It's All About Him
— Johnten oneshot AU
IB Song : I'm in love – Ra.D
1614 words.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Lelaki keturunan Thailand yang rela pergi jauh dan meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu demi menuntaskan pendidikannya di Negara orang lain.
Tidak mengenal siapapun, bahkan ia masih tidak terlalu lancar dengan bahasa sini.
Seperti orang linglung hanya menengok kanan kiri mencari bantuan kepada siapapun yang bisa membantu dirinya sambil membawa satu berkas berwarna merah di tangan kanannya. Kedua tangannya bahkan terlihat sangat penuh dengan barang akibat tangan kirinya yang juga sibuk memegang ponsel untuk melihat kearah maps yang ada di sana, matanya perlahan membaca maps guna memahami jalan yang ada.
Terlihat lelaki itu menggerutu kesal karena berkali-kali ia membaca maps tetapi tak kunjung memahami lokasi tersebut, hampir saja berkas yang berada di tangan kanannya itu berjatuhan.
Baru saja Johnny ingin membawa kakinya menuju tempat di mana lelaki tersebut berada tetapi lebih dahulu seorang lelaki mendekat kearahnya, keduanya berbicara dengan bahasa tubuh masing-masing dan sampai akhirnya mata milik si lelaki itu berbinar karena akhirnya ia menemukan seseorang yang ingin membantu dirinya menemukan gedung yang sejak tadi ia cari.
Mata itu, mata yang bisa membuat siapapun yang menatap terhipnotis, juga bibirnya yang terlihat mengerucut setiap menggerutu kesal ketika dirinya membaca maps terlihat sangat lucu. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, terlihat menggemaskan saat bersemangat ketika mengetahui dirinya dibantu oleh seseorang.
Semua hal tersebut, tidak pernah Johnny lupakan seumur hidupnya. Bahkan, debaran jantung yang pertama kali Johnny rasakan seumur hidupnya setelah mata miliknya memperhatikan mata milik lelaki tersebut. Johnny masih ingat.
Johnny tidak akan pernah melupakan, lelaki dengan berkas di tangan sebelah kanan, ponsel di tangan sebelah kiri, mata yang sangat memikat siapapun, bibir yang terlihat lucu, dan wajah yang terbilang cantik untuk seorang lelaki.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Kejadian tidak terduga, tepat awal masuk kuliah Johnny dapat melihat dengan matanya sendiri. Tidak jauh dari tempatnya, lelaki yang waktu lalu, lelaki yang selalu memenuhi kepala Johnny untuk beberapa waktu belakangan ini berdiri di dekat ruang kelas di mana kelas tersebut biasa digunakan untuk anak jurusannya.
Ternyata, mereka satu jurusan.
Lelaki tersebut terlihat tersenyum hingga matanya pun ikut tersenyum mendengar cerita teman yang ada di depannya. Tentu, menggunakan bahasa yang sama-sama keduanya pahami, bahasa inggris juga bahasa tubuh.
Karena waktu yang begitu mepet dengan mata kuliahnya juga dosen yang sudah jalan tidak jauh dari dekat kelasnya membuat Johnny ikut buru-buru masuk ke dalam kelasnya untuk duduk di tempat yang biasa ia duduki di dalam kelas.
Ternyata, sekedar ingin melemparkan senyuman dan bersapa dengan seseorang yang baru dan mampu membuat jantungmu berdebar bukanlah sesuatu yang mudah.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Waktu pertama kali pada akhirnya keadaan benar-benar berteman baik dengan keduanya, di mana akhirnya Johnny dapat membuka mulutnya untuk bersapa dengan lelaki tersebut adalah saat keduanya menjadi anggota Himpunan Mahasiswa di jurusan mereka.
Johnny yang dengan gugup membawa kakinya menuju lelaki tersebut yang sedang duduk sambil menulis di atas buku miliknya itu kemudian menyentuh pundak lelaki tersebut lalu berkata dengan suara yang entah keluar dari mulut Johnny terdengar sangat aneh, “Hai?”
Lelaki tersebut berhenti menulis lalu mendongak untuk melihat siapa orang yang sudah menyentuh pundaknya, setelah melihat keberadaan Johnny yang berdiri tinggi menjulang di sebelahnya itu, bibir miliknya tersenyum lebar, “Oh, Hai?”
Setidaknya, sudah ada kemajuan diantara keduanya.
