ngidam (lagi)

— johnten mpreg


Setelah membaca pesan dari Ten, Johnny mengunci ponselnya kemudian berfikir sambil memijit pelipisnya.

Yuta dan Jaehyun yang berada di depan Johnny saling lihat-lihatan.

“Kenapa Jo?” Tanya Yuta kemudian Johnny memberikan ponselnya yang sudah ia buka lagi dan menampilkan isi chat dirinya bersama dengan Ten.

Yuta dan Jaehyun membaca isi chat tersebut kemudian setelah membaca, Yuta mengembalikan ponsel milik Johnny kepada pemiliknya.

“Lo tau nggak buah buat orang ngidam tapi masalahnya orangnya ini nggak suka buah.”

Mendengar ucapan Johnny, Yuta dan Jaehyun keduanya ikutan bingung.

“Jadi maksud lo, si Ten ini nggak suka buah tapi dia sekarang lagi ngidam buah?” Tanya Jaehyun kemudian Johnny mengangguk membuat Yuta ikutan pusing.

“Calon anak lo punya masalah apa sih Jo? Belum juga lahir yang dibikin pusing nggak cuma bapak bapaknya, ini gue sama Jaehyun yang nggak ikut peran aja disuruh ikutan mikir.” Sambar Yuta dan Jaehyun ikutan mengangguk menyetujui.

Johnny menggedikkan bahunya, “Belakangan ini Ten suka ngidam aneh-aneh. Mending kalau disuruh nyari yang gampang dicari atau bisa gue usahain, masa pas kapan dia ngidam mau peluk mantan dia terus gue disuruh ngeliatin?!”

Jaehyun dan Yuta yang mendengar cerita Johnny langsung tertawa ngakak membayangkan gimana menyedihkan Johnny dikerjain oleh si calon anaknya itu.

“Terus gimana Jo, lo turutin itu?” Tanya Jaehyun.

“Kaga, untungnya gue keburu bangun.”

“Hah?”

“Iya itu mimpi gue doang sih.”

Yuta melempar gumpalan kertas kemudian kertas tersebut mendarat tepat di kening Johnny membuat Johnny mengelus keningnya dan mengaduh kesakitan.

“Ngapain lo cerita anjir, kirain beneran. Padahal gue udah ngebayangin gimana stressnya lo.”

“Jangan sampe lah anjir.”

“Yaudah ini gimana buahnya. Bantu mikir kek, biar cepet pulang nih.” Ucap Johnny kemudian ketiganya langsung membuka ponsel masing-masing dan cari di internet, buah apa yang biasa dimakan oleh seseorang yang tidak suka.

Mau sampe kapan nyari juga nggak akan ada jawabannya, padahal.

“Ini gue barusan nyari, buah yang paling banyak disukai orang-orang. jawabannya pisang. Siapa tau se nggak sukanya Ten sama buah, dia masih bisa toleransi sama pisang.” Ucap Jaehyun kemudian memberikan ponselnya yang sudah terlihat hasil pencarian tersebut.

Yuta mengangguk setuju, “Bener, coba aja Jo.”

Kemudian Johnny ikutan mengangguk-angguk, “Iya kali ya. Siapa tau dia masih bisa tolerir buah yang disukain banyak orang.”

“Yaudahlah balik anjir, kasian Winwin di rumah udah nungguin gue ini pasti.” Ucap Yuta kemudian berdiri dari tempat duduknya.

“Gue harus kasian sama siapa ya?” Tanya Jaehyun pada dirinya sendiri.

Yuta dan Johnny tertawa, “Miris banget si lo. Buruan dah cari pasangan, ngeri ampe tua jomblo aja hidupnya.”

Jaehyun memukul lengan Johnny, “Kurang ajar, doain yang baik kek siapa tau nanti pulang gue ketemu jodoh.”

“Iya udah nanti gue doain. Kasian temen gue ganteng gini masa nggak ada yang mau.”

“Bukan nggak ada yang mau Jo. Temen lo ini terlalu pemilih, banyak gaya banget dah udah tua juga.”

Jaehyun bagian sabar aja, udah kayak makanan sehari-hari diledekin gini sama temen-temennya.


Setelah beberapa menit muter-muter di toko jual buah, akhirnya Johnny membeli pisang yang paling enak dan sudah matang tentunya untuk Ten.

Johnny memencet passcode apartemennya lalu masuk ke dalam dan sudah ada Ten yang menunggu kepulangannya sambil memeluk boneka teddy bear di sofa sambil menonton televisi.

Johnny membuka sepatu kemudian menggantungkan jasnya di gantungan yang tak jauh dari pintu lalu mencuci tangan dan menaruh pisangnya di meja.

Johnny mendekat kearah Ten yang masih fokus menonton, sangking fokusnya Ten tidak sadar bahwa Johnny sudah pulang dan sudah berada disebelahnya itu.

“Halo sayang” Panggil Johnny kemudian mencium pipi Ten membuat Ten terkejut setengah mati.

Ten memukul lengan Johnny karena ia beneran sekaget itu akibat terlalu fokus menonton, “Kaget Jo!”

Johnny terkekeh kemudian memeluk tubuh mungil tersebut, “Nonton apa? Fokus banget?”

Ten menunjuk kearah tv, “Nonton hantu!”

“Sore sore gini banget nonton film horrornya?”

Ten mengangguk antusias, “Iya, emang kenapa? Nggak boleh?”

“Ya boleh boleh aja. Oh, aku bawa pisang tuh buat kamu”

“IH KOK BAWA PISANG? KAN KAMU TAU AKU NGGAK SUKA BUAH JO?”

Mendengar teriakan Ten, Johnny menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.

“Katanya tadi kamu ngidam buah, aku bawain buah yang biasanya orang suka loh sayang” Ucap Johnny kemudian mengajak Ten kearah meja makan dimana buah pisang itu berada.

Belum juga sampai di meja makan, Ten sudah menutup hidungnya, “Ew pisang.”

“Tadi bilang pengen buah kan? Sekarang beneran nggak mau nih? Enak loh pisangnya.”

Ten menggeleng namun dirinya bingung, rasanya ingin menangis, “Pengen buah, tapi nggak suka.”

Air muka Ten seketika berubah jadi murung membuat Johnny panik.

“Yaudah sayang kalau nggak suka nggak usah dimakan, biar aku aja yang makan ya? Kamu mau apa sekarang?”

“Mau buah...” Ucap Ten kemudian memainkan baju milik Johnny lalu memeluk Johnny erat.

Johnny mengelus punggung Ten dengan lembut, “Tapi kamu kan nggak suka.”

Hening.

Tiba-tiba Ten melepas pelukannya kemudian menatap Johnny dengan tatapan berbinar, “Aku punya ide! Aku ada satu buah yang aku suka, pisang lagii!”

“Apa tuh?”

Ten kemudian tersenyum kemudian membawa tangannya menyentuh bagian kepemilikan Johnny yang berada dibawah lalu tertawa ngakak sambil lari lari kecil menuju kamar meninggalkan Johnny yang terkejut akibat sentuhan tiba-tiba dari Ten terhadap kepemilikannya itu.

Johnny mengelus dadanya kemudian bermonolog, “Sabar Jo. Punya suami gini amat sukanya ngegodain.”


@roseschies