Daddy dan Papa

Hendery sudah berdiri di dekat pintu masuk dengan tangan yang sibuk memegang kue yang sudah ia dan adiknya pesan.

Suara mobil milik Johnny sudah berhenti yang berarti adik dan kedua orang tuanya itu sudah semua keluar dari mobil bahkan Hendery sudah bisa mendengar suara Haechan dan Ten berbincang di luar sambil tertawa bersama.

Johnny membuka pintu sambil menertawai lelucon yang baru saja dilontarkan oleh Haechan, “Nemu darimana itu ka—”

Tiba-tiba saja ucapan Johnny terputus bersamaan dengan suara terompet yang terdengar kencang membuat Johnny terdiam sambil memegang kenop pintu rumahnya.

Johnny dan Ten sama sama diam memandang Hendery yang berdiri di depan keduanya sambil memegang kue bertuliskan “Happy Anniversary”.

Hendery mengambil mahkota yang sebelumnya ia letakkan di meja samping tak jauh dari dirinya lalu ia pakai kan mahkota tersebut ke kepala Johnny sedangkan Haechan yang baru saja mengambil mahkota yang terletak di sebelah pintu langsung memasangkan mahkota yang lebih kecil di kepala Ten membuat Ten terkejut.

Johnny dan Ten masih melongo, otaknya masih stuck dan diam. Mereka berdua sama sama terkejut.

Haechan berjalan menuju samping Hendery kemudian mulai bernyanyi sambil menepuk kedua tangannya.

“Selamat ulang tahun— pernikahan. Selamat ulang tahun— pernikahan. Selamat ulang tahun— pernikahan Daddy, Papa~”

Meskipun sedikit maksa bagian pernikahannya tetapi Haechan tidak peduli dan tetap bernyanyi diikuti oleh Hendery yang juga ikut bernyanyi untuk Daddy dan Papanya yang masih terkejut.

Ten bahkan sampai menutup mulutnya dengan tangan akibat terlalu kaget dengan hal yang bahkan tidak ia ekspetasi sama sekali.

Hendery memajukan tubuhnya mendekat kearah Johnny dan Ten, “Nggak ada lilin karena kemarin Abang sama Dede cari lilin sampe muter muter nggak ketemu yang cocok. Jadi, pura pura ada aja ya Dad, Pa.”

“Ayo tiup lilin invisiblenya Dad, Pa!” Ucap Haechan membuat Johnny dan Ten refleks meniup lilin yang tidak ada itu kemudian Haechan kembali bertepuk tangan dan mengambil kue tersebut lalu ia letakkan di meja samping.

Belum juga Johnny dan Ten membuka mulutnya, Hendery sudah lebih dulu angkat bicara.

“Dad, Pa, maaf ya Abang sama Dede belum bisa jadi anak yang berbakti kayak anak anak lain. Abang sama Dede juga belum bisa jadi anak yang bisa diandalkan buat Daddy sama Papa. Tapi Abang sama Dede mau berterima kasih sama Daddy dan Papa. Makasih Dad, Pa untuk semuanya. Daddy sama Papa udah ngurus kita berdua sejak dari jaman dalam perut sampai sebesar ini. Bahkan, semuanya nggak ada yang bisa bandingin usaha Daddy sama Papa buat besarin kita.

Daddy sama Papa adalah orang tua terbaik, terima kasih banyak ya Daddy Papaaa, ngurusin kita berdua pasti capek banget ya hehehe. Maaf ya Daddy Papaa. Kita berdua sayang sama Daddy dan Papa. Selamat hari ulang tahun pernikahan, Daddy Papa!!” Hendery mengucapkan kalimat tersebut dengan mata yang berkaca-kaca, ia bahkan menatap mata kedua orang tuanya secara bergantian.

Hendery maupun Haechan rasanya sangat berterima kasih kepada dua lelaki hebat yang berada di depan mereka ini. Tumbuhnya mereka semua berkat usaha orang tua mereka.

Ten yang sudah menangis sesegukan langsung mengangguk dan mengelap air matanya yang tidak ada hentinya keluar dari mata miliknya itu.

Sedangkan Johnny langsung mendongakkan kepala guna menahan air matanya yang hampir keluar dari pinggir matanya lalu mengusap pinggir mata tersebut.

Hendery dan Haechan langsung berhamburan menuju pelukan Johnny dan Ten membuat keduanya langsung menangkap tubuh anak mereka.

Ten mengelus surai milik Haechan yang berada di dekapannya dengan lembut sedangkan Johnny memeluk erat tubuh Hendery, anak sulungnya ini, luar biasa.

Johnny dan Hendery keduanya mati-matian menahan air mata yang hampir turun dari matanya. Bahkan, jika keduanya berkedip bisa saja air matanya langsung menetes.

Johnny melepaskan pelukannya dengan Hendery lalu menepuk kedua pundak Hendery kemudian menatap kedua mata Hendery yang sudah berkaca-kaca sama dengan dirinya.

