Dan, terjadi lagi.
Johnten / Seo family mpreg universe.
“DADDDYYYYY” Hendery berteriak memanggil Johnny sambil berlari-lari dengan tubuh yang masih sedikit basah keluar dari kamar mandi menuju dapur dimana Johnny berada. Kebetulan Johnny sedang membuatkan makan malam untuk ketiganya.
“Ya Tuhan Dery tunggu dulu pake celana dulu sayangg” Teriak Ten dari belakang Hendery ikut berlari-lari sambil membawa celana milik Hendery.
Iya, Hendery lari dari kamar mandi hanya menggunakan atasan tanpa bawahan, bahkan dalaman pun belum sempat terpakai karena Hendery langsung lari menuju Johnny karena ingin pamer sesuatu.
Johnny yang sedang memasak mendengar kegaduhan kemudian menoleh kebelakang dimana Hendery sudah berdiri sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi susunya itu.
“Daddy berhenti masak dulu! sini cium Dery!” Pinta Hendery membuat Johnny bingung sedangkan Ten masih setengah berlari dirinya sedikit lelah akibat tubuhnya yang sedang mengandung anak lagi, kalau kalau ada yang lupa.
“Ih! Daddy jangan dieeemm ajaaa! ini lohh Dery pakai sabun wangi stobeliiii Papa beliin wangii banget Daddyy!” Ternyata, Hendery ingin pamer kalau Papanya—Ten baru saja membelikan sabun wangi strawberry untuk Hendery. Sampai-sampai Hendery lupa, kalau ia belum memakai dalaman dan juga celana.
“Astaga Dery, kok nggak pakai celana gini keluar kamar mandi?” Tanya Johnny kemudian jongkok untuk menyetarakan tinggi dirinya dengan sang anak. Ucapan Johnny membuat mata milik Hendery sedikit melotot, kaget.
Hendery melihat kebawah kemudian berteriak lalu menutup kemaluannya, “Aaaaaa Pap— ADUH!”
Baru saja Hendery ingin berteriak lalu berlari menuju Ten untuk berbicara bahwa dirinya belum menggunakan dalaman, ternyata Ten sudah berada di belakang tubuh Hendery membuat keduanya bertabrakan satu sama lain.
Johnny yang melihat hanya menggeleng-geleng, ada-ada saja ini.
Oh, mengenai hal tentang 'kepemilikan' yang ada di tubuh Hendery, kebetulan Johnny dan Ten memang sudah mengajarkan pada Hendery dasar-dasar yang harus Hendery ingat sesuai dengan umur anak itu sekarang. Terutama mengenai siapa saja yang boleh memegang dan melihat kepemilikannya itu.
Untungnya, anaknya ini sangat cepat mengerti apa yang diajarkan oleh kedua orang tuanya itu.
“Pakai dulu dalaman dan celananya Kakak. Nanti Daddy cium kok kalau udah dipakai semua ya?” Ucap Johnny sambil mematikan kompor, kebetulan masakannya sudah selesai dimasak.
Hendery yang sedang menggunakan dalaman sendiri kemudian berhenti lalu menatap Johnny yang agak jauh dari pandangannya membuat Johnny berjongkok sebentar agar anaknya itu dapat melihat dirinya dengan mudah.
“Dery nggak mau dipanggil Kakak.” Tolak Hendery tiba-tiba membuat Johnny dan Ten saling pandang memandang, bingung.
Padahal, Hendery sendiri yang sangat antusias memiliki adik, entah kenapa tiba-tiba dia berbicara seperti ini.
“Loh, sedikit lagi kan Dery mau jadi kakak? jadi mulai sekarang Daddy sama Papa manggil Dery kakak ya?” Jelas Ten pada anaknya kemudian memberikan celana milik Hendery kepada si pemilik untuk digunakan sendiri.
Hendery menggeleng, “Nggak mau. Mau panggilan yang lain ada nggak Pa? Soalnya, Mark cerita katanya dia nanti dipanggil kakak sama adiknya, Dery nggak mau kembar kayak Mark!”
Disaat Mark yang selalu ingin sama seperti yang lain, disinilah Hendery yang selalu ingin berbeda dengan yang lain. Untung, mereka nggak pernah berantem.
Ten terkekeh kemudian mencubit hidung Hendery gemas, “Yaudah Abang gimana?”
Hendery mengangguk antusias, “Okay! Abang Hen, Papa Ten, Daddy Jo, dan— Eung, nama adiknya siapa Pa?”
“Belum ada sayang, tunggu sedikit lagi ya?” Jawab Ten sedangkan Johnny kembali menyiapkan makanan untuk dihidangkan.
