✨
Sampai dua tahun selanjutnya, Ten masih tetap dalam keadaan halusinasinya, menolak apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Johnny di waktu lalu.
Kun yang sedang duduk di sebelah kasur milik Ten langsung membantu lelaki itu duduk di kasurnya setelah menceritakan happy ending dalam halusinasinya.
“Doyoung lagi di jalan mau kesini, lo butuh apa?” Tanya Kun kemudian memberikan minum lagi untuk Ten.
Kalau boleh Ten jujur, Ten butuh Johnny, yang dulu.
Terlalu mustahil jadi, “Martabak hehe.”
Kun menggelengkan kepala lalu mengirim sebuah pesan pada Doyoung untuk membeli martabak sebentar sebelum sampai ke sini.
Setelah beberapa jam menunggu Doyoung sampai dengan martabak pesanan Ten, akhirnya terdengar suara ketukkan di pintu kamar Ten ini.
“Masuk aja, Doy.” Ucap Kun kemudian Doyoung si pengetuk pintu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Ten sambil membawa tentengan titipan dari Ten yaitu martabak.
Doyoung mengangkat tentengannya lalu tersenyum sampai memperlihatkan deretan giginya itu, “Ini dia martabak buat si pemalas!”
Ten melempar sebuah kertas yang berada di nakas sebelah kasurnya ke arah Doyoung kemudian mencibir, “Nyebelin!”
Doyoung dan Kun tertawa kemudian Doyoung meletakkan tentengan tersebut di nakas sedangkan Kun mengambil piring untuk Ten memakan martabaknya itu.
“Nih, lo makan dulu ya? Gue sama Doyoung keluar dulu sebentar.” Ucap Kun sambil memberi piring berisi dua buah martabak untuk Ten sedangkan Ten langsung mengangguk patuh.
Kun menarik tangan Doyoung keluar dari kamar Ten lalu menodong sebuah pertanyaan, “Maksud chat lo apa?”
Doyoung mengajak Kun duduk kemudian menghela nafas panjang sambil memijit pelipisnya. Sudah dua tahun, tetapi masalah dua tahun lalu masih saja berkeliling di sekitar mereka.
“Inget gak sih dulu kita mikir kalo si lelaki itu tau Johnny punya pacar di belakang dia?”
Kun mengangguk, ia sangat ingat itu.
Doyoung menggelengkan kepala, “Semua itu salah besar Kun. Lelaki itu sama sekali gak tau kalau Johnny punya pacar di belakang dia. Jadi, waktu kita ketemu dia itu, dia clueless dan sama sekali nggak ngerti ada apa dibelakang itu. Pas dia nanya ke Johnny, Johnny bohong dan memutar balikkan fakta. Dan iya, sesuai yang gue bilang di chat, Johnny masih sama dia sampe sekarang.”
Kun menggebrak bangku yang sedang ia duduki dengan tangannya yang mengepal, “Udah gila.”
“Terus akhirnya dia udah tau?” Tanya Kun lagi.
Doyoung menangguk, “Gue omongin semua tanpa terlewat di depan muka dia. Ya akhirnya dia sampe mohon mohon ke gue dan minta maaf karena dia sama sekali nggak tau. Yang gue tau sebelum gue pulang, dia sama Johnny cekcok gak tau deh diputusin kali.”
“Kenapa gak lo tonjok aja sih, anjir gue greget mau nonjok juga dari dua tahun lalu gak kesampean.”
“Gue sempet nonjok dua kali terus tangan gue di tahan sama ka Jae. Ka Jae bilang biar dia yang urus Johnny. Dia ngeliat gue udah nangis nangis jadi gak tega, katanya.” Jelas Doyoung lalu berdiri mencari minum untuk dirinya, haus juga.
Setelah mendapatkan minuman untuk dirinya Doyoung kembali duduk di sebelah Kun lalu memanjangkan kakinya, “Kun, udah mulai sekarang kita putus semuanya. Gak perlu ada kita temuin dia lagi. Gue, lo, Winwin, dan ka Taeyong. Kita udahin aja buat ngulik masalah ini. Percuma, yang ada kita cuma emosi terus-terusan dan ngerasa jadi penghambat Ten sembuh karena kita yang kayak masih nyimpen dendam sama Johnny.”
Kun setuju, “Bener. Mulai sekarang kita beneran harus fokus sama penyembuhan Ten. Dua tahun, nggak ada perubahan. Kita juga nggak berubah masih aja kayak dulu. Lebih baik kita duluan, nggak ada yang tau kedepannya Ten pelan-pelan ikut sembuh.”
Doyoung mengangguk, setuju juga dengan ucapan Kun.
“Doyoung, Kun?” Panggil Ten dengan kepala yang menyembul dari belakang pintu kamarnya mencari Doyoung dan Kun.
Doyoung dan Kun yang mendengar suara Ten langsung berdiri lalu berjalan menuju Ten.
“Kenapa?” tanya Kun sesampainya dia di depan Ten bersama Doyoung.
Ten nyengir sampai memperlihatkan deretan giginya, ia tersenyum sangat manis. “Hehehe gapapa. Takut, jangan kemana-mana.”
Doyoung dan Kun menggeleng lalu tersenyum dan mengajak Ten masuk ke dalam kamarnya lagi.
Iya, sejak dua tahun lalu Ten semakin takut untuk ditinggal sendirian.
@roseschies