He's the one who understand me.
Hendery meletakkan ponselnya kemudian berbicara pada dua temannya melalui discord. “Bentar ya.”
Hendery melepas headset yang ia gunakan lalu berdiri dari kursi gaming miliknya kemudian keluar dari kamarnya. Ia membawa kakinya menuju kamar sang adik yang berada tepat di depan kamarnya.
Hendery paham, adiknya ini belum tidur dan sangat bisa Hendery pastikan, tidak bisa tidur.
Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Hendery membuka pelan pintu kamar adiknya. Hendery bisa melihat gumpalan di kasur yang berarti adiknya sedang tiduran dibawah selimut.
“Gak bisa tidur ya?” Tanya Hendery langsung sambil duduk di pinggir kasur Haechan.
“Hm.” Jawab Haechan singkat.
“Gue temenin.” Ucap Hendery kemudian duduk di sebelah kasur milik Haechan lalu mengambil ponselnya yang tadi sempat ia kantongi.
Tanpa menunggu jawaban Haechan, Hendery sudah siap sedia menemani adiknya tanpa bersuara lebih lanjut. Hendery hanya fokus pada ponselnya, membuka twitter atau sekedar membaca gosip panas di tengah malam.
Haechan menutup matanya perlahan. Ia sedikit merasa tenang sekarang.
“Bang.”
“Hm, apa?”
“Gak jadi.”
“Yaudah.”
Hening.
“Bang.”
“Apa?
“Gapapa, manggil aja.”
“Oke.”
Hening, lagi.
“Ba—”
“Tidur, de.”
Haechan menutup mulutnya kemudian kembali menutup matanya, ia harus tidur.