🌸
“Hen?” Panggil Dejun disebrang sana setelah Hendery menerima panggilan dari Dejun.
“Masuk Jun, sorry ya gue tadi dipanggil lagi sama papa gue.” Ucap Hendery kemudian duduk di kasurnya lalu menyenderkan badannya supaya lebih nyaman.
Dejun mengangguk lalu diam sibuk melihat kearah komputernya karena Hendery bisa lihat cahaya terang yang terpancar dari komputer milik Dejun di sana.
“Oh iya, coba lo buka websitenya.” Ucap Hendery, untung dia gak lupa niat mereka video call itu apa.
Dejun kembali mengangguk lalu mengetikkan website daftar ujian.
Sejun kemudian membalikkan kameranya membuat Hendery dapat melihat halaman utama website.
“Pencet yang kanan atas itu Jun. Terus lo sign up, masuk aja sesuai di sana.”
Dejun mengangguk lalu memencet sign up.
Namun, terlihat di sana tulisannya gagal.
“Begitu Hen keluarnya, daritadi. Gak mungkin overload kan jam segini?”
“Kayaknya lagi error atau maintenance deh websitenya.”
Dejun membalikkan kembali kameranya membuat Hendery saat ini bisa melihat wajah cemberut Dejun yang jarang sekali Hendery lihat.
Habis, biasanya Hendery cuma bisa liat wajah Dejun yang cuka lurus lurus saja.
“Gimana ya....”
Dejun masih mengotak-atik sambil mencari berita sedangkan Hendery diam sambil berfikir.
“Jun,”
“Apa?”
“Gue bantuin mau? Gue yang sign up dan daftarin, semisal boleh nanti lo kirim aja data data lo. Tapi ini sih kalo lo mau aja..” Tawar Hendery membuat Dejun berfikir sejenak.
Dejun akhirnya mengangguk menerima tawaran Hendery, lagi juga Dejun percaya Hendery tidak akan aneh aneh dengan data data miliknya, kan?
“Boleh, tapi ngerepotin lo ga Hen?”
Hendery menggeleng, “Ga kok, santai aja nanti gue coba terus. Lo cukup nikmatin weekend lo pergi besok, daftar ujian lo aman sama gue.”
“Thanks ya Hen.”
“Iya Jun, santai aja nanti kirim ke imess gue ya.”
Dejun mengangguk.
Hening. Keduanya hanya diam tanpa suara.
Oh, ada suara typing keyboard Dejun. Hendery rasanya seperti sedang menonton tayangan asmr keyboard atau study vlog. Tapi bedanya ini private study vlog.
Entah antara Dejun lupa kalau mereka masih video call atau memang keduanya yang tidak ada niat untuk mematikan video call tersebut.
“Jun.” Panggil Hendery tiba-tiba membuat Dejun terkejut mendengar suara lelaki.
Dejun ternyata lupa, video call mereka masih tersambung.
“Loh, gue pikir udah lo matiin?” Ucap Dejun membuat Hendery menggaruk pelipisnya, dia malah nungguin Dejun yang mematikan sambungan telepon mereka.
“Belom, gue pikir lo mau matiin. Takutnya masih ada butuh bantuan jadi belom gue matiin.”
“Lo ga tidur Jun? Bukannya besok lo pergi?” Lanjut Hendery.
Selanjutnya Dejun langsung menguao membuat Hendery terkekeh kecil dilanjut dengan Dejun yang langsung malu karena ketauan menahan ngantuknya.
“Tidur lo.”
Dejun mengangguk, “Oke, thanks ya Hen. Sorry sekali lagi ngerepotin.”
Hendery tersenyum kecil, “Ga kok Jun.”
“Duluan Hen.”
“Iya Jun, gue belakangan.”
Mendengar ucapan Hendery, Dejun langsung menahan tangannya yang baru saja ingin mematikan sambungan telepon mereka.
“Bentar, gue penasaran kenapa setiap gue bilang duluan selalu lo jawab belakangan?”
Hendery tertawa, “Iya kan lo bilang lo duluan, ya gue belakangan. Gitu pokoknya.”
Dejun menggaruk kepalanya, bingung.
“Yaudah ga usah lo pikirin juga Jun.”
“Gapaham gue, yaudah dul— Gue matiin ya Hen.”
Hendery tertawa mendengar Dejun yang berhenti mengucapkan duluan pada dirinya karena tau apa jawaban yang akan diberikan oleh Hendery untuk Dejun.
“Iya Jun.”
Akhirnya sambungan mereka benar benar mati, sedangkan Dejun masih berusaha mencari titik tentang 'belakangan' Hendery.
Sampai akhirnya Dejun tertawa sendiri setelah paham apa yang dimaksud Duluan dan Belakangan itu.
@roseschies