Nakamoto new member?

“Dede udah belom?” Tanya Hendery yang sedang mengintip dari pintu kamar Haechan. Haechan menggeleng kemudian menyaut. “Belom tunggu lagi nyari kaos kaki.”

Yaelah de, pake sendal aja. Kan kerumah om yutanya jalan kaki ngapain pake sepatu udah kayak mau perjalanan jauh aja rapih-rapih.”

“Ish, yaudaahh.”

“HP-mu jangan ditinggal itu,” Ucap Hendery sambil menunjuk ponsel milik Haechan yang masih tergeletak di meja belajar Haechan membuat Haechan berlari kembali menuju meja belajarnya untuk mengambil ponsel miliknya.

“Udah, ayo bang.” Haechan kemudian menutup pintunya dan menarik tangan Hendery lalu keduanya turun ke lantai satu mendatangi orang tuanya yang sudah menunggu di depan pintu rumah.

“Pintunya di kunci bang jangan lupa.” Pinta Ten dari luar pagar kemudian setelah Hendery dan Haechan keluar dari dalam rumah, Hendery mengunci pintu utama lalu mengantongi kuncinya di saku hoodie miliknya.

Akhirnya, keempatnya berjalan menuju gang D di mana rumah Yuta berada dimana hanya berbeda 2 gang dari rumah Johnny.

Setelah sampai di depan rumah Yuta, Johnny memencet bel dan menunggu si pemilik rumah keluar untuk membukakan pintu.

“Loh, udah sampe aja. Masuk sini masuk.” Winwin keluar dari rumahnya kemudian membukakan gembok pager untuk mempersilahkan keluarga Johnny masuk ke dalam rumahnya.

Setelah terbuka, Johnny dan Ten bertos ria sedangkan Hendery dan Haechan tak lupa bersalaman dengan Winwin.

Winwin mengajak keempatnya masuk ke dalam rumahnya dimana Yuta sudah duduk dengan manis di ruang tamu seperti sudah menunggu kedatangan keluarga Johnny.

Melihat Johnny masuk ke dalam rumah, Yuta berdiri lalu berpelukan dengan Johnny dan selanjutnya bersalaman dengan Ten dan kedua anaknya itu.

“Sebentar ya,” Ucap Winwin kemudian izin ke dalam untuk memanggil dua member lainnya yang sedang berada di kamar masing-masing sedangkan Yuta mempersilahkan Johnny dan keluarganya untuk duduk dan mereka berbincar sebentar sambil menunggu Winwin.

Pertama Winwin mengetuk pintu si anak pertama untuk memanggil anak tersebut dan mengajaknya bertemu dan berkenalan dengan keluarga Johnny.

“Mas?” Winwin menyembulkan kepalanya melihat kedalam kamar setelah mendengar sahutan dari si anak dari dalam kamarnya.

“Kenapa om?”

“Turun dulu yuk? Ada yang mau ketemu nih.”

Mendengar hal tersebut, lelaki tersebut mengangguk kemudian memakai jaket lalu keluar dari kamarnya mengintil Winwin yang sedang mengetuk kamar anak kedua.

Setelah mendengar sahutan dari dalam, Winwin membuka pintu kemudian menyapa si anak kedua. “Dek, turun dulu yuk, ada tamu nih.”

“Ohh, iya om. Tunggu sebentar.” Ucapnya kemudian mematikan komputernya lalu mengikuti Winwin.

“Lagi ngapain dek?” Tanya si anak pertama pada adiknya itu.

“Belajar, hari senin aku udah masuk kata om Winwin.” Ucap si adik membuat kakaknya yang mendengar mengangguk kemudian tersenyum lalu merangkul adiknya itu.

Setelah ketiganya sampai di bawah, Winwin menginterupsi sebentar pembicaraan antara Johnny dan Yuta membuat semua orang yang berada di ruang tamu menengok kearah Winwin.

Hendery dan Haechan saling lihat-lihatan bertanya satu sama lain siapa yang berada di belakang Winwin.

“Nah itu, sini Mas, Dek. Duduk sini sebelah om.” Ucap Yuta kemudian menyuruh kedua anak itu duduk di sebelahnya sedangkan Winwin ikut duduk di sebelah Ten, tempat duduk yang masih kosong.

Haechan menarik baju Ten kemudian berbisik sesuatu tepat di kuping Ten. “Pa, itu siapa?”

Ten yang mendengar ucapan Haechan tersenyum, “Coba tanya dong sama om Yuta om Winwin. Itu siapa?”

Haechan menggaruk tengkuknya kemudian langsung bertanya pada Yuta. “Siapa om? Kok nggak pernah liat?”

Yuta terkekeh kemudian memperkenalkan dua member baru yang tinggal di rumahnya ini.

Pertama, Yuta menepuk pundak si anak pertama yang sedang duduk manis di sebelahnya. “Kenalin, ini namanya Dejun. Oh iya, seumuran juga sama Hendery.”

Dejun yang disebut namanya langsung tersenyum kearah keluarga Johnny.

Kemudian Yuta lanjut menepuk pundak si anak kedua yang duduk berdempet disebelah kakanya itu. “Kalau yang ini, seumuran sama Haechan. Kenalin, namanya Jaemin. Mereka berdua ponakan om.”

Hendery dan Haechan yang mendengar Yuta akhirnya mengangguk kemudian melemparkan senyuman masing-masing kepada si dua anak tersebut.