“Abang, Dede terima kasih banyak. Kami berdua bahkan lupa hari ini ulang tahun pernikahan kami. Terima kasih ya udah selalu ingat tanggal kebahagiaan kami. Capeknya Daddy dan Papa semua terbayar karena kami berdua punya dua anak yang luar biasa hebat. Daddy dan Papa juga sayang sama Abang dan Dede.” Ucap Johnny sambil mengelus pucuk kepala Hendery, Haechan, dan Ten bergantian. Ketiga lelaki, yang selalu ia banggakan dalam hidupnya.

Ten tiba-tiba terkekeh sambil mengelap air matanya, “Ohh... Pantes kemarin aneh banget kelakuan kamu berdua jadi ini ya hahahaha.. Papa pikir kamu kesambet darimana, semaleman Daddy sama Papa mikirin sebelum tidur takut ada apa apa.”

“Sekali lagi terima kasih ya sayang. Papa dan Daddy bahagia kok mau abang dan dede kayak gimana. Kami punya kriteria sendiri untuk anak kami berdua dan abang dede udah terbaik dari yang terbaik.” Lanjut Ten kemudian seperti Johnny, ia mengelus pucuk kepala Hendery dan Haechan.

“Kita begini karena hasil didikan Daddy dan Papa, tanpa Daddy dan Papa kita nggak akan mungkin kayak gini. Apalagi keanehannya heheheh” Ucap Haechan lalu hidungnya langsung dicubit oleh Ten, gemas lihatnya.

Sebelum terlalu larut dan lupa, Haechan menarik tangan Ten dan Johnny bersamaan untuk masuk ke dalam rumahnya lalu memperlihatkan ruang tamu yang sudah di dekor oleh Hendery.

“Tadaaa~ Ini hasil dekor Abang selama beberapa jam tadi hehehe. Bagus kan Dad, Paa??” Ucap Haechan sambil memperlihatkan dekorasi tersebut.

Johnny dan Ten kembali terpukau. Dekorasi ini sangat simpel juga sangat bagus mengingat waktu yang Hendery gunakan untuk mendekor seperti ini tidak banyak dan Hendery melakukannya sendirian.

“Ini Abang yang dekor sendiri? Bagus banget bang... Makasih banyak ya Abang dan Dede juga, yaampun kalian tuhh.” Ucap Ten lalu melihat-lihat kembali dekorasi yang dibuat oleh Hendery begitu juga dengan Johnny. Dirinya terkejut karena anak sulungnya ini ternyata punya bakat terpendam. Buka event organizer kayaknya bisa nih.

“Ayo makan kuenyaaa, enak banget ini pilihan Dede.” Ajak Haechan lagi lalu mengambil kue tadi kemudian keempatnya duduk di sofa.

Akhirnya mereka menghabiskan waktu sambil makan kue dan saling melemparkan lelucon menambah canda tawa bersama diantara lingkaran mereka. Bahkan, Johnny juga menceritakan masa lalu dirinya yang bisa dibilang sangat buruk, tentu Johnny belum sempat menceritakan hal tersebut pada dua anaknya. Johnny menceritakan semua tanpa tertinggal sampai akhirnya Johnny dipertemukan oleh Ten.

Mendengar cerita Johnny membuat Haechan dan Hendery terkagum-kagum oleh kedua orang tuanya, lagi dan lagi.

“Sekarang Abang tau kenapa Abang dan Dede bisa kuat, karena kita punya Papa dan Daddy yang sama sama kuat.” Celetuk Hendery sedangkan Haechan setuju dengan ucapan Hendery.

Johnny dan Ten langsung saling melemparkan senyuman, keduanya berhasil.

Entah berhasil dalam konteks apa. Tetapi, rasanya keduanya sudah berhasil membangun keluarga kecilnya dengan hangat.

Tak lain dan tak bukan, baru saja suasana damai mereka rasakan, kali ini suara teriakan Haechan sudah terdengar.

“BABANG AH AMBIL AMBIL KUE DEDE!!”

“Dih, gitu aja kokk. Lo kan bisa ambil lagi tuh tuh masih banyaakkkk.”

“Abang juga bisa ambil lagi tuh, sana sanaa ngapain sih ih jorokkk.”

Johnny dan Ten tersenyum, ah... Rasanya kembali mendengar kerusuhan diantara kedua anaknya membuat mereka berdua senang. Aneh memang.

Johnny menarik tubuh Ten yang berada disampingnya lalu merangkul tubuh Ten itu lalu berbisik tepat dikuping Ten, “Terima kasih, malaikatku.”

Ucapan Johnny membuat pipi Ten memanas hingga memerah. Ten tersenyum lalu mengecup pipi Johnny kilat, “Terima kasih udah bertahan dan terus belajar untuk membangun keluarga kecil juga membesarkan dua anak bareng aku. Aku sayang sama kamu, Jo.”

Johnny mengelus surai milik Ten gemas lalu terkekeh mendengar suara teriakan lainnya dari Haechan. Iya, mereka beromantis ria dengan background kedua anaknya yang sedang adu mulut.

Bukan, bukan adu mulut sih lebih tepatnya Hendery yang gemar menjahili sang adik dan Haechan yang rasanya ingin mengubur sang kakak hidup hidup.


@roseschies