Favorite Blood – roseschies

20 September 2025.

Pagi hari ini cukup mendung membuat Jaehyun ingin sekali menyeduh teh menggunakan air mendidih.

Prinsip dalam hidup Jaehyun adalah jika ia ingin maka ia harus mengerjakan apa yang ia inginkan.

Maka dari itu, saat ini Jaehyun sedang berjalan dari kamar menuju dapur yang tidak jauh dari kamar miliknya itu.

Setelah sampai di dapur kecil miliknya, Jaehyun mengambil ketel yang berada di dalam lemari lalu mengisi setengah air untuk ia masak hingga mendidih.

Sambil menunggu air tersebut mendidih, Jaehyun berjalan menuju ruang TV yang tidak jauh pula dari dapur miliknya.

Jaehyun memang hanya tinggal seorang diri di sebuah apartement kecil maka dari itu setiap ruangan tidak begitu jauh.

Jaehyun mengambil remote lalu menyalahkan dan mencari saluran televisi yang menurut Jaehyun menarik untuk ditonton.

Setelah beberapa detik Jaehyun mengotak-atik remote tersebut, tidak ditemukan saluran televisi yang menurut dirinya menarik untuk ditonton.

Tak lama kemudian, terdengar suara denging ketel menguasai setengah ruangan tanda air sudah mendidih membuat Jaehyun berdiri dari tempat duduk dan mematikan televisi tersebut.

Jaehyun mematikan kompor dan mengambil cangkir beserta teh celup dan tempat gula lalu dibawa mendekati ketel yang berisi air mendidih itu.

Dituangkanlah air mendidih tersebut kedalam cangkir lalu mencelupkan teh dan menyumput sedikit gula, Jaehyun tidak terlalu suka yang terlalu manis.

Setelah menuang dan meracik teh ala kadarnya, Jaehyun menaruh semua barang ketempat semula dan membawa cangkir berisi teh sedikit manis itu menuju balkon yang berada di kamar miliknya.

Cangkir tersebut ia taruh di meja kecil lalu Jaehyun duduk di bangku samping meja kecil tersebut.

Awan semakin mendung dan mulai menurunkan rintikan air dari atas.

Kangen.” Ucap Jaehyun tak sadar sambil menyeruput teh yang bisa dibilang masih agak panas.

Tapi, Jaehyun tak merasakan panas tersebut, lidah Jaehyun seperti sudah mati rasa.

“Kamu lagi apa di sana?? Kangen aku juga ya sampe nangis begitu.” Racau Jaehyun tidak jelas sambil memandangi awan yang terus menerus mengeluarkan rintikan air sampai mulai deras.

Jederr....

“Maafin maafin, Jaehyun gak nakal lagi. Jangan marah ya,” Ucap Jaehyun sambil menutupi mata dan telinganya.

Setelah kilat beserta suara geluduk tersebut hilang, Jaehyun kembali menyeruput teh miliknya yang mulai sedikit menghangat karena menyesuaikan cuaca yang semakin dingin.

“Kamu kok masih menangis? Jaehyun jahat ya? Kamu gak capek nangis terus? Jaehyun kedinginan.” Racau Jaehyun lagi.

Tak sadar, air mata Jaehyun perlahan turun dari mata miliknya dan meluncur bebas menuju pipi hingga menetes mengenai baju hitam miliknya.

Hyung.... Mau peluk boleh? Ah.. Gak bisa ya? Padahal dulu itu salah satu keinginan terbesar hyung. Hahahahaha,” Jaehyun tertawa dengan sendirinya membuat air mata miliknya menetes lebih deras mengikuti irama hujan yang juga semakin deras.

Sedetik kemudian, Jaehyun tersenyum dan menggosok area mata dan pipi untuk menghilangkan jejak air mata tersebut.

“Dasar Bodoh. Lemah. Ngapain nangis.”

Jaehyun kembali menyeruput teh miliknya dengan keadaan senang dan sedikit-sedikit ia bersenandung.

Tiba-tiba sekelibat adegan 2 tahun lalu mulai terbayang di dalam pikiran Jaehyun membuat Jaehyun diam-diam tersenyum kembali mengingat kejadian tersebut.

Jaehyun mengambil cangkir teh miliknya dan ia hirup aroma teh hangat miliknya.

Kemudian menyeringai, “Ah... Aroma ini, mengingatkan ku pada kejadian tersebut,”

Jaehyun menyeruput teh tersebut hingga tetes akhir lalu menjilat bibirnya, “Bahkan teh ini rasanya mirip dengan darah kesukaanku, darah milik Taeyong hyung


Jung Jaehyun x Lee Taeyong one shot.