“Mas, Dek kenalin yang ini namanya om Johnny, sebelahnya om Johnny namanya om Ten. Nah, Yang di situ, itu anaknya om Johnny sama om Ten. Yang pakai hoodie namanya Hendery, seumuran sama Mas Dejun. Sebelahnya Hendery namanya Haechan, seumuran sama Nana.”

Mendengar Yuta memperkenalkan keluarga Johnny, akhirnya keempat orang tersebut bersapa dengan Dejun dan Jaemin.

“Nana nanti senin masuk sekolah Haechan lohh.” Ucap Winwin membuat Haechan terkejut lalu menatap Jaemin berbinar. Ia senang jika mendapat teman baru, bosen karena temannya hanya Jeno dan Renjun terus menerus.

“Hai, Na.” Sapa Haechan membuat Jaemin tersenyum lalu menyapa Haechan kembali.

“Mas Dejun juga bakal satu kampus loh sama Abang.” Ucap Yuta membuat Winwin dan Ten yang mendengar ikut terkejut. Pasalnya, yang Ten tau dari cerita Winwin, anak pertamanya ini masih susah dibujuk untuk lanjut sekolah. Tetapi mendengar ucapan Yuta membuat Ten terkejut bahkan Winwin yang ternyata belum tau ikutan terkejut.

“Loh?”

“Anaknya akhirnya mau lanjut sekolah di kampus Hendery. Lagi nyiapin berkas-berkas buat tes nanti.” Lanjut Yuta menjelaskan pada Winwin dan Ten yang sepertinya bingung membuat keduanya mengangguk paham.

“Niatnya mau pilih jurusan apa Jun?” Tanya Hendery yang dipastikan untuk Dejun langsung.

Dejun yang ditanya langsung menggaruk tengkuknya, ia bingung. “Belum nentuin sih. Tapi kayaknya bakal masuk Kesejahteraan Sosial.”

“Wah, gue punya temen deket tuh anak kesos. Namanya Lucas.” Jawab Hendery antusias setelah mendengar jawaban Dejun. Sedangkan Dejun hanya terkekeh dan tidak ada obrolan lebih lanjut diantara keduanya.

“Nana, mau main sama Haechan dulu?” Tanya Winwin pada Jaemin membuat Jaemin mengangguk.

Akhirnya Haechan berdiri dan mengikuti Jaemin entah si anak itu mengajak Haechan kemana yang pasti bukan langsung ke kamar Jaemin karena Jaemin merasa kamarnya masih privacy miliknya.

Melihat Jaemin dan Haechan yang ternyata sudah mulai bisa mengakrabkan satu sama lain. Hendery tersenyum miris, dirinya masih dilanda kecanggungan antara dirinya dengan Dejun.

Sebenarnya Hendery sangat bisa mencairkan es yang ada diantara dirinya dan orang baru. Tetapi melihat Dejun yang cuma iya-iya saja menjawab pertanyaan Winwin dan tidak lanjut berbicara atau sekedar bertanya balik membuat Hendery ikut canggung.

“Selain kesos lo mau masuk mana Jun?” Tanya Hendery sedangkan Dejun hanya mengangkat kedua bahunya, ia tidak tahu.

Hendery mengangguk-angguk kemudian Dejun kembali diam, begitu juga dengan Hendery.

Ini dia nggak ada niat mau kepoin gue apa, Batin Hendery.

“Diajak ngobrol Dejunnya bang.” Pinta Ten melihat Hendery dan Dejun yang hanya saling diam.

Papanya nggak tau aja, di sini Hendery susah payah ngajak Dejun ngobrol tapi ujungnya cuma Hendery yang berbicara sedangkan hanya sepatah dua kata yang keluar dari mulut Dejun.

Rasanya Hendery mau tenggelam saja atau ikut bergabung dengan Haechan dan Jaemin yang sepertinya sedang seru membahas entah apa itu karena daritadi terdengar teriakan antusias Haechan.

“Jun, kalo ada yang mau ditanyain tentang kampus, tanyain aja ya ke gue. Sebisa mungkin gue jawab kok.” Ucap Hendery lagi.

Dan lagi-lagi, Dejun hanya mengangguk dan menyaut, “Iya.”


“Kok lo ngenalin Dejun sama Jaemin sebagai keponakan lo deh? Bukannya?” Tanya Johnny setelah sisa mereka berempat di ruang tamu. Ya meskipun Dejun sama Hendery masih deket dari ruang tamu, tapi dipastikan dari jarak segini keduanya tidak tau apa yang sedang dibicarakan oleh keempat orang ini.

“Ya masa gue harus ngomong yang benernya. Belom waktunya Jo, nanti aja. Lo nggak liat, mereka juga masih manggil gue sama Winwin pake panggilan om.”

Johnny mengangguk, “Iya juga sih. Tapi lo udah jelasin kan ke mereka?”

Yuta mengangguk mengiyakan pertanyaan Johnny. Yuta dan Winwin sudah membicarakan banyak hal kok ke Dejun dan Jaemin. Cuma, keduanya masih paham, susah untuk langsung bisa menerima Yuta dan Winwin sesuai apa yang diharapkan oleh keduanya dari Dejun dan Jaemin. Yang terpenting bagi Yuta dan Winwin sekarang hanya Dejun dan Jaemin yang mau dan merasa nyaman tinggal di rumah Yuta dan Winwin, sisanya biar mengikuti proses.

Meskipun Yuta dan Winwin tau, prosesnya akan sangat sulit mengingat Dejun dan Jaemin yang masih tertutup dengan Yuta Winwin, terlebih Dejun. Dejun itu terlalu misterius bagi Yuta dan Winwin berbeda dengan Jaemin.


@roseschies.