Hard, for me. (2,6k+ words)
Setelah memastikan Ten sudah pergi menuju rumah Winwin. Hendery bersiap-siap untuk menemui Mark yang dipastikan berada di rumahnya itu. Untungnya hari ini Hendery tidak ada janji untuk mengantar jemput adiknya ke sekolah karena Haechan sudah ada janji terlebih dahulu dengan teman-temannya untuk bersepeda bersama ke sekolah.
Hendery sudah menahan emosinya seharian kemarin. Dirinya sangat menunggu hari ini, entah hari ini akan menjadi hari putusnya tali pertemanan dirinya dengan Mark atau berbanding terbalik yang pasti Hendery masih menyimpan emosi yang sangat mendalam untuk Mark.
Tidak ada yang tau aksi Hendery ke rumah Mark hari ini selain Johnny. Ia merahasiakan dari Haechan maupun Ten karena Hendery tau, kedua orang ini akan melarang Hendery.
Dengan berjalan kaki, Hendery berjalan menuju gang sebelah di mana rumah Mark berada. Untungnya rumah keduanya tidak terlalu berjauhan. Terlalu malas untuk Hendery mengeluarkan motor lalu harus memarkirkan kembali motornya di rumah orang.
Hendery memencet bel yang ada di dekat pagar rumah Mark.
Tak lama kemudian, Taeyong keluar dari pintu kemudian berjalan menuju pagar, menemui Hendery si pemencet bel.
“Om. Maaf ganggu waktu om ya.” Sapa Hendery setelah melihat Taeyong yang keluar dari pintu.
Taeyong tersenyum lalu membuka pagarnya mempersilahkan Hendery dengan gampangnya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Taeyong tau kok, Hendery akan menemui Mark dalam waktu dekat. Benar saja prediksi Taeyong. Rasa sayang Hendery terhadap adiknya benar-benar tidak ada yang bisa mengalahkan dan Taeyong tidak menahan Hendery sama sekali karena Taeyong tau, anaknya itu memang salah dan keduanya butuh berbicara satu sama lain entah sebagai apapun itu.
“Mau ketemu Mark ya?”
Hendery mengangguk.
“Nggak lupa kan kamar Mark? Naik aja dia di kamar kok.”
Bagaimana Hendery bisa lupa di mana kamar Mark? Dia berteman dengan Mark bukan hanya satu tahun dua tahun saja. Ah, Hendery rasanya ingin menangis saja mengingat ini.
“Iya om masih kok. Eum ... kalau gitu, Hen naik ya om?”
Taeyong mengangguk lalu meninggalkan Hendery menuju ruang TV untuk melanjutkan tontonannya yang tertunda tadi.
Diam diam Taeyong berharap keduanya menemukan jalan keluar. Taeyong tau kok, keduanya sama sama sudah besar. Jika terjadi pemukulan diantara keduanya, mungkin memang itu satu-satunya cara bagi mereka berdua melepas emosi yang ada di dalam dirinya, terutama Hendery.
Tapi Taeyong tau, Hendery maupun Mark, tidak akan melakukan hal seperti itu.
Namun, siapa yang tau. Taeyong pun tidak bisa menilai lagi dari raut wajah emosi yang dipancarkan oleh Hendery sejak tadi. Bahkan tatapan Hendery, rasanya Taeyong ingin mengumpat. Takut.
Taeyong memiliki banyak alasan kenapa dirinya dengan gampang mempersilahkan Hendery untuk menemui Mark secara langsung, kok.
Akhirnya Hendery naik ke lantai dua lalu menuju kamar Mark dengan pintu kamar berwarna biru terang dan terdapat beberapa sticker yang lagi-lagi hasil dirinya dengan Mark yang menempel sticker tersebut sejak kecil.
Terlalu banyak memori yang ia buat dengan Mark. Tetapi, adiknya lebih berharga daripada apapun.
Hendery mendengus, melihat banyak hal yang sudah ia lewati dengan Mark semakin membuat dirinya kesal. Mark, yang dirinya percaya. Kenapa bisa seperti itu pada adiknya. Mark, lelaki yang sangat mengetahui sebagaimana berharganya Haechan bagi Hendery.
Bahkan, Mark yang tau Hendery tidak akan pernah pandang bulu untuk siapapun yang berani-beraninya menyakiti adiknya itu.
