Late Love

— Johnten oneshot AU —

⚠️ angst, mcd.

Beberapa adegan terinspirasi dari lagu MC Mong – I love u oh thank you, boleh banget sambil dengerin lagu itu!


Ruangan penuh berwarna putih dengan bau yang membuat indera penciuman mengenal bahwa ruangan ini, kamar rumah sakit.

Ten membawa tangannya yang terbalut dengan infus menyentuh surai milik Johnny, mengelus lembut surai tersebut lalu dibawanya tangan tersebut menyentuh dua mata milik Johnny.

“Jo, pulang gih.”

Johnny menggeleng lalu memegang tangan milik Ten dengan kedua tangannya sambil memandang wajah pucat Ten.

“Jo, mata lo yang berkantung itu udah sampe berkantung lagi.”

Ten mengelus pipi Johnny, membuat yang dielus menutup matanya, merasakan elusan tersebut.

“Gue pulang, kalo lo juga pulang Ten. Gue temenin disini, sampe lo sembuh.”

Ten tersenyum, “Jangan gitu, kasian gebetan lo nanti nyariin Jo.”

Johnny menggeleng lagi.

“Gue gak punya gebetan Ten, dan stop nyuruh gue cari pasangan. Gue gak minat.”

“Iya iya deh, jangan marah dong. Galak.”

Johnny membawa tangannya untuk mencubit hidung mancung milik Ten, “Nggak galak, sembarangan.”

Ten mengaduh kesakitan, “Aduh hidung gue nanti pesek kayak lo. Jangan cubit-cubit!”

“Mana ada hidung gue bagus nih!” Elak Johnny lalu kembali memegang tangan berinfus milik Ten, dielusnya dengan sayang tangan tersebut membuat Ten tersenyum manis.

“Pulang ya Jo? Istirahat. Nanti kalo kayak gini, yang ada lo yang ikutan sakit.”

Ten tetap kembali memaksa Johnny untuk pulang, beristirahat dirumah dengan tenang.

Ten tidak ingin terus menyusahkan Johnny, mata milik Johnny sudah sangat membutuhkan istirahat, lihat kantungnya bahkan sudah berkantung lagi.

Johnny tetap menggeleng, menolak untuk pulang dan beristirahat.

“Jo, nurut dong. Nanti kalau lo jatuh sakit juga, gue yang ikutan sedih. Istirahat di rumah ya?”

Johnny menghela nafas, mau bagaimanapun, dia tetap akan kalah dengan paksaan Ten diikuti dengan puppy eyes milik Ten itu.

“Yaudah iya, gue pulang deh. Lo cepet sembuh tapi ya? Nanti kita jalan-jalan ke taman, mau main kan?” Johnny mengelus surai milik Ten, menyingkirkan poni Ten yang sedikit menutup matanya itu.

Ten mengangguk, “Iya, gue dikit lagi sembuh kok. 2 hari lagi. Janji ya, kita jalan-jalan ke taman kalau gue udah sembuh?”

“Iya, gue janji bakal ngajak lo kemanapun lo mau, asal lo sembuh dulu.”

“Iya iyaa Jo, bawel deh. Pulang gih,”

Johnny mengangguk lalu dengan tidak rela melepas tangan Ten kemudian berdiri dari tempat duduknya, mengambil tas yang ia bawa lalu kembali duduk di sebelah kasur milik Ten.

“Kok duduk lagi sih?”

“Nggak mau pulang, Ten. Gue disini aja ya nemenin lo.”

Ten membawa tangannya menyentil dahi Johnny membuat Johnny meringis.

“Iya iya pulang ini gue pulang, jangan KDRT. Jangan bandel, minum obat lo. Cepet sembuh, Ten.” Johnny berdiri lagi dari tempat duduknya, mengusak surai milik Ten lalu berpamitan dengan sahabatnya itu.

Ten melambaikan tangan dan melihat punggung Johnny yang mulai menjauh dari dirinya, dan kemudian hilang dibelakang pintu.


Johnny membawa kakinya, melangkah menuju mobil miliknya yang terparkir di basement rumah sakit.

Memakai sabuk pengaman, kemudian menyesuaikan aturan bangku dan setir mobil miliknya agar ia lebih nyaman mengendarai mobil tersebut.