Hendery mengangguk kemudian ia berjalan menuju meja makan untuk menunggu makanan siap.
Ten ikut membantu Johnny untuk mengambil piring yang akan digunakan kemudian ia letakkan satu persatu di meja.
Hendery mengambil piring yang berada di tangan Ten, piring miliknya untuk ia gunakan nanti. Ten tiba-tiba tersenyum melihat anaknya yang sigap membantu tanpa disuruh oleh dirinya kemudian mengelus pucuk kepala Hendery, “Terima kasih ya Dery.”
Hendery menggeleng, “Abang!”
Ten terkekeh, “Iya, terima kasih Abang.”
“Ini diaaa makanan malam ini!” Ucap Johnny sambil menaruh main dish di tengah meja makan membuat Hendery tersenyum senang.
Akhirnya, ketiganya makan dengan khidmat di meja makan.
Selesai ketiganya makan, bagian Ten yang menyuci piring sedangkan Johnny menemani Hendery di ruang keluarga sambil mengajarkan Hendery atau sekedar membacakan cerita untuk Hendery.
Setelah Ten selesai dengan kegiatan mencuci piringnya, Ten ikut duduk diantara Hendery dan Johnny, ia menyempil diantara kedua lelaki ini. Mentang-mentang tubuhnya mungil, masuk aja.
“Ih Papaaaa sempiiiitttt” Ucap Hendery meskipun begitu ia malah bergeser membuat Ten nyaman dalam duduknya.
“Lagi pada ngapainnn? Seru banget mau ikutannn dong” Sambar Ten membuat Johnny diam, seperti menyembunyikan sesuatu sedangkan Hendery berdiri kemudian duduk dipangkuan Ten. Untungnya anak ini pelan-pelan duduk dipangkuannya, jika tidak bisa bahaya anak yang berada dalam kandungannya terkena guncangan luar biasa dari kakaknya.
“Tadi Daddy cerita, waktu Dery masih diperut Papa hihihihi.” Hendery mengawali cerita yang sepertinya Ten tau akan dibawa kemana cerita ini. Diam-diam Johnny sudah melengos tidak ingin melihat kearah Ten sebelum terkena tatapan mematikan dari Ten.
“Daddy cerita apa sama Dery?” Tanya Ten sambil memegang tubuh anaknya agar tidak terjengkang kebelakang.
“Katanya waktu itu, Papa minta beliin Daddy sate padang jam dua pagi! Terus, akhirnya Daddy bela-belain buat beli sate padang pagi pagi cuma buat Papa. Daddy keren bangeeettttt.” Hendery bercerita dengan antusias, matanya ikut berbinar membayangkan Johnny seperti superhero untuk Ten. Padahal mah.
Sedangkan Johnny yang sedang dibangga-banggakan oleh anaknya tersenyum bangga.
“Tapi Papa lebih keren daripada Daddy, deh.” Hendery menarik ucapannya membuat pundak Johnny menurun sedangkan Ten tertawa melihatnya.
Ten mencium pipi gembil milik Hendery membuat Hendery terkekeh senang.
Hendery menyentuh perut milik Ten yang mulai membesar karena usia kandungannya mulai menyentuh 4 bulan.
“Papa perutnya udah mulai besar kayak Om Taeyong. Tapi Om Taeyong sekarang perutnya udah besar banget.” Ucap Hendery sambil mengelus perut milik Ten.
Iya, sekarang Taeyong sudah 9 bulan mungkin beberapa minggu atau hari lagi Taeyong akan lahiran.
Hendery sudah mulai terbiasa melihat perut Ten yang perlahan membesar, meskipun pada awalnya Hendery kaget bahkan dirinya sampai menangis melihat perut Ten yang semakin membesar.
Pasti Hendery setiap pagi selalu bilang pada Ten, “Papaaa perut Papa kenapa gede banget?! Papa nggak makan dinosaurus kaann? Lepehiinn Papaaaaaa.” Kemudian menangis kencang sambil berlari-lari memutari sofa. Ia takut Papanya makan dinosaurus beneran.
Setelah beberapa kali Johnny menjelaskan pada Hendery menggunakan bahasa yang cocok dengan seumuran Hendery, akhirnya Hendery paham. Meskipun, beberapa hari kemudian Hendery akan kembali bertanya apakah adiknya berada di dalam perut Papanya kemudian mengembang seperti adonan kue?
“Dede?” Ucap Hendery sambil mengetuk-ngetuk perut Ten membuat Johnny tertawa. Dipikir sedang masuk kedalam rumah atau kamar kali ya.
