he lost himself and people around him
TW // head banging (?)
Taeyong meletakkan ponselnya kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai dua tepatnya menuju kamar Mark. Sebenarnya Taeyong melarang Jaehyun untuk pulang lebih cepat karena Taeyong tau, Jaehyun dan Mark itu sama. Sama-sama keras kepala, yang ada masalah nggak selesai dan muncul lagi masalah baru.
Sesampainya Taeyong di depan pintu kamar Mark, tak lupa Taeyong mengetuk pintu kamar Mark. “Kak?”
Tanpa menunggu jawaban dari Mark yang berada di dalam kamar, Taeyong langsung membuka pintu kamar Mark.
Taeyong bisa melihat Mark yang sedang duduk di lantai pinggir kasurnya. Mark hanya diam dan menatap lantai dengan tatapan kosong.
Sebenarnya Taeyong tidak tega, anaknya ini seperti kehilangan arah. Tapi Taeyong harus tegas dan bisa membawa anaknya kembali pada pelukannya.
Taeyong duduk di depan anaknya kemudian memegang pundak milik Mark, “Kak, kakak ada yang mau diceritain ke Papi?”
Mark masih diam, menatap lantai kosong.
“Papi nggak pernah maksa anak Papi mau suka sama perempuan atau laki-laki. Papi nggak pernah memaksa apa apa untuk anak Papi. tapi, Papi nggak membenarkan kamu sampai ngomong begitu ke Haechan.”
“Kak, Papi selalu bilang. Kalau kakak punya masalah, jangan sampai bawa seseorang yang bahkan nggak tau apa-apa ikut terseret ke masalah kamu. Papi dan Ayah juga Adek selalu terbuka sama Kakak.”
Mau sebanyak apa Taeyong berbicara pada anaknya, Mark hanya diam dan terus diam.
“Kak, kamu malu ya punya orang tua dua duanya laki-laki?”
Mark mendongakkan kepalanya, bibirnya perlahan terbuka ingin mengucapkan sepatah kata.
“Lagi pula Papi bukan orang tua asli aku.”
Ucapan yang dikeluarkan Mark membuat Taeyong menjauhkan tangannya dari kepala milik Mark. Hatinya luar biasa sakit.
Ucapan Mark memang tidak salah dan Taeyong membenarkan hal tersebut. Mark bukan anaknya. Untuk apa dirinya malu punya orang tua lelaki dua-duanya disaat keduanya bukan orang tua Mark.
Taeyong berdiri dari duduknya kemudian mengigit bibir bawahnya, ia tidak boleh menangis di depan Mark.
Akhirnya Taeyong keluar kamar meninggalkan Mark di dalam yang semakin terdiam hanya menatap lantai. Hidupnya sudah rusak, sekalian saja ia rusak. Pikirnya.
Taeyong menutup pelan pintu kamar Mark kemudian ia terjatuh tepat di depan kamar Mark sambil menangis menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Jeno yang baru saja keluar dari kamar yang berada tidak jauh dari kamar Mark langsung terkejut melihat Papinya itu menangis tepat di depan kamar Mark.
“PAPI?!” Jeno lari kemudian memegang kedua pundak milik Taeyong.
“Papi diapain sama kak Mark?!” Jeno teriak di depan Taeyong, meminta jawab. Tetapi Taeyong sama sekali tidak memberi jawaban. Ia menutup bibirnya rapat rapat. Taeyong hanya tidak mau, Jeno membenci kakaknya.
Jeno membantu Taeyong berdiri lalu membawa Taeyong untuk duduk di kasur yang berada di kamarnya. “Papi tunggu sini. Jangan kemana-mana.”
Kemudian Jeno berbalik menuju kamar Mark namun Taeyong lebih dulu menahan tangan Jeno. “Dek, nggak usah. Papi gapapa kok, kak mark lagi butuh waktu.”
Jeno melepaskan kaitan tangan Taeyong kemudian membalikkan badannya menatap Papinya itu, “Pi, kalau sampe bikin papi nangis kayak gini, kak Mark udah keterlaluan Pi. Papi diem.”
