Dear Donghyuck
Markhyuck oneshot AU!
Warn! Angst
Haechan itu apa apa Mark apa apa Mark.
Bahkan, disaat ada lelaki yang mengajak Haechan menjalani sebuah hubungan Haechan selalu bertanya dan meminta saran ke Mark.
“Kak, dia baik gak ya?”
“Kak, aku takut dia nyakitin aku.”
“Kak, salah gak aku terima dia sebagai pacarnya?”
Contohnya seperti itu.
Tapi, setiap Mark mau berbicara mengenai masalah percintaannya ke Haechan, Haechan selalu mencoba untuk mengganti topik.
Haechan itu gak bodoh, dia tau Mark itu suka sama dia.
Haechan cuma gak mau, dia sama Mark memiliki hubungan yang lebih karena dia tau kalau sudah pacaran ada kalimat 'putus'.
Gimana kalau putusnya gak baik-baik aja?
Haechan egois, Haechan gak bisa mikirin dia jauh dari Mark, Marknya.
Haechan selalu bilang,
“Kak, kapan cari pacar? ayo double date!“
Dan Mark selalu menjawab,
“Aku sibuk chan, gak ada waktu buat cari pacar atau semacamnya.”
Padahal, salah besar.
Dia, Mark. Sudah mati rasa dengan orang lain.
Dia sudah memantapkan hatinya hanya untuk satu orang yaitu, Lee Donghyuck.
Seseorang yang sejak dulu menjadi rumahnya, dia enggan untuk mencari rumah lain atau sekedar menyewa apartement.
Dia, tidak mau meninggalkan rumah favoritenya.
Kali ini, Mark tidak akan membiarkan Haechan memberhentikan aksi 'mengungkapkan perasaannnya' itu.
Maka dari itu, Mark mengajak Haechan untuk datang kerumahnya.
Oh, tentu saja sebelumnya Mark sudah menjemput Haechan di suatu cafe.
Haechan habis kumpul dengan para sahabatnya itu.
“Kak, tumben ngajak main kerumah? Bubu kemana? Papa Jae juga gak ada? Sepi banget di rumah?”
Tanpa menjawab ucapan Haechan, Mark menarik dan menggandeng tangan Haechan menuju kamar Mark.
“Kak?”
“Bubu sama Papa lagi ke kampus Jeno bareng Sungchan juga.”
Haechan mengangguk paham.
“Oh, kenapa kak Mark gak ikut?”
“Ada yang lebih penting chan.”
Jawab Mark sambil membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Haechan untuk masuk.
Haechan menurut kemudian mendudukan diri di kasur milik Mark, seperti hari-hari biasa jika Haechan bermain ke kamar Mark ia selalu meng-hak milik kasur Mark.
“Chan,” Panggil Mark lembut membuat Haechan tersontak dan duduk dari tidurannya itu.
“KAK! Aku mau ceritaaaa” Sanggah Haechan sebelum Mark sempat melanjutkan ucapannya itu.
“Chan, aku cerita duluan boleh?” Tanya Mark, ia benar-benar tidak bisa untuk memotong ucapan Haechan seperti apa yang sudah ia pikirkan sebelumnya.
“Aku dulu ya kak! ya ya ya ya??? Aku nanti lupa buat cerita ke kakak. Soalnya ini berita bagus! Aku mau kakak tau duluan sebelum yang lain.” Ucap Haechan antusias sambil memberikan mata memohon pada Mark.
Tentu saja, Mark kalah telak.
Dia ini, memang tidak bisa melihat mata gemas itu.
Baiklah, biarkan kali ini Mark mengalah untuk kesekian kalinya.
“Kak, aku dilamar.” Ucap Haechan sambil tersenyum senang.
“Dilamar pekerjaan?” Tanya Mark sambil memandangi wajah Haechan yang sedang berseri-seri itu.
Haechan menggeleng, “Pacar aku, ngelamar aku kak.”
Deg.
Mark, kalah telak.
“Aku akhirnya dilamar kak! Aku seneng banget!”
Haechan terlihat sangat bahagia.
Mark tersenyum lalu mengelus surai milik Haechan lembut, “Kakak seneng dengernya, Selamat ya Haechan.”
“Mau peluk kakak boleh?” Tanya Haechan kemudian Mark membuka kedua tangannya mempersilahkan Haechan menubruk tubuhnya dan memeluk erat tubuhnya.
Mungkin, pelukan ini tanda Mark melepaskan Haechan.
Mark, mengalah.
Mark selalu menjadikan Haechan rumahnya namun sekarang rumahnya sudah berpenghuni.
Biarkan Mark pergi, memberi kunci itu ke tunangan Haechan.
Tapi, bagi Mark Haechan akan selalu menjadi rumahnya.
Rumah favoritenya.
@roseschies🌸