Ten terkekeh, “Bukan diketuk sayang, di elus-elus coba.”
Kemudian Hendery mengelus perut Ten kembali sambil menggumamkan kalimat 'Dede' 'Dede' 'Dede' sampai ia menguap lalu menidurkan tubuhnya di dada Ten.
Ten mengelus rambut Hendery, “Abang, bobo di kamar ya?”
Hendery menggeleng menolak dan menyamankan pelukannya.
Johnny kemudian mengelus rambut milik Ten sambil bergumam, “Gapapa?”
Ten tersenyum lalu mengangguk, “Tapi nanti aku nggak kuat gendongnya.”
“Iya, nanti aku aja yang gendong dia ya ke kamar.”
Ten mengangguk lalu lanjut mengelus rambut milik Hendery sampai Hendery tertidur pulas di pelukan Ten.
Johnny yang melihat hal tersebut kemudian pelan-pelan menggendong tubuh Hendery meskipun agak sulit karena Hendery yang memeluk tubuh Ten lumayan erat.
Hendery sedikit menggeliat dalam tidurnya, takut-takut ia terbangun Johnny kembali menepuk pantat Hendery kemudian membawa Hendery kedalam kamarnya.
Ten pelan-pelan bangun dari duduknya lalu mengikut ke dalam kamar Hendery yang ternyata Hendery sudah tidur dengan nyenyak kembali di kasur.
Johnny yang melihat Ten mengintip langsung mengangguk menandakan semua dalam kontrolnya dan tidak ada masalah kemudian Ten mematikan lampu kamar Hendery lalu keduanya keluar dari kamar Hendery.
Seteah keluar dari kamar Hendery, Ten langsung memeluk tubuh Johnny dan menghirup aroma maskulin dari tubuh Johnny membuat Johnny terkekeh. “Kenapa sayang?”
Ten menggeleng.
Oh, sesi manjanya lagi kambuh. Maka dari itu Johnny menggendong tubuh Ten dan ia bawa ke kamar milik mereka.
“Aku berat ya?” Tanya Ten dalam gendongan Johnny. Johnny menggeleng.
“Masa?”
“Iya sayang. Kamu ada yang dimau nggak? Tumben nggak minta sesuatu gitu.” Tanya Johnny setelah merebahkan tubuh milik Ten di kasur.
Ten menggeleng, “Belum, cuma pengen cium bau kamu aja.”
Johnny sedikit bersyukur karena sewaktu kehamilan Hendery malah Ten sangat tidak menyukai bau Johnny, berkali-kali dirinya muntah hanya karena bau tubuh Johnny yang berakhir Johnny ikutan muntah-muntah hanya karena bau tubuh Jaehyun.
“Sini, peluk.” Johnny melebarkan tangannya kemudian Ten masuk kedalam pelukan Johnny.
“Tapi, aku kangen Winwin.” Bibir Ten ikut melengkung kebawah, entah rasanya ia sangat merindukan Winwin saat ini.
“Besok kerumah Yuta aja ya?”
Ten menggeleng, “Nggak mau ketemu Yuta, maunya ketemu Winwin.”
“Loh, kan Yuta sama Winwin satu rumah sayang.”
“Yuta suruh keluar dulu, nggak boleh dirumah.”
Oh, ngidam ini namanya. Mulai banyak mau.
“Yaudah, besok aku suruh Yuta keluar rumah ya?” Final Johnny membuat Ten tersenyum sangat lebar, lalu mengecup bibir milik Johnny kilat.
“Terima kasih suamiku paling ganteng sejagat raya ini!” Johnny terkekeh, suami mungilnya ini, benar-benar menggemaskan.
“Cepet bilang sekarang sama Yutanya.” Ucap Ten lagi membuat Johnny bingung.
“Loh, kan biar besok pagi aku udah nggak liat Yuta di rumah berarti dia harus keluar rumah sekarang.”
Yut, maaf ya lagi-lagi lo jadi tumbal ngidamnya Ten, Batin Johnny kemudian mengambil ponsel miliknya namun ponselnya langsung ditarik oleh Ten. Ten mencari kontak Winwin lalu memencet video call.
Tak lama kemudian, terlihat wajah Winwin dengan setengah wajah milik Yuta yang sedang menidurkan kepalanya di pundak Winwin. Penasaran ceritanya.
“Haaaiii Ten! Kenapa malam-malam vidcall?“
“Winwinn, besok gue kerumah yaa?”