Johnny menyalahkan mobilnya lalu menjalankan mobil tersebut, keluar dari basement rumah sakit.

Jarak rumah sakit ke rumah Johnny tidak terlalu jauh namun lumayan memakan waktu dikarenakan jalur yang dilewati oleh Johnny termasuk jalur yang selalu macet.

Dengan kecepatan normal, Johnny melajukan mobilnya di sepanjang jalan.

Bruk!

Naas, mobil milik Johnny ditabrak oleh pengendara lain dengan kencang membuat mobil milik Johnny menabrak mobil yang berada di depan.

Cepat, cepat sekali tabrakan beruntun itu terjadi.

Bahkan, Johnny tidak ingat sama sekali apa yang baru saja terjadi.


Vonis dokter ternyata tepat.

Tepat 2 hari setelah Johnny pulang, beristirahat. Ten dinyatakan sembuh dari penyakit tifusnya.

Namun, selama 2 hari ini, Johnny sama sekali tidak datang menjenguk Ten di rumah sakit lagi, pun tidak mengabari sama sekali.

Ten pikir, Johnny benar-benar mengistirahatkan dirinya di rumah dan Ten tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Lagi pula, lelaki itu terlihat sangat membutuhkan istirahat.

Hari ini, ia dijemput oleh sahabatnya, Taeyong.

Taeyong sudah membantu Ten mengemasi barang serta pakaian milik Ten yang ia bawa ke rumah sakit.

Ten tidak perlu bertanya kemana kedua orang tuanya, ia tau pasti. Kedua orang tuanya, sedang berada di luar kota.

Setelah selesai berkemas, dan Taeyong yang sudah selesai mengurus administrasi serta pembayaran dan menebus obat yang harus Ten bawa pulang, keduanya berjalan menuju parkiran dimana mobil milik Taeyong terparkir rapih di sana.

“Yong, anterin gue kerumah Johnny dulu dong. Gue telpon kenapa dia nggak angkat-angkat ya. Gue kangen sama dia deh. Anterin ya Yong?” Ten meminta lebih kearah memaksa Taeyong untuk mengantarkan dirinya kerumah Johnny, sahabatnya itu.

Taeyong terdiam.

“Ya Yong, anterin yaaa?” Ten menarik ujung baju milik Taeyong, memohon pada Taeyong dengan puppy eyes miliknya.

Taeyong menyerah, lalu dirinya melajukan mobil miliknya menuju suatu tempat dimana Johnny tinggal.


Taeyong memarkirkan mobilnya tepat di depan tempat dimana Johnny tinggal.

Ten terdiam memandang sekitar.

“Yong, kenapa gue dibawa ke makam?” Ten meminta penjelasan namun Taeyong tetap terdiam, diam-diam ia menahan air matanya untuk tidak keluar walaupun sudah terbendung.

Ten memegang lengan milik Taeyong, menggoyangkan lengan tersebut kencang meminta penjelasan membuat badan milik Taeyong bergoyang.

“Yong, jawab gue. Kenapa kesini?” Ten berteriak masih meminta penjelasan membuat Taeyong tak lagi menahan bendungan air matanya itu, air mata tersebut meluncur bebas turun dari pelupuk matanya.

Melihat air mata yang turun dari mata Taeyong membuat dada milik Ten sakit, ia sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.

Terlebih, ini di sebuah makam, dan Taeyong menangis.

Taeyong membawa tubuhnya, memeluk kencang badan Ten dan melantunkan kata maaf terus menerus.

“Yong, jawab!” Dipelukan Taeyong, Ten masih berteriak sambil menahan tangisannya, dadanya sakit seperti terhujam ribuan pisau.

Taeyong mengelus punggung Ten masih melantunkan kata maaf membuat Ten menangis terjerit di sana.

“Maaf, maaf Ten. Maaf.”

Ten menangis, sesegukan dengan Taeyong yang masih mengelus punggung Ten, menenangi sahabatnya itu.

Taeyong memandang wajah milik Ten, menghapus jejak air mata yang ada di pipinya, “Turun dulu ya?”

