HOME
— Johnten oneshot AU —
Ten mengangkat koper yang ia bawa sambil menaiki tangga, sesampainya di depan pintu ia menghela nafas lalu membuka pintu berwarna putih tersebut.
Ceklek
“Welcome home, baby.” Johnny berlari dari pintu lalu berteriak antusias dan mengangkat kedua tangannya lalu memeluk tubuh kecil milik Ten.
Ten memberontak dan mengayunkan kedua kakinya yang melayang akibat tubuhnya yang sedang diangkat oleh Johnny, “Turunin John!”
Johnny terkekeh lalu menarik tangan serta koper milik Ten untuk masuk ke dalam ruangan lain di dalam rumahnya.
Johnny membawa Ten untuk duduk di sebuah sofa di ruang tamu lalu merangkul Ten, “Capek ya? Istirahat dulu sini di bahu aku.”
Ten menggeleng lalu berdiri dari duduknya dan mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan.
Salah satu bingkai foto tepat di atas laci ujung ruangan sukses mendapatkan atensi dari netra milik Ten.
Di sana, terdapat beberapa foto Johnny dan Ten saat sedang berkeliling dunia bersama dari Chicago sampai Thailand.
Johnny mendatangi Ten yang sedang memegang bingkai foto tersebut sambil mengelus lembut sampai jarinya terkena debu yang ada di kaca bingkai foto.
Johnny memeluk badan Ten dari belakang lalu menaruh kepalanya tepat di bahu Ten, ikut asyik melihat foto-foto tersebut.
“Hahaha aku inget ini kita foto pas sampai di Chicago, kamu kekeuh minta foto di depan sini sambil bawa Alex.” Johnny terkekeh mengingat kejadian tersebut, kejadian disaat keduanya berjalan-jalan mengitari Chicago.
Ten ikut tertawa mengingat kejadian tersebut, “Baru aja mau foto, Alex kabur hahahaha.”
“Iya! Bikin foto kamu nge-blur deh, tapi gapapa kamu tetep bagus di foto ini, lihat!” Johnny menunjuk salah satu bingkai foto lain dimana foto Ten dengan Alex yang keluar dari jepretan foto karena ingin kabur membuat Ten di foto tersebut sedikit bergerak.
“Kalau foto yang ini, kamu bela-belain duduk di pinggir jalan sambil minum kelapa bulat karena kecapean habis jalan-jalan di Thailand.” Tunjuk Ten ke salah satu foto Johnny yang sedang duduk di pinggir jalan sambil menyedot kelapa bulat saat mereka mendatangi Thailand.
Johnny tertawa, “Habis itu kamu tetep ngikut aku duduk ngemper di pinggir jalan tuh!”
“Kan capek John, kamu sih narik-narik aku kesana kemari.” Elak Ten membuat Johnny kembali tertawa, padahal yang menarik-narik sewaktu itu untuk jalan kesana kemari itu Ten sendiri, karena dirinya sedang antusias akibat akhirnya pulang kembali ke tanah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.
Johnny mencium pelipis Ten kemudian lanjut melihat bingkai foto lain dan menemukan foto keduanya yang sedang bergaya di depan rumah, kalau tidak salah ingat ini sewaktu mereka ingin berjalan-jalan mengitari Chicago tentu berama Alex.
Setelah selesai asyik melihat bingkai foto di atas laci ruang tamu, keduanya berjalan menuju kulkas untuk mengambil minum serta beberapa makanan yang ada di dalam kulkas.
Namun lagi-lagi netra Ten melihat beberapa foto yang tertempel tepat di pintu kulkas serta di samping kulkas.
Ten memegang foto dimana keduanya sedang di foto oleh Mama Suh.
Ten tertawa melihat foto tersebut membuat Johnny yang masih mengekor di belakang Ten bingung.
“Kenapa baby?”
Ten menunjuk foto tersebut lalu Johnny ikut tertawa mengingat kejadian yang ada di belakang foto tersebut.
“Ini jaman kita baru pacaran ya? Mama fotoin pas di acara perpisahan SMA. Lihat kamu kecil banget, aku inget ini aku pegangin bahu kamu biar nggak jauh-jauh dan nggak hilang dari pengawasan aku.” Johnny kembali menceritakan kejadian yang ada di belakang foto ini, oh tentu momen yang tidak akan pernah dilupakan oleh keduanya.
“Alay banget kamu dulu ya,” Kekeh Ten lalu Johnny kembali melingkarkan tangannya di pinggang Ten, entah dia hanya merasa nyaman memeluk Ten seperti ini sambil mengingat jaman-jaman dulu.
“Alay begini, kamu tetep senyum di foto tuh.” Ucap Johnny membuat pipi Ten memerah malu, benar juga.
“Kalau foto ini, kayaknya kita ambil pas H-1 kamu mau S1 di luar negeri ya?” Tanya Ten menunjuk foto selfie keduanya yang tertempel di depan kulkas.
Johnny mengangguk, “Habis selfie kamu ngambek soalnya nggak mau ditinggal aku, gemes.”
Ten mencubit pinggang Johnny, ia malu.