“Wah, ada apa nihh?“
“Gapapa, pengen kesana ajaa. Tapi, Yuta suruh keluar rumah dulu. Gue nggak mau liat muka dia.”
Mendengar ucapan Ten, Winwin langsung tertawa sedangkan Yuta langsung terduduk tidak terima dengan ucapan Ten.
“Lah, apa salah muka gue woi.” Ini suara Yuta yang ikut menyambar.
“Ih, diem lo jangan ngomong jadi polusi suara nih.”
“Oala jan-“
“Sstt Yut, jangan ngomong kasar ah. Di rumah Ten ada anak kecil.“
Sedangkan Yuta langsung terkekeh kemudian meminta maaf pada Winwin.
Winwin kembali menatap layar ponsel, “Iya nanti bisa gue atur. Mau jam berapa kesini?“
“Jam 9 pagi ya?”
“Pagi amat, lo mau bantu bersih-bersih rumah gue ya.” Ini Yuta lagi kemudian Yuta diberi hadiah cubitan dipinggangnya sampai mengaduh kesakitan.
Johnny hanya tertawa melihat sahabatnya dijadikan bahan sana sini. Sabar ya Yut kalau kata Johnny.
“Iya boleh Ten, berkabar aja ya biar nanti Yuta gue usir.“
“Yang, masa aku diusir beneran sih.” Ini lagi lagi Yuta dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya seperti mengadu.
“Bentar ya Ten.” Kemudian Winwin menjauhkan ponselnya tanpa nge-mute video call tersebut membuat Johnny maupun Ten bisa mendengar suara mereka samar-samar.
“Kamu tuh, Ten lagi ngidam namanya. Turutin aja Yut.“
“Masa aku diusir dari rumah sendiri sih yang.“
“Ya aku nggak akan usir kamu beneran Yutaaa. Nanti kamu ngumpet aja dimana kek yang nggak bisa Ten liat. Yaa?“
Johnny hanya tertawa mendengarkan sedangkan Ten lebih ke bodo amat, intinya dia nggak mau liat muka Yuta besok di rumah Winwin.
“Yaudah deh iyaaa. Jatah ya?“
Johnny semakin tertawa, emang otaknya Yuta ini nggak jauh jauh dari jatah.
“Iya iyaaa, dasar.“
Setelah itu Winwin mengambil ponselnya lagi lalu berbicara pada Ten, “Semua aman Ten. Besok dateng yaa kerumah. Hendery dibawa juga?“
Ten mengangguk, “Gapapa kan Win?”
“Ya gapapa dongg, gue tunggu ya!“
“Daaah Win!”
Winwin tersenyum sedangkan Yuta yang berada di sebelahnya masih dengan bibir yang melengkung kebawah, sebel dia.
“Daaah Ten, John!“
Ten menutup panggilan tersebut lalu memberikan ponsel milik Johnny pada pemiliknya lalu mencium bibir Johnny, “Good night, Jo“
“Good night, sayang.“
Hendery yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Johnny bahwa pagi ini ia akan kerumah Yuta langsung semangat untuk mandi dan buru-buru sarapan. Bahkan ia membawa berbagai macam jenis mainan untuk dibawa kerumah Yuta.
“Papa Papa, hari ini kita kerumah Om Yuta ya?” tanya Hendery setelah menyelesaikan sarapannya.
“Kerumah Om Winwin.”
Johnny tertawa, masih saja suaminya ini.
“Loh, Om Yuta sama Om Winwin emang beda rumah?”
“Om Winwin sama Om Yuta satu rumah kok. Dery udah siap semuanya?” Demi mengalihkan pembicaraan, akhirnya Johnny bertanya kesiapan Hendery untuk ke rumah Yuta. Daripada semakin panjang mengingat sepertinya suaminya ini sedang menolak keberadaan Yuta di dunia ini.
Hendery mengangguk kemudian berlari menuju kamarnya untuk mengambil ransel miliknya dan ditujukan untuk Johnny, “Udah! Berangkat sekarang Daddy?”
“Daddy sama Papa bersih-bersih piring kotor dulu ya sayang, Dery duduk dulu di sofa ya?”
Hendery mengangguk lagi lalu menuju sofa sambil menggeret tasnya, lumayan berat juga bawaan Hendery.
“Ini biar aku yang cuci, kamu temenin Hendery aja ya?” Ucap Johnny pada Ten yang baru saja ingin mencuci piring namun Ten menggeleng. Johnny dengan sifat posesifnya.
“Aku masih kuat Jo. Kamu bebersih meja aja.”