Hendery mengetuk pintu tersebut, “Mark, buka. Gue tau lo di dalem kamar dan gue tau lo baca chat gue di grup.”
Tidak ada jawaban, Hendery mengetuk kembali pintu tersebut. “Mark, jangan jadi pengecut. Gak usah kabur lo. Gue tau lo di dalem kamar. Buka.”
Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Hendery membuka knop pintu dan ternyata pintu tersebut tidak terkunci.
Hendery membuka pintu kasar, lalu mencari si pemilik kamar yang daritadi tidak menyaut.
Mata Hendery menangkap sosok yang ia cari sedang duduk di kasur miliknya sambil menyelimuti setengah tubuhnya dengan selimut.
Iya, Mark.
Hendery mengepalkan tangannya kuat-kuat, emosinya memuncak ketika ia melihat Mark di sana.
“LO APAIN ADEK GUE?!” Teriak Hendery sambil berjalan menuju kasur Mark.
Tidak ada jawaban, Mark diam.
“JAWAB BRENGSEK. LO APAIN ADEK GUE?!”
Hendery duduk di depan Mark, menahan tangannya yang bisa saja dalam detik berikutnya melayang ke pipi Mark.
Hendery menarik baju Mark, mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Mark. Mark tidak bereaksi apa-apa. Mark, tetap diam. “LO KENAPA NYAKITIN HATI ADEK GUE MARK? LO KENAPA SETEGA ITU NGOMONG KAYAK GITU KE ADEK GUE YANG BAHKAN NGGAK TAU SALAH DIA APA.”
Hendery memperkuat cengkraman tangannya di baju Mark. “MARK JAWAB GUE. BRENGSEK.”
Benar-benar tidak ada jawaban dari diri Mark. Mark sama sekali tidak membuka mulutnya.
Mark perlahan menatap Hendery. Tatapan milik Mark terlihat sangat kosong. Hendery melonggarkan cengkraman tangan pada baju milik Mark. Hendery melihat kearah kepala kanan Mark, bahkan dirinya tidak sadar sejak tadi kalau ada perban di kepala bagian kanan Mark.
“Mark- Kenapa lo diem aja? Mark!”
Hendery menggoyangkan tubuh Mark. Dirinya bingung, kenapa temannya ini diam saja. Dan lagi, perban itu. Kenapa?
Taeyong yang ternyata ikut naik ke lantai dua dan menyusul menuju kamar Mark langsung berdiri di belakang Hendery lalu menepuk pundak Hendery. “Hen, ada yang mau om bicarain sama Hendery. Hendery mau ikut om?”
Hendery menatap Taeyong kemudian kembali menatap Mark yang masih saja diam dengan tatapan kosongnya enggan membuka mulutnya.
“Om, Mark kenapa?”
“Ikut om ya? Kita bicara di kamar Jeno aja.”
Akhirnya Hendery mengangguk dan mengikut di belakang Taeyong meskipun dirinya sesekali menghadap kebelakang untuk melihat Mark yang masih saja diam tak berkutik.
Sesampainya Taeyong dan Hendery di kamar Jeno, keduanya duduk di kasur milik Jeno.
Hendery tidak membuka percakapan sama sekali, dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi pada Mark, sahabatnya itu.
Taeyong membuka laci belajar Jeno lalu mengambil secarik kertas yang ia butuhkan untuk saat ini. Taeyong memang sudah izin pada Jeno sebelumnya dan Jeno mempersilahkan. Lagipula, itu kebaikan untuk semua terutama kakak dan sahabatnya.
“Om, Mark kenapa? Kenapa tatapan Mark kayak kosong gitu? Terus kepalanya kenapa di perban?”
Taeyong duduk di sebelah Hendery sambil memegang secarik kertas tersebut. “Hen, sebelumnya om minta maaf ke Hendery atas nama Mark. Om tau kok, pasti susah maafin Mark karena kelakuan Mark yang seenaknya ke Haechan. Om pun nggak membenarkan Mark.”
“Kemarin, Mark ngebenturin kepalanya ke meja di depan Jeno dan sampai pingsan di pelukan Jeno. Perban itu hasil dari dirinya yang ngebenturin kepalanya ke meja. Hen, om pun nggak tau apa yang terjadi sama Mark karena om belum bicara banyak sama Mark sejak kemarin. Om Jaehyun sempat memarahi Mark semalam, tetapi Mark masih sama persis dengan apa yang kamu lihat. Mark cuma diem, tatapannya kosong tanpa suara apapun yang keluar dari mulutnya.”
