his story
Setelah ketiganya update di twitter dan merenggangkan tubuhnya masing-masing, ini saatnya pembicaraan serius diantara ketiganya.
Apalagi kalah bukan gosip.
“Jadi gimana itu Win?” Ucap Ten tiba-tiba membuat dahi Winwin mengkerut, bingung. Sedangkan Taeyong sudah menyamankan duduknya, siap untuk mendengar cerita Winwin yang sudah ia pendam rasa penasarannya beberapa hari lalu.
Sewaktu mereka melakukan video call, ada sesuatu yang sebenarnya ingin Winwin ceritakan mengenai kedua anak angkatnya itu, tapi akhirnya Winwin mengurungkan niatnya mengingat ketiganya akan bertemu di waktu dekat untuk membuat kukis.
Ten sudah memeluk satu toples berisi kukis khusus untuk mereka bertiga. Posisi duduk mereka bertiga sekarang adalah Winwin-Ten-Taeyong, makanya kenapa Ten yang memegang toples tersebut karena Ten berada di sebelah keduanya.
“Bentar deh gue haus minum dulu.” Ucap Winwin lalu berdiri mengambil gelasnya kemudian mengisi air ke dalam gelas miliknya.
“Belom juga cerita udah haus aja lo Win.” Ujar Ten lalu Winwin kembali duduk di tempatnya kemudian meneguk minuman dari dalam gelasnya.
“Makanya ini, biar nanti ceritanya nggak kepotong gue minum dari sekarang.” Ucap Winwin setelah menghabiskan setengah air minum yang berada di dalam gelasnya.
“Eh tunggu, gue isi gelas juga bentar. Lo juga gak Ten?” Tanya Taeyong membuat Ten mengangguk.
“Ambil sendiri.” Ucap Taeyong lalu berlari menuju dispenser meninggalkan Ten yang rasanya ingin melempar toples ini kearah Taeyong.
“Sialan lo Yong.”
Akhirnya Ten ikut berdiri membawa gelasnya untuk ia isi di dispenser, amunisi takut takut kalau tengah cerita Winwin ia haus.
Setiap beberapa malam Winwin selalu menengok ke kamar Jaemin ataupun Dejun untuk sekedar bertanya bagaimana sekolah atau belajarnya.
Seperti yang sudah banyak orang tau, Jaemin perlahan sudah membalas panjang pertanyaan Winwin. Jaemin semakin responsif. Berbeda dengan Dejun. Dejun masih sama seperti Dejun yang biasanya, menjawab seadaanya.
Winwin melangkahkan kakinya dengan tangan yang sibuk membawa nampan berisi satu gelas susu hangat dan beberapa camilan untuk Dejun. Siapa tau susu hangat dan camilan yang diberikan oleh Winwin bisa menemani Dejun, pikir Winwin.
Winwin juga ingat, ujian masuk universitas Dejun tinggal menghitung hari lagi. Winwin yang tidak ingin membuat Dejun stress akibat belajar yang tiada henti juga dirinya yang memaksa untuk tetap mengajarkan Jaemin.
Winwin meletakkan nampan yang ia bawa di atas lemari yang ada di sebelah pintu kamar Dejun kemudian mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Dejun.
Belum juga jari-jari milik Winwin sampai pada permukaan pintu kamar, telinga milik Winwin sudah lebih dulu mendengar suara sesegukan seseorang dari dalam kamarnya.
Tubuh Winwin membeku kala ia mendengar suara tangisan itu semakin keras. Ia tidak salah dengar kok, suara itu, suara Dejun.
Baru saja Winwin ingin memutar kenop pintu kamar Dejun, aksinya itu sudah kembali berhenti lagi setelah ada suara seseorang dari dalam kamar Dejun.
“Ayah, Bunda. Dejun kangen sama Ayah Bunda.”
“Ayah, rasanya Dejun mau ikut sama Ayah. Ayah, tolong peluk Dejun, ajak Dejun masuk kedalam pelukan Ayah.”
“Bunda, semalam bunda datang ke mimpi Dejun. Bunda mau ngajak Dejun ya? Bunda, tolong ajak Dejun.”
“Tapi, Bunda, kalau Dejun ikut Bunda dan Ayah, Jaemin sama siapa? Dejun nggak mau Jaemin ikut kita. Dejun mau Jaemin selalu bahagia.”
