missing you

Sudah sekitar satu jam lebih Haechan dan Jeno berkutat pada tugas mereka di kamar Jeno.

Kamar Jeno sukses dibuat berantakan akibat tugas mereka. Kertas HVS sampai kertas origami berserakan dimana-mana, dari lem kertas sampai selotip ikut berserakan dimana-mana.

“Anjir pegel banget.” Haechan merenggangkan tubuhnya lalu merebahkan dirinya di lantai yang pastinya berkarpet, disusul dengan Jeno yang juga ikut tiduran.

“Segini dulu cukup nggak sih chan? Minggu depan kan tugasnya dikumpul? Udah lumayan sih ini setengah lebih dapet.” Ucap Jeno sambil memainkan pulpennya.

Haechan mengangguk kemudian meletakkan kedua tangannya menyilang dibelakang kepala sebagai bantalan untuk kepalanya, “Iya udah setengah, tapi kalo bisa kelar minggu ini nggak sih? Biar minggu depan sebelum dikumpul kita fokus latihan buat presentasinya.”

Jeno mengangguk-anggukan kepalanya, “Yaudah minggu ini gue sekalian bikin bahan narasi buat presentasinya. Bagian gue yang ini kan?”

Jeno menunjuk bagian kanan diatas kertas karton tersebut, materi dirinya yang sebelumnya sudah ia bahas berdua bersama Haechan.

Haechan mengangguk, “Iya, yang ini baru gue. Nanti kita simulasi aja sebelum presentasi beneran.”

Jeno mengangguk, salah satu yang ia suka jika satu kelompok dengan salah satu anak momogi ya seperti ini, mereka tidak pernah menunda waktu, supaya waktu sisanya nanti bisa dipakai untuk yang lain dan dirinya tidak kepikiran tugasnya terus menerus.

Haechan mendudukkan dirinya kemudian berdiri dari duduknya tersebut, “Gue mau mau ngisi minum lagi ya Jen.”

Jeno mengangguk, “Masih inget kan lo sama dapur rumah gue?”

“Yaiyalah, emang ada yang berubah?”

“Nggak sih, ngeri dibawah nanti lo kesasar lagi.”

“Ngaco, kaga lah. Yaudah gue mau ambil minum dulu. Haus banget.”

Haechan membawa gelasnya yang mau dia isi ulang di dapur rumah Jeno. Haechan sudah biasa dan rumah Jeno memang benar benar sudah seperti rumah Haechan juga. Semua letak barang-barang yang ada di rumah Jeno, bahkan Haechan sudah khatam.

Haechan keluar dari kamar Jeno kemudian menutup pintu kamar Jeno lalu menuju tangga untuk turun dari lantai dua menuju lantai satu.

Bertepatan dengan Haechan yang tak sengaja melewti kamar Mark karena memang kamar Mark dan kamar Jeno berada depan depanan, jadi sebelum turun tangga pastinya Haechan akan melewati kamar Mark.

Terlihat pintu kamar Mark terbuka membuat Haechan menengok sedikit ke dalam kamar Mark.

Dilihat dari luar, kamar milik Mark kosong, tidak ada orang.

Dengan jantung yang sedikit berdegup, Haechan membuka sedikit pintu kamar Mark, terpampanglah kamar Mark tanpa pemiliknya.

Kamar milik Mark masih sama, semua tatanan barangnya bahkan belum berubah sedikitpun.

Tak hanya itu, kamar Mark masih sama hangatnya seperti dulu.

Perlahan bibir milik Haechan terangkat sedikit, tersenyum melihat satu frame foto yang terletak di meja belajar Mark dengan sticky notes yang ternyata masih tertempel di sana.

Iya, foto dirinya dengan Mark sambil memeluk satu teddy bear diantara keduanya dan sticky notes dengan tulisan tangan Haechan yang mengingatkan Mark untuk makan.

Haechan tersenyum kemudian mengelus pinggir frame foto itu.

Ia rindu dengan Mark dan semua kenangan indah dirinya bersama Mark.

Terlalu fokus dengan frame foto tersebut, Haechan terkejut ketika dirinya melihat terdapat beberapa bungkusan obat yang terletak tepat di depan frame foto tersebut.

Haechan tidak tau obat itu obat apa, karena Haechan tidak pernah liat Mark mengkonsumsi obat-obatan, terlebih Mark yang Haechan kenal sangat jarang sakit.

Tetapi bungkusan obat ini tidak hanya satu atau dua, lebih dari itu.

Tiba-tiba Haechan teringat dengan ucapan Mark tempo lalu.

“Haechan, kepala Kakak pusing. Haechan masih di sini kan?”

Haechan baru saja ingin mengambil satu bungkusan obat tersebut namun kegiatannya sudah terinterupsi kala ia mendengar suara seseorang masuk ke dalam kupingnya, suara yang terdengar sangat-sangat familiar dengan kupingnya itu.

“Adek?”

Tubuh Haechan menegang, kemudian kembali meletakkan bungkusan obat tersebut di tempatnya lalu memutar balikkan badannya.