Ternyata, setelah berhasil bersapa dengan seseorang yang baru dan mampu membuat jantungmu berdebar merupakan suatu hal yang mudah, jika memang keadaan berpihak padamu.
Sesuatu yang terlihat sangat sulit adalah mengatakan bahwa, aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihat dirimu. Itu, bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan, terlihat sangat sulit jauh lebih sulit.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Sesuatu yang dilakukan pertama kali selalu membuat gugup.
Terlebih untuk pertama kali di mana akhirnya Johnny mengungkapkan perasaannya kepada lelaki bernama Ten.
Jika aku tidak mengatakan kepadamu terlebih dahulu, Aku takut kehilangan dirimu.
Kata-kata tersebut tiap malam bermain dan berputar di kepala Johnny.
Johnny buru-buru mengambil ponselnya kemudian membuka ruang obrolan dirinya dengan Ten.
Johnny menuliskan sebuah pesan. Sedikit ragu-ragu, kemudian menghapusnya lagi.
Ia tulis, hapus, tulis, hapus. Rasanya semua tulisannya terasa aneh, maka dari itu Johnny memutuskan untuk mengirim sebuah pesan lain pada Ten.
Apa kau besok sibuk? Jika kau memiliki waktu, bisakah kau luangkan sedikit waktu untuk bertemu denganku? Sepertinya bertemu di kantin fakultas terdengar tidak buruk.
Dengan gugup, Johnny menunggu pesan miliknya di balas oleh si penerima.
Suara detak jantung miliknya bahkan sudah melebihi satu ketukan dibanding detak jam dinding yang berada di dalam kamarnya.
Jantungnya, rasanya ingin meledak saat ini juga ditambah terdengar suara notifikasi dari ponselnya menandakan seseorang membalas pesan Johnny.
Dengan harap, Johnny perlahan menggeser lockscreen ponselnya kemudian membuka ruang obrolan dirinya dengan Ten.
Oh, Johnny. Tidak, aku tidak sibuk. Baik, aku akan bertemu denganmu di kantin fakultas. Jam berapa?
Bagaimana kalau jam 12 jika kau tidak keberatan.
Tidak, aku tidak masalah. Baiklah jam 12. Sampai bertemu besok, Johnny.
Sampai bertemu besok, Ten.
Cepat cepat Johnny menutup ruang obrolan tersebut kemudian melempar ponselnya ke atas kasur kemudian tersenyum seperti orang gila sambil menatap langit-langit kamarnya.
Berdoa dengan segenap hati, besok akan menjadi harinya.
*****
Waktu terasa begitu cepat bagi Johnny.
Saat ini dirinya sudah duduk di meja kantin fakultas, menunggu kehadiran Ten. Bahkan Johnny sudah duduk sejak pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit.
Kehadiran Ten langsung mendapat atensi lebih dari Johnny, lelaki mungil tersebut berusaha untuk menembus keramaian kantin fakultas hingga akhirnya lelaki tersebut sampai di tempat di mana Johnny sudah duduk dengan manis di sana.
“Hai?”
“Duduk, Ten.”
Kemudian Ten langsung duduk di depan Johnny yang sedang diam-diam memperhatikan Ten di depannya.
Johnny berdeham lalu mencoba untuk membuka obrolan diantara keduanya, “Ekhm, mau makan dulu?”
“Oh, boleh. Aku mau pesan nasi katsu saja.”
“Ok. Aku sama sepertimu, biar aku yang pesankan ya? Tunggu sebentar.”
Johnny kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan membelah keramaian kantin fakultas untuk menuju kedai yang menjual nasi katsu. Kedai tersebut lumayan jauh dari tempat duduk keduanya.
Dari tempat duduknya, Ten diam-diam tersenyum tersipu malu melihat punggung Johnny yang sedang membelah keramaian demi memesan makanan untuknya.
Cukup memakan waktu yang banyak hingga akhirnya Johnny membawa satu nampan berisi dua piring nasi katsu juga dua minuman yang sebenarnya Ten tidak pesan sebelumnya namun Johnny inisiatif untuk membelikan Ten minuman.
Setelah sampai di tempat duduknya Johnny memberikan satu piring dan satu minuman untuk Ten kemudian mengambil miliknya lalu duduk kembali di depan Ten.
“Terima kasih, Johnny.”
“Tidak masalah, Ten. Makanlah, pelan-pelan. Aku belikan minum takut takut kau tersedak. Terlalu sulit hanya untuk membeli sebuah minuman di dalam. Ramai sekali.”
