just two of us
Sebelum akhirnya Ten mematikan ponselnya, ia sempatkan untuk melihat pertengkaran antara dua anaknya di grup terlebih dahulu lalu mematikan ponselnya sambil terkekeh, pasti abangnya habis ngeledekin adiknya.
“Kamu udah liat grup belum Jo?” Ucap Ten lalu menidurkan tubuhnya di kasur sedangkan Johnny masih memakai handuk dengan tubuh bagian atas yang masih telanjang tanpa baju, hanya saja sudah menggunakan celana tidur.
Johnny menggeleng, “Kenapa emang yang?”
“Si babang kayaknya ngeledekin dede lagi. Soalnya si dede tumbenan takut matiin lampu bawah.” Ucap Ten kemudian menarik selimut untuk menutupi setengah tubuhnya, rasanya hangat dan nyaman.
Johnny tertawa, “Paling diajakin nonton horror tadi pas main. Emang si babang tuh, padahal kalo dedenya takut, yang diribetin dia juga.”
Ten mengangguk setuju, karena keduanya selalu begitu, “Mereka tuh ada ada aja emang.”
“Hahaha, gapapa anak-anak kita kan emang luar biasa, kelakuannya.” Ucap Johnny lalu mengalungkan handuknya di leher kemudian duduk di kasur dan menyenderkan tubuhnya di kepala kasur.
Ten menghadapkan tubuhnya ke arah Johnny lalu mencubit perut Johnny, “Ih pake baju Jo, kamu ngga kedinginan apa? Mana keramas lagi.”
Johnny menggeleng, tetesan air masih sedikit menetes dari rambut Johnny, tubuhnya masih dibiarkan tanpa sehelai benang.
Johnny masih sibuk membalas beberapa chat rekannya dan berbincang dengan kedua temannya, membahas kegiatan untuk besok sebenarnya dan Ten tak ada masalah jika dirinya dicuekin, karena Ten tau, Johnny sedang mengurus kerjaannya.
Ten akhirnya membawa kepalanya untuk tidur diatas paha Johnny yang sedang selonjoran di atas kasur.
Melihat Ten yang tidur diatas pahanya, Johnny langsung membawa tangannya untuk mengelus surai lembut milik Ten. “Kamu nggak cape yang?”
Ten menggeleng, “Ngga kok, kalau aku capek, kamu apa? Yang daritadi banyak kerjaan kan kamu, aku cuma motret, terus berakhir ke cafe hehehe.”
Johnny kemudian mencubit gemas hidung Ten lalu kembali mengusap kening dan rambut Ten. “Gapapa yang penting kamu seneng dan ngga capek.”
Mata milik Ten sudah mulai menutup pelan-pelan seiring dengan elusan yang diberikan Johnny di kepalanya.
“Sayang.”
“Hm?”
Johnny meletakkan ponselnya lalu menatap wajah suami mungilnya kemudian membawa tangan satunya untuk ia letakkan diatas perut Ten sedangkan tangan satunya tidak berhenti mengelus surai milik Ten.
“Gapapa, manggil aja.”
Ucapan Johnny membuat Ten membawa tangannya untuk mencubit pinggang milik Johnny.
“Aduh! sakit yang ihh, ngga pake baju nih jadi langsung kena kulit.” Johnny mengaduh kesakitan padahal mah cuma geli aja.
“Pake baju ah Jo, masuk angin kamu tuhh.” Omel Ten kemudian membuka matanya, tak disangka wajah Johnny sudah dekat dengan wajahnya. Johnny sibuk melihat wajah suami mungilnya itu.
Johnny mengelus kening, pipi, sampai hidung, dan berakhir di dagu Ten, “Sempurna.”
Ten langsung buru-buru mencubit kembali pinggang Johnny lalu membalikkan tubuhnya, menghindari tatapan mata Johnny, pipinya memanas, malu dia tuh meskipun udah berpuluh tahun juga. Siapa sih yang ngga lemah ditatap oleh seorang Johnny Suh?!
“Pake bajuu ih Johnnyyyy bukan gombal!”
Johnny terkekeh, “Iyaiya sayang, ini aku mau ganti baju tapi kamunya boboan diatas paha aku gimana berdirinya?”
Ten langsung berpindah tempat lagi lalu Johnny berdiri untuk mengambil piyama atasannya kemudian ia pakai sambil jalan kembali ke arah kasur.
Setelah terpasang semua kancing, Johnny menidurkan tubuhnya diatas kasur.
Johnny melebarkan tangan kirinya kemudian menyuruh Ten untuk menidurkan kepalanya diatas tangannya. “Sini, boboan di sini. Jadi bantal kamu.”
Ten langsung membawa kepalanya untuk tidur diatas tangan Johnny yang akan menjadi bantalnya malam ini.
Ten kembali menghadapkan tubuhnya menghadap ke arah Johnny, Johnny kemudian merangkul Ten, membawanya ke dalam dekapan hangat tubuhnya.
“Tidur, sayang.” Ucap Johnny kemudian mengelus punggung Ten.
“Hmm,” Ten menghirup aroma tubuh Johnny dalam dalam, sangat nyaman. Ia sangat menyukai posisi tidur seperti ini, tentu Johnny hapal betul.
Sebagai penutup hari, Ten mengecup dagu Johnny sedangkan Johnny membalas dengan mengecup pucuk kepala Ten.
@roseschies