Don't forget that you have yourself.
Sekitar pukul sembilan malam, Ten naik ke lantai dua lalu menuju kamar anak bungsunya.
Seperti pembicaraan sebelumnya bersama Johnny. Ten akhirnya memutuskan untuk menemui Haechan sekalian menemani si bungsu hingga terlelap malam ini di kamar milik Haechan.
Ten mengetuk pelan pintu kamar Haechan menunggu sautan dari si pemilik kamar yang entah sedang apa di dalam.
“De, ini Papa.” Ten kembali mengetuk kamar Haechan sambil berbicara bahwa dirinya lah yang sedang mengetuk.
“Masuk aja Pa nggak dikunci.” Sahutan Haechan terdengar sampai kuping Ten membuat Ten masuk kedalam kamar Haechan setelah dirinya diperbolehkan masuk oleh si pemilik kamar.
Ten bisa melihat Haechan yang sedang duduk di meja belajarnya sambil melukis abstrak di atas kanvas.
Melihat itu, Ten akhirnya duduk di kasur Haechan melihat gerak-gerik anak bungsunya dari belakang.
“Gambar apa sayang?” Tanya Ten memecah keheningan diantara keduanya.
“Abstrak aja Pa, lagi iseng hehehe. Bentar Pa, aku cuci tangan dulu yaaa.”
Haechan kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk mencuci tangannya yang kotor terkena cat.
Ten berdiri lalu menuju meja belajar Haechan, melihat gambar yang barusan dibuat oleh si bungsu.
Lukisan abstrak. Sebagai orang yang sedikit mengerti seni. Ten paham apa yang sedang Haechan salurkan kedalam lukisan abstrak ini.
Perasaannya yang tak terdefinisikan.
Pikiran yang terkurung di dalam kepalanya, yang tidak bisa dikeluarkan lewat kata-kata.
Setelah melihat hasil lukisan Haechan. Ten kembali duduk di kasur Haechan menunggu anaknya selesai membersihkan tangannya.
Keputusan Ten untuk mengunjungi anaknya malam ini adalah keputusan paling benar. Anaknya pasti membutuhkan dirinya meskipun tidak secara langsung meminta dirinya untuk menemaninya.
Ten melihat beberapa boneka beruang yang selalu ada di pinggir kasur Haechan. Hampir semua pemberian dari orang lain. Entah dirinya, Abang, Daddy, atau teman dekatnya.
Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Ten menengok kearah kamar mandi lalu mengambil satu buah boneka kecil yang kalau tidak salah ini adalah pemberian dari Johnny. “De, ini pasangannya mana?”
“Jatuh kayaknya Pa, sebentar Dede cek di kolong kasur.”
Haechan akhirnya menunduk untuk melihat ke kolong kasur. “Adaaa Pa. Bentar aku ambil.”
Haechan lalu masuk kedalam kolong kasurnya untuk mengambil pasangan si boneka beruang kecil tersebut dengan susah payah.
Duk!
“Aduh!”
“Pelan-pelan De keluarnya yaampun sampe kejedot begitu.”
“Aku kirain udah sampe ternyata masih di dalem kolong.” Haechan terkekeh sambil mengelus kepalanya kemudian duduk di sebelah Ten lalu memberikan pasangan tersebut pada Ten.
“Yah, kotor Pa.”
“Gapapa, nanti Papa cuci ya. Semua yang kotor pasti masih bisa bersih kok, yang penting dia nggak kehilangan pasangannya lagi.”
Haechan mengangguk.
“Kamu ujian semester kapan de?”
“Masih lama pa, belum juga ujian tengah semester.”
“Sekolah nggak ada kesulitan kan sayang?”
Haechan menggeleng. “Nggak Pa. Sekolah biasa aja paling muter muter Renjun Jeno. Eh, sekarang nambah Jaemin deh hehehe.”
“Betah ya kamu temenan sama Renjun Jeno.”
“Betah lah Pa. Meskipun mereka ngeselin, cuma mereka temen yang bisa Dede andelin.”
“Bagus kalo gitu dongg. Terus Jaemin gimana De? Dia seneng kan gabung sama kamu dan temen-temen kamu?”
“Seneng kok Paa. Oh iya Pa, Jaemin pinter banget tau Pa. Dia padahal baru masuk ditengah jalan tapi langsung bisa ngikutin pelajaran.”
“Waahh, berarti bener kata Om Winwin. Jaemin sama Dejun itu sayang banget ya kalau nggak dilanjut sekolahnya. Mereka berdua sama sama pinter.”