“Hen, om nggak tau siapa lagi yang bisa bantu Mark buat ngomong. Terlalu nggak tau diri kalau om minta tolong sama Hendery disaat adik Hendery yang menjadi korban di sini. Tapi, kemarin Jeno nemuin kertas ini diatas meja belajar Mark sewaktu Jeno nganterin makanan buat Mark. Akhirnya, kami semua sedikit paham apa yang terjadi sama Mark. Dia cerita di dalam surat ini. Ada nama kamu di sebut di sana. Kamu boleh baca surat ini, Hen.”
Kemudian Taeyong memberikan kertas tersebut pada Hendery.
Hendery membaca pelan isi kertas tersebut. Terlalu banyak coret-coretan di pinggir-pinggir kertas tersebut. Tetapi, Hendery langsung terfokus sama isi tulisan di dalam kertas tersebut.
Semua orang nolak kehadiran gue. Semua temen gue nolak gue karena menurut mereka gue berbeda sama mereka. Kenapa sebuah persamaan bisa terasa salah. Semakin kesini, semua terasa jauh. Entah diri gue, atau semua hubungan yang udah gue buat dari lama. Gue, siapa. Gue, di mana.
Ayah, Papi, Jeno. Kakak di mana. Kenapa rasanya Kakak seperti kehilangan diri kakak sendiri. Kakak nggak mau kayak gini. Kakak sayang sama seseorang yang ada di dalam hati kakak. Sebagaimana mata kakak menghindari untuk melihat orang tersebut, tetapi hati kakak terus-terusan berteriak nama seseorang yang ada di dalam sana.
Ayah, Papi. Kakak udah jadi orang yang gagal. Kakak udah kehilangan semua. Terutama, ucapan Kakak ke Papi. Papi, maaf. Mungkin permintaan maaf dari kakak terasa kurang karena ucapan kakak kemarin terlalu menyakiti hati Papi. Ayah, maafin kakak udah nyakitin hati Papi. Maaf, udah bikin Ayah juga jadi marah marah sama kelakuan kakak dan bikin Ayah malu sama om Johnny maupun om Ten.
Ayah, Papi. kehadiran kakak cuma menjadi sebuah kesalahan ya?
Jeno, pasti kamu malu ya punya kakak seperti kakak. Kamu pasti malu ya kakakmu udah nyakitin perasaan temen kesayangan kamu.
Ayah, Papi, Jeno. Kakak, hilang.
Kakak bahkan nggak tau apa yang hilang dan dimana kakak harus cari.
Mark, minta maaf. Minta maaf sama Ayah dan Papi. Maaf kalau kehadiran Mark hanya membuat Ayah dan Papi malu.
Mark, minta maaf. Minta maaf sama Jeno. Kalau kehadiran Mark hanya menyusahkan Jeno.
Mark, minta maaf untuk seseorang yang ada di dalam hati Mark sejak dulu. Maaf, semua perkataanku terlalu jahat untuk kamu dapatkan. Maaf, jika semua kalimat itu harus kamu dapatkan. Maaf, jika hal tersebut kamu dapatkan dari aku.
Mark minta maaf terutama untuk Ayah, Papi, dan Jeno. Juga, Mark minta maaf kepada Om Johnny, Om Ten, Hendery, dan Haechan yang mungkin mereka nggak akan memaafkan kesalahan Mark dan mungkin mereka udah terlanjur benci sama Mark.
Sekali lagi, maaf. Karena kehadiran Mark hanya menjadi sebuah kesalahan dan membuat Ayah, Papi, dan Jeno malu.
Meskipun kata demi kata yang dituangkan oleh Mark berantakan di dalam surat itu. Hendery mengerti, apa yang ingin Mark sampaikan di dalam surat.
Mark benar-benar mengeluarkan semua pikiran yang ada di kepalanya ke dalam surat tersebut. Tidak peduli apakah surat tersebut terbaca oleh yang membaca, Mark hanya ingin menuangkan semua yang sudah menumpuk di kepalanya.
“Hen, om nggak tau kalau Mark bener-bener udah kehilangan arah. Dia kehilangan dirinya. Mungkin kalimat yang dikeluarkan Mark ke Haechan keterlaluan dan om pun nggak membenarkan kalimat Mark.”
