Beautiful Memories, You.
― Johnten oneshot AU
IB Song : Kesedihanku – Sammy Simorangkir
// major character death.
1.379 words.
Ten menginjakkan kakinya di dalam rumah, ia bawa kakinya menuju sofa yang tidak jauh dari pintu rumah.
Ten terduduk diam di sana, kepalanya tak berhenti menengok kesana kemari, mencari sesuatu entah apa itu.
Tangannya tak diam memainkan cincin yang terpaut di jari miliknya, cincin pertunangan dirinya beberapa minggu lalu yang baru saja terlaksana.
“Ten, mau minum?” Tanya sepupu Ten, Kun. Ten menjawab dengan gelengan kepala membuat Kun mengangguk, ia paham dengan sepupunya lalu meninggalkan sepupunya untuk mendatangi orang yang terus berdatangan.
“Kak, makan yuk?” Sepupunya yang lain kembali mendatangi Ten dan duduk di sebelah Ten sambil menepuk paha milik Ten.
“Belum lapar, Jun.” Tolak Ten, lagi.
Dejun hanya menghela nafasnya, “Gue bawain ya, Kak?”
Ten menggelengkan kepalanya lagi. “Enggak Jun, masih kenyang.”
“Yaudah, kalau lapar, bilang ya Kak? Nanti gue ambilin makanannya.” Ucap Dejun membuat Ten mengangguk, pura-pura paham saja.
Dejun kembali menepuk paha milik Ten lalu meninggalkan Ten yang masih diam menetap duduk di sofa.
Tak hanya Kun maupun Dejun, sepupu dan sodara Ten sejak tadi sibuk berlalu-lalang dekat Ten, bahkan tak hanya satu dua mengajak Ten mengobrol namun lagi lagi, Ten mengeluarkan respon menolak.
Rumah ini terlampau ramai, tetapi tidak bagi Ten, rasanya semua terasa sepi.
Ten membuka matanya setelah tidur beberapa jam.
Terasa tidak nyenyak untuk dirinya, tetapi setidaknya ia sudah mengistirahatkan dirinya sejenak.
Ten kembali hanya memandang kesana-kemari, dirinya semakin terasa kosong, bahkan lebih dari kemarin.
Tak sengaja, Ten melihat kearah nakas yang berada di samping kasurnya itu. Terdapat satu frame dengan foto seseorang yang sedang tersenyum manis.
Foto tunangannya, Johnny.

Melihat foto tersebut membuat Ten ikut tersenyum lalu ia ambil frame tersebut dan ia bawa frame tersebut masuk ke dalam pelukannya.
Ten mengelus frame foto tersebut dengan jempol miliknya, tanpa Ten tahu, air matanya kembali turun dari mata miliknya.
Sampai akhirnya, terdengar suara seseorang mengetok pintu kamar Ten membuat Ten mengembalikan frame foto tersebut ke tempat semula kemudian mengusap jejak air mata yang tersisa.
Ten membawa tubuhnya untuk membuka pintu kamarnya lalu terpampanglah sepupunya itu di depan pintu.
“Ten, sarapan yuk bareng-bareng, makanannya udah siap di meja makan. Yuk?” Ajak Kun dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya itu membuat Ten mau tidak mau mengangguk, mengiyakan ajakan Kun.
Kun yang merasa lega karena akhirnya Ten tidak lagi menolak ajakannya langsung menarik tangan Ten menuju meja makan.
Di sana, sepupu sampai sodaranya yang masih menginap di sini sudah duduk di tempat masing-masing, tertinggal dua kursi, kursinya dan Kun.
Setelah Ten dan Kun menduduki kursinya masing-masing, akhirnya mereka semua makan bersama.
Suara dentingan antara piring dan sendok bergema di seisi ruangan, tak lupa canda gurau juga mengisi ruangan itu membuat suasana sangatlah ramai.
