it's hurts, for us.

Sesampainya Mark dan Hendery di kediaman Suh, keduanya langsung naik ke lantai dua di mana kamar milik Haechan dan Hendery berada.

Untuk masalah ini, Hendery sendiri tidak mau banyak ikut campur maka dari itu dirinya meninggalkan Mark tepat di depan kamar Haechan lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengirim pesan kepada entah siapa yang bisa dia recokin kali ini.

Mark berdiri menatap pintu kamar Haechan kemudian menarik lalu membuang nafas demi menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.

Mark takut.

Tapi mau bagaimanapun, dirinya harus meminta maaf kepada Haechan sebelum terlambat.

Mark mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar Haechan.

“Masuk aja abang.” Teriak Haechan dari dalam kamarnya, pikir Haechan Hendery yang mengetuk pintu tersebut karena yang ia tau kedua orang tuanya pasti belum pulang.

Setelah mendengar jawaban dari dalam, Mark membuka pintu kamar Haechan.

Netra milik Mark dapat menangkap pemandangan di mana Haechan yang sedang duduk di meja belajarnya dan sepertinya sedang mengerjakan tugasnya atau mungkin baru selesai mengerjakan tugasnya.

“Chan.”

Mendengar suara yang sangat Haechan kenal itu membuat Haechan membeku. Tangannya yang sebelumnya sedang menulis di atas buku langsung berhenti, badannya pun ikut kaku.

Haechan tidak memalingkan pandangannya dari buku tugas miliknya sedangkan Mark semakin mendekat kearah dirinya yang sedang duduk di meja belajar.

Mark menjathkan tubuhnya, berlutut di samping kursi yang sedang Haechan duduki.

Sedangkan Haechan sendiri tidak menyangka kalau tiba-tiba Mark berlutut di samping dirinya yang sedang duduk di kursi. Haechan mengeratkan pegangan pada pulpen yang sedang ia pegang saat ini.

“Chan.”

Hening. Tidak ada jawaban sama sekali bahkan Haechan sama sekali tidak berniat untuk membuka mulutnya untuk menjawab panggilan tersebut. Haechan sibuk mengeratkan pegangan pada pulpennya, menahan dirinya untuk tidak memalingkan pandangan untuk memandang Mark yang sedang berlutut di samping dirinya.

“Adek ...”

Panggilan itu ....

Haechan rasanya mau mengambil earphone untuk menyumpal kupingnya. Mendengar suara Mark hanya bisa membuat dirinya dilanda kegundahan.

Ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya sangat merindukan suara ini, terlebih panggilan tersebut yang memang seharusnya keluar hanya dari mulut seseorang bernama Mark Jung.

“Chan, a— aku—”

Belum juga Mark menyelesaikan rentetan kalimat yang akan ia ucapkan namun dirinya sudah terdiam kembali menutup mulutnya rapat rapat. Dirinya merasa bahwa sudah sangat tidak mungkin akan mendapatkan maaf dari Haechan. Mark sudah keterlaluan.

Tetapi, dirinya kembali berfikir bahwa tidak ada salahnya meminta maaf. Setidaknya, Mark sudah berusaha untuk meminta maaf, kan? Juga, dirinya memang bermaksud untuk berbuah. Entah untuk dirinya atau orang yang ada di sekitar. Semua kekacauan ini, Mark harus bertanggung jawab.

“Maaf.”

“Chan, aku minta maaf. Aku minta maaf. Aku tau susah bagi kamu untuk memaafkan aku. Chan, aku minta maaf...”

“Kak. Keluar.”

“Chan—”

“Aku bilang keluar. Keluar kak. Aku nggak mau lihat kakak dan yang paling utama aku nggak mau denger suara kakak.”

“Tolong— Keluar kak.”

“KELUAR KAK”

Haechan teriak tanpa melihat kearah Mark bahkan Haechan memunggungi dan melihat kearah yang berlawanan arah di mana Mark berada. Dirinya harus kuat kuat menahan air mata yang sepersekian detik mungkin akan jatuh dari matanya.

Mendengar teriakan dan penolakan Haechan membuat tubuh Mark bergetar. Ia berdiri dari berlututnya itu lalu menatap punggung Haechan.

Punggung Haechan bergetar.

Rasanya Mark ingin menampar dirinya sendiri.

Dulu dirinya lah yang susah payah menjaga Haechan agar lelaki itu tidak menangis.

Tetapi sekarang, dirinya merupakan alasan mengapa Haechan menangis. Bahkan tepat di depan matanya, Mark melihat punggung Haechan yang bergetar. Tangisan itu mati-matian Haechan tahan.

“Maaf. Aku benar-benar minta maaf tulus dari hati aku yang paling dalam. Chan, selama ini kalimat aku pasti jahat banget ya ke kamu. Seharusnya kamu nggak pernah dapetin ucapan kayak gitu dan bahkan kamu nggak layak dapet kalimat jahat seperti itu. Tapi sayangnya, semua kalimat jahat itu kamu dapetin dari aku.”

Mark menarik nafasnya, matanya terdiam menatap punggung Haechan yang bergetar.

“Chan, aku nggak akan berhenti buat ngerubah diri aku dan juga memperbaiki hubungan kita. Mungkin rasanya tidak terlalu diri kalau aku meminta hubungan yang sama dengan sebelumnya. Tetapi aku tau, semuanya nggak akan pernah sama. Tapi Chan, aku nggak akan pernah berhenti untuk apapun itu. Aku beri kamu ruang, akupun memberi ruang untuk diri aku sendiri. Jangan lupa makan, ya?”

Sebelum meninggalkan kamar Haechan, Mark meninggalkan sebungkus jajanan kecil dan ia letakkan di atas meja belajar Haechan. Jajanan itu merupakan jajan favorit Haechan sejak dulu dan Mark nggak akan pernah melupakan hal tersebut seumur hidupnya.

Mark keluar dari kamar Haechan lalu menutup pintu kamar tersebut pelan.

Di saat Mark menutup pintu kamar Haechan, lelaki yang masih berada di dalam kamar tersebut kemudian langsung menangis lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja, meredam tangisannya yang semakin keras. Haechan menangis meraung-raung di dalam sana.

Bahkan Mark yang masih berada di depan pintu, dirinya masih memegang kenop pintu kamar Haechan. Mengeratkan pegangan tangannya pada kenop pintu kamar Haechan.

Tangisan itu, begitu menyakitkan untuk di dengar oleh kuping Mark.

Semakin menyakitkan bagi Mark adalah alasan dibalik tangisan itu. Dirinyalah yang membuat tangisan itu keluar dari adik manisnya.

Mark menjongkokkan dirinya tepat di depan pintu kamar Haechan, menarik nafasnya lalu menghembuskan nafasnya. Ternyata menahan nangis itu sakit sekali ya.

Mark mengepalkan tangannya kuat kuat demi menahan tangisannya yang mungkin sedikit lagi akan keluar lalu kembali menarik dan membuang nafas untuk mengatur dirinya.


@roseschies