Ten terkekeh, memang sih ini jam istirahat. Banyak sekali mahasiswa berlalu-lalang di lorong kantin fakultas saling sahut menyahut memesan pesanan untuk mereka santap di waktu istirahat seperti ini.
“Hahaha, Bisa saja. Tapi, terima kasih banyak untuk inisiatifnya. Makan, John.”
Johnny mengangguk lalu mempersilahkan Ten untuk makan.
Untuk beberapa waktu kedepan, keduanya hening dan khidmat memakan makanan yang berada di depan masing-masing.
Setelah keduanya selesai dengan makanannya masing-masing dan tak lupa keduanya sudah meneguk minumannya masing-masing, saat saat yang Johnny tunggu akhirnya tiba. Degup jantungnya kian memburu, cepat.
Menghela nafas pelan, Johnny kemudian mulai membuka mulutnya untuk berbicara pada Ten di tengah keramaian kantin fakultas.
“Ten.” Panggilnya membuat Ten yang barusan sedang menunduk langsung mengangkat kepalanya lalu menatap mata Johnny yang mulai berbeda.
Mata tersebut, memancarkan aura yang berbeda. Hal tersebut membuat Ten menjadi salah tingkah sendiri.
“Iya?”
Johnny dengan pelan mengambil tangan milik Ten kemudian mengaitkan tangan tersebut dengan tangan miliknya. Kaitan tersebut terasa sangat pas. Tangan mungil milik Ten, sangat cocok di dekap di dalam tangan miliknya.
Johnny menatap tangan milik Ten kemudian mengusap punggung tangan Ten dengan ibu jarinya, ia usap perlahan merasakan halusnya kulit punggung tangan Ten kemudian mengangkat kepalanya untuk melihat lurus lurus wajah Ten.
Degup jantung keduanya seperti sedang berlomba siapa dulu yang lebih cepat saat ini.
Sebenarnya sejak pertama kali aku bertemu denganmu, Di suatu tempat jauh di dalam hatiku, Dirimu jatuh seperti gelombang yang kuat, Kau satu-satunya yang ku pikirkan sepanjang hari, Aku bisa menjadi kekasih yang baik untukmu, Aku juga ingin menjadi pelindung untukmu, Aku akan membuatmu menjadi lelaki paling bahagia di dunia.
“Eum, Maukah kau menjadi kekasihku?”
Terlihat tidak romantis akibat suara ramai dari kanan, kiri, depan, dan belakang namun kalimat yang dilontarkan oleh Johnny mampu diterima dengan sangat baik oleh kuping Ten, bahkan pipi milik Ten kian memanas melihat bibir milik Johnny yang menyunggingkan sebuah senyuman manis diakhir kalimatnya.
Tanpa berfikir lama dan tak mau buang waktu, Ten tersenyum hingga matanya ikut tersenyum. Senyumannya itu terlihat sangat bahagia lalu Ten mengangguk antusias.
Ten menerima Johnny menjadi kekasihnya.
Ten menerima Johnny menjadi seseorang yang mulai sekarang akan menemani dirinya seharian di dalam hidupnya.
Ten menerima Johnny untuk masuk ke dalam hidupnya.
Hari ini, Johnny berhasil memiliki lelaki tersebut secara utuh. Ten miliknya. Johnny miliknya. Keduanya saling memiliki satu sama lain.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Namanya yang sangat indah sama dengan pemiliknya.
Lelaki bernama Ten tidak hanya indah, tetapi sangat berharga.
Lelaki itu, sangat sangat berharga. Bahkan rasanya Johnny ingin sekali menjaga lelaki itu seumur hidupnya.
Lelaki yang mampu membuat Johnny merasakan degup jantung lebih kencang daripada biasanya. Lelaki yang mampu membuat Johnny merasakan apa itu jatuh cinta. Lelaki yang mampu membuat Johnny rasanya takut, kehilangan seseorang yang suatu waktu akan meninggalkannya.
Tetapi, Johnny percaya, dirinya percaya pada Ten juga keadaan diantara keduanya.
Aku pikir aku tak akan pernah jatuh cinta. Tapi aku jatuh cinta, karena aku ingin mencintaimu.
Mungkin jika orang tersebut bukanlah Ten, Johnny tidak akan bisa sejatuh cinta ini dengan seseorang.
Namanya, Ten Chittaphon Leechaiyapornkul.
Kau begitu menakjubkan.
@roseschies.