Ten membuka pintu kulkas, “Kamu mau minum apa John?”
“Air putih aja, aku ambil beberapa camilan ya? Kamu mau?” Tanya Johnny lalu Ten mengangguk, keduanya berpisah dengan Ten yang mengambil air putih di dalam kulkas dan Johnny yang mengambil camilan di tempat lain.
Setelah memegang botol minum berisi air putih Ten terdiam lalu membawa dirinya ke dalam kamar lalu menidurkan tubuhnya di kasur miliknya.
“John, i miss you..“
“Seharusnya, aku gak berharap kamu datang kembali lagi.“
“Seharusnya aku sadar dan menyadarkan diriku, tapi sulit John.“
Ten ingin berteriak namun dirinya enggan untuk berteriak lebih dan hanya membatin, terlalu sesak.
“Papaaa?” Terdengar suara anak lelaki berteriak dan berlari-lari menuju Ten yang masih menidurkan tubuhnya di kasur.
“Iya sayang, ada apa?” Ten langsung duduk di kasur lalu menghadapkan dirinya melihat anak lelaki yang baru saja berteriak memanggil dirinya dengan sebutan 'Papa'.
“Echanie lihat Daddy di ruang tamu!”
Ten tersenyum lalu berdiri dari kasurnya dan mengangkat tubuh milik Haechan untuk digendong.
“John, ternyata kamu kangen juga ya sama rumah ini.” Batin Ten sambil mengusap surai milik Haechan dengan lembut.
“Papa kenapa nangis? Daddy disini mau ketemu Papa, katanya kangen sama Papa!” Haechan mengangkat kedua tangannya ceria lalu mengusap air mata yang jatuh dari mata milik Ten.
Ten menggeleng lalu mengangguk dan mengelus kembali surai milik Haechan dengan sayang, “Papa nggak nangis, kelilipan nih. Haechan tiupin mata Papa dong.”
Lalu Haechan si anak gembil itu menuruti keinginan Papanya dan meniup mata milik Ten kemudian tersenyum dan mencium kedua kelopak mata milik Ten, “Udah!”
“Papa Turunin! Mau ketemu Daddy!” Berontak Haechan kemudian Ten menuruni Haechan.
Haechan berlari antusias lalu menunjuk ruang tamu kemudian bahunya tiba-tiba menurun, “Papa tadi ada Daddy disini lagi duduk, kok ilang ya?”
Lalu air muka Haechan kembali ceria dan antusias, “Oh! Daddy lagi ke dapur kali yaa Pa, bikinin Echan makan!”
Ten menahan tangisannya lagi, badannya hampir bergetar ia menguatkan dirinya lalu memanggil anak semata wayangnya ini, “Haechanie sini,”
Ten mengajak anaknya duduk di sofa yang katanya barusan Johnny duduki itu.
“Haechanie,” Suara Ten mulai bergetar membuat Haechan panik lalu memegang pipi Ten.
“Papa kenapa nangis? Haechan nggak bohong. Daddy tadi ada disini kok!”
Ten mengangguk, “Haechanie, dengerin Papa baik-baik ya sayang?”
Haechan mengangguk lalu mendengarkan Papanya ini berbicara dengan seksama.
“Haechanie, Daddy sudah tidak ada disini.”
“Kenapa Papa? Kenapa Daddy nggak disini? Daddy ninggalin kita berdua? Daddy jahat!” Berontak Haechan dalam pangkuan Ten namun Ten tersenyum dan menggeleng kemudian dibawa tangannya untuk mengelus surai milik Haechan dengan sayang.
“Daddy gak jahat sayang, Daddy dipanggil lebih dulu oleh Tuhan, Daddy orang baik, Daddy sekarang sudah di tempat yang lebih indah bersama orang-orang yang baik seperti Daddy.” Ucap Ten, ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada anak semata wayangnya ini.
“Kok cuma Daddy aja? Kenapa Daddy nggak ngajak Haechan dan Papa? ” Tanya Haechan membuat Ten meringis mendengar pertanyaan dari anaknya ini.
“Tuhan lebih sayang sama Daddy. Katanya Daddy mau, Haechan dan Papa bahagia berdua disini dulu, membuat lebih banyak kenangan berdua, dan juga Daddy mau Haechan dan Papa menjadi orang baik seperti Daddy. Haechan mau kan jadi orang baik seperti Daddy?”
Haechan mengangguk antusias, “Eum! Haechan mau! Haechan mau jadi orang baik seperti Daddy biar bisa ketemu Daddy lagi, Haechan mau jadi pengganti Daddy untuk Papa, Haechan mau jagain Papa seperti Daddy yang selalu jagain Papa! Papa kalau kangen Daddy, peluk Haechan aja yaa?”
Setelah itu, Ten memeluk Haechan dengan erat, air matanya kembali turun lalu ia membatin, “John, lihat anakmu. Benar-benar menggemaskan, bukan?“
“John, i miss you. A lot.“
Haechan asyik memeluk Ten tanpa mengetahui Ten yang sedang menangis, merindukan sosok pahlawannya, Johnny.
@roseschies🌸