“Tapi-”
“Jo. Aku masih kuat, masih 4 bulan belum ada apa apanya Jo.” Ucap Ten lagi memotong ucapan Johnny membuat Johnny mendengus lalu mengangguk.
“Kamu jangan capek-capek sayang.”
“Nggak Jo, gih bebersih meja biar cepet. Hendery kayaknya semangat banget mau main.”
Johnny tertawa, “Ya gimana, dia seneng bisa ketemu sama Yuta lagi kayaknya. Cuma sama Yuta dia bisa main mobil-mobilan, kalo sama Jaehyun kamu tau sendiri, selalu ada Mark dan berujung main mainan punya Mark yang jarang ada mobil-mobilan.”
Ten mengangguk setuju lalu kembali mencuci piringnya sebelum Hendery mengamuk karena lama menunggu.
Akhirnya setelah semua sudah beres, ketiganya menuju kediaman Yuta dan Winwin menggunakan mobil.
“Titip dulu ya Win. Maaf ngerepotin.” Ucap Johnny setelah berpamitan pada Ten maupun Hendery yang sudah masuk duluan kedalam rumah.
Winwin mengangguk, “Lo mau kemana sekarang Jo?”
“Nemenin Jaehyun check up si Taeyong sekalian nemenin Mark.”
“Loh, Mark ajak kesini aja?”
“Anaknya mulai nggak mau lepas dari Taeyong, Win. Niat gue juga tadi mau ngajak Mark kesini buat main sama Hendery, cuma kata Jaehyun gitu.”
“Ohh, iya sihh. Yaudah hati-hati deh Jo.”
“Gue berangkat dulu dah Win, thanks sekali lagi.”
“Santai.”
Akhirnya, Johnny masuk kedalam mobilnya lalu melambaikan tangan pada Winwin sedangkan Winwin setelahnya langsung masuk kedalam rumah.
Baru saja Winwin menginjakkan kaki di rumahnya, kakinya sudah digoyang-goyangkan oleh Hendery, “Om Winwin, Om Yuta manahh?”
Kebiasaan Hendery setiap saat kerumah Winwin adalah mencari dimana Yuta berada.
Winwin jongkok kemudian berbisik di kuping Hendery, “Om Yuta ada dikamar, Dery kesana sendiri gapapa ya? Papanya Dery lagi nggak mau ketemu Om Yuta jadi Om Yuta lagi ngumpet.”
Hendery yang mendengar matanya langsung membulat, “Papa sama Om Yuta lagi main petak umpet ya Om?”
Winwin mengangguk, “Iya, jangan sampai Om Yuta ketemu sama Papa ya nanti Om Yuta kalah.”
Hendery mengangguk lalu memberikan jempol pada Winwin bahwa ia paham kemudian berlari menuju kamar Winwin sambil berteriak, “Om Yutaaaaaaaaaaa~”
Winwin terkekeh gemas lalu menuju ruang TV mendatangi Ten yang sudah duduk di sana.
Hendery mengetuk pintu kamar milik Yuta dan Winwin, “Om Yutaaa bukain pintuu ini Dery.”
Kemudian terdengar suara grasak-grusuk dari dalam kamar, Yuta berlari menuju pintu membukakan pintu untuk Hendery yang sudah menunggu dirinya di luar.
Setelah pintu terbuka, Hendery langsung menubruk kaki Yuta memeluk setengah badan Yuta, “Om Yuta kemana ajaa!”
Yuta terkekeh kemudian jongkok dan mengangkat tubuh Hendery, “Om Yuta lagi sibuk, maaf ya?”
“Om Yuta kayak Daddy, sibuk!”
“Iya kan kerjaan Om Yuta sama kayak Daddynya Dery. Loh, Dery kenapa ke sini?”
“Itu, tadi Daddy bilang, Papa lagi ngidam mau ketemu Om Winwin terus Dery mau ikut soalnya mau ketemu Om Yuta hehehehe.”
Yuta mencubit pipi gembil milik Hendery gemas, “Lucu banget sih kamu lucuuuu.”
“Aduh Om Yutaa kekerasan nyubitnyaaa!” Adu Hendery membuat Yuta mengelus pipi Hendery dan meminta maaf pada Hendery.
“Tapi Om, Dery mau tanya.”
“Dery mau tanya apa?”
Hendery menghadapkan dirinya kearah Yuta yang berada disampingnya itu, “Ngidam itu apa Om?”
Yuta terkekeh lalu tersenyum mendengar pertanyaan Hendery.
Semoga, Yuta tidak menjelaskan yang aneh-aneh kepada anak pertama Johnny dan Ten itu.
@roseschies