“Om, Hendery kenal Mark nggak cuma satu dua tahun. Mark itu, sama. Semua selalu dia bawa sendiri, dia pikul sendiri. Semua masalah yang Mark timpa, Mark nggak pernah mau bagi sama siapapun. Hasilnya semua menumpuk dan disaat dia udah nggak kuat menumpuk itu semua, Mark keluarin ke orang yang salah. Om, sulit.”
Taeyong memeluk Hendery. Taeyong tau, sesulit apa bagi Hendery. Baginya, Mark adalah teman sehidup sematinya. Dan, baginya, Haechan adalah adik berharga yang hanya ada satu di dunia ini. Dua-duanya begitu berharga bagi Hendery.
Di sisi lain, Hendery sangat ingin merangkul Mark, membawa Mark kembali menemukan dirinya. Namun, di sisi lain, dirinya tidak bisa membenarkan perlakuan Mark pada Haechan. Selain itu, perlakuan Mark lah yang membuat Haechan menjadi murung. Membuat Haechan yang sama-sama memiliki banyak pemikiran di kepalanya.
Hendery diam-diam menangis dipelukan Taeyong, kenapa semuanya terasa sulit bagi dirinya.
“Om, Hendery mau ketemu Mark lagi.”
Taeyong mengangguk lalu mempersilahkan Hendery untuk kembali masuk ke dalam kamar Mark.
Setelah Hendery masuk ke dalam kamar Mark, Hendery masih bisa melihat Mark dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Duduk diatas kasur, dengan tatapan kosong.
Hendery duduk tepat di depan Mark.
Keduanya diam tidak ada yang mau membuka percakapan terlebih dahulu.
Hendery menatap Mark, bahkan Mark sekarang bukan seperti Mark yang Hendery kenal.
“Mark, lo tolol. Lo beneran manusia yang nggak punya hati. Adek gue yang nggak punya salah apa-apa lo jadiin imbas dari masalah lo. Ucapan dan perlakuan lo bener-bener ngebuat adek gue sakit hati. Apa lo pikir dengan semua ucapan dan perlakuan lo, semua masalah bakal selesai? Nggak. Masalah satu persatu akan bertambah. Nggak cuma lo, adek gue pun sakit hati Mark. Lo nggak akan pernah tau gimana kesusahannya adek gue, gimana kepikirannya adek gue terhadap ucapan dan perlakuan lo ke adek gue. Lo nggak akan pernah tau. Cuma adek gue yang ngerasain susahnya jadi dia. Mark Bangsat Jung. Cocok buat lo. Terima aja.”
“Itu yang mau gue ucapin buat lo sebagai kakaknya Haechan.”
“Sekarang, gue bakal ngomong sama lo sebagai teman lo.”
“Mark, lo kenapa? Kenapa lo nggak ngomong sama gue dan Lucas tentang ini? Mark, lo kenapa diem aja? Lo temen gue Mark dan selamanya lo akan menjadi temen gue. Dari dulu, siapa yang selalu ada di samping gue di saat gue punya masalah. Lo Mark. Dari dulu, siapa yang selalu ada buat gue di saat semua orang menjauh dari gue. Lo Mark. Lo satu-satunya yang ada buat gue. Sekarang, rasanya sakit Mark liat temen gue yang selalu ada buat gue malah sedang berjuang melawan masalahnya sendirian. Rasanya- Sakit Mark.”
Hendery mengeluarkan semua ucapan yang sangat sangat ia sampaikan untuk Mark. Mati matian Hendery menahan air matanya untuk tidak turun saat ini.
“Mark, gue temen lo. Gue kakaknya Haechan. Mark. Tolong-”
Mark yang daritadi hanya diam langsung memeluk tubuh Hendery. Keduanya menangis di dalam pelukan itu.
“Hen, gue mau ketemu Haechan.”
Hendery menggeleng. “Adek gue gak mau ketemu sama lo.”
Mark melepaskan pelukannya kemudian menatap Hendery. “Hen, gue mau minta maaf secara langsung sama dia. Hen, kasih gue izin.”
Mark menangis di depan Hendery, tubuhnya bergetar. Ia merasa sangat bodoh. Tapi tolong, jangan biarkan Mark tidak bisa meminta maaf secara langsung pada Haechan. Dirinya akan terus merasa bersalah jika tidak bisa meminta maaf secara langsung pada Haechan.