“Ayah, Bunda. Dejun mau cerita, sedikit, boleh?”
Hening, tidak ada suara lanjutan hanya ada suara sesegukan dan tarikan nafas panjang di dalam kamar Dejun.
Winwin terdiam dengan tubuh yang mematung di depan kamar Dejun.
Winwin merasa bersalah telah menjauhkan Dejun dan Jaemin dengan tempat tinggal aslinya belum lagi makam kedua orang tua Dejun dan Jaemin, ada di sana.
Apa ini semua salah Winwin yang gegabah?
“Ayah, Bunda, Dejun bahagia di sini. Dejun senang diterima dan diberi banyak kasih sayang sama Om Winwin juga Om Yuta.”
Ucapan tersebut sukses membuat Winwin menggigit bibirnya, menahan tangisannya itu.
“Om Yuta dan Om Winwin, baik sekali sama Dejun. Baiknya bahkan terlalu baik sampai sampai rasanya Dejun nggak berhak untuk mendapatkan semua kebaikan itu dari Om Yuta dan Om Winwin.”
“Ayah, Bunda, apa salah kalau Dejun merasa kasih sayang yang diberi Om Yuta dan Om Winwin, sama besarnya dengan kasih sayang yang diberi Ayah Bunda untuk Dejun?”
“Hati Dejun rasanya hangat dan terasa dekat dengan Ayah dan Bunda disaat Om Yuta dan Om Winwin berada di dekat Dejun.”
Tubuh Winwin sudah tidak kuat menahan untuk tetap berdiri, ia bahkan jatuh terduduk di depan pintu kamar Dejun. Kalimat demi kalimat yang masuk ke dalam kuping Winwin, rasanya ingin Winwin menarik lelaki tersebut ke dalam dekapannya.
“Ayah, Bunda, Dejun bahagia bukan karena hanya itu. Jaemin di sini bisa nemuin temen yang cocok dengan dia. Bunda, ingatkan Dejun untuk tidak terlampau bahagia sampai rasanya ingin terbang sampai merusak genteng rumah Om Yuta. Dejun bahagia sekali, Bunda.”
“Jaemin, sejak dulu selalu menyendiri. Jaemin di sini menemukan temannya, Bun. Dejun, bahagia sekali.”
“Om Yuta dan Om Winwin, baik sekali. Ayah, Bunda, Dejun dan Jaemin rasanya seperti menemukan tempat singgah kedua yang begitu nyaman.”
“Dejun merasa bersalah karena ternyata Dejun menemukan tempat singgah yang sama seperti Ayah dan Bunda.”
“Ayah, Bunda. Gimana caranya Dejun bisa lebih terbuka sama Om Winwin dan Om Yuta?”
“Dejun ingin membalas semua perlakuan baik hingga kasih dan sayang yang diberikan Om Yuta dan Om Winwin untuk Dejun.”
“Ayah, Bunda. Dejun, sayang sama Om Yuta dan Om Winwin, sebesar Dejun sayang Ayah dan Bunda.”
Dejun menangis sejadinya, air matanya sudah membasahi setengah buku ujian miliknya.
Dejun, bukan tidak tau gimana caranya ia membuka diri untuk kedua omnya yang sudah berusaha untuk terus menghidupkan dirinya dan adiknya itu. Tetapi, Dejun rasanya seperti bersalah, entah mengapa.
Tetapi, semakin ia seperti ini, rasa bersalahnya akan semakin besar. Lagi, ia bingung dengan dirinya.
Dejun, lelah. Dejun lelah untuk tetap baik baik saja. Dejun lelah untuk terus bersikap sebagai orang tua juga sebagai kakak untuk Jaemin.
Semua terasa terburu-buru bagi Dejun. Namun, Dejun merasa dipaksa oleh keadaan.
Tidak, Dejun memaksa dirinya sendiri. Bukan, bukan keadaan yang memaksa dirinya.
Dirinya terlalu sibuk untuk terus membahagiakan adik satu-satunya, mencoba untuk tidak mengecewakan kedua omnya yang sudah siap menampung dia dan adiknya.
Tetapi Dejun lupa, dirinya sudah terlalu lelah untuk melakukan semua hal secara bersamaan. Dejun lupa, ia membutuhkan tempat cerita, mengeluarkan semua keluh kesah yang ia rasakan belakangan ini.