Haechan mengangguk setuju. “Kita berempat kadang tuker tukeran saling ngajarin gitu Paa.”
“Pinternya anak Papa. Sini boboan.”
Ten menepuk kasur sebelahnya untuk Haechan tiduri disampingnya.
Haechan akhirnya menidurkan tubuhnya disamping Papanya itu.
Sudah lama ia tidak seperti ini dengan anak-anaknya, pikir Ten.
Mendengarkan cerita yang dilanturkan oleh anaknya, menjahili anaknya, dan tak lupa memeluk anaknya di atas kasur.
Ten mengelus surai milik Haechan lembut. Keduanya tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.
Haechan yang hanya menikmati elusan Ten dan Ten yang bingung ingin memulai pembicaraan apa diantara keduanya.
“Pa.”
“Hm?”
“People come and go, right?“
Ten mengangguk masih dengan tangannya yang mengelus surai milik Haechan.
“Kalau aku egois aku nggak mau seseorang itu meninggalkan aku, boleh nggak?”
“Kenapa Dede bisa mikir begitu?”
“Aku sayang sama dia.”
Ten terdiam, ia bingung kemana arah pembicaraan ini namun ia tetap mendengarkan anak bungsunya bercerita.
Konteks sayang itu terlalu banyak. Entah untuk teman atau seseorang yang berharga bagi dirinya. Ten tidak pernah mengotakkan bahwa kalimat sayang hanya untuk pasangan.
“Pa, kenapa manusia jahat ya pa?”
“Aku udah berusaha untuk terus baik ke semua orang. Tapi kenapa ada aja manusia yang jahat sama aku.”
Haechan diam.
“Jahat baiknya manusia, kita nggak bisa mengontrol. Jahat baiknya manusia, itu pilihan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Dede yang bisa memilih, mau baikin dia atau jahatin dia balik. Semua pilihan yang Dede pilih, dampaknya pun akan Dede rasakan sendiri. Dede boleh kok egois karena dede punya keinginan. Tapi Dede juga nggak bisa mengontrol perilaku orang lain sesuai apa yang Dede mau. De, realita itu jauh dari ekspetasi. Dua kemungkinan, entah realita yang kita dapat melebihi ekspetasi kita, atau bisa jadi ekspetasi kita yang terlalu berlebihan.”
“Pesan Papa, pilih apa yang menurut Dede baik untuk Dede. Buang apa yang menurut Dede menganggu pikiran Dede. Papa tau kok nggak gampang. Tapi kalau Dede terlalu larut, yang sakit Dede, kan?”
“Pa, aku nggak mau kalau dia yang ninggalin aku. Apa nggak ada cara lain?”
“Kuncinya cuma komunikasi sayang. Semua harus berawal dari komunikasi asal kedua belah pihak sama sama menggunakan kepala dingin.”
Komunikasi, ya?
Haechan bahkan sudah tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Bukan, bukan Haechan tetapi lelaki yang sejak dulu bersarang dipikirinnya.
“Haechan, Papa nggak tau apa yang lagi kamu lewatin sekarang, siapa yang kamu pikirin dan apa yang kamu lagi perjuangin. Tapi, Haechan jangan lupa, Haechan punya Papa, punya Daddy, punya Abang, dan nggak lupa Haechan punya diri Haechan sendiri yang lebih kuat lebih dari perkiraan Haechan sendiri. Apa apa yang Haechan lagi rasain, mau dibagi sama Papa?”
Haechan diam. Ia rasa belum waktunya untuk menceritakan apa yang sedang menganggu pikirannya sekarang. Haechan masih merasa bahwa dirinya bisa melewati semua yang ia hadapi untuk sekarang.
“It's okay, Papa nggak maksa Haechan buat cerita kok. Papa berterima kasih sama Haechan udah mau ngeluarin pemikiran Haechan barusan. Papa inget kalimat yang selalu Daddy bilang setiap Papa lagi banyak pikiran. Kata Daddy, everything's gonna be alright. Anak Papa udah besar, udah pinter pilih jalan yang menurut kamu benar. Kalau kamu tersesat akibat pilihan Dede sendiri, jangan lupa ada Papa, Daddy, dan Abang yang bakal ajak Dede balik kesini lagi. Dede paham?”
Haechan mengangguk. Sepertinya dirinya sudah terlalu larut dengan pikiran yang mengumpul di kepalanya membuat banyak orang yang tak mengerti apa apa ikut khawatir akan dirinya.
Tapi, Haechan juga tidak bisa membohongi dirinya kalau dirinya, benar benar membutuhkan sosok lelaki tersebut.
@roseschies