Kun sadar, Ten sejak tadi hanya diam memandangi lauk yang ada di depannya itu.
“Ten, dimakan dulu yuk?”
Ten tidak menjawab, dirinya hanya memegangi dan memutar-mutarkan cincin pertunangannya lalu akhirnya mengangguk.
Dejun yang sedang duduk di sebelah Ten setelah mengeluarkan candaan kepada Yangyang yang berada di depannya itu tak sengaja melihat tangan Ten yang sejak tadi terus-terusan mengelus cincinnya.
Dejun hanya bisa menghela nafas.
Dejun tahu, semuanya terasa cepat bagi sepupunya itu. Tapi, bagaimana juga, semua sudah terjadi dan kejadian itu siapapun tidak bisa menghentikannya, sekalipun Ten.
Suatu kehendak yang tak bisa diprediksi dan tidak bisa dihentikan.
Sebuah takdir.
Beberapa minggu kemudian, Ten sudah terlihat lebih baik dari beberapa minggu lalu.
Ten kembali ceria, ia kembali menjadi Ten yang semua orang kenal.
Meskipun semua orang tahu, ada sesuatu yang masih disimpan oleh lelaki mungil itu, di sana. Ia simpan rapat-rapat, di dalam dirinya.
Ten sedang buru-buru memakai sepatu miliknya sampai tiba-tiba Kun yang sedang menunggu Ten memberhentikan kegiatan Ten yang sedang memakai sepatu.
“Ten, bunganya mana?”
Ten terdiam, lalu langsung sadar akan sesuatu.
Bunga yang akan ia bawa dan ia cari sampai berhari-hari tidak ada di sampingnya yang ternyata tertinggal di kamarnya.
Ten langsung berlarian menuju kamarnya, kemudian ia kembali berhenti tepat di depan nakas yang terdapat frame dengan foto Johnny di sana.
Seakan-akan foto tersebut memberi senyuman untuknya, Ten menjawab senyuman tersebut dengan senyuman yang tak kalah manis sambil memandangi foto tersebut.
“Ten udah belum?” Suara Kun menginterupsi kegiatan Ten membuat Ten langsung cepat cepat mengambil bunga yang ada di atas kasur lalu kembali lari menuju garasi kemudian masuk ke dalam mobil bersama dengan Kun sedangkan Dejun dan Yangyang sudah menunggu Ten di dalam mobil.
Tidak memakan waktu lama, mobil milik Kun sudah sampai membuat Ten langsung turun dari mobil lalu langsung menuju suatu tempat.
Ten jalan sendirian kesana karena Kun, Dejun, dan Yangyang tidak ikut turun, mereka lebih memilih untuk menunggu di mobil dan memberi waktu lebih untuk sepupunya itu.
Bibir milik Ten melengkung keatas membuat sebuah senyuman tercetak indah di wajah Ten, kembali ia eratkan bunga yang ia bawa di dalam pelukannya sambil terus berjalan tanpa peduli sekitar.
Setelah Ten melihat sesuatu yang sudah ia kenal, Ten mempercepat tempo jalannya, jantunganya semakin berdegup cepat seiring dengan tempo jalannya yang semakin cepat.
Ten mendudukkan dirinya di pinggiran kemudian ia taruh bunga yang sejak tadi ia bawa ke dalam vas yang ada di sana. Vas bunga yang sebenarnya Ten bawa sendiri, sengaja dikhususkan untuk seseorang yang ia cintai seumur hidupnya.
Setelah menaruh bunga tersebut ke dalam vas, Ten kembali duduk.
Ten diam untuk beberapa menit.
Ten hanya memandangi gundukkan tanah yang ada di depannya.
Senyumannya, hilang.
“Hai, Johnny.“
Ten memandangi nisan yang ada di depannya kemudian ia elus nisan tersebut dengan sayang, seperti dirinya yang sedang mengelus surai lembut milik Johnny pada hari-hari biasanya.