Ten memegang erat tangan milik Taeyong, memberhentikan aksi Taeyong yang ingin turun dari mobil, “Yong, takut. Nggak mau.”

“Ten, turun dulu ya?”

Pegangan Ten melemah, Taeyong akhirnya turun dari mobilnya lalu membantu Ten turun dari mobilnya.

Taeyong berjalan disebelah tubuh Ten yang semakin melemah semakin ia membawa kakinya menuju makam.

Keduanya berhenti di depan makam, dimana nisan bertuliskan nama salah satu sahabat tersayang Ten itu terukir dengan apik.

Ten menjatuhkan badannya, bersimpuh di depan makam Johnny.

Ten kembali menangis, hingga badannya bergetar.

Taeyong masih berdiri, berdiam. Ia sedih, melihat sahabatnya rapuh, bersimpuh di depan makam sahabatnya yang lain.

Taeyong ikut jongkok di sebelah Ten, membiarkan Ten mengeluarkan segala macam emosi yang dia miliki.

Taeyong mengangkat tubuh Ten dan membawa Ten duduk di tempat yang disediakan di sebelah makam Johnny.

Taeyong merangkul pundak turun milik Ten dengan Ten yang masih melantunkan kata-kata seperti,

Kenapa“ “Jo, Kenapa“ “Jahat.“ “Gue nyuruh lo istirahat di rumah, bukan istirahat di sini.“ “Gue nyuruh lo istirahat sebentar, bukan istirahat selamanya.“ “Jo, gue udah sembuh total, kenapa lo malah disini.“ “Jo, lo janji mau ngajak gue main ke taman, bukan makam.“ “Jo, seharusnya gue yang disana kenapa lo yang gantiin.

Setelah ucapan terakhir Ten, Taeyong langsung angkat bicara.

“Ten, nggak boleh gitu. Semua udah ada jalannya.”

“Kenapa jalannya begini Yong? Kenapa? Jelasin!”

“Ten, maaf.”

“Jangan cuma minta maaf, jelasin Yong.”

“Kenapa nggak ada yang ngomong, kenapa semua diam. Bahkan 2 hari, kenapa semua diam. Mama Papa, juga lo. Semua kenapa diam.”

Ten kembali menangis saat ia melihat tanggal kematian yang terukir di batu nisan, tepat 2 hari lalu. Tepat dimana dirinya menyuruh Johnny pulang untuk beristirahat.

“Ten, lo kemarin masih sakit.”

“Gue bakal jelasin, tapi nggak disini ya?”

Ten menggeleng, “Enggak. Jelasin disini, di depan Johnny juga.”

Taeyong menghembuskan nafasnya, “Oke, gue jelasin. Tapi Ten tolong dengerin pelan-pelan ya?”

Ten mengangguk, menatap kosong makam di depannya, menunggu Taeyong melantunkan cerita kejadian Johnny.

“Johnny kecelakaan, kecelakaan beruntun. Johnny kehabisan darah karena telat dibawa kerumah sakit, dia meninggal pas di jalan menuju rumah sakit.”

“2 hari lalu ya Yong..”

“Yong, gue baru inget. Setelah Johnny pulang, gue minum obat dan obatnya itu punya pengaruh ngebuat gue ngantuk. Pas gue tidur, ada yang nelpon dari nomor tidak di kenal. Itu, pihak rumah sakit ya Yong?”

Taeyong mengangguk, “Mereka bilang, mereka sempat nelpon ke nomor paling atas yang baru aja di hubungin sama Johnny, itu nomor lo. Tapi gak ada jawaban, setelahnya mereka baru nelpon nomor nyokapnya Johnny.”

Ten terdiam, “Yong, kalau gue angkat. Apa Johnny masih disini sekarang?”

Taeyong menggeleng, “Enggak Ten, Johnny udah kehabisan darah bahkan sebelum dia sampai di rumah sakit.”

“Yong, ini tetep salah gue, seharusnya gue gak suruh dia pulang.”

“Yong, gue bego banget. Padahal dia lagi kecapean, kenapa gak gue suruh tidur dulu baru pulang.”

“Ten, bukan salah lo. Semua kecelakaan, gak ada yang bisa disalahin Ten.”