Dejun terlalu keras dengan dirinya sendiri.
Semua materi ujian, rasanya sudah terlalu menumpuk dengan rasa lelah di dalam kepalanya dan Dejun, tidak tau kemana ia harus mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Adiknya? Tidak. Dejun tidak akan pernah mau membuat adiknya itu khawatir dengan dirinya.
Om Yuta dan Om Winwin? Dejun rasanya terlalu merepotkan jika ia mengeluarkan keluh kesahnya.
Winwin yang masih terduduk dengan air mata yang terus menetes dari matanya langsung mengusap air mata tersebut lalu berdiri kemudian mencari kertas dan pulpen yang berada di dekat sana.
Hai, Mas Dejun.
Mas Dejun, mas adalah manusia paling kuat dan hebat bagi Om Winwin. Maafin Om karena sudah lancang mendengar curahan hati Dejun malam ini. Niat Om ingin memberikan susu dan camilan untuk menjadi teman Dejun. Tetapi, om sadar, bukan susu dan camilan yang Dejun butuhkan. Dejun butuh seseorang untuk mendengar semua keluh kesah yang Dejun jaga sendirian.
Mas Dejun, kalau mas lupa, om selalu ada di sini, di samping Dejun, di belakang Dejun, dan di depan Dejun. Om selalu ada untuk Dejun. Kalau mas Dejun masih malu untuk bercerita sama Om, pakai surat ini untuk balas ucapan Om.
Mas Dejun, capeknya mas, mau dibagi sama om? Om dengan sangat amat merasa senang kalau mas mau berbagi apa yang mas rasain ke Om.
Mas Dejun, terima kasih. Terima kasih sudah menyayangi Om Winwin dan Om Yuta sama besar dengan kedua orang tua mas. Kami, juga menyayangi mas dan nana sama besar seperti orang tua yang menyayangi anaknya sendiri.
Mas Dejun, bahagianya mas, menunggu tuh di depan.
Susu dan camilan untuk mas Dejun.
— Om Winwin.
p.s: kalau mas kangen sama ayah dan bunda, bilang ya nanti kita pergi jenguk ke makam ayah dan bunda mas dan nana. dengan senang hati, kami akan antarkan kemanapun mas dan nana ingin pergi.
p.s.s: terima kasih, sudah bertahan dan terus bertahan, mas.
p.s.s.s: aduh tintanya habis, yaudah pokoknya, om selalu ada buat mas di sini.
Setelah menulis surat tersebut, Winwin memasukkan surat tersebut melalui lubang bawah pintu lalu mengetuh pintu kamar Dejun kemudian Winwin langsung lari meninggalkan kamar Dejun.
Ten dan Taeyong yang dengan khidmat mendengar cerita dari Winwin ikut menangis bombay.
“Hiks— Mas Dejun.” Ucap Ten disela-sela tangisannya itu.
Sedangkan Taeyong masih sibuk dengan tissue, hidungnya meler akibat menangis.
“Terus mas Dejun udah jawab surat lo Win?” Tanya Ten setelah mengelap air matanya.
Winwin menggelengkan kepalanya, “Belum, yang penting susu dan camilannya habis dimakan sama dia. Tadi pagi juga dia mulai senyum ke gue. Dia juga kaget mungkin adiknya tiba-tiba sakit. Gapapa, nggak mudah buat mas Dejun. Gue sama Yuta selalu sabar menunggu kok. Bahkan kami berdua nggak mengharapkan apa apa, cukup mas dan nana bahagia. Udah itu aja.”
Ten dan Taeyong mengangguk setuju.
Tak di sangka, tidak jauh dari di mana Ten, Taeyong, dan Winwin duduk. Hendery yang sebenarnya sedang ada di rumah karena hari ini ia tidak ada kelas sama sekali, niatnya ia ingin turun untuk mengambil yogurt dan cemilan di bawah setelah mendengar suara Winwin menyebut nama Dejun, Hendery langsung duduk di ujung tangga.
Iya, Hendery sejak tadi menguping di sana. Mendengarkan semua cerita yang dilontarkan oleh Winwin hingga akhir.
Tak jadi mengambil yogurt dan cemilan, Hendery langsung naik kembali ke kamarnya lalu mengambil ponselnya. Merencanakan sesuatu.
@roseschies