“Maaf ya, aku baru sempat nengok lagi. Kamu mau maafin aku kan?“
“Butuh beberapa waktu untuk aku akhirnya dapetin bunga kesukaan kamu.“
“Aku ingat, sewaktu itu kamu bilang, bunga ini adalah bunga kesukaan kamu. Kemarin, aku cari arti dari bunga ini karena aku penasaran kamu bilang bunga ini sangat kamu sukai dan kamu juga janji sama aku mau kasih bunga ini di hari pernikahan kita untuk aku. Kata kamu, kamu menitipkan pesan dalam bunga ini, untukku.“
“Bunga Dandelion.“
Ten menghela nafasnya, rasa sesak di dadanya kian terasa menyakitkan dirinya.
Ten teringat pesan yang dititipkan oleh Johnny lewat bunga tersebut. Pesan yang begitu menyentuh hati Ten. Pesan yang tidak akan Ten lupakan, seumur hidupnya.
Beberapa detik, Ten hanya diam memandang. Angin terus menerus menyapa wajah dan tubuh milik Ten, namun lelaki itu tidak menghiraukan tetapit erus mengeratkan hoodie yang ia gunakan.
Ten kembali teringat sesuatu yang ia bawa di dalam kantong celananya.
Cincin pertunangan milik Johnny yang sudah dilepas dari tangan si pemilik.
Ten melihat kearah cincin milik Johnny yang berada di genggamannya kemudian melihat cincin yang ia gunakan bergantian terus menerus.
Ten taruh cincin tersebut di atas gundukkan tanah yang ada di depannya lalu Ten tersenyum kecil.
“Cantik.“
Tak lama kemudian, senyuman Ten kembali hilang.
Sekelibat kenangan manis dirinya dengan Johnny terus berputar di dalam pikirannya, tanpa henti.
Rasanya, menangis pun dirinya sudah tidak mampu. Air mata miliknya, seperti sudah kehabisan stok.
Dengan dirinya yang terus menangis, ia sadar, sekeras apapun tangisannya tidak lagi mampu mendatangkan Johnny untuk memeluk dan menenangkan dirinya.
Tangisannya hanya menghasilkan kehampaan dalam dirinya.
Dunia terus berputar, orang sekitar perlahan meninggalkannya, dan lagi, dunia terus berputar, terus begitu.
Ten mengambil kembali cincin milik Johnny yang sebelumnya ia letakkan di atas gundukkan tanah kemudian ia masukkan kembali ke dalam kantong, supaya tidak hilang.
Ten bangun dari duduknya kemudian ia bawa tangannya kembali mengelus nisan dengan pelan, sangat hati-hati.
“Bagaimanapun, hidupku harus terus berjalan seperti biasanya kan Jo?“
“Aku nggak boleh terus berlarut dalam kesedihan yang nggak ada ujung. Aku harus bangkit dan terus menjalani hidupku, seperti biasanya.“
“Aku nggak nangis lagi karena kamu, nggak lagi sedih karena kamu bukan berarti aku melupakanmu. Hanya saja, kamu akan selalu menjadi kenangan terindah untukku.“
Kemudian Ten kembali merogoh saku hoodie yang ia gunakan, mengeluarkan satu buah boneka kecil kemudian ia taruh di dekat vas bunga.
“Ini, aku bawakan kamu teman biar kamu nggak merasa sendirian di sini. Anggap aja ini aku hehehe.“
“Aku pulang, ya?“
Dengan hati yang rasanya tak ingin meninggalkan tunangannya sendirian, Ten tetap melangkahkan kakinya menjauh dari sana.
Ten akan menata kembali hidupnya dan Ten akan terus melanjutkan hidupnya.
Semua terasa lebih baru bagi Ten, tetapi hati dan perasaan miliknya akan tetap sama untuk Johnny, tunangannya itu.
@roseschies.
― https://threebouquets.com/blogs/article/arti-dan-makna-filosofi-bunga-dandelion