Haechan mematung, memandangi Mark yang berada di ambang pintu dengan tangan yang sedang memegang satu buah cangkir.

Haechan memandangi Mark dari tempatnya, wajah milik Mark bahkan tidak bisa dibilang baik-baik saja, bahkan jauh dari kata baik-baik saja.

Mata yang sayu, bibir yang pecah dan kering, rambut berantakan, ah.... Ini bukan Mark yang biasa Haechan kenal.

Mark yang masih mematung juga tidak bisa mengangkat kakinya sama sekali, tubuhnya terasa kaku, ia tidak tau secepat ini ia akan bertemu dengan Haechan.

Dan mungkin, secepat ini juga, Haechan mengetahui tentang dirinya belakangan ini, semuanya.

Karena, yang dapat Mark lihat sebelum ia memanggil Haechan, ia dapat melihat punggung adik manisnya itu sedang turun, karena ia melihat sesuatu yang seharusnya dia tidak lihat. Iya, bungkusan obat milik Mark.

Haechan berlari menuju Mark kemudian menubrukkan tubuhnya ke tubuh Mark, lelaki itu memeluk erat tubuh Mark.

Haechan menangis sesegukkan tepat dipelukkan Mark.

Mark meletakkan cangkir yang sejak tadi ia pegang di meja dekat pintu kemudian menarik tubuh Haechan, semakin masuk kedalam pelukannya.

Tubuh keduanya bergetar akibat tangisan yang keluar dari mata masing-masing.

Mark mengelus punggung adik manisnya itu dengan sayang.

“Maafin kakak, ya?”

Haechan menggelengkan kepalanya, “Kakak, kakak nggak baik baik aja. Kakak bohong.”

Haechan semakin menangis ketika ia kembali mengingat bungkusan obat milik Mark.

Mark tersenyum tipis lalu menggigit bibirnya, menahan tangisannya untuk tidak keluar semakin kencang sekarang.

“Nggak, Kakak baik baik aja kok. Udah lebih baik.”

“Kamu gimana, dek?”

Haechan tidak sanggup bersuara lagi, dirinya terlalu larut dalam tangisannya yang semakin deras itu.

Mark mengelus surai milik Haechan lembut, wangi Haechan bahkan sama sekali tidak berubah, masih sama, selalu manis.

Haechan melepaskan pelukan tersebut kemudian mengusap air mata dari mata dan pipinya kemudian menatap wajah Mark.

Haechan bawa tangannya untuk mengelus pipi Mark membuat Mark menutup kedua matanya, air mata milik Mark sukses meluncur bebas ketika dirinya menutup matanya itu.

Mati-matian Mark menahan air matanya supaya tidak keluar, pada akhirnya air mata itu keluar juga.

“Badan kakak hangat, udah minum obat?” Tanya Haechan tiba-tiba.

Mark menggeleng, “Belum, ini abis ambil minum.”

Haechan mengangguk kemudian mengaitkan tangannya pada tangan milik Mark kemudian menarik tangan Mark, mengajak Mark untuk duduk di pinggir kasurnya.

“Obatnya yang mana?”

Mark menunjuk satu bungkusan yang terpisah dengan bungkusan yang berada di depan frame foto dirinya dengan Mark itu.

Haechan telaten membuka satu bungkus obat kemudian membantu Mark untuk meminum obat tersebut.

Tanpa bertanya, Haechan tetap membantu Mark.

“Makasih ya, chan.”

“Kakak tidur ya?”

Mark menggeleng, “Kakak tau, pasti banyak pertanyaan di kepala kamu kan? Sini, kakak jelasin pelan pelan ya?”

Haechan terdiam namun Mark langsung menarik tubuh Haechan untuk naik keatas kasur.

Keduanya tidur bersama diatas kasur milik Mark.

Mark menceritakan sesuatu yang belum sama sekali Haechan tau.

Tentang pertemuan Mark dengan teman Jaehyun.

Haechan lagi-lagi kembali menangis dipelukan Mark membuat Mark kembali memeluk tubuh adik manisnya itu.

Hampir satu jam, keduanya mengabiskan waktu di atas kasur milik Mark sampai pada akhirnya, Haechan lelah menangis dan akhirnya keduanya tertidur di sana.

Meninggalkan Jeno yang sejak awal pertemuan Mark dan Haechan menguping di pinggir pintu Mark.

Jeno tersenyum tipis, “Selamat.”

Kemudian Jeno perlahan masuk ke dalam kamar kakaknya itu lalu menyelimuti kedua lelaki yang sedang berpelukan dengan hidung yang sama-sama memerah akibat menangis.

“Hadeh, dua orang kalau abis baikan begini ya, mana sampe ketiduran berdua lagi.”

Jeno kemudian kembali menuju kamarnya lalu mengirimkan sebuah pesan untuk Hendery, memberitahu, sepertinya adiknya mungkin akan bermalam dirumahnya atau mungkin saja akan pulang lebih larut lagi.

Tanpa diberitahu alasan lebih lanjut, Hendery sudah paham apa yang sedang terjadi di sana.


@roseschies