Ten menggeleng, “Tapi-”

“Sstt.. Jangan terus salahin diri lo, Johnny juga nggak akan suka kalo lo terus-terusan nyalahin diri lo.”

Ten menghela nafas berat, dirinya kosong. Kehilangan, kehilangan sosok yang selalu bersama dengan dirinya.

Bahkan, Ten berfikir, bagaimana dia harus melewati hari-hari kedepannya? Tanpa Johnny.

“Ten, besok atau lusa mau kerumah Johnny? Ada sesuatu yang mau dikasih tau keluarga Johnny ke lo. Lo hari ini istirahat dulu, lo baru sembuh.”

Ten menggeleng, “Nggak mau, di rumah sepi. Mama Papa lagi gak di rumah kan, makanya lo yang jemput gue.”

“Gue temenin Ten, gue nginep di rumah lo untuk sementara waktu.”

Ten tetap menggeleng, “Anter gue kerumah Johnny.”

Taeyong menghela nafas, anak ini benar-benar pala batu.

Akhirnya, Taeyong mengantarkan Ten kerumah Johnny, setelah Taeyong mengantarkan Ten beli bunga buat di makam Johnny.


Keduanya sampai di depan rumah Johnny, lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah yang masih terlihat berduka itu.

Mama Johnny yang melihat keberadaan Ten langsung berlari menubruk badan Ten, memeluk pria mungil itu dan meminta maaf.

Semua orang meminta maaf pada dirinya, disaat Ten sendiri malah menyalahkan dirinya tentang kecelakaan ini.

Ten kembali menangis dipelukan Mama Johnny, dia yang seharusnya minta maaf, nggak bisa bantu apa-apa.

Badan Ten yang masih belum terlalu pulih kembali melemas dipelukan Mama Johnny.

“Ten, kenapa kesini sekarang? Ya Tuhan, badan kamu masih lemes gini nak.” Mama Johnny memapah Ten lalu mengajak Ten untuk duduk.

Ten menggeleng, “Nggak Tante, gapapa Ten kuat kok.”

Mama Johnny semakin merasa bersalah, anak ini benar-benar baru sembuh dari sakitnya, tapi masih bela-belain ke rumah.

“Tante, maafin Ten.”

Mama Johnny menggeleng, “Nggak perlu sayang, Tante yang minta maaf sama Ten nggak ngasih tau Ten secepatnya. Ten, maafin Tante dan maafin Johnny kalau punya salah, ya?”

“Tante, sebanyak-banyaknya kesalahan yang Johnny buat, Ten nggak akan pernah mempermasalahkan hal tersebut, Johnny orang baik. Johnny nggak pernah bikin Ten sakit hati. Tante, pasti sekarang Johnny udah di surga ya?”

Pertanyaan Ten yang terlampau polos membuat seisi ruangan yang mendengar ikut merasa sedih.

Mama Johnny tersenyum lalu mengelus surai milik Ten, “Terima kasih banyak ya nak. Terima kasih.”

“Oh, Ten mau ke kamar Johnny?”

Ten mengangguk, kemudian mengikuti Mama Johnny menuju kamar milik Johnny.

Dibukanya pintu berwarna broken white itu.

Kamar Johnny terlampau rapih, semuanya bahkan nggak tersentuh.

Mama Johnny belum berani untuk memisahkan beberapa barang yang bisa diberikan kepada yang membutuhkan, Mama Johnny masih menunggu kedatangan Ten, sahabat yang Mama Johnny tau banget, anaknya memiliki perasaaan mendalam pada pria mungil ini.

Mama Johnny mengambil satu kotak besar, ia berikan kotak tersebut untuk Ten.

“Ini, mungkin termasuk peninggalan paling berharga bagi Johnny buat kamu. Di buka, pelan-pelan yah nak.”

Mama Johnny mengelus surai milik Ten dengan sayang lalu meninggalkan ten, bergabung dengan Taeyong di ruang tamu.

Ten terdiam, ia takut membuka kotak besar tersebut.

Ia menghela nafas berat, memantabkan hatinya lalu membuka kotak tersebut.

Di dalam, isinya terdapat beberapa barang dan origami yang sudah dibentuk seperti burung dengan apik.