Jeno lari menuju kamar Mark kemudian membuka dengan kencang pintu kamar Mark dan terlihat Mark yang masih belum beranjak dari tempatnya yang sebelumnya Taeyong lihat juga. Terduduk di lantai sebelah kasurnya sambil menatap lantai kosong.
Jeno mengepalkan tangannya keras, sudah menyakiti temannya, harus juga kakaknya menyakiti Papinya.
“Sekarang apa lagi? Gue hidup juga udah salah dimata semua orang. Tampar gue.” Ucap Mark setelah melihat adiknya masuk sambil mengepalkan tangannya, seakan-akan Jeno ingin menampar berkali lipat di pipi kanan atau kiri miliknya. Mark sudah siap, ia memang berhak mendapatkan itu semua.
Jeno memberhentikan langkahnya. Hati Jeno sedikit teriris melihat Kakaknya yang hanya duduk di lantai lemah dengan tatapannya yang kosong. Bahkan suara yang barusan keluar dari mulut Mark, terlihat sangat hampa. Mark seperti kehilangan sesuatu yang bahkan dirinya tidak tau apa itu.
“KAK!” Jeno teriak histeris karena baru saja Mark membenturkan kepalanya ke arah meja yang berada di samping kanannya.
Tidak berhenti sekali dua kali, Mark terus-terusan membentukan kepalanya ke meja, tidak peduli dengan rasa sakit yang muncul di kepalanya. “Gue bego udah ngomong kayak gitu ke Haechan.”
Duk!
“Gue tolol udah ngomong kayak gitu di depan Papi.”
Duk!
Benturan kali ini lebih kencang daripada benturan sebelumnya. “Gue bego plus tolol udah bikin Papi nangis.”
Mark mendongakkan kepalanya, matanya terlihat kosong, tidak ada air mata disana, hanya kekosongan yang ada di mata Mark. “Jen, gue bodoh banget ya Jen. Papi emang bukan orang tua asli gue, tapi Papi yang udah ngebesarin gue.”
Mark kembali membenturkan kepalanya kearah meja membuat Jeno yang masih terkejut melihat kelakuan Kakaknya langsung berlari dan menahan kepala Mark.
“KAK!” Jeno teriak lagi di depan Mark sambil menjaga kepala Kakaknya agar tidak dibenturkan kembali ke meja.
Bahkan Jeno meringis, pasti rasanya sangat sakit.
Mark diam. Tak lama kemudian Mark menangis, dirinya merasa menjadi orang yang sangat bodoh bisa berbicara dan berlaku seperti itu hanya karena omongan orang lain yang bahkan nggak masuk di kehidupannya sama sekali dan bisa ngebuat dirinya merusak banyak hubungan dirinya entah dengan Haechan atau mungkin dengan Papinya.
Baru kali ini Jeno melihat Mark yang serapuh ini. Jeno pun tidak membenarkan Mark yang berbicara asal seperti itu entah ke Haechan atau Papinya.
Iya, Jeno sudah bertanya sebelumnya pada Hendery dan Hendery sudah menjelaskan semua tanpa terkecuali pada Jeno. Maka dari itu, Jeno baru saja ingin menemui kakaknya yang ada di kamar ternyata malah melihat Papinya menangis di depan kamar Mark.
Jeno tau, sangat tau. Mark itu sama dengan Haechan. Semua selalu ia pendam. Sejarang itu Mark bercerita hal hal yang sepenting ini pada Jeno. Dan yang selalu Jeno pastikan, Jeno tau. Kakaknya baik-baik saja. Nyatanya, jauh.
Jika Haechan membisu, maka cara Mark yaitu dengan mengucapkan semua demi menghilangkan pikiran yang berkecambuk di kepalanya itu dengan kalimat-kalimat sembarang. Kalimat yang hanya ada di pikirannya, dan seharusnya kalimat yang sebaiknya terus berada di pikirannya.
“Jen, pusing—”
Tubuh Mark sukses terjatuh tepat dipelukan Jeno. Kakaknya itu pingsan, tepat di depan kepalanya.
@roseschies