak tadi dalam hati namun masih sambil memapah lelaki tersebut.

Si lelaki teriak itu masih berfikir, kenapa lelaki satu ini tidak dibawa kerumah sakit seperti lelaki berlumur darah tadi?

Lelaki didepannya ini tiba-tiba menggeleng seperti tau apa yang sedang ia pikirkan, “Gue ngelarang orang yang mau nelpon ambulan buat gue.”

Ten Lee – Lelaki teriak, terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh si lelaki ini.

Apa-apaan dia malah ngelarang orang yang mau bantuin dia, tapi dia sendiri masih ngoceh sakit sakit?

“G-gue takut ambulan hehehe,” Ucap Lelaki di depan Ten ini sambil terkekeh kecil.

Apaan anjir, badan kek beruang kelakuan kek bayi ilang gini. Lagi-lagi Ten kehilangan akal.

Lelaki di depan Ten ini masih meringis kesakitan.

Dasar Ten ini gak peka.

“Gue ambil motor gue dulu, lo tunggu sini. Biar gue anter lo ke rumah sakit.” Suruh Ten ke lelaki itu dan langsung diberi anggukan.

Tidak lama kemudian Ten datang bersama dengan motornya, “Motor lo gimana?”

Si lelaki tersebut menggedikan bahu tanda tidak tau.

“Oh itu!” Lelaki itu menunjuk satu motor yang sedikit ringsek akibat kecelakaan tadi.

Motornya itu masih dijagain oleh beberapa polisi.

Tiba-tiba satu polisi mendatangi mereka, “Dek, motornya mau saya bawa ke kantor polisi dulu atau dibawa pulang?”

Lelaki disebelah Ten ini terlihat berfikir.

“Eum... Saya mau bawa pulang tapi saya lagi gak bisa ngendarain. Tolong simpan di kantor polisi saja ya Pak,” Titah lelah itu dan dijawab anggukan oleh Pak Polisi.

Ten mulai memapah lelaki tersebut menuju motornya.

“lo bisa naik sendiri?” Tanya Ten dan dijawab gelengan oleh si lelaki.

Ten nyoba bantuin dia buat naik motornya, ya gimana motor Ten ninja susah juga.

Susah payah karena badan lelaki ini lebih besar dibanding badan Ten, akhirnya lelaki tersebut sudah duduk manis dikursi belakang. Tinggal Ten naik dan sudah.

Ten mulai menggas perlahan motornya itu.

“S-sakit,” Terdengar suara ringisan kesakitan di dekat kuping Ten.

“Pegangan pinggang gue, gue ngebut biar cepat sampai.”

Tanpa babibu si lelaki tanpa nama ini memeluk pinggang Ten dan Ten langsung mempercepat motornya.


Setelah selesai menunggu lelaki tersebut pengobatan serta memeriksa lukanya, lelaki itu menghampiri Ten yang hampir saja terlelap di bangku ruang tunggu rumah sakit.

Ten juga bingung kenapa dia nungguin cowo itu?

“Hey?”

“Eh? Udah selesai lo?”

Lelaki itu mengangguk dan tersenyum.

“Terima kasih ya, eum?”

Lelaki itu menjulurkan tangannya. Dari awal mereka berdua memang belum sama-sama kenal.

“Oh iya, Ten Lee.” Ten menerima uluran tangan lelaki tersebut.

Lelaki tersebut mengangguk tersenyum, “Terima kasih Ten Lee,”

“Dan nama lo?” Ten menaikkan alisnya tanda bertanya.

Gak enak dong bantuin orang masa gak kenal, gitu sih kata Ten.

“Johnny Seo.”


Johnny Seo x Ten Chittaphon Leechaiyapornkul oneshot.