Gibahan malam

Setelah melakukan kegiatan bersama kedua anaknya, Johnny dan Ten masuk ke dalam kamar diikuti oleh kedua anaknya yang juga masuk ke dalam kamar masing-masing yang berada di lantai dua.

Johnny dan Ten memang sudah pindah dari apartemen lamanya dan memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang berada di satu komplek dengan kedua sahabatnya Jaehyun dan Yuta.

“Jo, kamu udah denger belum?” Tanya Ten membuka percakapan antara keduanya setelah selesai memakai skincare di wajah dan tak lupa bodycare di tubuhnya kemudian menuju kasur untuk ikut menidurkan tubuh di samping suaminya.

Johnny yang sejak tadi sedang memainkan ponselnya langsung mematikan ponsel miliknya kemudian bergeleng dan menatap suami mungil yang berada di sampingnya itu. “Tentang apa? Kamu nih habis gosip ya sama Winwin tadi.”

Ten terkekeh. “Bukan gosip Jo. Ini fakta, tadi Winwin juga sedikit curhat ke aku.”

“Kamu tau kan ya mereka belum punya anak sampai sekarang.”

Johnny mengangguk. Memang diantara mereka hanya Yuta dan Winwin yang memang belum memiliki omongan. Beberapa kali mereka ingin mengadopsi anak tetapi belum menemukan yang pas dan sesuai dengan mereka. Alhasil, selalu mengundur dan tidak jadi mengadopsi.

“Jadi, beberapa bulan lalu, Om dan Tantenya Yuta meninggal. Mereka ini punya dua anak. Awalnya Yuta pikir bakal ada yang mau ngurus mereka. Tapi ternyata beberapa minggu kemudian Winwin sempet nyinggung ini dan mereka berdua jawab belum ada dan berniat mereka ke panti aja.”

Ten bercerita sesuai apa yang Winwin ceritakan pada dirinya tadi. Bahkan, Ten masih ingat segimana sedihnya Winwin melihat dua anak tersebut.

“Ya gimana sih Jo. Winwin nggak dikaruniai seorang anak tiba-tiba denger kayak gitu. Sedih banget Winwin. Akhirnya coba buat ngobrol sama Yuta dan mereka sepakat buat bawa dua anak ini ke rumah mereka. Meskipun nggak langsung ngadopsi mereka sebagai anak. Tapi mereka cuma mau, kedua anak ini dapat tempat yang layak.”

“Belum lagi, mereka jadi putus sekolah. Beberapa bulan ini Winwin coba atur banyak cara biar kedua anak ini tetep lanjut sekolah. Ya meskipun si kakaknya telat satu tahun dan adeknya harus masuk sekolah dipertengahan sih. Oh, anak yang pertama seumuran abang tau Jo. Anak yang kedua seumuran dede.”

Johnny yang mendengar ucapan tersebut sedikit tersentak. Ini selengket inikah pertemanan mereka sampe-sampe anaknya seumuran semua....

“Loh, satu sekolah dong mereka? Atau nggak?”

“Winwin bilang yang anak kedua emang dimasukin ke sekolah dede sih. Senin besok baru mulai masuk dan langsung ikut pembelajaran.”

Johnny ngangguk paham, “Terus yang pertama?”

“Nah ini Jo. Dia kan kuliah ya, jadi ya mau nggak mau nunggu tes nanti. Tadinya aku saranin buat masuk ke kampus bareng abang. Eh, ternyata Winwin emang udah saranin gitu ke Yuta. Tapi, anaknya agak susah Jo. Anaknya segaenakan itu. Dia malah mau ngajarin adeknya aja. Dia nggak mau ngerepotin Yuta sama Winwin.”

“Anaknya padahal pinter banget Jo. Sayang, dia pasti punya cita-cita tinggi. Tapi setelah kedua orangtuanya meninggal dia milih buat jagain adeknya aja. Gitu sih kata Winwin. Gimana ya Jo.. Aku kasian liat Winwin kebingungan sendiri karena anaknya kekeuh.”

Johnny mengelus surai milik Ten kemudian menatap Ten. “Kita juga nggak bisa bantu banyak sayang. Bagaimanapun, semua keinginan kan harus dari anaknya sendiri. Mau dipaksa, kalau emang anaknya nggak mau gimana? Tapi aku yakin, Yuta sama Winwin pasti punya cara lain yang memang sama sama mengenakan buat kedua belah pihak. Kita tunggu aja ya?”

Ten mengangguk paham dan setuju dengan ucapan suaminya.

“Mereka kapan kerumah Yuta?”

“Udah di rumah Yuta dari tiga hari lalu karena senin depan kan anak keduanya udah harus masuk sekolah.”

Johnny mengangguk. “Hari sabtu kamu ada jadwal motret nggak?”

Ten menggeleng, “Nggak. Kenapa?”

“Kesana mau? Sekalian biar Haechan ketemu temennya dan siapa tau Hendery bisa sedikit bisa bikin hati anak pertamanya tergerak buat kuliah.”

Ten mengangguk. “Boleh. Aku nanti bilang Winwin deh.”

“Yaudah. Haechan sama Hendery nggak perlu dikasih tau, biar mereka tau langsung aja nanti.”

“Iya.”

“Eh Jo. Kamu liat deh chat abang tadi ke aku.”

Ten mengambil ponselnya yang berada di nakas sebelah tempat tidurnya lalu membuka ruang obrolan dirinya bersama Hendery.

“Nih, liat.”

Johnny kemudian mengambil ponsel Ten lalu membaca pelan-pelan isi obrolan Ten dengan anak pertamanya itu.

Johnny senyum-senyum sendiri dibuatnya.

“Si abang dari dulu nggak berubah. Emang bener dia punya cara sendiri gimana khawatirin dan jaga adeknya.”

“Makanya, gimana aku nggak hangat liat abang kayak gitu. Aku mau marah juga gimana. Toh, yang penting abang paham. Kan?”

Johnny mengangguk lalu menaruh ponsel milik Ten kemudian memeluk tubuh suami mungilnya itu. “Iya bener sayang. Duh, jadi makin sayang aku sama kamu. Gimana ya.”

Akibat ucapan Johnny yang spontan, pipi Ten mulai memerah dan memanas. “Ih, kamu nih udah malem loh gombal aja.”

“Loh, ya nggak gombaaaall.”

“Udah tua ah nggak cocok!”

“Nggak cocok juga kamu masih merah merah gini pipinya.”

“Ih Jo!”

Johnny mencubit pipi Ten gemas. “Gemes banget kamu. Udah yuk tidur?”

Ten mengangguk kemudian menarik selimut lalu menyelimuti Johnny juga dirinya. “Good night, Jo.”

“Good night, sayang.”