“Hen, gue tau terlalu berat buat maafin gue. Gue tau gue udah tolol seperti apa yang lo ucapin ke gue. Iya, gue tau. Tapi tolong Hen, biarin gue minta maaf di depan Haechan secara langsung.”
“Lo mau minta maaf gimana Mark?”
“Gue mau minta maaf karena perlakuan dan ucapan gue yang udah jahat sama dia. Gue tau gue salah. Gue nggak bisa janji kalau gue akan berubah tetapi gue bakal buktiin gue bakal berubah.”
“Berubah buat siapa? Mark, kalo lo berubah cuma karena mau dimaafin Haechan. Gue yakin, adek gue nggak akan mau maafin lo. Sebelum lo kayak gitu, perlahan lo harus coba buat memaafkan diri lo sendiri. Mark, gue nggak mau lo semakin menjauh dari diri lo yang asli. Plis, diri lo dulu.”
Mendengar ucapan Hendery, Mark terdiam. Benar, dirinya harusnya memaafkan diri dia sendiri dan menerima dirinya itu.
“Hen, gue jahat banget. Lo terlalu baik Hen. Gue, nggak pantes banget jadi temen lo lagi. Gue nggak pantes banget buat dimaafin lo apalagi Haechan.”
Hendery menonjok pipi Mark membuat Mark mengaduh kesakitan lalu mengelus pipinya. “Gue benci lo yang kayak gini Mark. Jangan ngerendahin diri lo sendiri. Lo pantes, kalo udah bisa menerima diri lo sendiri. Kalo lo aja kayak gini terus, gue yakin adek gue gak akan pernah mau maafin lo. Begitu pula gue.”
“Gue izinin. Karena memang seharusnya lo minta maaf di depan Haechan.”
“Kecuali, kalo lo masih terus nyalahin diri lo kayak gini. Gue gaakan izinin lo. Entah sebagai temen lo atau kakaknya Haechan.”
Mark mengangguk paham.
“Jeno kayaknya udah pulang berarti adek gue juga udah pulang. Di rumah dia sendirian, gue pulang dulu.”
Hendery berdiri dari duduknya namun Mark dengan sigap menahan tangan Hendery.
“Hen, makasih ya.”
“Hhh, susah Mark. Diri gue berasa perang batin antara nyelametin lo sebagai temen gue atau mukul lo sebagai kakaknya Haechan. Tapi, gue bakal ngelakuin dua-duanya sekaligus. Oh, tadi gue udah mukul lo deh. Sekali. Nanti lagi ya.”
“Hen, gue boleh ikut nggak?”
“Mau ngapain? Mau nyuciin baju gue lo?”
“Minta maaf sama Haechan.”
Mendengar ucapan Mark, Hendery menaikkan satu alisnya. “Yakin lo?”
Mark mengangguk, “Gue yakin Hen. Udah semaleman gue merenung dan mikirin ini semua.”
“Kalo semisal adek gue nolak buat ketemu lo atau ngomong sama lo, lo udah siap belum?”
Mark mengangguk lagi, “Gue siap. Siap Hen. Itu semua konsekuensi yang harus gue terima akibat dari perlakuan gue ke dia. Setidaknya, gue ada keinginan buat minta maaf dan ketemu sama dia, kan Hen?”
Hendery mendengus, “Yaudah. Gue nggak ikut campur mau adek gue maafin lo apa enggak. Tapi gue yakin sih adek gue nggak akan maafin lo. Gue aja belom maafin lo.”
Mark meringis mendengar ucapan Hendery.
Gue aja belom maafin lo.
Mark harus tau diri, butuh waktu lama untuk orang-orang memaafkan ucapan dan perlakuan yang sudah ia lontarkan untuk seseorang yang tidak memiliki salah apapun.
Dan Mark harus terima, bahwa mendapatkan maaf dari mereka, itu sulit.
Namun lagi, tolong biarkan Mark membangun semua dari awal. Membenarkan apa yang sudah ia rusak. Meskipun dirinya tau, semua akan terasa berbeda.
Akhirnya, Mark ganti baju lalu turun kebawah bersama Hendery kemudian izin kepada Taeyong bahwa dirinya akan ikut bersama Hendery.
@roseschies