Barang tersebut merupakan barang couple Johnny dengan dirinya, dan barang-barang yang dibeli oleh Johnny ketika jalan dengan Ten.

Ten mengelus barang-barang tersebut, meresap memori yang ada dalam barang-barang tersebut, memori yang ditinggalkan oleh Johnny untuk selalu dikenang oleh Ten.

Kertas usang dengan oretan yang Ten kenal tulisan milik siapa menarik atensi Ten.

Ia ambil kertas tersebut, lalu membaca satu persatu oretan yang tertulis disana.

Ku simpan semua rasa yang ada dan akan selalu ada untuk seseorang bernama Ten Chittaphon Leechaiyapornkul di dalam kotak ini, serta tertulis rapih di dalam origami berbentuk burung. Berharap, burung tersebut bisa membawa semua rasa yang ada kepada salah satu sahabat yang aku selalu pendam semua rasa untuknya.

Ten membawa tangannya, menyentuh origami dengan berbagai warna itu.

Ia mengelus dengan sayang, merasakan semua rasa milik Johnny yang terpendam di dalamnya.

Dengan pelan, Ten membuka origami tersebut, terlampau pelan.

Ia takut merusak semua yang sudah Johnny tuangkan di dalam origami burung tersebut.

Setelah satu origami terbuka, Ten menghela nafas lalu membaca isi oretan di dalam origami itu.

Lo nyuruh gue buat cari pasangan disaat gue maunya lo yang jadi pasangan gue. Terus, gue harus apa Ten?

Ten menghembuskan nafasnya, dan bergumam, “Lo, harusnya bilang dan terus terang ke gue, Jo.”

Ten melipat dengan rapih kertas origami tersebut lalu mengambil burung origami lainnya, kali ini berwarna cerah.

Dengan telaten, Ten buka lipatan-lipatan kertas tersebut hingga terlihat lagi oretan lainnya.

Ten, gue cuma mau bilang. Senyum lo hari ini, manis banget. Meskipun setiap hari senyuman lo selalu manis, tapi hari ini entah kenapa, senyuman lo bikin hati gue menghangat. Ten, terus senyum ya? Ayo, kita bahagia bersama.

Ten diam-diam ikut tersenyum, sangat manis sampai air matanya jatuh dan mengenai kertas origami tersebut, “Tapi, alasan gue bahagia udah hilang. Gue, harus apa Jo?”

Ten kembali melipat dengan rapih kertas tersebut, lalu mengambil kertas lainnya. Di buka kertas tersebut seperti kertas sebelum-sebelumnya.

Ten, kalau emang memiliki lo mustahil. Tolong, sadarin gue, kalo lo gak akan pernah jadi milik gue.

Ten memegang kertas tersebut dengan kuat, kali ini Ten tidak bisa lagi menahan tangisannya.

“Dan sekarang, gue pun mustahil bisa milikin lo, seutuhnya.”

Lagi, Ten melipat dengan rapih dan mengambil burung yang terlihat lebih besar dari yang lain, berwarna merah.

Ten buka lipatan tersebut dengan pelan sampai terlihat oretan milik Johnny.

Gue tau, gue gak seharusnya membawa perasaan ini dalam hubungan persahabatan kita. Maaf. Tapi, perasaan ini sudah melampaui batas. I love you, Ten.

Pecah.

Tangisan milik Ten semua pecah, air mata miliknya bahkan hingga membasahi kertas origami tersebut.

Tangan miliknya dibawa untuk meremas kertas tersebut, melampiaskan perasaannya yang membuncah.

Dirinya hanya bisa memeluk tubuhnya, sendiri.

“Jo, kenapa lo diem....”

“Jo, harusnya lo ngomong...”

“Johnny, I love you, too...”

Bahkan, disaat dirinya menangis sudah tidak ada Johnny yang memeluk tubuh mungil miliknya ini.

Semua sudah terlambat, mau segimanapun Ten tau sebesar apa rasa Johnny sekarang. Semua terlambat, pria itu, sudah meninggalkan Ten untuk selamanya, dan tidak akan pernah kembali.

Johnny, tolong doakan, lelaki mungil ini, mendapatkan bahagia yang setara seperti sebelum-sebelumnya.


@roseschies🌸