love lose
Johnten oneshot AU
// cheating , toxic relationship , major character death
“Kamu bisa ngga sih ngga usah kayak anak-anak? Begitu doang cemburu, apa-apa cemburu.” Bentak Johnny tepat di depan wajah Ten membuat Ten sedikit tersentak sampai dirinya memundurkan tubuhnya, menjauh sedikit dari Johnny.
Lelaki itu memberi jarak antara dirinya dengan sang kekasih.
Lelah? Sangat. Ten sangat lelah, adu mulut dengan kekasihnya seperti sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Ten.
“Tahan bisa ngga? Tahan, Ten. Semua ngga sesuai apa yang kamu pikirin.” Tambah Johnny.
Ten setuju.
Ten setuju dengan ucapan tadi. Semua belum tentu sesuai dengan apa yang dia pikirin.
Tapi, Johnny, tolong, pahami lelaki ini. “Kamu selalu ngomong kayak gini ke aku. Tapi apa Jo?”
Johnny mengernyitkan dahinya, bingung. “Tapi? Apa tapi? Aku kapan bohongin kamu sih Ten?”
Ten kali ini, menyerah. Ia benar-benar sudah lelah. Adu mulut dengan Johnny tepat di tengah jalan komplek yang sepi, entah sudah jam berapa ini.
Ten menghela nafasnya lalu menatap mata milik Johnny lekat lekat, ia kuatkan dirinya, menahan agar tangisannya tidak turun secepat kilat.
Dia bukan lelaki lemah, hanya saja sudah terlalu lelah.
“Satu, kamu bilang udah lost contact sama mantan kamu? Buktinya apa? Kamu masih chat kok sama dia. Du—”
“Loh, aku chat sama dia juga karena kebutuhan dia.” Sela Johnny, bahkan Ten belum menyelesaikan semua penjabaran yang ia miliki.
“Bisa dengerin aku dulu??”
Johnny diam, memberi kesempatan untuk Ten melanjutkan ucapannya.
“Dua, jangan kira aku bego ya Johnny. Kamu bilang tanggal 25 kamu di rumah tapi apa, kamu ketemu kan sama dia? Dia ngechat kamu karena butuh kamu, butuh kamu untuk mendengarkan dia. Kamu ketemuan sama dia, tapi apa yang kamu bilang ke aku? Kamu di rumah.”
“Tapi dia minta ketemu aku karena dia butuh temen cerita, Ten.” Jawab Johnny lagi lagi memotong ucapan Ten.
“Sumpah ya Johnny. Aku nggak peduli tapi tapi kamu. Tolong, pahami konteks MASALAH yang lagi aku jelasin. Kalau dari awal kamu bilang kamu ketemu sama mantan kamu, aku ngga akan semarah ini. Kenapa harus bohong, kenapa Jo?” Ten sedikit menaikkan suaranya, meminta jawaban dari Johnny.
“Kalau aku jujur, kamu nanti cemburu. Semua dicemburuin.”
“Kenapa harus bohong?!”
“Kamu kenapa cemburuan?!”
Ten menghela nafasnya, berdebat adu mulut dengan kekasihnya, benar benar menghabiskan tenaganya.
“Tiga, kamu pikir aku ngga tau kamu saling kirim emot cium, peluk, dan sebagainya??”
“Kamu kenapa sembarang buka buka pesan aku sih?? Itu privacy aku, Ten. Jangan melewati batas kamu.”
Ten tau, ia melewati batas privacy Johnny. Tapi, Johnny lupa atau apa? Dirinya sendiri yang memberi akses pada Ten. Dan, salahkah Ten membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya?
Ten tersenyum kecil, “Kenapa ya, setiap aku marah, kamu ikut marah. Ujungnya apa? Aku yang minta maaf. Coba, setiap kamu marah, aku selalu berusaha buat cari dimana kesalahan aku, aku berusaha meminta maaf ke kamu sampai kamu benar benar memaafkan aku. Jo, kenapa? Aku punya salah apa sama kamu? Aku ngga minta banyak Jo. Aku cuma minta satu, tolong mengerti. Aku cuma butuh itu. Aku capek, capek Jo.”
Air mata lolos dari pinggir mata milik Ten. Sesak di dadanya kian terasa menyakitkan. Mengucapkan kata demi kata seperti ini, rasanya, sakit sekali bagi Ten.
Ten tidak masalah jika ia dibilang seperti lelaki kemakan cinta. Memang, memang benar. Ten takut. Takut sekali ia akan kehilangan Johnny.
Tetapi, kali ini ia sudah menyerah. Ia sudah lelah.
Ten sadar, sebagaimanapun Ten meminta Johnny untuk berubah, tetapi jika Johnny memang dasarnya tidak ada keinginan untuk berubah, Ten tidak bisa melakukan banyak hal, selain, meninggalkan seseorang yang memang tidak sama dengannya.
Rasanya, hanya dirinya yang berjuang di dalam hubungannya. Karena, rasanya, Johnny seperti berjuang dengan orang lain.
Hubungan ini, untuk apa, untuk siapa. Dua tahun, terbuang sia-sia.
“Apa aku pernah marah balik ke kamu setiap kamu marah karena hal kecil yang udah aku lakuin? Aku selalu cari cara supaya apa yang kamu mau, kamu dapetin.” Ucap Ten, mengeluarkan beberapa kata yang masih mampu ia ucapkan meskipun sesak di dada semakin terasa menyakitkan.
“Aku butuh waktu, Ten.” Ucap Johnny. Bukannya membalas semua ucapan yang Ten berikan, Johnny malah mengucapkan kalimat lain, di luar konteks.
Ten mengangguk tanpa mengucapkan kalimat lain. Ia terlalu lelah, kepalanya sudah kosong. Kosong sekali. Pandangannya sudah kehilangan arah.
Ten membalikkan tubuhnya lalu berjalan tanpa arah meninggalkan Johnny yang masih berdiri di sana.
Tak lama kemudian Johnny membalikkan tubuhnya lalu berjalan, untuk pulang.
Ten membawa kakinya, menyeret kakinya entah kemana. Pandangannya kosong, pikirannya jauh lebih kosong.
Satu yang ada dipikirannya, Johnny, semoga bahagia.
Satu detik kemudian telinga milik Johnny mendengar suara tabrakan yang tak jauh dari tempat dimana ia berdiri.
Detik selanjutnya, Johnny membalikkan tubuhnya lalu berlari ke tempat dimana tubuh milik Ten terbaring di jalan tepat di depan mobil dengan darah yang sudah keluar dari beberapa titik di tubuhnya.
Detik terakhir, pikiran yang ada di dalam pikiran Ten tetap sama. Satu. Johnny, semoga bahagia.
@roseschies